Andi Mallarangeng: Antara Dusta dan Fakta 29
Sabtu, 4 Jul '09 09:14
Oleh Irfan Darsina
Untuk menghindari fitnah, saya ingin mengawali tulisan ini dengan gaya seniman yang makin sering dikutip itu: Sumpah Saya tidak dibayar untuk menulis ini…..
Ini masih soal statement Andi Mallarangeng yang makin menjadi bola liar. Andi, sebagaimana dikutip banyak media konon mengatakan: belum saatnya orang bugis
jadi presiden... Bahkan, ada media yang saya baca menggunakan kutipan lebih menohok : Orang Bugis tidak pantas jadi presiden...
Dengan statemen itu, Andi lantas dituduh rasialis. Tim sukses dan simpatisan JK-W menjadikan statemen Andi sebagai sasaran tembak. Satu dua pendukung Megapro juga memanfaatkan peluang menyudutkan tim sukses SBY itu. Dalam konteks menjelang pencontrengan, blunder lawan memang menjadi sasaran empuk tembakan yang tidak boleh dilewatkan.
Sebagai orang yang belum menentukan sikap untuk memilih, saya sebetulnya tidak peduli para tim sukses dan simpatisan capres itu mau apa. Bukan urusan saya. Tetapi, sebagai orang yang punya rasa ingin tahu, saya lantas mencari berita yang memuat statement Andi itu seutuhnya. Sebab, sebelumnya, saya hanya membaca dan mendengar komentar-komentar atas statemen Andi itu, yang 90-99 % menyudutkan Andi. Bahkan ada berita tentang demo anti-Andi segala di Makassar sana.
Saya coba buka indeks detikcom. Ini media on line yang pertama ada dalam benak saya ketika mau mencari berita. Tetapi, mungkin saya terlewatkan, berita tentang kampanye Andi di Makassar, di mana Andi membuat statement itu, ternyata tidak ada. Di detikcom, saya hanya mendapatkan sejumlah berita yang berisi komentar yang 90-99 % menghakimi Andi. Berita yang banyak saya temukan justru komentar2 yang 90% mengecam Andi. komentar2 itu selalu diberi flashback atau kalimat reminding dengan "... menanggapi statement Andi yang menyatakan belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden .... bla bla bla......."
Terus terang, saya betul-betul miris menyaksikan kontroversi yang muncul pasca statemen Andi itu. Para pakar, bahkan forum rektor, entah dia lugu (tdk mau ngecek apa persisnya yang dikatakan Andi dari sumber lain sebelum menjawab wartawan) atau memang punya kepentingan, mengeksplore statemen andi yg sdh diplesetkan itu dengan berbagai pemaknaan yang berujung pada semakin melencengnya komentar2 itu dari substansi pesan yang disampaikan Andi dalam kampanye di Makassar itu.
Mengapa saya bilang diplesetkan? Saya menyaksikan video dan membaca berita tentang kampanye Andi di Makassar itu di:
http://video.okezone.com/play/2009/07/03/236/11366/ucapan-andi-mallarangeng-berbuntut-protes
dan
http://www.inilah.com/berita/politik/2009/07/01/122498/andi-mengapa-saya-tak-dukung-orang-bugis/
Gara-gara statement yang diplesetkan itu, Andi dituduh rasis. Tetapi, kalau kita menyaksikan video itu dan membaca berita yang memberikan konteks statemen Andi dengan jernih dan akal sehat, lalu mencerna diksi yang digunakannya dengan seksama, maka kita akan berkesimpulan Andi seorang demokrat. Kesimpulan itu saya dapat setelah mengikuti berita dari sumber yang utuh: Andi tidak mau dirinya dan masyarakat Bugis Makassar, dari mana dia berasal, memilih pemimpin hanya karena alasan kesamaan suku. Itu alasan Andi mengapa dia tidak memilih JK, tokoh yang berasal dari suku yang sama dengan Andi. Andi mengajak masyarakat Bugis Makassar memilih pemimpin Indonesia berdasarkan kriteria putra terbaik bangsa. Saat ini, putra terbaik bangsa itu, menurut Andi, adalah SBY.
Saya sungguh miris. Bagaimana media bisa memutar balik fakta dengan seenaknya. Dan bagaimana orang2 yang berkepentingan menggunakan media untuk menyalurkan kepentingan mereka. Tidak sadarkah, bahkan dalam politik sekalipun, pola-pola semacam itu akhirnya pasti ketahuan, dan rakyat dengan akal sehat akan tetap saja bisa memilah dan memilih: siapa yang dusta dan mana yang sesuai fakta.
Sekali lagi: Sumpah, saya tidak dibayar untuk mengungkapkan pandangan saya ini. Kalau Anda menuduh saya dibayar, sungguh itu sebuah fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.... percayalah.
