Politikana Pasca Pilpres 28

Rabu, 15 Jul '09 13:35, dibaca 164 kali

Rupanya acara kopdar Politikana Selasa, 7 Juli 2009 lalu tertelan gaung hasil Pilpres. Sehingga malah kurang tersosialisasikan dalam tulisan2 di Politikana sendiri. Karena kopdar malam itu kurang menggali aspirasi pengguna, maka saya mengusulkan beberapa hal:

  • Sistem pamor dikembangkan jadi dua point: karena kredibilitas (identitas yg jelas, meski memakai kloningan yg penting penulisnya diketahui moderator) dan karena kontribusi penulisan. Sehingga pamor nggak cepat turun padahal naiknya susah.
  • Biar penulisnya nggak itu-itu aja (yg bisa dikira orang jangan2 cuma pengurus pake identitas kloningan biar banyak) sebaiknya ada reward, biarpun cuma kaus atau mug seperti di websitenya SBY. Ada sistem point atau raport deh. Apalagi katanya ada rencana "Politikana Award" segala.
  • Pasca Pilpres usai, di sudut kanan atas sebaiknya diisi tulisan Editor/Moderator. Di media massa biasa disebut Editorial atau Tajuk Rencana yang diupdate tiap hari. Kalau mau ada acara macam kopdar juga bisa disosialisasikan di sini.
  • Ada dua sistem identitas kepenulisan, yg menggunakan nama asli/identitas jelas dan kloningan. Dari cara sahut-menyahut saat berkomentar, tampaknya sejumlah pemilik identitas kloningan saling mengenal di dunia nyata. Ini agak tidak fair bagi pengguna awam macam saya. Dulu saya pernah menulis soal ini dan "digebuki" ramai-ramai. Tentu saja, saya maklum ada cukup banyak soal sensitif yang ditulis sehingga riskan bila penulisnya memakai nama asli. Tapi jangan lantas memaki2 pemakai nama asli yg dianggap "jualan" atau malah "fasis" segala.
  • Dengan di-ban-nya Dhanis, berarti akhirnya Moderator memakai juga kewenangannya. Maka, alangkah lebih baik kendali ini terus digunakan agar Politikana tidak jadi forum caci-maki, tapi benar-benar sebagai sarana belajar berdemokrasi dengan adu-pendapat. Minimal, ada rambu-rambu yang disepakati bersama.
  • Soal Penulis Tamu bisa dipilih figur publik mana pun asal kompeten dalam menulis soal politik. Dian Sastro, Rieke Diah Pitaloka atau Nurul Arifin sekali pun oke saja. Atau mau pelawak Qomar sekalian, yang diam2 juga anggota DPR? Mungkin juga bisa seleb-birokrat macam Dede Yusuf?
  • Moderator yg menulis di luar editorial/tajuk rencana sebaiknya memakai nama asli. Dengan demikian kredibilitasnya makin oke seperti milis sebelah yg entah kenapa tampaknya tidak begitu disukai di sini...

Ayo, silahkan dibantai...


Tag: politikana, Usul, kopdar

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

hamatamu 0 0
saya keberatan dengan poin ke-empat
Shouen 0 0
Kenapa harus diragukan kredibilitas yang menulis apabila disertai data yang cukup dan isinya memang berbobot? Lihatlah dari tulisannya, bukan dari penulisnya....
Striding Cloud 0 0
BMH:

[__Tapi jangan lantas memaki2 pemakai nama asli yg dianggap "jualan" atau malah "fasis" segala.__]

Seingat Saya, dulu hamatamu berTANYA apakah Anda Fasis, karena Anda menulis begini:

[__Agar politikana.com makin berkualitas, apalagi sekarang masih versi beta, perlu diadakan razia identitas penulis.__]

-saya garisbawahi kata razia-

Jadi, karena kalimat diatas, bukan karena Anda pakai nama asli.

[__Dengan demikian kredibilitasnya makin oke seperti milis sebelah yg entah kenapa tampaknya tidak begitu disukai di sini...__]

Milis sebelah itu yang mana? Saya baru tahu ada milis yang kurang begitu disukai khalayak politikana....
boiga 0 0
suara saya sudah terwakili tiga di atas..
as 0 0
Shouen:
yeah, undzur ila maa qoola wa la tandzur ilaa man qoola : )
Apprayo 0 0
"Dari cara sahut-menyahut saat berkomentar, tampaknya sejumlah pemilik identitas kloningan saling mengenal di dunia nyata."

Menurut saya sih belum tentu. Tidak ada hubungan antara saling sahut menyahut dan saling kenal di dunia nyata.
Osama Umar 0 0
yang gak boleh ya ngebukin yang tanpa fakta dan data yang jelas, terlalu besar "sahwatnya" dalam kepenulisan tapi nol kemampuan,.
Striding Cloud 0 0
Apprayo:

[__Menurut saya sih belum tentu. Tidak ada hubungan antara saling sahut menyahut dan saling kenal di dunia nyata. __]

Sepahamnya saya, sahut2an antar warga lebih cenderung karena telah mengenal ideologi, metodologi dan style user yang lain.

fingerprint ideologis dan argumen itu yang diakrabi, bukan sekedar nama dan muka.

Contohnya, saya dan hamatamu punya fingerprint ideologis yang amat berbeda (sosialis VS kapitalis), namun punya metodologi yang relatif mirip, dan selera humor yang sama.

Jadinya bersahut2an lah, walaupun samasekali tidak kenal di dunia nyata.
Apprayo 0 0
Striding Cloud: Setuju
R A P 1 suka | 0
ikutan usul :

1. Pamor ditiadakan saja (atau istilah "terpuji" diganti menjadi "teraktif"),
2. Identitas tetap dibiarkan bebas/tidak wajib nama asli (yang penting kualitas tulisannya),
3. Kaos Politikana hendaknya ada yang ukuran XXL : ))

Pedy 0 0
Striding Cloud: NONA hamatamu ideologinya Sosialis tho? ; ))
hamatamu 0 0
R A P: hahahaha komplain : ))
heriyadi 0 0
R A P: setuju nih, kalo Politikana perlu ukuran besar lebih banyak, tapi saya masih XL saja sih.
R A P 0 0
hamatamu : dadine dipek bojo.. : ((

heriyadi : kalau sudah dicuci XXL jadi XL.. : ))
Striding Cloud 0 0
Pedy:
Iya NONA tersebut sosialis. Namun sepertinya bukan sosialis dogma, tapi sosialis kritis.

bukan begitu NONA?
hamatamu 0 0
Striding Cloud, katanya sih yang dogmatik itu gampang terpeleset : D
R A P, wah durung tak umbah jeh
Casper 0 0
*ngarep kaos...*
wawajie 0 0
[Dari cara sahut-menyahut saat berkomentar, tampaknya sejumlah pemilik identitas kloningan saling mengenal di dunia nyata. Ini agak tidak fair bagi pengguna awam macam saya]

saya g ada kenal satupun warga politikana, kalau mau sahut-menyahut mah, sahut-menyahut aje!
Lemon S. Sile 0 0
setuju sama Shouen aja deh..
samsara 0 0
[Soal Penulis Tamu bisa dipilih figur publik mana pun asal kompeten dalam menulis soal politik. Dian Sastro, Rieke Diah Pitaloka atau Nurul Arifin sekali pun oke saja. Atau mau pelawak Qomar sekalian, yang diam2 juga anggota DPR? Mungkin juga bisa seleb-birokrat macam Dede Yusuf?]

Pak Qomar : ((...udah banyak yang lucu mas di Politikana!

Saya tetap dengan dgn sikap awal saya: mendukung DS jadi penulis tamu 100% : ))
wawajie 0 0
samsara: mana realisasinya?
RETROVIRUS 0 0
setuju ama Shouen: juga dech...
Chairman Mao 0 0
ikut setuju sama Shouen: juga deh..

btw sedikit komen ga penting:
[pamor nggak cepat turun padahal naiknya susah] kalo naeknya susah yah emang seharusnya nggak cepet turun dong.. koq malah "padahal"?
samsara 0 0
wawajie: nganu, nunggu enda kali ya..

atau kalo nggak ntar gw coba tanya lewat FB-nya DS, moga-moga dia mau...
alakazam 0 0
Chairman Mao: wekekeke, gak online 1 minggu cukup membuat angka 70-an di pamor kembali ke angka 1...
alakazam 0 0
Halo pak BMH

saya menyahut apakah saya kenal anda ??? hakakakakakaka : ))
BMH 0 0
Hahaha, rupanya banyak yg menganut amandemen ke-8-nya AS. Ndak apa, namanya juga belajar berdemokrasi. Buat saya, menarik membaca tulisan curhatnya Pepih Nugraha hari-hari ini di Kompasiana. Itulah yang saya rasakan juga, apalagi kemarin sempat jadi webmasternya capres. Dan setelah saya bicara sama Enda + Pak Didi di kopdar, tampaknya semangat Politikana memang "pembebasan". Jadi, ini rumah anda, silahkan saja terapkan aturan apa pun. Saya sih ikut saja.
Kalau soal pamor di Politikana, saya tak lagi peduli. Karena saya menulis sesempatnya, termasuk di situs lain juga. Lagipula, saya sudah rajin menulis di blog saya: http://www.lifesc…ordpress.com [hehe, ini -10 promosi diri] : D
laind 0 0
BMH:
As you can see... THIS IS INTERNET!!!!

Politikana adalah tempat clash of ideas, tempat untuk belajar melihat dari sudut pandang lain, dan mencari sudut pandang diri sendiri.

Kayaknya aku terlalu lama g onlen, nggak tahu kalau dhanis diban... : (

Silahkan login untuk memberikan pendapat