Rapat dan Sosialisasi Bersama Hantu 60

Jumat, 31 Jul '09 13:05

Seperti telah diceritakan pada artikel sebelumnya disini, dengan sistem penganggaran yang kurang fleksibel dan ada kewajiban tidak tertulis untuk menghabiskan anggaran, berbagai cara ditempuh agar anggaran dapat terserap tanpa menyalahi isi dokumen kegiatan atau proyek. Selain jalan-jalan bersama hantu, kegiatan lain yang memungkinkan adalah rapat-rapat dan sosialisasi bersama para hantu.

Rapat dengan hantu memang nikmat. Kita bebas menyampaikan materi apa saja, tidak ada debat kusir, tidak ada tanggapan, tidak ada yang walk out, semua teratur rapi. Tidak perlu ruang besar, cukup satu meja, satu kursi, satu unit komputer, satu unit printer, dan lembar daftar hadir, beres semuanya. Mereka cukup isi daftar hadir aja, dan tidak perlu disuguhi konsumsi yang aneh-aneh, standar hantulah (menyan dan dupa). Jangan lupa sesajen tetap harus tersedia, karena hantu akan mengamuk bila ketinggalan, bisa-bisa rapat bubar. Kalau bosan di kantor, rapat juga bisa dilakukan di luar kantor, apalagi kalau didampingi bidadari-bidadari cantik, tambah semangat rasanya.

Begitu pula dengan sosialisasi program, lebih enak mengundang hantu daripada masyarakat beneran. Walaupun dilakukan di luar kantor, tidak perlu hotel mewah atau aula besar, cukup hotel atau aula virtual aja. Tidak perlu bahan atau materi sosialisasi, tidak perlu alat tulis juga karena hantu memang tidak bisa menulis. Dijamin juga tidak bakal protes atau demo, karena para hantu memang makhluk paling penurut. Tidak kebagian BLT atau kompor gas juga tidak masalah, toh mereka sudah terbiasa meminta-minta. Pemerintah juga bisa ngeles, kan sudah diadakan sosialisasi, masyarakatlah yang harus peduli, jangan cuma nongol pas pembagian BLT saja.

Oleh karena itu, wajar sajalah kalau banyak program pemerintah terhenti di tengah jalan atau diprotes oleh masyarakat karena tidak sejalan dengan keinginan mereka. Waktu rapat pembahasan program, yang ikut hantu, waktu sosialisasi, juga hantu yang hadir. Sementara masyarakat baru tahu ada program pemerintah setelah berjalan sekian lama. Menyedihkan memang...


Tag: birokrasi, sosialisasi, hantu, rapat

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    donyariya 0 0
    hantu-hantu ini makin menyeramkan saja sepak terjangnya.
    bagaimana kalau kita panggil ghost buster ?
    adimas 0 0
    suruh hantunya aja yang ngejalainin programnya bos.. nice
    imogiri 0 0
    adimas: casper bisa ikutan rapat dong, he3
    pujangga 0 0
    tapi hantu yang ini kayaknya beda dech, sesajennya harus di masukkan ke dalam amplop...
    imogiri 0 0
    pujangga: hantunya matre berarti ya, he3
    dizzman 0 0
    maaf, baru selesai rapat bareng hantu : ))
    donyariya: setuju bos, KPK jadi ghostbuster aja
    adimas: : D
    imogiri: nanti casper suruh gantiin ane aja
    pujangga: ha5x .... gantiin menyan ama dupa : ))
    imogiri 0 0
    dizzman: yups, biar lebih ngirit kalo menyan ama dupa
    Wonggantenk 0 0
    Dupa kan artinya "duit pengertian anda"
    pujangga 0 0
    dizzman: pas rapat tadi hantu yg hadir di bandingkan manusia yang hadir banyakan mana boss?