TAMBAHAN:
seorang teman memberikan tautan pelengkap yang relevan dg artikel ini. Di video ini kita makin bisa membedakan apa yang dikatakan andi, apa yang dikatakan presenter. Kita juga bisa membedakan penggunaan diksi "anak sulsel" yang dipakai andi dalam statemennya.
Pada kalimat "bagaimana dengan ANAK SULSEL?" kita paham yang dimaksud Andi di situ adalah JK. Sedang dalam kalimat "Banyak anak sulsel yang bisa memimpin negeri di masa datang" maka diksi "anak sulsel" di situ merujuk pada seluruh putra sulsel yang potensial menjadi pemimpin nasional.
Tetapi, sekali lagi, media massa emang butuh berita. kalau semua adem ayem... yach, sepi.... deh.
Ini videonya: http://ww.youtube.com/watch?v=c3Aspfa1asQ
Tag: bugis, Andi, dusta, fitna
Terkait:
-
Badik Perlawanan untuk Akbar Faisal
Senin, 15 Feb '10 13:23 -
Dibutuhkan Segera Pengganti Andi Mallarangeng
Kamis, 19 Nov '09 19:45 -
Mama Lauren: Kalau Saja Bisa Membantu Kita!
Jumat, 9 Okt '09 23:15
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
anti-fenomena: Biasa
-
GaraMata: Penting
-
5150: Biasa
-
cosmiclawyer: Biasa
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
SanKo: Biasa
-
dony: Biasa
-
juveman: Menarik
-
hafudo: Biasa
-
hamatamu: Biasa
-
wastingtime: Inspiratif
-
jeung Medya: Penting
-
sam arifin: Biasa
-
MFH: Penting
-
BD cafe: Menarik
-
Sitorus: Penting
-
R A P: Biasa
-
OliverCain:
-
Striding Cloud: Penting
-
sawung: Biasa
-
Sania Waniarsih: Bagus
-
w-rizky:


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Sungguh memang mengerikan pemilu di Indonesia ini.
Tapi kalo setelah ini Andi sukses banyak mendapat dukungan, tandanya teknik dizalimi masih sukses.
untuk soal si andi kumis, mungkin benar dia tidak bermaksud menghina, tapi mungkin cara dan gaya bahasa atau ucapannya membuat sebagian orang terhina.
sebenarnya kalo si andi kumis mau berbesar hati dan meminta maap atau apapun itu, dia malah akan menerima respek positip karena akan terlihat kalo orang bugis itu kesatria dan gentlemen. Tapi kemaren waktu di wawancarai salah satu stasiun TV saya malah melihat si andi kumis ini malah seperti orang yang arogan dan keras hati.
Penulis pasti bukan orang bugis jadi tidak begitu paham dengan watak orang bugis/makassar. Masalah yang mungkin sederhana bagi orang lain terkadang begitu runyam kalo terjadi di Makassar.
Yang saya khawatirkan sesungguhnya adalah Mallarangeng ini. Sekali orang bugis/makassar marah seumur hidup anda akan di sepelekan (dibuang) oleh warga. Itulah sebabnya mengapa para tokoh dan orang tua Makassar menyeru agar Mallarangeng meminta maaf sebab orang2 bugis makassar walaupun terkesan pemarah dan gampang tersinggung juga terkenal sebagai bangsa yang pemaaf dan berjiwa tegar.
*nampaknya, yang penting bagi mereka adalah DIBAHAS
Berita Baik, Berita Buruk, adalah BERITA
Namun kalau saya menginggat karakterisik teman-teman saya dari bugis...ya saya bisa maklum lah.
Sepertinya kepekaan Andi sebagai orang Bugis sudah terdegradasi....mungkin karena sudah mengecap pendidikan di luar dan sudah lama tidak tinggal di tanah leluhurnya.
Kesalahan kedua adalah suasananya tidak tepat, apalagi saat "panas" seperti sekarang, "sepercik api" saja bisa menimbulkan "kebakaran".
Sayangnya para elit politik yang bukan orang bugis pun ikut2an memanfaatkan situasi ini...Meraka bukannya sebagai memenang suasana tapi malah ikut-ikutan memanaskan suasana...
Memang elit kita adalah elit "cap kambing" saja. Tidak dewasa dan hanya bisa memancing dan mengambil keuntungan di air keruh.
Kasihan negeri ini.
tapi Andi sudah menjawab.. dan publik bisa menilai..
1. si X ngomong A
2. media mengutip sepotong2 pernyataan si X sehingga menjadi A'
3. orang2 daerah si X yang tidak semuanya menonton langsung pernyataan si X membaca kutipan media, menganggap A' = A, kemudian marah2.
