Seberapa penting ekonomi Indonesia untuk dunia? 46
Senin, 3 Agu '09 09:58
(Klik gambar untuk memperbesar; Urutan negara di kotak: Thailand, Filipina, Malaysia, Indoensia, Cina, Venezuela, G7 (rata-rata), dan India))
Jika gambarnya masih terlalu kecil, klik ini.
Gambar di atas adalah grafik yang mengukur sejauh mana sebuah negara terintegrasi ke dalam ekonomi dunia dari tahun 1980 hingga 2005.
Sumbu Y adalah ranking seberapa penting negara tersebut dalam jejaring perdagangan dunia; semakin tinggi rankingnya maka negara tersebut semakin penting (mirip hasil search dengan Google, semakin tinggi rankingnya maka hasil searchnya ada di atas). Pengukurannya menggunakan besaran statistik (random walk betweenness centrality -RWBC ) dari jejaring perdagangan global.
RWBC mengukur sejauh mana negara tersebut berpengaruh dalam ekonomi dunia. Nilai RWBC sebuah negara tergantung pada seberapa banyak partner dagangnya dan seberapa besar partner dagangnya berdagang, seberapa banyak partnernya partner dagangnya dan seberapa besar partnernya partner dagangnya berdagang dan seterusnya. RWBC mengukur seluruh rantai perdagangan dunia relatif terhadap sebuah negara dan lalu mengukur seberapa penting negara tersebut dalam rantai perdagangan dunia. (Bayangkan seperti rangkaian listrik dan negara sebagai lampu; jika negara itu penting maka jika lampunya dicabut, banyak lampu lain yang mati; sebaliknya, jika negara nggak penting, maka lampunya dicabut atau tidak, tidak terlalu pengaruh terhadap lampu-lampu yang lain)
Negara yang melakukan liberalisasi perdagangan tidak otomatis skor RWBC nya tinggi, karena itu tergantung bagaimana dia terhubungkan dengan jejaring perdagangan dunia. Bisa saja sebuah negara sangat terbuka tetapi dia berdagang dengan negara-negara yang sama-sama tidak memiliki pengaruh besar, maka skor RWBC nya tetap kecil.
Dari grafik terlihat Indonesia bisa dikatakan tidak termasuk grup inti ekonomi dunia; Indonesia masih anak bawang. Apa yang terjadi dengan ekonomi Indonesia tidak terlalu mempengaruhi dunia, dan juga sebaliknya ekonomi Indonesia relatif tidak terpengaruhi ekonomi dunia. Jadi ini ada baik dan buruknya. Baiknya, kalo ekonomi dunia sakit, Indonesia mungkin nggak tertular terlalu parah; buruknya? ya inget aja apa rasanya kalo jadi anak kurang gaul waktu SMA :)
Venezuela tampak semakin mengisolasi dirinya. Juga Filipina tampak kesulitan menjadi pemain berpengaruh dalam ekonomi dunia.
ps: bagi mereka penggemar teori konspirasi yang menganggap ekonomi indonesia lemah karena konspirasi, dari grafik terlihat, ekonomi Indonesia tidak terlalu penting bagi dunia.
Sebelum menuduh orang lain memperlemah kita, lebih baik memperkuat diri dulu sehingga orang lain punya alasan untuk berkonspirasi memperlemah kita.
-------
Data diambil dari paper ini.
Tag: Ekonomi, perdagangan, jejaring
Terkait:
-
Dana Wirausaha Untuk Mahasiswa Undip
Selasa, 16 Mar '10 17:24 -
Tuhan Tidur di Saku Pak Boediono
Kamis, 25 Feb '10 08:29 -
Sistem Perbankan dan Hal-hal Ganjil Lainnya: Uang Palsu Hasil SUN (Bagian 2 dari 6)
Rabu, 24 Feb '10 21:57
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Herman Saksono: Menarik
-
Striding Cloud: Penting
-
heriyadi: Penting
-
LCFR: Bagus
-
MosheDayan: Menarik
-
Casper: Menarik
-
kinanthi: Menarik
-
adimas: Keren
-
boiga: Menarik
-
Yudiantoro: Penting
-
Subroto: Lucu
-
rif: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
mufa: Penting
-
Huzein: Bagus
-
iloenx: Penting
-
babyloniamaria:
-
abah: Menarik
-
yusro: Menarik
-
ndoet: Bagus
-
Sri Kirana: Menarik
-
donyariya: Penting
-
Bocah nDeso: Bagus
-
kakilangit: Bagus
-
Mihael Ellinsworth: Penting
-
R A P: Bagus
-
ndableg: Keren
-
Edo Segara: Penting
-
ndhasatos: Menarik
-
Alisyah: Menarik
-
neilhoja: Terkini
-
Xaliber von Reginhild: Bagus
-
edy Muarateweh: Keren
-
amanda jhie: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Baru beberapa hari lalu saya bertanya-tanya, kemanakah bung Roby?
