Laporan Pilpres 2009: SBY-Boediono Antek Amerika Serikat 15

Kamis, 9 Jul '09 01:28

 

Penghitungan Suara Pilpres 2009 di TPS 035 Kelurahan Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur pada Rabu 8 Juli 2009, telah beberapa saat berlangsung, semenjak dimulai pada pukul 13.15 wib.  Satu persatu surat suara yang telah tertata rapi disamping kanan meja Ketua KPPS yang berlokasi di halaman Gelanggang Olah Raga (GOR) Kecamatan Pasar Rebo dibacakan. Suara yang diperoleh pasangan capres-cawapres nomor urut 2 SBY-Boediono telah jauh meninggalkan pesaing-pesaingnya. SBY-Boediono telah menembus perolehan suara lebih dari 70 %, disusul Pasangan JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo dengan masing-masing memperoleh sekitar 15 %.

Sekonyong-konyong selaku Ketua KPPS di atas saya terhenyak . Menahan geli. Sebuah surat suara saya baca dengan agak keras: tidak sah. Si pemilih mencontreng di surat suara tersebut capres SBY-Boediono. Yang membuat surat suara tersebut tidak sah bukan lantaran contrengannya tersebut, melainkan ada coretan kata-kata.

Si pemilih surat suara menambahkan kosa kata "Antek AS".  Nyata-nyata si pemilih itu bukanlah pendukung capres nomor 2. Lantaran mana mungkin jika ia simpatisan SBY-Boediono, sudah benar mencontrengnya, sengaja dibuat agar surat surat tersebut tidak sah dengan menambahkan kosa kata itu.

Mungkin saja iseng (atau mungkin juga si pencontreng sadar politik), khusus surat suara ini tambahan kata-katanya tidak saya ucapkan keras. Cukup dengan mengatakan tidak sah karena ada tambahan coretan kata-kata. Batin saya, si pencontreng memang sengaja dan sadar dengan tindakannya.

Ketimbang golput, saya tetap menghargai tindakan si pencontreng sebagai "tanda protes" atas pasangan SBY-Boediono itu. Karena hanya dilakukan oleh segilintir orang, protes individual itu tidak memiliki efek signifikan pada perubahan perilaku politik.

Coba bayangkan bila tindakan semacam itu dilakukan oleh orang-orang terpelajar yang selama ini mengklaim dirinya atau mengkampanyekan golput? Taruhlah itu sebagai sebuah program terencana penyadaran politik masyarakat yang disertai publikasi masif.

Ribuan, ratusan ribu (atau andai jutaan) orang yang selama ini gencar dengan kampanye golput lantaran tidak ada calon pemimpinnya yang masuk pada kriteria ideal mereka, dan melakukan suatu protes dengan cara seperti yang dilakukan pencontreng SBY-Boediono diatas, bukankah itu suatu gagasan baru yang cerdas? Jika gerakan semacam itu menasional pada pilpres yang tengah diselenggarakan, saya rasa itu cara yang lebih elegan dan intelektual ketimbang suatu ajakan golput.

Sekalipun hal demikian tidak mempengaruhi legitimasi terpilihnya seorang pemimpin, namun tindakan massal dan menasional dengan cara semacam itu akan mendapat perhatian dari pemerintahan terpilih dan liputan luas media massa. Pada gilirannya akan berdampak bagi kehidupan politik yang cukup sehat, check and balance dan penuh warna. Sekali lagi, ketimbang memkampanyekan gerakan golput.

Kembali kepada soal corat-coret di surat suara pilpres yang menyatakan SBY-Boediono sebagai antek Amerika Serikat. Kita sebelumnya juga membaca dan mencermati pula melalui forum-forum milis, grup situs pertemanan, blog, media massa dan sebagainya. Oleh karena itu, tiba saatnya bagi SBY-Boediono yang menurut perhitungan cepat lembaga-lembaga survey terpilih satu putaran dengan legitimasi kuat sebagai pemimpin Indonesia pada 5 (lima) tahun kedepan, untuk membuktikan bahwa mereka berdua bukanlah antek bangsa asing, melainkan sebagai antek bangsanya sendiri.

Pembuktian itu bukanlah hanya dengan kata-kata manis di bibir belaka. Atau dokumen program-program pemerintah yang telah digariskan. Jauh yang lebih penting adalah tindakan nyata. Salah satunyan tercermin pada kebijakan-kebijakan dalam rangka memacu dan memajukan ekonomi bangsa atas prakarsa dan kepentingan segenap hajat hidup masyarakat dan bangsa Indonesia.

