Politikana, Akan ke Mana? 96
Senin, 27 Jul '09 01:14
Tidakkah bahkan ketika belajar berdemokrasi seperti yang menjadi cita-cita Politikana, mestinya juga dituntut sebuah keterangan dan kejelasan laku dan bukan sebuah sikap yang sengaja terus ditutupi apalagi sengaja dengan niat menipu agar orang lain tak tahu, siapa yang bersuara, menulis dan berkomentar itu, dengan alasan, itu adalah hak pribadi?
Oleh Rusdi Mathari
SUATU malam, lebih sebulan lalu, saya bertemu dengan seorang petinggi media yang cukup terpandang di negeri ini. Habis membicarakan isu macam-macam, dia bertanya soal keaktifan saya menulis di Politikana. Saya mengiyakan dan memberitahukannya, yang mendorong saya menulis di Politikana adalah Iman D. Nugroho, wartawan tangguh yang saat ini berburu berita di Timor Leste.
“Terus terang Cak, ancaman serius bagi kami bukan dari pesaing kami media sejenis, melainkan Politikana,” kata dia.
Saya mencoba melihat wajahnya, mencari sesuatu di matanya: jangan-jangan teman saya itu berbohong, atau malah sinis. “Kenapa?” tanya saya.
Dia lalu menjelaskan, kebanyakan tulisan di Politikana berbeda dengan tulisan-tulisan di situs-situs yang lain. Selain soal informasinya yang dia anggap banyak yang tidak dimuat di arus media utama, cara penulisan di Politikana dianggapnya juga lebih bagus ketimbang tulisan-tulisan berita di situs-situs itu. “Kami sekarang mencoba mengembangkan situs semacam Politikana,” kata dia.
Beberapa hari setelah pembicaraan di malam itu, ketika bertemu dengan Mas Didi Nugrahadi dan Mas Yusro, saya sampaikan apa yang saya dengar itu. Mas Didi serius, Mas Yusro tertawa. “Enggaklah, kita bukan pesaing. Ayolah kita kerja sama saja,” kalau tidak salah ingat, begitulah ucapan Mas Didi, yang saya dengar.
Saya tak hendak menempatkan Politikana sebagai sesuatu yang ajaib, kecuali sekadar sebagai media alternatif itu. Sejak mengenal blog (yang celakanya hingga kini saya tetap tak paham-paham caranya itu), saya memang menebalkan niat menjadikannya sebagai media perlawanan. Nawaitunya, blog gratisan yang saya buat, akan saya jadikan sebagai jawaban terhadap pemberitaan dari media arus besar, yang menurut saya sudah telanjur banyak berkompromi untuk tidak mengatakan sudah banyak yang tidak jujur.
Wael Abbas yang mendapat penghargaan dari Pusat Wartawan Internasional (ICJ) di pengujung 2007, menjadi inspirasi saya membuat blog. Wael adalah blogger asal Mesir. Dalam tulisannya di Washington Post 27 Mei 2007, dia mengaku mengenal blog sejak akhir 2004 atau beberapa bulan sebelum pemilu Mesir pada 2005.
Nama Wael terutama dikenal setelah foto-foto dan rekaman videonya tentang aksi-aksi protes dari para aktivis Mesir yang menentang Presiden Hosni Mubarak diakses banyak orang. Dia juga berhasil mewawancarai seorang yang dibayar untuk melawan para demonstran. Kepada Wael, orang itu mengaku diangkut dengan bus dari daerah kumuh di pinggiran Kairo untuk melawan orang-orang yang melakukan unjuk rasa menentang Mubarak. Semua hasil rekaman video dan foto, dan juga hasil wawancara yang dilakukan Wael dengan seorang demonstran bayaran itu, dimuat di blognya.
Reaksinya sungguh luar biasa: blog Wael diakses oleh setengah juta pengunjung hanya dalam dua hari meski tulisan-tulisan dan gambar-gambar di blog Wael tentu saja tak bisa memengaruhi hasil pemilu 2005 di Mesir, yang sudah direkayasa oleh rezim Mubarak. Presiden yang menggantikan Anwar Sadat sejak 1981 itu, pada pemilu 2005 kembali menjadi Presiden Mesir. Tulisan lengkap tentang Wael bisa dibaca di sini.
Tak Paham
Tak mudah tentu saja mewujudkan niat agar blog saya menjadi seperti blog Wael itu, meski sebagian tulisan saya beberapa kali dijadikan referensi oleh beberapa pembaca. Sebuah media nasional yang mapan bahkan pernah begitu saya mengambil utuh tulisan dari blog saya, plek hingga titik komanya, dimuat di halaman depan, dijadikan sampul utama. Dua kali itu dilakukan, meski yang satunya hanya dimuat di halaman dalam.
