Indonesia, Aku Malu 42
Jumat, 17 Jul '09 10:50
Sesak dada saya membaca dan melihat berita ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta pagi ini. Masih pentingkah saya menulis, ini dan itu, di sini?
oleh Rusdi Mathari
PAGI ini di tengah gemuruh semua kutukan banyak orang, saya memilih memejamkan mata. Entah pula untuk siapa air mata yang kemudian membasahi pipi ini. Saya mendengarkan jerit kesakitan orang-orang itu, lolongan orang-orang yang separuh tubuhnya hangus terbakar api kemarahan.
Saya tersungkur bukan karena saya tak bisa menolong mereka tapi pecahan-pecahan kaca dan bom itu pagi ini telah menancap pada hati dan membuatnya berdarah. Kepulan asapnya membuat kerongkongan saya tersedak, dilesak ribuan mesiu, yang saya sendiri tak tahu, milik siapa.
Pagi ini, orang-orang yang telah membungkus hatinya dengan api kemarahan itu, mestinya telah menikmati sarapan sambil menonton televisi. Mereka akan menghitung dan saling berucap selamat, kerja besar telah ditunaikan. Di tengah kepulan asap yang masih memadati udara, mereka kemudian barangkali menyusun rencana baru. Entah untuk tujuan apa, untuk siapa, tapi di mana mereka kini, jika bukan bersembunyi di kolong-kolong kepengecutan itu?
Pagi ini, kepada layar komputer di depan mata, saya juga bertanya, di mana mereka yang katanya bisa memberi rasa aman itu. Ketika ledakan itu sungguh telah membunuh, pagi ini mereka hanya mulai berhitung tentang jumlah, menuliskannya di papan putih, dan menyiarkannya kepada ruang dan waktu. Nyawa-nyawa itu telah mereka ukur hanya dengan angka statistik, seolah berhitung tepat adalah pekerjaan mereka.
Mereka semua ingin menjadi yang pertama, yang paling mengutuk paling keras, sembari berharap diam-diam sebagai yang paling merasa paling berbuat, paling peduli. Lalu masih pentingkah semua pernyataan rasa iba itu, ketika orang-orang itu telah terbujur kaku sia-sia?
Pagi ini saya tak bisa menuliskan apa pun, selain hanya menyeka pelupuk mata dengan sapu tangan basah. Jari-jari tangan yang terasa kaku, berat digerakkan. Atau masih pentingkah saya menulis, ini dan itu, di sini?
Sungguh, pagi ini saya menangis untuk mereka para korban bom itu tapi saya lebih menangisi mereka yang selalu berpikir dengan membunuh, dan kepada Tuhan mereka merasa telah berbakti. Ingin rasanya berteriak, kenapa saya dilahirkan di negara yang dipenuhi orang-orang yang selalu memaksakan kehendak, yang selalu berdiskusi dengan mengancam.
Pagi ini entah kenapa, saya malu sebagai orang Indonesia.
Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog.
Tag: jakarta, bom, jw marriot, kuningan, Ritz Carlton
Terkait:
-
Open Recruitment Densus 88++
Jumat, 17 Jul '09 18:16 -
Seputar Maklumat Resminya Al-Qo’idah Indonesia
Jumat, 31 Jul '09 10:04 -
Bom Anti Amerika, Terkait SBY ?
Jumat, 24 Jul '09 10:09
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Subroto: Penting
-
Ibnu Muslim: Bagus
-
Pedy: Penting
-
maskubambang:
-
kinanthi: Penting
-
Sri Kirana: Keren
-
LCFR: Bagus
-
InKa: Menarik
-
BMH: Bagus
-
Wonggantenk: Penting
-
kakilangit: Penting
-
yusro: Penting
-
@guz: Menarik
-
botaksakti: Inspiratif
-
Mardianto: Penting
-
R A P: Menarik
-
Ev: Bagus
-
GaRiz: Penting
-
teruterubozu: Inspiratif
-
pujangga: Bagus
-
juveman: Menarik
-
Forlorn Hermit: Penting
-
mythcrawl: Penting
-
krisnov: Penting
-
Xaliber von Reginhild: Terkini
-
dimsci: Penting
-
boiga: Bagus
-
khalif: Terkini
-
retrotika: Inspiratif
-
monsterikan: Biasa
-
hamatamu: Biasa



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Cepet bgt nulis artikelnya, saluuut!
Ingin rasanya berteriak, kenapa saya dilahirkan di negara yang dipenuhi orang-orang yang selalu memaksakan kehendak, yang selalu berdiskusi dengan mengancam.
-----------------
Mending lahir di Indo, dripada di Afghanistan, Pakistan, Palestina, Irak, dll
*baru nyadar kalau si penulis ternyata lebay
Membaca tulisannya saya tersadar untuk mengusirnya dari Indo
kecurigaan kita skr sepatutnya ditujukan kepada evaluasi kinerja densus88 dengan suntikan dana yg cukup besar, apakah sdh bekerja secara maksimal? ; sistem intelejen dan keamanan seperti apa sebenarnya yg dikelola negara, jika pelaku bisa meletakkan bom (lagi) dilokasi yg sama 6 tahun kemudian pada hari ini, dan ternyata hukuman mati juga tak membuat jaringan mereka jera..