Anyway, share gambarnya pakai ini saja:
www.imgur.com
Flickr harus login segala...
Kalo pake analogi anak SMA, Indonesia itu sama dengan Anak mami dengan badan besar yang manja dan ngga gaul
Sepakat dng anda, distribusi kekuasaan yg lebih dinamis diperlukan, bila ingin keluar dari segala permasalahan ini.
Kebablasan kan menurut sebagian orang, perlu di perbaiki tata cara nya saya setuju, sehingga terjadi proses pemisahan "administrasi" yg seharusnya dapat berjalan dng baik.
Selebihnya, yaaa......sebuah perubahan, hampir dapat dipastikan membawa dampak2 positif maupun negatifnya, menurut saya selama proses tersebut berjalan ke arah yg lebih baik harus didukung.
Sabar mas, kata kuncinya
Apalagi ni jagoan Indonesia? Klo regulasi bisa per daerah, bisa saja Indonesia jadi menarik. Misalkan saja di prop tertentu bebas bikin CASINO
Tapi sayang, tidak semudah itu perkaranya, sebagai jalur/lajur lintasan yg strategis, kepentingan "dunia" sangatlah besar kepada kita.
Casino, ide bagus tuh
Yg strategis mah singapur... Klo industri, mo bikin motor misalnya, jepang pilih thailand, atau malaysia. Ke utara atau ke selatan sama2 dekat.
Indo mah di ujung.... Misalkan di del dari peta, efeknya ngga banyak, paling nyi roro kidul pindah Singapur.
Bagaimana dng kepulauan riau? ...
Bila memang analisa anda seperti itu dan terbukti benar, saya merasa bersyukur karena mungkin saja berdasarkan analisa anda , kepentingan "asing " terhadap kita kecil, sehingga kita tidak perlu susah2 membatasi kepentingan mereka tersebut.
Kepentingan asing terhadap indonesia memang relatif kecil jika dibandingkan dengan besar negara serta jumlah penduduknya.
Kepentingan asing di malaysia dan vietnam justru lebih besar.
Hal tersebut dapat kita lihat dengan mudah dari FDInya.
Perbedaannya adalah, di Indonesia chauvinisme dan xenophobia jauh lebih besar dari kedua negara tersebut.
Casper:
Zaman dahulu kala, ketika belanda tertarik ke indonesia, Indonesia masih menjadi jalur dagang dari Eropa ke china-jepang.
Bersamaan dengan dibukanya kembali terusan suez serta dibangunnya singapura, Pelabuhan sunda kelapa mulai menjadi sepi dan semakin terisolasi.
Pelayaran dunia lebih nyaman melewati terusan, lalu menyusuri pantai, daripada melalui selatan afrika dan mengikuti arus samudera ke selatan sumatera.
Di zaman modern ini, kalau saya tidak salah 30% perdagangan dunia melalui singapura, maka tidak heran, meskipun JIKA dengan tingkat distribusi kekayaan yang buruk, trickle down efeknya masih signifikan.
Solusinya agar indonesia lebih berpengaruh? Ada 4 langkah:
1. Hancurkan terusan suez.
2. Akuisisi Singapura.
3. Bangun Pelabuhan besar di Aceh
4. Bangun pelaburan besar di kalimantan barat
Dengan demikian kita akan mengembalikan fungsi indonesia sebagai jalur perdagangan, sekaligus membangkrutkan malaysia.