Lalu ketika Iman mengabarkan kepada saya tentang Politikana, saya lantas mencari tahu apa itu. Saya membaca tulisan-tulisan yang terpampang dan deretan nama pengelolanya. Sebagian saya hanya kenal nama seperti Enda Nasution, Mas Yusro dan Herman Saksono, yang lain seperti Mas Didi dan Wicaksono, saya pernah bertemu.
Kesimpulan saya waktu itu, Politikana adalah situs yang lumayan menantang. Menarik dan berbeda. Saya karena itu lalu memutuskan mendaftar dan memosting tulisan.
Tulisan pertama berjudul "Tentara Itu Mulai Berdemonstrasi" saya posting 30 April. Iman yang memberi komentar paling awal. Arysani, Wonggantenk, Herman, dan Jangdesur saya ingat adalah empat orang pertama yang memberikan komentar pada profil saya.
Saya yang semula tak paham dunia belantara blog, juga mulai mencoba mengenal apa itu blog dan karakter para blogger meski kemudian saya sadar dunia blog memang dunia yang sama sekali tak saya kenal, tidak saya pahami: siapa saja boleh menulis dan bebas berkomentar. Saking bebasnya, hingga komentar-komentar yang sebetulnya tak pantas ditulis dan tak relevan, juga bebas disampaikan. Di blog saya, ada yang bahkan menyerukan penghalalan darah saya.
Dari Politikana pula, saya juga tahu, banyak penulis dan orang-orang yang berkomentar rupanya lebih enak jika menggunakan nama samaran. Dari beberapa penulis di Politikana yang lebih dulu malang melintang di dunia blog— yang saya dapatkan kontak email dan nomor ponselnya— diberitahukan kepada saya, kenapa sebagian teman-teman itu lebih enak memakai nama samaran. Alasannya macam-macam.
Ada yang katanya soal masa lalu politik, ada yang hanya sekadar agar terbaca gagah karena namanya aneh, tapi tak sedikit yang sebetulnya memang hendak bersembunyi dan sebagainya. Dan yang kemudian mengejutkan, karena katanya pula, tak sedikit teman-teman di Politikana yang mendaftarkan diri dengan identitas berbeda.
Ada yang memiliki dua, tiga dan seterusnya. Selain agar aman memberikan komentar, katanya lagi, tujuannya untuk menaikkan rating tulisan yang dibuat dan mengunduh pamor. Luar biasa.
Saya yang betul-betul awam soal blog, semula tak percaya dengan semua penjelasan itu tapi akhirnya harus manggut-manggut ketika mendapati, isyarat semacam itu memang ada di Politikana.
Lewat Facebook, seorang teman yang aktif di Politikana saling berkirim pesan dengan saya pekan lalu. Saya bertanya soal itu dan dia menjelaskan semua alasan penggunaan nama samaran itu, termasuk katanya, itu adalah hak pribadi.
Lalu Jumat silam beberapa jam sebelum Politikana mengadakan pertemuan di Yogyakarta, seorang teman di kota itu yang juga aktif di Politikana memberitahukan, dia dan beberapa teman yang lain di Yogyakarta mulai bosan menulis di Politikana. Alasannya, tulisan di Politikana mulai banyak yang tidak jelas sejak musim Pemilu Presiden hingga kejadian bom itu.
Kata dia, kalau Politikana terus seperti itu, nasibnya tak akan jauh berbeda dengan nasib situs serupa yang pernah ada, yang sudah ditinggalkan orang. Dia menyebut nama situs itu, tapi saya lalai mengingatnya.
Kantong Sampah
Jumat malam itu, usai berkirim kabar dengan teman dari Yogyakarta tadi, saya mengingat kembali ucapan petinggi media di Jakarta itu yang menganggap Politikana sebagai ancaman bagi medianya. Saya yang mengenal betul jejaknya sebagai aktivis, intelektualitas dan reputasinya sebagai wartawan, menganggap ucapannya bukan tidak bersungguh-sungguh. Dia serius.
Soalnya sekarang, ya itu tadi, ketika orang “luar” menilai Politikana sebagai sesuatu yang wah, media yang harusnya memang memberikan banyak alternatif tulisan dan komentar sehat, ternyata juga banyak diisi oleh orang-orang yang hanya nyaman menyembunyikan tangan setelah melempar batu postingan atau kerikil komentar.