    maklum ini udah pertengahan anggaran, biasanya jumlah hantu yang berkeliaran semakin banyak...
    pujangga 0 0
    imogiri: berarti ideologinya hantu NEOLIB juga ya?
    dizzman 0 0
    Wonggantenk: : D : )) emang orang kita kreatif bikin singkatan ya.. lagi2 seperti bos besar yg slalu disingkat
    pujangga: banyakan hantunya lah, kita cuma nyalain dupa ama nabur menyan : ))
    pujangga 0 0
    Wonggantenk: wah dapet istilah baru lagi, dibungkus boss
    dizzman 0 0
    pujangga: itulah enaknya diskusi disini, banyak istilah baru muncul...
    Wonggantenk 0 0
    pujangga: and dizzman: : D
    just_me 0 0
    pujangga: apalagi mau puasa, karena gak ada istilah rapat luar kota (konsinyiring==gak tahu dari mana kata ini berasal) di bulan puasa.

    kalau di tempat aku masih mending kalau sosialisasi/pelatihan pesertanya masin manusia semua.


    tapi kalau konsinyiring, wuih, kadang peserta manusianya cuman satu, atau pesertanya separuh tapi jumlah hari di kurangin.
    dari anggaran 2 malam gak perlu nginep, dari 20 orang jadi 5 orang, dari sekamar sendiri menjadi sekamar berdua, lumayan bisa "hemat" diatas sepuluh jutaan sekali rapat.
    karena yang jadi hantu bergiliran jadinya gak perlu dupa lagi.
    imogiri 0 0
    pujangga: jangan bilang neolib gitu ah, ntar dikira nyindir...
    dizzman 0 0
    just_me: jangan kenceng2 om, ntar ada yang detect .... : D
    pujangga 0 0
    imogiri: kalo merasa tersindir berarti hantu...
    imogiri 0 0
    pujangga: ha3, jangan gitu ah, ga enak ama casper
    pujangga 0 0
    imogiri: hahahhaa...tenang setahuku casper itu hantu yang masih anak-anak jadi belum ngerti DUPA dan NEOLIB....

    *sambil nglirik casper, takut di timpuk*
    imogiri 0 0
    pujangga: ha3, tenang aja, casper ga kuat2 amat kok, khan masih anak2, paling nyambit pakai kerikil

    *casper kemana ya? *
    dizzman 0 0
    imogiri: n pujangga: mohon izin dulu ah, mau maen futsal bersama hantu : )) : ))
    Wonggantenk 0 0
    dizzman: jangan menang bro, buat dramatis, tim bro kalah dulu, terus "menang", kemudian kalah lagi, kemudian mengejar dan dibuat tetap kalah dari hantu, dijamin hantunya makin sayang : D
    ndoet 0 0
    dizzman: aih, masih begitu ya ternyata.
    kapan ya kira2 reformasi birokrasi kaya yg diterapin di Depkeu menyentuh semua instansi pemerintah?

    walopun, reformasi yg di sini aja masih belum sempurna sih. tapi nampaknya masih lebih baik daripada di instansi lain.

    hidup PNS lah pokoknya : D
    sawung 0 0
    hahaha.
    gw sering tuh meriksa dokumen sosialisasi dengna hantu.
    pas baca dokumennya lho kapan dapet sosialisasi? kok udah ada laporan dan absennya.
    kelakuan ....
    djibrieljd 0 0
    True Story:
    Salah seorang pegawai dinas datang ke saya dengan wajah cemberut, karena saya dinilai tidak becus menyelesaikan leaflet.
    Padahal saya belum dapat perintah cetak dari yang punya order. Saya bilang: saya engga mau tahu, hubungi yang punya order.
    Tak lama yang punya order datang menghiba-hiba, katanya sedang diperiksa Inspektorat. Kegiatan sosialisasi dianggap tidak ada, jika tidak ada leafletnya.
    Yang punya order (sohib saya) bener-bener memelas minta tolong. Akhirnya saya buatkan 2 jenis leaflet, masing-masing 2 lembar doang.
    Setelah selesai, iseng-iseng saya buka DPA Dinas itu. Pantes memelas, wong kegiatannya sosialisasi itu hampir Rp100 juta. Jumlah leaflet seharusnya 50 rim. Ini cuma 4 lembar. hahahaha

    *Saya pun tidak bisa terlepas dari tindakan KKN*
    Striding Cloud 0 0
    djibrieljd: setengah kasian, setengah kesal dengna sahabat Anda itu.