*ikut merenung..
Semoga tidak ada lagi orang bodoh lain yang berharap agar kinerja densus88 semakin ditingkatkan dengan menambah jumlah personilnya
Karna densus88 yg harus disalahkan dalam keadaan ini, seperti harapan dan kecurigaan anda
hahaha..sensi betul si Subroto..nih
saya kan cuma menganalisa, datasmen-densus 88-anti teror itu sempat menerima dana besar dari AS krn prestasi heibatnya. Lah skr saya mikir, mereka ngapain aja? lah kok bisa orang masuk hotel, meletakkan bom ditempat yang pernah terjadi 6 tahun yang lalu..yg jaraknya cuma 5-8 kilo dari istana RI 1???
anda yang bilang ya, kalo densus 88 yg harus disalahkan.
baca dong komen saya, saya bilang...KECURIGAAN...boleh dong curig hihiii
Menuduh polisi buncit2 makan gaji buta gitu? Sementara anda sudah tahu kelompok/aliran mana pelakunya disekitar anda
nih saya kopi ulang komen saya:
kecurigaan kita skr sepatutnya ditujukan kepada evaluasi kinerja densus88 (EVALUASI KINERJA)..
justru dgn adanya orang seperti saya, kerja sektor kemanan akan mendapatkan input yg lebih baik lagi.
begini, lah masak INTEL RI cuma pandai menghabisi Munir, lah kok mendeteksi aktivitas tukang bom yang jaraknya cuma 4 Kilo dari Polda tidak mampu? atau jangan-jangan karena memang kinerjanya belum maksimal..
Saya tidak tahu pasti siapa pelaku pengeboman, cuma saya bisa curiga (boleh kan?) dgn JI, atau juga TNI atau CIA atau anggota satpam hotel yg stress...
ah ya sudahlah, anda punya opini saya juga, boleh kan berbeda opini dgn anda.
memang kita tidak boleh su'udzon, tapi om juga harus lihat konteksnya. kecurigaan itu pada konteksnya apa tidak.
waktu om cahayadipantara mengkritisi densus kah, cia kah, atau ji kah. kalau menurut saya wajar2 saja. itu adalah logika standar. ketika ada kejahatan, siapa yang paling sering terlibat, paling sering disebut, dan paling memiliki kekuasaan adalah yang paling mungkin dikritisi.
kalau bang subroto punya informasi lain silahkan dishare..
Maaf, mas Rusdi tahu dari mana bahwa si pelaku punya motif agama ? (Ini saya simpulkan dari kalimat mas yang berbunyi "...kepada Tuhan, mereka merasa telah berbakti".
Menurut saya dalam setiap kasus terorisme terbuka semua kemungkinan, siapapun dengan motif apapun bisa menjadi pelakunya.
Bisa orang sipil, bisa orang militer, bisa orang waras, bisa orang gila, dan motifnya bisa kekuasaan, ekonomi, agama, keadilan dan kesejateraan, dll.kepentingan.
Jangan mudah terjebak dengan kasus terorisme yang selama ini biasanya sengaja diarahkan kepada pelaku yang dicap sebagai ekstremes/atau fundamentalis Islam.
Saya turut berduka penuh, semoga Allah SWT memberi ketabahan dan kekuatan bagi para korban dan menerima semua amal baik selama hidup bagi korban meninggal.
Semoga kasus ini diusut tuntas setuntas-tuntasnya.
Sorry, aku gak menyalahkan mas Rusdi, hanya bertanya.
Modus operandi sama ? Apakah betul ? Bahkan siapapun bisa meniru modus operandi siapapun.
Siapapun/kelompok apapun bisa punya kepentingan dengan jalan menunggangi atau ditunggangi.
Kami sebenarnya berhak meminta pertanggungjawaban anda atas kejadian ini, org2 yg tidak ikut pemilu secara ideologis.
Mengikuti pola pikir samsara diatas, wajar kecurigaan ada pada anda dan kelompak anda
*keselek
Menurutmu siapa yang diuntungkan dan punya kepentingan ?
uhhmmm.....bisa siapapun !
uhuugh...uhukk...ketularan batuk aku.
set daah....siapa punya kelompok apa lagi ?
Kelompok yang anda curigai itu tidak berjuang dengan kekerasan.....hanya berperang opini, jadi pelurunya ya opini bukan pelor apalagi bom.
Semoga Allah SWT mengampuni anda dan memberikan hidayah bagi anda sekeluarga. Amin.
Beneran dah, MU gk jadi datang jadinya!! Kampret ah!!
Sorry LCFR, aku cuma mencoba berfikir positif dan obyektif, bukan ngomel.
Btw, apa ini cuma perasaan saya atau metodenya agak berbeda? Radius bom nggak sebesar yang biasanya; pengeboman juga dilakukan di dua tempat yang berbeda dalam waktu hampir bersamaan.
http://www.detikh…ng-indonesia
Silahkan login untuk memberikan pendapat