Mungkin memang bukan sebuah ironi, karena sejak awal Politikana dihadirkan adalah untuk menampung semua orang agar berani menulis dan berkomentar. Belajar berdemokrasi. Tapi ketika keberanian menulis dan berkomentar sebetulnya sudah menjadi sesuatu yang niscaya pada zaman ini, semua orang yang memang peduli dengan niat baik dari Politikana itu, mestinya juga tak malu-malu lagi membangun Politikana agar semakin baik. Itu bisa terwujud, terutama jika semua orang yang aktif di situs ini juga mulai bersedia mengenalkan diri dengan identitas jelas.
Sudah bukan zamannya bersembunyi dengan topeng, sembari kemudian hanya terus bisa memaki, menghardik dan agar orang lain tak tahu siapa yang memaki dan menghardik. Politikana bukan kantong sampah.
Juga, tidakkah bahkan ketika belajar berdemokrasi seperti yang menjadi cita-cita Politikana, mestinya juga dituntut sebuah keterangan dan kejelasan laku dan bukan sebuah sikap yang sengaja terus ditutupi apalagi sengaja dengan niat menipu agar orang lain tak tahu, siapa yang bersuara, menulis dan berkomentar itu, dengan alasan, itu adalah hak pribadi?
Tulisan ini juga bisa di Rusdi GoBlog.
Tag: politikana, situs, blog
Terkait:
-
Para Pemain Utama Situs Internet Menolak RPM Konten
Rabu, 17 Feb '10 18:43 -
Politikana Versi Buku?
Selasa, 28 Apr '09 19:14 -
My Beloved Blog, My Lovely Politikana
Kamis, 2 Apr '09 09:38
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Menarik
-
pujangga: Keren
-
Apprayo: Penting
-
MR: Penting
-
Ridwan: Penting
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
boiga: Menarik
-
wongcilik: Penting
-
InKa: Inspiratif
-
Wonggantenk: Penting
-
samsara: Menarik
-
dimsci: Penting
-
Striding Cloud: Menarik
-
anti-fenomena: Penting
-
heriyadi: Penting
-
R A P: Penting
-
GaraMata: Menarik
-
eshape: Penting
-
NOS: Menarik
-
Riyono: Penting
-
mufa: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
perempuan api: Menarik
-
Logical Fallacy: Menarik
-
Bocah nDeso: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
kinanthi: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
yusro: Penting
-
Milanisti06: Menarik
-
Pangeran Siahaan: Penting
-
laler istana: Menarik
-
kakilangit: Penting
-
mpokb: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
nagawulan: Menarik
-
Riri Satria: Penting
-
Retno I Palupi: Penting
-
tugas s: Keren
-
LCFR: Menarik
-
phery: Inspiratif
-
monolog: Menarik
-
Pedy: Keren
-
Arief Rasyad: Inspiratif
-
wawajie: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
ndableg: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
saya pun juga mulai bosan berpolitikana.
setelah membacanya saya jadi malu sendiri karena dulu memakai nama samaran. Toh tida ada salahnya bukan?
toh, dengan segala anonimitas ini, politikana tetap dianggap ancaman serius..
1. saya tidak butuh pamor atau apapun yang sejenis itu.
2. saya cuma kepingin menulis, supaya dapat berbagi kekesalan atas perilaku masyarakat kita yang masih cuek bebek terhadap keadaan.
3. saya ingin banyak belajar menulis supaya nyaman dibaca orang lain.
4. saya hanya ingin tau, masih ada berapa banyak orang di negeri ini yang berani bilang "TIDAK" pada hal yang tidak benar.
Terakhir dan penting, disini saya dapat kuliah dengan membawa otak, serta boleh protes.
Jika ada pembaca yang merasa mendapatkan sesuatu yang penting dari tulisan saya, maka saya menganggapnya sebagai bonus.
Saya menulis untuk kesenangan. Untuk kesenangan? Ya, sejauh ini demikian. Income yang sering datang dari aktivitas menulis pun saya anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan
Menulis itu kesenangan karena saya tahu dengan menulis banyak hal dalam hidup saya bisa terabadikan dan tidak memiuh oleh usia. Menulis itu kesenangan karena saya tahu dengan menulis apa yang saya baca, apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan bisa terselematkan dari ingatan yang rapuh dan kadang berkhianat.
Dengan itulah saya tidak pernah merasakan kekecewaan dengan aktivitas menulis. Saya orang susah untuk dikecewakan. Itu bahaya. Jika saya menulis atau ngeblog untuk menjadi alternatif dari media mainstream yang abal-abal atau untuk mencerahkan orang atau untuk mengubah keadaan, dan ternyata hasilnya tidak demikian, saya takut kecewa dan dengan itu saya takut tidak cukup punya energi lagi untuk menulis.
Karena itulah, kendati sudah menulis di media massa sejak umur 12 tahun, saya tak pernah bosan dengan aktivitas menulis.