    Kalau dengan Anda, 100% kesal. : D
    Yudiantoro 0 0
    Striding Cloud: : ))
    Yudiantoro 0 0
    djibrieljd: wah inspektoratnya juga main tuh kalo cuma minta sample...

    jadi inget peristiwa jaman BRR.. GtZ yang punya gawean sosialisasi, pas acara banyak yang dateng cuman motret2.. ta pikir wartawan lokal... ndilalah lsm lokal dan pemda ngambil foto terus laporan kalo itu sosialisasinya mereka buat cairin dana bantuan ::doh::
    anti-fenomena 0 0
    temen main dari kecil yg sekarang jd PNS, dateng minta berkas perusahaan "ada pengadaan ATK di kantor" katanya. 3 hari kemudian dateng lagi nyuruh tanda tangan berita acara dan dokumen pengadaan, pas saya liat kok tanggal2nya expired semua, dibuat sekitar sebulan yang lalu, setelah dengan bujuk rayu dan sedikit ancaman hubungan persahabatan akhirnya saya tanda tangani....

    Sekitar seminggu kemudian, paginya saya diminta mencairkan dana pekerjaan pengadaan tersebut dari rekening perusahaan, saya kasih cek senilai pekerjaan pengadaan itu, dan siangnya .....saya dikirimi amplop berisi kompensasi sewa perusahaan, dan entah kenapa tidak sedikitpun ada perasaan untuk menolak, karena saya merasa itu memang hak saya..

    oh..... teman2 yg bijaksana KKN kah saya?

    djibrieljd 0 0
    Striding Cloud: Saya terima kesal ada dengan ikhlas : D
    MFH 0 0
    anti-fenomena: KKN dan ada korupsinya: D, yah....kata lainya ada unsur suap...karana anda mendapat uang bukan karana hasil kerja secara normal..tapi kesediaan anda untuk manipulasi datanya, walau datanya bukan jumlah uangnya.

    Kita harus mulai berhati-hati dengan hal ini. Karana banyak program yang memang sudah dianggarkan, tapi tidak terlaksana...agar uang itu tetap keluar maka dicari cara lain agar bisa keluar...pada harusnya itu tidak dibolehkan.
    anti-fenomena 0 0
    MFH: bukan suap bu, kompensasi sewa perusahaan itu memang sudah menjadi aturan tak tertulis di dunia proyek.
    Yudiantoro 0 0
    anti-fenomena: mekanisme pinjem bendera, bukan?
    anti-fenomena 0 0
    Yudiantoro: iya bos
    Yudiantoro 0 0
    anti-fenomena: kayaknya ngga masuk kategori KKN, paling masuk kategori unethical business conduct, kalo ketauan pun hanya ada sanksi administratif dan sanksi moral, tapi tidak bisa ditarik ke ranah hukum...

    tapi, menyangkut tanggal2 yang expired itu yang bahaya, kalo pengadaannya APBN, kena tuh Keppres 80 dan UU Anti Korupsi, karena dianggap merugikan keuangan negara.

    IMHO
    pujangga 0 0
    Yudiantoro: setuju. terus di lihat nilai proyeknya, kalo lebih dari 1 M akan di tangani KPK, tapi kurang dari 1 M rada aman karena cuma di tangani kejaksaan, asal punya dana entertain dan loby RS OMNI bakal beres.....IMHO juga...
    Yudiantoro 0 0
    pujangga: : )) emang KPK immune? ; )) temennya kurang banyak nih mas : D
    heriyadi 0 0
    ah jadi ingat masa2 sering rapat dengan hantu, untung sekarang udah ngga.
    djibrieljd 0 0
    Yudiantoro: Tetap mas, masuk kategori KKN. Unsurnya jelas tidak mengerjakan proyek sendiri. Rasa disetiap kontrak kerja ada klausal itu.
    Apalagi dengan melihat tanggalnya yang sudah expired. Jadi min ada 2 aturan yang dilanggar yaitu Perjanjian Kontrak Kerja dan Keppres 80.
    Akibatnya memenuhi unsur Pasal 2 UU Tipikor "secara melawan hukum". Objek hukumnya jelas PNS dan pemilik perusahaan. Menguntungkan orang lain, ya jelaslah itu.
    Sedangkan kerugian negara, ini yang sering dilupakan orang, kalimat sebenarnya adalah "dapat merugikan keuangan negara".
    Jadi rugi atau tidak keuangan negara, bukan unsur utama dalam penindakan Korupsi di negara ini. : ) Belum kalau dikaitkan dengan UU No 28/1999 anti kolusi. Ancamannya 4 tahun kurungan dan denda 250 juta.

