Politisasi Bom J.W. Marriot dan Ritz Carlton dalam pidato SBY 10

Sabtu, 18 Jul '09 21:23, dibaca 133 kali

 

SEBELUMNYA saya ucapkan turut berbelasungkawa kepada para korban ledakan bom di hotel Marriot dan Ritz Carlton Jumat pagi [16 Juli 2009] kemarin. Tercatat ada 9 orang tewas dan puluhan luka-luka. Bom kali ini boleh dibilang agak berbeda karena mengakibatkan Manchester United yang tadinya akan bertandang ke Indonesia jadi membatalkan rencananya itu. Padahal seharusnya Sabtu malam MU sudah dijadwalkan mendarat di Jakarta. Sayang bom itu merubah segalanya. Kebetulan Ritz Carlton nantinya yang akan digunakan pemain MU dan Indonesia. Sangat wajar kalau akhirnya demi alasan keamanan MU membatalkan lawatannya ke Jakarta ini.

Bukan batalnya MU bertandang ke Indonesia yang saya bahas disini. Saya justru tertarik untuk membahas pidato kepresiden yang dibuat SBY pasca ledakan terjadi. Tanpa bermaksud menghina instusi kepala Negara Republik Indonesia, saya merasa SBY mempolitisasi bom Marriot dan Ritz Carlton demi kepentingan pribadinya. SBY juga berpidato sebagai capres Indonesia saat ia seharusnya berpidato dalam kapasitasnya sebagai Presiden Indonesia.

Pada permulaannya memang SBY lebih menitikberatkan pada peristiwa bom itu dan mengucapkan belasungkawa pada para korban. Namun lama kelamaan SBY juga cenderung membicarakan dirinya dalam posisinya sebagai capres Pilpres 2009 dengan teror-teror  yang dialaminya dibanding dengan membahas bom yang baru saja terjadi. Mau tidak mau timbul kesan SBY mempolitisasi peristiwa ini. Bagi yang belum sempat meyaksikan pidato itu, naskah pidato SBY itu bisa dilihat di sini. Selanjunya saya nukilkan beberapa statement SBY yang mengindikasikan dia berbicara sebagai capres di pidato presiden:

Terus terang juga, aksi pemboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elit disertai sebagaimana yang saya ikuti setiap hari, ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan yang itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu.

SBY mengatakan bahwa sekarang sedang ada kegaduhan politik di tingkat elit dan usaha untuk terus memelihara suhu panas dan permusuhan. 'Kegaduhan' terjadi setelah rakyat melaksanakan kewajiban demokrasi alias mengikuti pilpres kemarin. Di titik ini SBY sudah membawa peritiwa bom ini ke arah pemilu dan pilpres. Menyebutkan saat ini terjadi kegaduhan politik saya kira itu terlalu berlebihan. Megawati-Prabowo memang mepermasalahkan DPT, namun apakah itu salah mengingat DPT kemarin memang sedikit banyak cukup bermasalah? Kubu Megawati-pun kalaupun benar dinyatakan kalah juga sudah menyatakan diri menjadi oposisi. Tidak ada kesan untuk menuntut keabsahan keterpilihan SBY. Kubu JK dan Golkar malah semakin lama semakin terlihat merapat ke SBY. Jadi dimana letak 'kegaduhan politik' yang dimaksud SBY itu?

Pagi ini saya mendapat banyak sekali pertanyaan, atau saudara-saudara yang mengingatkan kepada saya. Yang berteori paling tidak mencemaskan, kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pemilihan Presiden sekarang ini. Saya meresponnya sebagai berikut, bahwa kita tidak boleh main tuding dan main duga begitu saja, semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum

Ibarat ada sebuah kotak ada tulisan 'Jangan Dibuka, Isinya tidak Penting', pasti orang justru malah semakin penasaran akan isi kotak itu dan pasti ingin membuka kotak itu. Nah dengan SBY mengatakan jangan main tuding peritiwa ini berkaitan dengan Pilpres justru malah SBY meminta secara tidak langsung untuk mengaitkan peritiwa ini dengan Pilpres 2009. Apalagi ditambah statement-statement SBY berikutnya. SBY sadar tidak sadar berhasil melakukan hal itu. Sekarang media makin banyak saja yang membahas pidato SBY ini daripada peristiwa bom yang baru terjadi.

Saya harus mengatakan untuk yang pertama kalinya kepada rakyat Indonesia, bahwa dalam rangkaian pemilu legislatif dan pemilihan Presiden dan pemillihan Wakil Presiden tahun 2009 ini memang ada sejumlah intelegen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Sekali lagi ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun kita pantau dan kita ikuti. Intelegen yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto SBY dijadikan sasaran, dijadikan lisan tembak.