Dengan itu pula saya memperlakukan para penulis politikana yang memilih anonim atau menggunakan nama pena. Jika dengan itu mereka bisa enjoy dan rutin menulis dan berkomentar, saya akan menghormati hak mereka untuk memilih itu.
Bahwa komentar atau tulisan para anonima itu dianggap sampah oleh sebagian orang, saya tidak akan ikut-ikutan menganggap demikian, setidaknya saya ingin memastikan diri saya lebih dulu: benarkah saya juga bukan sampah?
Jangan sampai memukul air di dulang, terpercik pantat sendiri.
Saya sepakat dengan Dh2L di trit sebelah dan juga mas rusdi, harus ada KEKHASAN Politikana sebagai 'media alternatif'.
*analisa ngawur*
bukan tidak beralasan, tapi saya akui pada waktu itu lantaran wacana kanan yg saya lihat secara sinis. wacana Politikana pada waktu itu didominasi oleh kelompok moderat dan sayap kanan, sementara, dalam pergaulan internasional hari ini, kencederungan politik sudah mengarah kepada pembangunan Sosialime abad 21, setelah Kapitalisme telah dianggap gagal. (tengoklah: Spanyol, Norwegia, Jerman, Amerika Latin, Greece, dsb)
Sinisme saya itu muncul krn pada saat itu Politikana memang dibanjiri aktivis-aktiivis HTI dan 'simpatisan' garis-garis lainnya yg tak henti menjadi HL.
Beberapa waktu kemudian, muncullah 'terminologi' baru, anggapan, bahwasannya politikana tak ubahnya hanya sebatas 'Kebun Binatang'
Selang bberapa waktu kemudian, mucullah riak kecil, wacana seputar me"RAZIA" anggota Politikana (KTP, nama asli, dll) krn sang pencetus menilai: ketidak jelasan pengguna itu disinyalir mengerahkan banyak kloningan dan saling mengenal satu sama lain yg tak membuat nyaman sebagian pengguna, anggapnya.
Banyak harapan diletakkan di pundak Politikana kemudian, dari upaya penerbitan buku? dibikin serial atau model utk media TV, hingga menjadikannya media alternatif yg dapat memberikan kontribusi di era tumbuhnya Jurnalisme Warga kini.
Hari ini Politikana mendapat satu lagi terminologi baru: (Cieee!) Kantong Sampah dari penulis, yg berharap semoga saja politikana tak hanya menjadi TPA 'Bantar Gebang' yang penuh dgn kekesalan, makian, kritik, dari para pengguna yang dituding memakai TOPENG.
Banyak alasan mengapa menjadi anonim, seringkali anonimitas digunakan sebagai sebuah kebutuhan dalam membuat keputusan Politis, semisal; Tan Malaka yg mempunyai puluhan identitas palsu demi menghindari kejaran lawan, Pramoedya yg sesekali menyaru dgn nama pena palsu, dsb, dsb.
apakah lantas itu disebut sebagai TOPENG?...ah entahlah, bukankah di dunia maya, anonimitas bukan hal yang baru? dunia maya adalah ruang yang teramat sering kita jumpai dan hadirnya kewajaran, bahwasannya lelaku pengguna yg membuat dirinya menjadi anonim? karena hal itu belum tentu dia memakai topeng mungkin salasatu alasannya melindungi diri dari kejaran lawan...entahlah..
Jayalah politikana!
*rasis?
Lain cerita kalau aktifitas di politikana sejalan dengan identitas di dunia nyata, misalnya sebagai wartawan dengan tulisan yang menarik seperti bung Rusdi Mathari.
yg penting saya berusaha jangan sampai menyalahgunakan ke-anonim-an tersebut untuk menuduh, menghujat atau memaki sak penak wudele dhewe...
Sudah bukan zamannya bersembunyi dengan topeng, sembari kemudian hanya terus bisa memaki, menghardik dan agar orang lain tak tahu siapa yang memaki dan menghardik. Politikana bukan kantong sampah.
Dan ini paragrafmu: Hari ini Politikana mendapat satu lagi terminologi baru: (Cieee!) Kantong Sampah dari penulis, yg berharap semoga saja politikana tak hanya menjadi TPA 'Bantar Gebang' yang penuh dgn kekesalan, makian, kritik, dari para pengguna yang dituding memakai TOPENG.
Adakah aku mengatakan Politikana kantong sampah?
Tapi pake nama asli dan foto asli tetep lebih bagus ...