4. si X dan orang2 daerahnya ribut
5. siapa kiranya yg profit?
media sendiri tidak semuanya objektif, bisa dilihat keberpihakan beberapa di antaranya (*ehem*) dalam masalah kandidat favoritnya. bukan kebetulan juga karena pemilik media juga ada yg terlibat di tim sukses masing2 kandidat (*ehem*)
Seandainya SBY kalah, haqul yakin & 100% percaya Mallaranggeng Brothers pasti meninggalkannya. Karena didalam benak mereka hanya ada satu kepercayaan & agama yaitu Kekuasaan adalah pemilik pemenang, tanpa kemenangan tidak ada kekuasaan, jadi selamat tinggal untuk yg kalah dan selamat datang untuk pemenang.
Jadi silahkan menjadi saksi sejarah thd sepak terjang Mallaranggeng Brothers, selalu bersama dan ada bersama pemenang, kalau sejarah belum melikuidasi dan membreidelnya.
Sudah cukuplah, apa susahnya meminta maaf, sebagai manusia biasa yg pastinya tdk dpt lepas dari kekurangan. Lebih baik menjaga silaturahim.
Jangan mengambil gesture defensive yg hanya menimbulkan reaksi2 yg negatife
...
.............. Sudah cukuplah, apa susahnya meminta maaf............
---------------------
Denga n karakter sebahagian besar orang sana yg seperti itu, anda seharusnya tahu betapa sulitnya mereka jika disuruh meminta maaf.
Semuanya diukur dengan harga diri
Dan terus terang saya sangat suka jika beliau menjadi capres dan saya akan memilih beliau.
Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.... percayalah.
=================================
Kalo saya sih, menganggap fitnah itu lebih kejam daripada poligami
.
.
.
@ Savenco
aaa... ya, kurang lebih demikian, tak ada beda ketika dulu Gusdur berkata bahwa Al-Qur'an itu kitab porno, padahal kenyataannya tidak seperti yang digembar-gemborkan orang.
.
.
.
Orang Islam kalo ngadepin perkara model gini musti mengedepankan sikap "tabayyun", minta klarifikasi
[ http://wongiseng.…arangeng.mp3 ]
Yang pertama kasus istri Boediono, yg konon katanya katholik. Dan yg kedua adalah kasus di atas.
Mungkin dengan trik yg kedua ini, masyarakat akan kembali iba dan memilih SBY lagi.
haahhaha...
Ini hanyalah pemikiran usil saya...
Oh memang orang klo sukunya sama, perilakunya sama juga ya.. ?? Berarti SUBROTO = SUHARTO, sama2 orang jawa, TUKANG KORUPSI n PEMBUNUH..
Berarti SUBROTO = SUHARTO, sama2 orang jawa, TUKANG KORUPSI n PEMBUNUH
------------
Bisa jadi
Saya hanya ingin kita melihat statemen andi dengan melepas kacamata kepentinga, apalagi kebencian. jujur saja, saya termasuk yg sangat tidak suka dengan gaya ngomong AM yang kemlinthi (mungkin banyak ibu-ibu yg suka, mungkin banyak waria yang kesengsem, tetapi saya kok merasa itu kemlinthi, tapi itu kan sudah gawan bayi bagi andi, dan kita mesti bisa memilah ketidak-sukaan pribadi itu tidak baur dengan penilaian terhadap perbuatan/perkataan dia. Saya suka mengutip, kita mesti bersikap adil... adil sejak dalam pikiran, termasuk dalam menilai AM).
Saya mengamti video dan voice itu, dan sekali lagi, tidak menemukan unsur rasis di situ. bahkan, sesuatu yang lupa saya cantumkan dalam note di atas, Andi sebetulnya seorang nasionalis. Kalau ia rasialis, ia mestinya memilih JK dong. kalau ia rasis, ia mestinya anti SBY dong. Karena itu, sy heran dengan mereka yang menyerang Andi dengan mengatakan Andi rasis atau rasialis, sedang ia mendukung tokoh yang tidak sesuku dan sekufu dengan dia. Jadi di mana rasisnya? Ia, oke mungkin terlalu paternalistis kalau dikatakan ingin membuka wawasan masyarakat bugis makassar, tetapi saya bisa menggunakan istilah, dia mengimbau masyarakatnya untuk memilih pemimpin semata atas pertimibangan calon pemimpin itu adalah tokoh terbaik bangsa. Terbaik menurut ukuran Andi tentu. belum tentu terbaik menurut saya, dan yang lain. Tetapi, dalam alam demokratis, itu sah saja. sah banget.
Saya percaya masih banyak orang bugis makasaar yang bisa menilai ucapan andi itu dalam konteksnya, dan tidak didorong oleh kemarahan atau kebencian sempit atas dasar kepentingan sesaat. Dan, semua terpulang kembali pada seberapa peduli kita untuk menilai semua hiruk pikuk ini dengan mengutamakan akal sehat.
wah, ballassi je' andi mallarangeng!
sa'baraki daeng!
Apalagi dia berniat maju jadi Capres 2014 ga mungkin banget masuk..baru babak Kualifikasi aja dah di coret..
Silahkan login untuk memberikan pendapat