    pujangga: Sudah berapa kali masyarakat Banten melaporkan tindak korupsi ke KPK dengan nilai lebih dari Rp1 M. Terlebih saat itu ketua KPK nya berasal dari Banten. Tapi ternyata dalam pernyataan resmi, malah bilang tidak pernah ada yang lapor dari Banten. : (

    MFH: Bukan suap istilahnya, tapi gratifikasi. Dan ada mekanisme pemutihan gratifikasi. Tapi pada faktanya, banyak gratifikasi tidak pernah ditindak. Hanya mengalihkan uang dari pejabat ke kas negara. : |
    olive 0 0
    Biasanya untuk SPJ...diSKPD-SKPD..para bendahara...udah siapin...nota,stempel toko, hotel, dll.... bahkan ada yang ahli berbagai macam tanda tangan untuk daftar hadir...... bagi peserta hantu.....bahasa kerennya... ONE STOP SERVICE.....ONE ROOF SERVICE....ONE DAY SERVICE..... : ))
    Yudiantoro 0 0
    djibrieljd: saya sedikit berbeda dengan anda bung, kalo pekerjaannya tetap dikerjakan dan ada deliverable yang dapat dipertanggungjawabkan artinya sudah done dan diterima melalui berita acara, masalah siapa yang mengerjakan, itu kan tidak termasuk pasal "tidak dikerjakan sendiri", bagaimana pembuktiannya? apa inspektorat (kalo pemda/instansi pemerintah) mau masuk sampe meriksa daftar pegawai rekanan? kalo pun iya dasarnya apa?

    Yang kedua, kan diktum "dapat merugikan keuangan negara" sudah diubah melalui MK bung, kata2 "dapat"nya sudah dihilangkan karena tidak memberikan kepastian hukum, sayang saya lupa keputusan no dan taun berapa, perasaan sih saya punya copy putusannya. Dan jangan lupa, kalo mau didakwa korupsi, keempat unsur korupsi harus bisa terbukti dan meyakinkan, salah satu unsur saja tidak terpenuhi bisa gugur dakwaan korupsi
    referensi: http://politikana…pektif-hukum
    5150 0 0
    Pt. xxxxxx
    status : untuk kalah2an

    pinjam bendera = 5% dari nominal tender
    Striding Cloud 0 0
    Yudiantoro:

    Tapi.. tapi... bukankah itu berarti memotong profit yang seharusnya diterima perusahaan yang ngerjain?

    Bukankah itu berarti perusahaan yang mengerjakan, dalam rangka menutup untung, terpaksa menurunkan kualitas?

    Bukankah itu salah satu penyebab jalan tiap tahun rusak?
    Yudiantoro 0 0
    Striding Cloud: wahh itu sih asumsi bukan? saya pribadi ga pernah happy sama model pinjem2 bendera, karena (menurut saya) bukan masalah untung turun dan kualitas turun... but.....

    dengan pinjem bendera, akuntabilitas dan persaingan yang sehat tidak terjadi... dus
    harga yang kompetitif dijamin tidak tercapai (karena biasanya model2 pinjem bendera itu terhadap pengadaan yang diatur/tender arisan), jadinya biasanya harga proyek jadi lebih mahal dari harga umum pasar (inget contoh rumah wagub DKI yang 28 milyar?)

    jadi kan saya bilang di atas perlakuan pinjem bendera, selama (ini ga ada fitur underline ya?) harga yang ditawarkan sesuai dengan harga pasar dan dengan kualitas hasil pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak ada yang dirugikan tho? Hanya saya sangat against dari sisi business ethics.. very very unethical

    contoh 5150 nunjukin model lain, yaitu pinjem nama perusahaan buat 'kalah', artinya hanya sekedar memenuhi syarat minimal tender..
    anti-fenomena 0 0
    wah komen2nya menarik dan utk masalah tanggal, sudah pasti aman2 saja dengan pertimbangan mengutip bung Yudiantoro:[deliverable yang dapat dipertanggungjawabkan].