[Kantong Sampah
Jumat malam itu, usai berkirim kabar dengan teman dari Yogyakarta tadi, saya mengingat kembali ucapan petinggi media di Jakarta itu yang menganggap Politikana sebagai ancaman bagi medianya. Saya yang mengenal betul jejaknya sebagai aktivis, intelektualitas dan reputasinya sebagai wartawan, menganggap ucapannya bukan tidak bersungguh-sungguh. Dia serius.] ...ini paragraf bung dari paragraf kesepuluh, bung memulai dgn sub-title: KANTONG SAMPAH. Lantas apa kantong sampah disini? posting pengguna politikana yg bertopeng?
Pada paragraf ketigabelas bung mengatakan:
[..Sudah bukan zamannya bersembunyi dengan topeng, sembari kemudian hanya terus bisa memaki, menghardik dan agar orang lain tak tahu siapa yang memaki dan menghardik. Politikana bukan kantong sampah..]
Ini intrepretasi saya dalam membaca artikel bung, dari sub-title :Kantong Sampah dan diakhiri pada paragraf ketigabelas: Politikana Bukan Kantong Sampah.
Maka saya berkesimpulan yg tersirat Politikana bagai Kantong sampah pada saat ini dan anda berharap Politikana bukan kantong sampah.
Itu pengertian saya, kalo bung tidak bermaksud seperti itu ya, baiklah, saya yg keliru kalau begitu.
Saya pribadi gak tertarik untuk menonjolkan identitas saya di Politikana.com dan maaf aja nih, saya juga gak mau ambil pusing siapa yang menulis artikel - mau ngetop seantero dunia kek, kenal secara pribadi atau enggak kenal sama sekali - kalau tulisan bagus atau perlu dikomentari, ya saya akan baca dan kritisi.
Yang penting anggota Politikana memiliki kedewasaan dalam berkomentar dan menulis. Toh semuanya memang harus melalui proses pembelajaran.
Penulis yang mengharapkan rating, mungkin akan berharap-harap cemas dengan rating hitam maupun serangan klon.
Penulis yang mengharapkan profit dari tulisan, mungkin akan kecewa berat dibanding dengan penulis dengan financial freedom.
Penulis yang mengharapkan api di dadanya tersampaikan, tidak perlu terlalu peduli dengan hal-hal artifisial seperti itu.
Rating hitam ndak ngefek gitu loch...
Logical fallacies para klon pasti akan selalu ada, tapi seperti yang telah berulang kali Saya buktikan, sebenarnyalah tidak terlampau sulit menghadapi hal-hal seperti itu, sepanjang selalu berpegang pada fakta dan data, dan kemauan menantang logical fallacies secara frontal.
Lagipula, orang yang sampai harus menggunakan kloning untuk "menghitamkan" suatu artikel, pada dasarnya berjiwa pathetic, so why bother.
Jika "api di dada" lebih menyala dari keinginan mendapatkan pamor, maka melawan logical fallacies maupun klon pun hanya akan sekedar menjadi intellectual & mental exercise saja: Menyenangkan untuk rekreasi.
Manakah yang lebih penting di politikana ini, apakah pertarungan orang dan pamor? Atau pertarungan "Api" dan "Ide"?
Bagi saya lebih penting yang kedua.
Bagi saya, politikana itu seperti tradisi "Intelligentsia" di eropah zaman rennaissance, dimana laymen pun dapat membagi sesuatu, tanpa memandang siapa.
Ah! Tapi jikalaupun politikana akhirnya memaksa beridentitas resmi, saya masih bisa pindah tempat diskusi. Masih ada indonesiamatters, masih ada highiqsociety, tempat-tempat dimana "api di dada" lebih berharga dari "sekedar eksis".
eh semakin kesini ternyata saya malah makin minder dan lebih asik baca ketimbang nulis,.hehe,.
saya pribadi juga gak ambil pusing masalah anonimitas, pamor, dll,.yang saya tau disini (baca: Politikana) udah jadi gudang ilmu buat saya,.hehe
Tanggung jawab seperti apakah yang dimaksud?
Ide yang buruk, mudah dipatahkan dengan ide yang baik.
Kebohongan mudah dipatahkan dengan Fakta.
Propaganda mudah dipatahkan dengan sekedar menuntut referensi.
Tanggungjawab penulis adalah meletakkan referensi atas "api" yang disampaikannya.
Tanggungjawab masing-masing pembaca lah untuk memilah yang mana fakta, yang mana kebohongan.
Kemandirian berpikirlah tujuannya.
Apa perlunya memenjarakan pemfitnah dan propagandis, jika sekedar ketiadaan referensi sudah cukup bagi pembaca-pemikir mandiri untuk mengabaikan?
Ya, saya akan bersembunyi, jika memang "muka buruk" saya hanya akan membuat api saya padam sebelum tersampaikan(dan memang hingga kini pun belum tersampaikan).