Saya tunjukkan, ada rekaman videonya, ini mereka yang berlatih menembak (sambil menunjukkan foto-foto yang didapat dari badan intelegen). Dua orang menembak pistol. Ini sasarannya, dan ini foto saya dengan perkenaan tembakan di wilayah muka saya, dan banyak lagi. Ini intelegen, ada rekaman videonya, ada rekaman gambarnya, bukan fitnah bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu.

Di posisi ini SBY sudah mulai out of topic. Ini sudah keluar dari koridor pidato kepresidenan tentang terorisme lewat bom. Daripada menyampaikan belasungkawanya kepada para korban atau menginstruksikan tindakan-tindakan yang harus dilakukan tapi malah membicarakan dirinya sendiri. SBY ternyata sedang diincar teroris. Oke informasi itu memang mengejutkan tapi tidak berhubungan sama sekali dengan ledakan ini. Kalaupun pelaku bom itu sama dengan mereka yang mengincar SBY itu kenapa yang di bom hotel Marriot dan Ritz Carlton bukannya di Cikeas atau di Istana atau tempat dimana SBY berada saat itu?

Masih berkaitan dengan intelegen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil Pemilu. Adapula rencana untuk pendudukan paksa KPU pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang, ini intelegen bukan rumah bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu.

Di pidato inilah SBY sudah sangat jelas tanpa tedeng aling-aling berubah menjadi berpidato bukan sebagai presiden Indonesia lagi melainkan sebagai seorang capres. SBY berusaha membuat seolah akan ada kerusuhan saat pengumuman dan penetapan presiden terpilih besok. Dan yang membuat kerusuhan adalah pihak yang kalah. Indikasinya kata SBY Indonesia akan dibuat seperi Iran. Padahal seperi yang kita tahu konflik Iran adalah konflik antar pemenang pilpres dengan pihak yang kalah. Terlalu picik saya kira kalau SBY berpikiran seperti itu meskipun SBY mengatakan informasi iu didapat dari intelijen. Saya kira capres-cawapres yang kalah tidak akan sampai berbuat seperti itu. Melihat gerak para Mega dan JK mereka terlihat siap kalah.

 Selain itu bukan kebiasaan orang Indonesia untuk merebu kekuasaan melalui revolusi dan kudeta. Wiranto dan Prabowo saat menjelang turunnya Soeharto bisa saja melakukan kudeta karena mereka punya kuasa. Wiranto saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI dan Prabowo sebagai Pangkostrad. Tapi toh nyatanya mereka tidak melakukan itu. Saat menjadi pimpinan tentara saja yang notabene punya pasukan hal itu tidak dilakukan, apalagi sekarang posisi mereka yang sudah purnawiran? Sangat tidak mungkin. Pasangan mereka JK dan Megawati malah orang sipil. Tidak punya pasukan. Sungguh mengecawakn sekali pernyataan SBY itu

Kurang lebih itu beberapa selipan pidato SBY sebagai capres saat pidato kepresidenan yang terindikasikan mengakit-kaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton dengan Pilpres. Mengecewakan sekali SBY yang sudah berpengalaman memimpin bisa berkata seperti itu. Akhirnya tudingan SBY mempolitisasi peristiwa ini pun muncul. Jangan salahkan orang-orang yang tidak suka pada SBY semakin menyatakan SBY kembali memainkan pola lama berbuat seolah-olah 'dizalimi' untuk semakin mendapat simpati masyarakat.

Sudah diposting di yasiralkaf.wordpress.com

 


Tag: SBY, bom

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Yasir Alkaf 0 0
mohon maaf, jika tulisan ini senada dg tulisan yg lain
hanya ingin menuangkan uneg2 saya saja
^_^
olive 0 0
Bukannya iklan SBY sudah begitu menjelaskan.....SBY adalh seorang yang Muslim yg religius (adegan sholat aja jd iklan), santun, berbakti kepada ortu....& bla..bla...bla..

Kalau benar SBY jadi sasaran teroris, apa ada hubungannya dg ....emmm.... USA adalah negara ke dua SBY...ya??...

Casper 0 0
Kita tdk pernah tahu....,
Jika memang semua itu benar bagaimana?
Di politikana ini adakah yg berusaha menyelidiki apa yg dikatakan SBY daripada sekedar bergunjing ad hominem?
Forlorn Hermit 0 0
Yasir Alkaf: Wajar, semua memang berpikiran sama. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya tidak menganggap SBY terlalu mengada-ada :

1. Statemen Prabowo dan Indra Jaya Piliang sebelum pemilu ( http://tinyurl.co…prabowo-iran dan http://tinyurl.com/ijp-iran )

2. Masalah 1998, saya tidak bisa membayangkan kalau Amien Rais tidak membatalkan aksi massa di Monas yang sudah dijaga 80.000 tentara. Seandainya terjadi bentrokan massa yang sekitar 500.000 orang dibelakang Amien Rais dengan militer, dan terjadi kondisi darurat, yakin peluang kudeta itu tidak akan diambil ?
jC 0 0
Yasir Alkaf: You said it well, even better : )
ibarat kata teman saya di facebook, "semua isi kepalaku sudah kau tulis.." dan lengkap dengan kutipan yang bermasalah itu : )

Forlorn Hermit: Statemen Prabowo dan Indra J. Piliang jangan ditarik dari konteksnya dong.. bukan cuma mereka kok, orang-orang yang mengerti apa yang terjadi di Iran, pasti paham bahwa yang mereka maksud adalah adanya PROTES BESAR dari rakyat (terlepas siapa yang benar-siapa yang salah), karena PENYELENGGARA PEMILU dianggap BERPIHAK pada INCUMBENT. Jangan lupa, yang melakukan tindakan KEKERASAN di IRAN justru pemerintah yang incumbent itu : ) kecuali kalau di Indonesia Protes sudah dilarang.. kalo gitu saya ngga ikut campur dah : p
secooter metic 0 0
Yasir Alkaf: iap, spakat, lama2 bingun lyt tulisanna bom mlu2...

olive: ituh mah pake teori konspirasi lama2, tp log qt lyad dr perspektif agama bukanna Obama udah berupaya meredakan konflikX dgn umat Islam d timur tengah y?!

Casper: emangna qt BIN, slidik puna slidik ujung2X qt ngomong tp sbatas argumen doang... bahas laen ah...

Forlorn Hermit: iap, spakad! tp dsini prabowo malah menantang utk mnyelesaikanna dlm tahap lbih dalam... Jd sbuah anomali bagi qt utk mnyimpulkan sgala sesuatunya... huffff....
jC 0 0
secooter metic: suwer, gw gwak ngwerti lu ngomong apaan *iseng berat*
Subroto 0 0
Kudeta...kudeta..kudeta..

Sulit sekali membayangkannya bisa dan akan terjadi di Indo di zaman skrg ini

1. Teknologi penyebaran komunikasi sudah cepat, sedikit info negatif menyebar, rakyat akan cepat bertindak
2. Indo negara kepulauan, bukan satu daratan luas yg akan dengan gampang di determinasi oleh pasukan

Bisa dikatakan, org yg merencanakan akan melakukan kudeta adalah org bodoh, atau... org yg menduga/menuduh akan terjadi kudeta lah yg bodoh
Forlorn Hermit 0 0
jC: Konteks saya mengutip pernyataan Prabowo dan IJP adalah karena penulis artikel menganggap "SBY berusaha membuat seolah akan ada kerusuhan saat pengumuman dan penetapan presiden terpilih besok", dan "SBY terlalu picik kalau berpikiran seperti itu".

Saya hanya menunjukkan bahwa tanpa informasi intelijenpun di koran sudah ada pernyataan-pernyataan tentang Iran. Belum lagi pertemuan di kantor Muhammadiyah yang dihadiri Mega-JK sehari sebelum keputusan MK keluar yang membolehkan menggunakan KTP,

Menurut saya apa yang saya bilang tidak keluar konteks, kalau menurut anda saya keluar konteks ya terserah saja. Saya lebih senang kalau anda dan penulis artikel benar, bahwa pihak yang kalah sudah legawa, atau menurut kalimat penulis:
"Melihat gerak para Mega dan JK mereka terlihat siap kalah."

Mungkin seperti kata Dh2L saya nonton tv dan baca berita yang beda dengan anda.
Yasir Alkaf 0 0
jC: terlalu memuji saya kira kalau mas mengatakan 'You said it well, even better'. Sekali lagi mohon maaf kalau agak2 mirip dg artikel anda ataupun artikel2 penulis lain

Forlorn Hermit: kalau begitu mungkin penafsiran kita yg berbeda mas. Saya tdk terlalu mengikuti berita di internet, lebih banyak mengandalkan tv. Nah setahu saya Mega sudah siap beroposisi dan JK atau lbh tepatnya Golkar mulai agak merapat ke SBY. Itulah mengapa saya mengatakan dua pihak itu sudah siap kalah dan peluang terjadi kerusuhan dii iran menjadi sangat kecil. Pernyataan Prabowo atau IJP itu saya kira lebih cenderung 'tantangan' pd pemerintah atau pihak terkait utk membenahi DPT karena sangat berbahaya kalau DPT kacau
begitu..

Silahkan login untuk memberikan pendapat