{Kepentingan asing terhadap indonesia memang relatif kecil jika dibandingkan dengan besar negara serta jumlah penduduknya.Kepentingan asing di malaysia dan vietnam justru lebih besar.Hal tersebut dapat kita lihat dengan mudah dari FDInya.Perbedaannya adalah, di Indonesia chauvinisme dan xenophobia jauh lebih besar dari kedua negara tersebut}
Bila memang benar analisa anda, saya kira tidak masalah juga, justru bisa menjadi "anugrah tak terduga" bagi kita / Indonesia.
Sehingga kita dapat menjalankan segala kegiatan keseharian kita lebih tenang, tanpa banyak campur tangan asing, dari perspektif lainnya, masyarakat kita dapat ber evolusi lebih alamiah dalam mencapai cita2nya. Dalam hal ini saya terinspirasi dng kata2 "coba kita lihat orang jepang" yg sering sekali disebutkan oleh orang2 dlm membanding2kan suatu peradaban yg satu dng yg lainnya, mereka lupa bahwa peradaban mereka itu adalah salah satu peradaban paling "...KERAS..." sebelum di buka paksa oleh seorang commander US navy, yg lalu dng karakter dasar yg keras tersebut mereka dapat berkembang sampai dng hari ini, yg tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, harap diingat mereka itu satu2nya suku bangsa di bumi ini yg pernah merasakan sengatan "atom" .
Untuk chauvinisme dan xenophobia, ..saya kira bukan hanya "kita" saja, menurut saya hal tersebut sangatlah tergantung kebutuhan "politik" semata, saya kira karakter dasar masyarakat tradisional kita masih belum berubah, masih sangat2 permisif kepada orang asing, yg sayang nya memang bila kita pelajari sejarah masa lalu kita sering disalah gunakan oleh para tetamu kita tersebut.
Mengenai pulau jawa sendiri, sudah sedari lama memang saya sendiri pun mencari2 jawabnnya..???
3G, Gold God Glory...
kalo petani cuma punya tanah 1 hektar, maka dia cuma jadi pengusaha kelas kabupaten (reformasi agraria nya mandek)
konsep inti plasma sudah ada yang jalan, tapi petani plasma masih banyak yang mengeluhkan posisi tawarnya dengan pengusaha inti.
program swa-sembada tidak selamanya bagus, paling tidak dia udah meremehkan peluang perdagangan (jasa keuangan, asuransi, transportasi)
Bung, coba buka wikipedia, economy of indonesia, kalau saya tidak salah valuasi dari seluruh usaha tambang di indonesia hanyalah sekitar 20% APBN.
Jadi kalau kita dikit-dikit berargumen bahwa kita direcoki asing karena kekayaan alam kita banyak, itu adalah hal yang sedikit tercerai dari realita.
Karena kita menghabiskan 5 kali lipat dari total industri tambang kita hanya untuk pemerintahan saja!
Pada sisi ekonomi bila hal tersebut menyebabkan hal yg menurut anda tidak menguntungkan kita hal tersebut memang benar, akan tetapi kehidupan sebuah negara bangsa itu kan bukan satu bidang/sektor/perspektif saja.
Bila sendi kehidupan kita sehari2 memang nyata2 tidak direcoki "kepentingan" asing sudah hampir pasti jawabannya "tidak mungkin" apalagi pada era sekarang.
Meng-"isolasi" diri seperti negara2 lainnya di muka bumi inipun , menurut saya adalah sebuah paham "usang".
Bila memang secara realistis menurut anda "Indonesia" kurang menarik dari sisi "ekonominya", maksud saya ....janganlah kita terlalu berharap terhadap bantuan "luar" apalagi sampai "mengemis", sementara itu kita lakukan yg terbaik dari apapun yg tersedia.
tetapi rendah diri karena jadi negara ga gaul mungkin terobati dengan kalimat penutup dalam tajuk KONTAN hari ini (3/8/2008)....."ga usah minder jadi jagoan kandang, ingat lho kandang kita punya 230 juta jiwa..."
Seandainya bumi ini seindah yg anda sebutkan, saya akan menjadi manusia yg sangat menderita.......