Sebaliknya, saya juga mengenal seorang anonim lain disini, yang nama besarnya hanya akan membuat orang sungkan untuk membantah, dan/atau klon datang menyerbu untuk merating hitam.
Jika memang Nama besar maupun keburukan-muka bisa memenjarakan "api" itu, lalu apalah gunanya dipertahankan?
Referensi tambahan soal intelegentsia:
[ http://en.wikiped…telligentsia ]
Soal tulisan sampah, yah dengan sistem rating, otomatis ketika muncul ke headline akan terlihat mana tulisan yang layak dibaca dan tidak, walau mungkin sistem saat ini soat pembobotan banyaknya komentar yang bisa menyebabkan tulisan muncul ke headline walau ratingnya jelek bisa dikurangi dan setuju ratingnya dibuat lebih sederhana.
Soal anonimitas hmm dari 10 warga terpuji (btw, istilahnya ganti deh, kesannya koq ngga enak ya terpuji) hanya 2 yang anonim dan tampaknya tidak ada yang kloningan. Jadi niat awal kloningan itu sendiri sudah gagal. Ada yang ngerating jelek, biarkan sajalah masih banyak pembaca lain yang bisa memberi rating dengan jujur dan akhirnya ratingnya secara umum akan menggambarkan pandangan umum.
Terimakasih atas supportnya.
Anda pun, teruskanlah memoles wajah yang tanpa topeng itu.
Striding Cloud = sinisme (mungkin akibat terlalu mendalami ilmu ekonomi)
Masalah identitas asli tidak menjadi persoalan bagi saya, inti masalahnya menurut saya cuma "BERANI & TAKUT".
[...inti masalahnya menurut saya cuma "BERANI & TAKUT"...]
Maksudnye???
Woohhh... mau mulai lagi?
Sinismenya dimana bung? mbok ya berpikiran baik sekali-kali kenapa...
Kemarin nuduh kabur, sekarang nuduh sinis, mbok ya dendam itu jangan dipelihara.
just like our real life. persis ketika seseorang memaksakan kehendaknya itulah demokrasi terhenti.
aku sudah lama gak bicara pamor lagi
karena aku juga tidak tahu apa yankudapat dari pamor
yang penting disini aku bisa menulis dan dikomentari oleh teman-teman yang sangat lugas, jujur dan tanpa pandang bulu
salut buat teman-teman disini
salam
Untuk yg tanpa topeng pamor luar biasa penting bro. Bisa dilampirkan ke CV klo mo ngelamar kerja....
jangan-jangan nama-nama tersebut juga nama samaran....???
(karo ngguyu membaca tantangan perdebatan tentang substansi identitas)
dulu saya juga orang yang sebel sama clone dan anon, karena kecenderungan untuk ngerecokin, tapi bagaimanapun juga kalo memang pendapatnya bagus, apa artinya identitas yang mengungkapkan. Eniwei, saya juga mulai males nulis2 di politikana, padahal punya draft sampe 6 biji, tpai entah kenapa melihat politikana sekarang (terutama sejak pilpres) agak sedikit 'mengecewakan' karena isinya koq sumpah-serapah thok, saya kangen 101 jaman dulu, macem tulisannya bung Roby Muhamad, Striding Cloud pun sekarang lebih seneng nulis ad hominem daripada mencerdaskan saya
*semangat!!!!*
Quid pro quo itu sudah prinsip hidup bung.
Saya juga ada bbrp draft artikel final saya di hdd, tapi trendnya masih ad hominem gini, jadi saya memutuskan bermain-main saja, mumpung ada yang bisa dimainin.
jadi perdebatan kenapa?
kemungkinan yg terjadi adalah, ketidak mampuan sipenulis artikel dalam menghalau arah pikiran sipembaca kepada satu titik yang ada dalam pikiran sipenulis.
===
anonimisme dalam dunia maya adalah sesuatu yang sangat perlu, kenapa?
dengan anonim setiap orang dalam komunitas menjadi "merasa" setara dalam berdiskusi, kalau pakai nama terang-terangan ada kemungkinan bias dalam berdiskusi karena banyak hal, misalnya euh-pakeuh, senioritas dalam arti luas, dll.
malah lebih parah bisa terpengaruh karena personality seseorang terbawa dalam berdiskusi.
so, enjoy azza
Ya sudah Anda tulis saja. Kalau ada mutiara dalam kantong sampah, nanti kan orang bisa dengan sendirinya memilah... halah
Iya terimakasih sudah mainin gw di artikel dengan nama itu. Rela kok, malah dapet kesempatan melempar data secara runtut.