Selamat buat SBY dan Boediono. Masyarakat dan bangsa ini menanti kreasi-kreasi  para pemimpinnya untuk memajukan negeri, mengejar ketertinggalan dari bangsa yang telah maju dengan tidak meninggalkan kepribadian nasionalnya.

Lanjutkan!

*****

 

Dwiki Setiyawan, Ketua KPPS TPS 035 Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur.

 


Tag: Dwiki Setiyawan, Liputan Pilpres 2009, SBY-Boediono Antek AS, Kampanye Golput, TPS 035 Kelurahan Kalisari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    MosheDayan 0 0
    Bukankah kita semua ...????
    rif 0 0
    mendingan balik lagi ke nyoblos.

    kalo nyontreng -> dimeja akan tersedia spidol dan foto

    biasanya, dalam situasi anonymous dan dimeja ada spidol plus foto, maka muncul lah vandalisme.
    ini tangan kayaknya gatel banget bikin kumis, kacamata, taring...
    wongcilik 0 0
    Terbukti dah celoteh opa....... "Koq kayak anak TK"
    spidolhitam 0 0
    rif:

    bukannya nanti coblosannya malah lama soalnya ternyata coblosannnya membentuk gambar atau tulisan juga


    : D
    tennomeiji17 0 0
    lanjutkan jadi antek amerika....
    hehe : )
    laind 0 0
    Coba bayangkan bila tindakan semacam itu dilakukan oleh orang-orang terpelajar yang selama ini mengklaim dirinya atau mengkampanyekan golput
    ----------------------

    Karena secara hukum dilarang?
    Normanlahyaw 0 0
    It is a silent protest
    nasionalisosialis 0 1 tidak suka |
    DEMOKRASI PALSU...KOMUNISKAN INDONESIA
    Sitorus 0 0
    Baca judulnya udah serem, SBY - BOediono adalah antek Rakyat Indonesia, karena mereka lah titipan rakyat Indonesia untuk membangun negara ini 5 tahun kedepan.

    Peace
    kang evool 0 0
    Lucu lucu...
    Di TPS juga ada yang pilih SB-BUDIONO, Trus ditambah tulisan LANJUTKAN. Tapi ya ga SAH. Karena kalo ada tambahan tulisan (apapun) tetap tidak sah.

    Eh, ada lagi. Tetap contreng SBY - BIUDIONO. Tapi fotonya diberi kumis dan jenggot. Iseng banget tuh orang. Ga ada kerjaan apa..?

    Tapi kalo hasil hitungan manual KPU tidak berbeda jauh dengan hasil Quick Count. Maka sayalah yang paling senang. Kenapa ?

    Saya bisa tidur nyenyak, ga usah mikir sewa tenda dan kursi lagi buat bikin TPS.

    Kuping saya bisa dingin juga, karena tidak ada lagi debat kusis Tim sukses Capres.


    He he... kerja dulu aaaah
    Daeng Lalo 0 0
    SBY-Budiono sepertinya memang antek AS. Seandainya SBY kalah, maka skenario Iran II diberlakukan di Indonesia. Para pendukung SBY akan dikompori untuk melakukan kerusuhan, seperti halnya pendukung Muzavi di Iran yang disupport finansial dan politik dari AS. Namun skenario ini tidak terjadi, karena JK dan para pendukungnya cinta damai. JK sendiri adalah tokoh perdamaian yang seleyaknya mendapat NOBEL PERDAMAIAN
    Striding Cloud 0 0
    Daeng Lalo: lhah... saya baru faham anda ternyata tukang fitnah juga....
    ircham 0 0
    para pemilih ternyata kreatif juga, sekalian bikin lomba melengkapi gambar wae...heheheheheeehhehehe,,,,,,
    Arief Rasyad 0 0
    itu kita anggap bunga bunga demokrasi ada yg harum baunya ada juga yang yg bau hehe
    boiga 0 0
    tapi bener juga tuh bung dwiki.. kalo para golput kompak dateng ke tps dan menerapkan cara yang senada, tentu akan lebih terdengar suara protesnya.. terlepas itu baik atau buruk lho.. : )

    rif: saya juga sebetulnya gatel tuh.. biasanya surat suara kan lebar2, giliran cuma dua jengkal, jadi rasa2 ada yang kurang, jadi gatel.. : D

    Daeng Lalo: yakin bakal begitu?

    Silahkan login untuk memberikan pendapat