Atau seandainya bumi ini adalah tempat yg paling jahanam, saya akan menjadi manusia yg paling berbahagia.....
Sayangnya saya tidak pintar berandai2, apalagi menghadapi realita yang ada.
Sekedar cara pandang utk mengikis paranoid thd dunia...
Berpikir positif, menurut saya itu suatu keharusan, tanpa melupakan relita, jangan sampai kita terlena
waw, baru taw tuh gw...
dan memang, zaman sekarang itu, APBN Indonesia udah ga bergantung sama perdagangan migas lagi, tetapi dari pajak.
nah.. sekarang, gimana caranya meningkatkan penerimaan pajak?
Pakai cara neolib, .. konsensus washington
Ilustrasi :
http://politikana…omment-63866
Casper: Cari Consensus Washington,Master Ceremony.APEPEBEEN 1999/2004
1. Anda bilang nilai RWBC sebuah negara tergantung pada seberapa banyak partner dagangnya dan seberapa besar partner dagangnya berdagang, dll. Berarti data yang dipakai terutama nilai ekspor impor ya? Apakah dalam data mengenai ekspor impor itu juga mencatat arus keluar masuk uang yang berhubungan dengan transaksi perbankan, pasar modal, dan valas? Seberapa besar arus ketiga transaksi yang belakangan saya sebut itu berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah? dan seberapa besar pengaruh nilai tukar rupiah terhadap ekonomi? (Intinya saya cuma mau tau, apakah RWBC cukup sahih untuk dijadikan landasan kesimpulan2 anda).
2. Anda bilang "baiknya, kalo ekonomi dunia sakit, Indonesia mungkin nggak tertular terlalu parah". Saya yang awam ini agak kurang paham dengan statement anda ini. Bukankah krisis ekonomi nasional 1997 adalah ekses yang sangat parah dari krisis ekonomi dunia?
3. Anda bilang "dari grafik terlihat, ekonomi Indonesia tidak terlalu penting bagi dunia [dan] lebih baik memperkuat diri dulu sehingga orang lain punya alasan untuk berkonspirasi memperlemah kita". IMHO, saya pikir grafik itu menunjukkan kondisi yang tepat, karena saat ini perdagangan kita memang dikontrol negara lain. tapiiii.....
semestinya kita lebih kritis lagi untuk mengkaji Kenapa ekonomi Indonesia lemah?, apakah negara lain yang ekonominya penting di dunia ingin Indonesia jadi kuat?, bukankah kalau Indonesia jadi kuat, maka Indonesia jadi tidak bisa dikontrol?, bukankah lebih ekonomis dan lebih meminimalisir risiko jika ekonomi Indonesia dijaga tetap lemah daripada harus menghadapi Indonesia ketika ekonominya sudah kuat?
konspirasi adalah bagian dari proses politik. dengan berpikir bahwa itu ada membuat kita lebih siap untuk membuat counter-nya. bahwa anda tidak percaya dengan adanya konspirasi, itu hak anda. saya memilih cara saya sendiri.
Saya mo komentar sedikit saja..., dalam keyakinan saya, negara2 maju tentunya berharap ekonomi Indonesia kuat. Indonesia adalah konsumen potensial. Klo ekonomi negara ini lemah, .. yg untung China. Barang2nya murah meriah, ..negara2 melarat jadi surga. Klo ekonomi indo kuat, yg untung amrik, jepang, jerman, dll. Barang2 mereka relatif mahal.
Kerjasama antar negara maju lebih menarik, jadi buat apa negara lain berharap Indonesia jadi negara kere? Lagian ke PD an kalo kita merasa negara ini mo dikontrol. Sekedar kambing hitam dari rakyat suatu negara yg susah diajak maju.
Proyek ini memang baru saja berjalan 4-5 tahun. Upaya kerja sama regional negara-negara selatan ini, mungkin akan membawa perubahan baru tatanan bagi ekonomi dunia. Khususnya utk negara-negara selatan dan blok amerika latin yg mempraktikkan sosialisme abad 21 (cmiim)...
http://21stcentur…t_01110.html
1. soal aliran finansial memang tidak termasuk disini, dan bisa dimasukkan jika ada yang mau melakukan analisisnya (ada yg tertarik untuk tugas akhir atau tesis?
tetapi sebagai gambaran, pasar saham singapura itu kapitalisasinya 3 kali lebih besar dari indonesia.
jadi kalaupun kita merasa dikontrol negara lain, itu lebih karena kita kecil sehingga seperti buih terapung2 di ombak.