Tepat sekali diagnosis Anda bung! Nama tersebut memang bikin alergi, makanya gatel2.
Tapi tentunya, konsep-konsep nama-yang-tak-boleh-disebut itu juga walahualam konyolnya.
Kalau istilahnya poltak hotradero: "popular at all cost"
Lagi nyeleksi warga politikana yg bisa dijadiin boneka
[__Tetap berpendapat resiko kadang mesti diambil kalo mau sukses__]
Sepakat.
Nah, keputusan pemerintahan yang berusaha menuju deregulasi, desentralisasi, demilitarisasi dan dan rada-rada hands-off juga merupakan sebuah resiko yang harus diambil, untuk mencapai cita-cita masyarakat yang lebih mandiri.
Nama ideologinya di amrik sana: conservatism.
Buku yang bagus, penuh inspirasi dan enak dibaca untuk usia SD(kelas 5,6) kira2 apa ya?
Lagi nyari untuk hadiah keponakan nih.
-salamanonimous-
Dengan nawaitu, semua warga punya niatan baik untuk belajar, berbagi, berdiskusi dan "mengenal" satu dengan yang lain, saya kok percaya bahwa posting "sampah" adalah sesuatu yang akan terlewati dalam proses perjalanan politikana ke depan, dan tidak ada hubungannya dengan warga anonimous.
Yang pasti, secara alamiah warga akan mengenal kredibilitas masing-masih warga melalui posting dan komentarnya.
Pangeran kecil (le petit prince).
Totto chan.
Dua-duanya mendorong anak-anak untuk tidak berhenti menggunakan imajinasi.
Menulis itu punya tanggungjawab sosial, menulis apa saja tentunya punya tempatnya masing-masing, nah kalo memang ada yang dianggap sampah tentunyalah bukan penilaian mutlak tapi mayoritas.
Semoga pengurus politikana, mau berbenar agar politikana tidak terasa hambar karena terlalu bebas yang menyebabkan kebablasan atas nama hak menulis
Untuk Indonesia lebih baik, ayo menulis !
Menulis itu punya tanggungjawab sosial, menulis apa saja tentunya punya tempatnya masing-masing, nah kalo memang ada yang dianggap sampah tentunyalah bukan penilaian mutlak tapi mayoritas.
Semoga pengurus politikana, mau berbenar agar politikana tidak terasa hambar karena terlalu bebas yang menyebabkan kebablasan atas nama hak menulis
Untuk Indonesia lebih baik, ayo menulis !
"Ganteng dan tidak ganteng itu relatif, tetapi kalau jelek itu mutlak."
Mungkin bisa diterapkan dalam konteks dunia tulis menulis di politikana.com juga.
Dan seperti Striding Cloud yang sedang bermain-main karena artikel makin lama makin aneh dan makin tidak fokus, saya juga akhirnya memutuskan untuk menjadi penonton dan sekali-sekali ikutan sparring ad hominem, toh lumayan saya dapat bahan pembelajaran...
Meskipun saya kangen dengan artikel-artikel yang mencerahkan dari mentor-mentor saya dahulu semacam Yudiantoro, Striding Cloud, kang tutur, dan lainnya, yang terlalu banyak untuk disebutkan.
Untuk urusan anonimitas, saya mudah sekali ditemukan di facebook...
Bahwa belakangan ini Politikana berisi semakin banyak artikel yang buat saya kurang menarik, menurut saya itu adalah resiko sebagai website dengan user generated and moderated content. Ini mirip sekali dengan demokrasi. Suara rakyat yang menentukan.
Bagi yang berharap Politikana kembali menarik, mari kembali isi Politikana dengan artikel2 Anda. Dan mari kita lihat, bagaimana tanggapan khalayak Politikana.
ketika berusaha bergaul di politikana, saya mencoba bersikap sama seperti saya ketika saya bergaul dengan Mang Jana.
Sebuah artikel bagi saya menarik bukan dari siapa yang menulis, tetapi saya kembalikan ke artikelnya itu sendiri.
Masalah seseorang menamai dirinya dengan identitas tertentu bagi saya itu masalah pilihan yang patut saya hormati.
The death of author
waduh..predikat apalagi itu? ndak paham saya...ah biar saya nanti tanya scr detil ke warga paling terpuji politikana (saat ini) yg identitasnya uradn itu..
nagawulan: ya, si hamatamu: kuwi pancen warga terpuji tenan. hihihi
saya cuma berharap ada kedewasaan kita semua dalam menulis, berpendapat dan berpolitik. moga moga keativitas kita tidak lagi terbelenggu oleh batasan2 birokrasi seprti apa ygb terjadi pd masa orde baru, it's called freedom, we are free to write, to give opinion, to say no, to agree and be responsible and be ready to any consequences occured.