    Yudiantoro 0 0
    anti-fenomena: sorry bung, belum tentu aman, karena kalo ketauan ada proses back-dated, dan inspektoratnya jeli, perusahaan (dan sampeyan) bisa terseret ke pasal merugikan keuangan negara, even ada deliverable yang dapat dipertanggungjawabkan, kecuali memang prosesnya berlangsung sesuai tanggal, hanya nada yang ttd-nya back-dated... : D
    djibrieljd 0 0
    Yudiantoro: Wah mas, berarti saya ketinggalan zaman. Mohon dong (serius banget) minta keputusan MK itu. Soalnya ini menyangkut beberapa peristiwa korupsi di Banten.
    Dengan hilangnya kata "dapat" maka sebesar apa pun tindakan korupsi itu akhirnya menjadi batal, karena uang negaranya sudah dikembalikan. : ) asik mari kita korupsi !!!

    Ini kasus Imajiner (kemungkinan terjadi):
    Uang BOS di Banten Rp120 M per triwulan saya simpan di Bank (tentu kerjasama dengan pihak pos). Akhir bulan (dr triwulan itu) baru saya sampaikan ke penerima BOS. Tentu saya menikmati bunganya. Tentu itungan bunga itu lumayan kan? : D

    *Wah, kayaknya menarik pindah profesi menjadi koruptor : )) *
    anti-fenomena 0 0
    Yudiantoro: pembuktiannya yg sulit bung, saya yakin solidaritas dan persatuan para hantu sangat tinggi.

    *menenangkan diri mode on*
    Striding Cloud 0 0
    djibrieljd: 120M kalau diinvestasikan kedalam automated trading forex, dengan asumsi profit amat sangat konservatif, dalam tempo 3 bulan (60 hari kerja) setara dengan 7.4 milyar.

    kalau gitu, tolong ceritakan, kepada siapa saya harus bicara?
    Yudiantoro 0 0
    djibrieljd: ok bung saya cari dulu, kalo ketemu nanti saya hubungi anda.

    btw, ngga usah kasus imajiner, salah satu pendapatan saya adalah sebagai tenaga ahli di salah satu lembaga yang dananya APBN, gajian langsung dari Kantor Perbendaharaan Negara, ditransfer lewat Bank Mandiri, selalu tanggal 1 jam 10 pagi, tapi saya terima baru jam 4 sore menjelang tutup kas, lumayan tuh duit diputer ama mandiri...

    anti-fenomena: bener bung, pembuktiannya sulit, dan memang para hantu (saya buktikan) sangat solider...
    anti-fenomena 0 0
    djibrieljd: yg membingungkan saya adalah dana jaminan pemeliharaan, setiap menyelesaikan proyek fisik, maka uang kita akan tertahan 5 % di bank untuk jaminan pemeliharaan, dan bisa dicairkan setelah masa pemeliharaan selesai (biasanya selama 6 bulan)

    Masa pemeliharaan sendiri sudah diatur dalam kontrak, bisa diartikan rekanan masih memliki kewajiban selama masa pemeliharaan itu (terikat kontrak), tapi yang jadi masalah dana 5% itu, kalo ditotalkan dari seluruh anggaran bisa mencapai ratusan milyar lo, dan sebagai rekanan kita tidak memiliki akses informasi mengenai dana itu.

    Seandainya dana itu digunakan untuk investasi seperti yang dicontohkan HoD atau didepositokan, saya harusnya tau dan dapat bagian, karena uang itu milik saya.

    ada yg bisa menjelaskan???? (*sambil melirik ke bung Yudiantoro: )
    djibrieljd 0 0
    Striding Cloud: wah boleh juga tuh. Coba saya kasih tau pemegang kebijakan BOS Banten. : D : )) : ))

    Yudiantoro: Mas yang sudah terindikasi adanya selisih 2-8 hari dari KPPN ke PT Pos. Sekarang malah mereka cairnya per bulan, bukan per triwulan. Ini juga masih tanda tanya, apakah keputusan nasional atau hanya di Banten.

    * Tawaran jadi TKS kayaknya perlu saya pertimbangan. Hilangnya kata "dapat" menjadi lebih mudah ngeles dari hukum : D : ))
    Yudiantoro 0 0
    anti-fenomena: : p meneliti keppres 80 dan PTK 007 (buat oil&gas) filosofi ditahannya dana adalah untuk menjamin si perusahaan untuk tetap melakukan prestasinya, sehingga pada masa 6 bulan tersebut, apabila terjadi kerusakan (pengadaan barang) atau ketidaksesuaian deliverable (pengadaan jasa), dan si rekanan ga mau perbaiki, maka ada pembayaran akhir yang biasanya ditahan (btw, ini berbeda sama performance bond lho ya bung), jadi semacem bail bond buat bowheer kalo reknan bandel, duitnya ga dibayarin.

    Nah memang efek sampingnya kalo bisa 'diinvestasikan' semacem ilustrasi djibrieljd dan Striding Cloud di atas, dan memang uncontrollable.

    Secercah harapan adalah dengan adanya UU KIP, sehingga kontrol proyek dan realisasi anggaran bisa dicermati oleh pihak yang berkepentingan (belum pernah ada preseden penggunaan KIP sih, siapa mau coba duluan?)

    Sorry terakhir, tapi dengan adanya UU Rahasia Negara saya pikir rada absurd karena bakal bertabrakan dengan UU KIP.. doh mbalik maning.
    djibrieljd 0 0
    anti-fenomena: Kayaknya kalau di Banten, retensen 5% itu sudah jatah dinas. : )) : )) ga usah ditanyain lagi.

    Yudiantoro: UU KIP di Banten ditulisnya UU KEEP : )). Saya pernah pakai UU 28/1999 saja, eh bukan jawaban yang dapet. Malah 2 oknum pasukan elit yang dateng. Terpesona saya dengan gagahnya : )) : ))

    Waduh, RUU Rahasia Negara sudah jadi UU? Banyak ketinggalan saya. Gara-gara Pemilu : ))
    perempuan api 0 0
    Yudiantoro: bener udah jadi UU mas? bukannya masih RUU rahasia negara?
    doooh...sama kayak ITE dong, ga dikawal larinya kemana2.
    btw, soal UU KIP, komposisi yang terpilih jadi Komisi Informasi siapa aja ya? : D ga ngikutin lagi...
    anti-fenomena 0 0
    Yudiantoro:kontrak saja tidak cukup ya bung, untuk mencegah rekan yg bandel???

    djibrieljd: kecil amat fee dinasnya? di tempat saya 10% (bisa naik lagi, kalo ada titipan markup) dan dinas tidak mau menunggu pemeliharaan, begitu selesai proyek, layaknya debt collector lsg neror via telpon.
    Yudiantoro 0 0
    djibrieljd n perempuan api: ehh emang belum ya? udah ah perasaan.. *mbolak mbalik koran*

    anti-fenomena: kontrak saja? manaaa cukup : D kita tst lah bung, kalo mau bawa2 ke ranah hukum, ilang kambing lapor jadi ilang sapi.. malesin

    *makanya murtad jadi lawyer*
    Yojimbo Usagi 0 0
    lho...kok aku dibawa2 ?
    djibrieljd 0 0
    anti-fenomena: 5% jatahnya dinas di luar 10% setoran awal (katanya dikirim ke Gubjen). 2,5%-5% katanya jatah Kadis. 5%-10% katanya buat saving dinas. kira" 2,5% untuk potongan tunai mulai dari biro keuangan hingga penandatangan, bahkan satpam saja minta ditraktir makan. Belum jatah THR. 2,5%-5% jatah pinjem bendera.
    Pengalaman pribadi tahun 2005 (waktu masih main proyek), dari nilai Rp49 juta, saya hanya terima Rp17 jt sudah bersih PPn + PPh. Untung paperwork : ))

    Yojimbo Usagi: namanya juga sapi, pastilah dibawa-bawa. Masa mau dibiar keleweran, emang di India? : )) (ngga nyambung)

    Yudiantoro: Udah belum? Malah balik nanya : D

    Silahkan login untuk memberikan pendapat