2. krisis 1997 adalah krisis regional. amerika dan eropa tidak terpengaruh saat itu. memang secara regional indonesia bisa lebih penting dibanding global (mungkin karena penduduknya banyak).
3. spertinya anda salah menginterpretasi. saya tidak menulis soal ekonomi lemah atau kuat, tapi soal "gaul" atau tidak. kalau ekonomi indonesia "di kontrol" oleh negara2 lain, maka harusnya tampak dari analisis ini karena pasti ada aliran perdagangan besar masuk dan keluar indonesia. jadi misalkan kita dieksploitasi, maka harusnya aliran eksploitasi ini terlihat; tapi ternyata tidak.
menurut analisis sederhana ini, kalaupun ekonomi indonesia terasa lemah, bukan karena di eksploitasi tapi justru karena dia tidak terintegrasi dengan ekonomi dunia.
kalau kita sedang dihisap sebuah gurita, harusnya kita bisa melihat tangan2 gurita ini. tapi data tidak menunjukkan ini. yang terlihat, indonesia lebih seperti anak yang duduk di bangku pojok dan terlupakan anak lain (dalam hal perdagangan).
4.konspirasi pasti selalu ada.
tapi kalo melihat data ini, saya pikir mending kita bangun negara kita jadi besar dan diperhatikan negara lain; baru setelah itu - kalo mau- kita bikin konspirasi baru dimana kita dalangnya
juga salah satu alasan kenapa amerika susah "perang dagang" dengan cina. karena jenis barang yang diproduksi amerika cocok untuk pasar negara maju (jepang, inggris, jerman misalnya) lainnya, bukan pasar seperti Cina.
saya sepakat dengan anda, ada negara lain yang tidak ingin Indonesia jadi negara kere. tapi satu-satunya alasan dari pikiran kapitalis di negara itu adalah supaya Indonesia selalu jadi pembeli barang2 mereka. dan cara mereka mengontrol kita adalah melalui sistem ekonomi berbasis hutang. misalnya, kita mau bikin pembangkit listrik, kita hutang dulu. lalu merekalah yang menentukan pembangkit ukuran berapa yang bisa dibangun. dulu motor termasuk barang mewah. skrg hanya dengan DP 500 ribu, motor sudah bisa dibawa pulang. bagi saya, mereka tidak ingin kita maju, karena maju berarti kita mandiri-sejajar dengan mereka. mereka ingin kita berhutang dan berhutang, karena dengan cara itu mereka mengontrol kita.
btw, soal rakyat yang susah diajak maju. secara politis ini menguntungkan negara produsen dan penjual toh? apakah mereka mau rakyat Indonesia maju kalau akhirnya berbalik melawan mereka? secara politis, apa yang akan anda lakukan kalo anda adalah kapitalis di negara produsen dan penjual?
Roby Muhamad: thanks untuk responnya bung RM. saya pikir kita punya persepsi yang berbeda mengenai gagasan tentang "dieksploitasi" dan "terintegrasi dengan ekonomi dunia". saya hormati metode analisis anda yang mendasarkan pada data angka. namun, pernahkah anda terpikir mengenai kinerja sistem pencatatan perdagangan yang ada di Depdag atau Bea Cukai kita? seberapa yakin anda akan akurasinya? buat contoh saja. silahkan cek volume transaksi ekspor pasir laut ke singapura di dinas bea cukai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
bagi saya, untuk melihat tangan2 gurita yang membuat Indonesia "dieksploitasi" dan "terintegrasi dengan ekonomi dunia" adalah dengan mereview seluruh kontrak/konsesi/ijin di bidang migas, kehutanan, perkebunan, kelautan, pertambangan, air, dan sumber2 kekayaan alam lain di Indonesia. lihat juga kontrak2 kita dengan World Bank, IMF, ADB, dan lembaga2 lain yang memberikan hutang pada kita.
saya yakin data yang saya sebutkan itu, bukanlah data yang biasa anda gunakan dalam analisis2 ekonomi anda. dan sebaliknya, saya terus terang sulit untuk menggunakan data2 angka anda. karena itu, mudah2an suatu hari kelak kita bisa bersinergi untuk, mengutip statement anda: membangun negara kita jadi besar!
Apakah anda tidak tahu kalau sistem kredit itu justru maraknya di negara maju dulu? Kartu kredit tdk berasal dari negara kere kan? Hutang itu tergantung cara pandang. Jadi beban bisa, jadi alat ungkit bisa. Tergantung mental yg melihat tentunya mau dipersepsikan seperti apa.
Produsen-konsumen bukan sebidang kertas yang hanya boleh dilihat satu muka. Konsumen satu hal bisa jadi produsen lain hal. Tidak mungkin ada negara yg sekedar mengkonsumsi tanpa berproduksi. Mungkin hanya balita saja yang seperti itu.
Btw, berdiri sejajar apa salahnya? Pada kenyataannya, Jepang, Jerman, Inggris, dll sejajar tidak masalah. Justru yang sejajar itu take and givenya lebih enak.
tapi kalau memang kepentingan politiknya supaya menekan pertumbuhan setiap negara berkembang supaya tidak lebih baik lagi kan bisa jadi...
karena bagaimanapun.... mengontrol lebih menguntungkan dari bersahabat biasa.. bagi mereka loh
heheheheh kalo saya mah yang asik2 aja
tapi kenapa indonesia masuk dalam negara G20, kenapa bukan Singapura atau Malaysia.
ada yang bisa bantu saya menjelaskannya?
Subroto: pelemparan produk ini harusnya tampak di data, tapi ternyata produk yg dilempar ke indonesia terbilang kecil.
juga seperti yang dibilang casper, yang melempar produk ke indonesia itu kebanyakan bukan amerika, eropa, atau jepang, tapi cina.
air: saya tidak kaget kalau data2 yang anda sebutkan benar. apa yg saya lakukan disini adalah meletakkannya dalam perspektif ekonomi dunia. jadi mungkin apa yg kita anggap besar itu ternyata kecil.
ini bukan berarti saya menganggap masalahnya kecil, justru sebaliknya. saya bermaksud optimis bahwa keadaan kita itu tidak jelek2 amat; kita tidak sedang dilindas oleh setum raksasa. kita bisa bangkit menjadi besar secara optimis.
Tapi, kenapa bung RM tidak mengikutsertakan singapura ya?
Setuju dg bung Air (yg diamini oleh bung RM) bahwa pasar financial perlu dijadikan variabel juga.
Saya kurang sependapat dg kesimpulan bung RM yg mengatakan apa yg terjadi dg ekonomi Indonesia tidak terlalu mempengaruhi dunia, karena hal ini hanya dilihat dari 1 variabel saja.
Artinya dalam isu ekonomi global seperti sekarang, adalah saat yang tepat untuk memperkuat sendi-sendi dasar ekonomi kita kembali khususnya dengan fokus pada potensi dalam negeri yang kita miliki.
Bayangkan saja, jika saat ini semua murid-murid dikelas itu sedang ribut-ribut membahas soal ujian akhir mereka. Namun ketika hasil ujian itu anak pendiam dibangku pojoklah yang jadi juaranya.
Dalam suanana krisis seperti sekarang ini, kita termasuk pada posisi yang cukup enak. kita berada pada area tidak menentukan bagi ekonomi dunia dan juga dunia tidak terlalu mempengaruhi kita. Bagi saya itu artinya kita "terisolasi" dengan enak, ga harus menutup diri secara terang-terangan, tapi tidak berpengaruh besar terhadap yang lain.
Artinya kalo kita tidaqk sanggup menmproduksi kebutiuhan dasart kita denga bahan baku yang melimpah, bagaimana bangsa lain akan segan kepada negara kita? maaf mas tanpa diukur secara teori pun hasilnya sudah terlihat koq
yang paling penting bagaimana rakyat dapat semakin sejahtera !
Silahkan login untuk memberikan pendapat