Saya juga baru mengenal politikana, mungkin belum sebeulan, tapi sepeti dah mengenal lama, and pastinya ini bisa jadi curahan hati kita atas apa yang terjadi di kehidupan berpolitik negara kita dan tentunya sebagai pembelajaran buat kita semua so, it really don't matter to be anonamous at all. last but not least keep on writing guys, find your voice and inspire others to find theirs...
---------
jadi ingat bung karno di jaman perjuangan, karena besarnya pressure dari pemerintah penjajah, dalam menulis artikel bung karno menggunakan nama samaran "bima" bagi artikel2nya yg bisa dianggap akan menimbulkan reaksi keras pemerintah penjajah dan (ini penting) mengancam jiwanya.
bukan urusan "takut" atau cari sensasi, bukng karno melakukan hal yang penting bagi sebuah keselamatan pergerakan; istilahnya strategi-taktik gerakan; guna keselamatan yg lebih besar.
tetapi, bagi artikel yg menyatakan sikap politik, keyakinan dan pandangan perjuangan, nama yg dipakai tetaplah sukarno.
artinya bung rusdi, masalah penggunaan nama nyata saya coba mengajak, apakah akan ada resiko politik atau bahkan resiko fisik yg menimpa bagi penulis yg bersuara kritis? kalau jawabannya "ya" maka penggunaan nama samaran saya pikir manusiawi.
bagi (misalnya) fadjroel rahman, rusdi mathari saya pikir sudah kepalang basah kalau pakai nama samaran... hahahaha jenis kelaminnya sudah jelas dan sudah tegas mengambil posisi; dan tentunya sudah paham resiko pressure rezim yg akan mungkin dihadapi.
yang penting adalah isinya, nama samaran bukan melegalkan untuk ngomong ngocol tanpa tanggung jawab, menghina, melecehkan. pertanyaan:
1.yg lebih diributkan isinya atau nama samarannya? kalau nama samaran tapi isi artikelnya bagus bagaimana?
2.dibanding dengan nama asli tapi ngocol... ?
yg parah sudah nama samaran, ngocol suka iseng.... hahaha ini yg di politikana harus dibasmi.
boleh di google, jaman saya masih mahasiswa dulu, milis politik masih dirajai oleh indonesia-L dan xpos; sangat dalam tulisan "sulangkang suwalu" yg saya yakin ini nama samaran, tapi 2 jempol untuk tulisan2nya. saat itu mungkin dia harus pakai nama samaran yg saat ini (untuk tulisan seperti itu) mungkin saja tidak diperlukan.
jadi bung rusdi, bukankah "apa yg ditulis" bisa kadang lebih penting dari "siapa yg menulis"...
salam,
dp
---------
jadi ingat bung karno di jaman perjuangan, karena besarnya pressure dari pemerintah penjajah, dalam menulis artikel bung karno menggunakan nama samaran "bima" bagi artikel2nya yg bisa dianggap akan menimbulkan reaksi keras pemerintah penjajah dan (ini penting) mengancam jiwanya.
bukan urusan "takut" atau cari sensasi, bukng karno melakukan hal yang penting bagi sebuah keselamatan pergerakan; istilahnya strategi-taktik gerakan; guna keselamatan yg lebih besar.
tetapi, bagi artikel yg menyatakan sikap politik, keyakinan dan pandangan perjuangan, nama yg dipakai tetaplah sukarno.
artinya bung rusdi, masalah penggunaan nama nyata saya coba mengajak, apakah akan ada resiko politik atau bahkan resiko fisik yg menimpa bagi penulis yg bersuara kritis? kalau jawabannya "ya" maka penggunaan nama samaran saya pikir manusiawi.
ba
Kebebasan, slogan yang telah lama bergulir ditengah tengah kehidupan kita. Untuk kondisi saat ini benturan dari kebebasan adalah keteraturan, peraturan dianggap belenggu yang menghambat kemajuan. Batasan tatakrama kebebasan hidup saat ini, seolah sebuah perampasan hak asasi manusia, kebebasan berekspresi sebagai alasan untuk melanggar etika dan norma, bahkan orang sudah tidak malu lagi untuk menyuarakan kemaksiatan.
Setiap individu siapapun boleh saja mempersepsikan dan mengaktualisasikan kebebasan termasuk kebebasan menulis, namun yang perlu diperhatikan dan diingat bahwa kendali tidak boleh lepas begitu saja, minimal ada kemudi yang menjadi pegangan utama serta ada rem tatkala akan melenceng, sehingga kebebasan tidak menjadi kebablasan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat