Sekeping Catatan Tentang Indonesia Bersatu 12

Selasa, 11 Agu '09 15:23

"Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan aku. Sebuah kemungkinan yang menyingsing, sebuah cita-cita yang digayuh generasi demi generasi, sebuah impian yang kita jalani dengan tungkai kaki yang kadang capek dan kesadaran yang kadang tanpa fokus. Tanah air adalah sebuah ruang masa kini yang kita arungi, karena ada harapan untuk kita kelak." --Goenawan Muhammad

Gelora Romantik Agustusan dengan alunan suara melankolis "selendang sutera" atau "sepasang mata bola" di hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan republik ini terasa tenggelam dibalik gemuruh lagu "Online-nya" Saykoji atau "Tak Gendong"-nya Mbah Surip.Juga hiruk pikuk dunia infotainment yang mengabarkan artis ini baru saja bercerai dan artis itu sedang menjalin hubungan kasih dengan artis yang lebih muda Belum lagi geliat aktif komunikasi online dengan koneksi internet yang sungguh cepat, menghubungkan seseorang dengan orang lain di benua lain, layaknya bercakap berhadapan wajah.

Tak hadir lagi kenaifan seorang pemuda tanggung yang baru pertama kali menggenggam bedil, dan karena itu dia salah tembak sasaran. Jiwa sang pemuda dibakar oleh semangat yang dipompakan oleh pidato-pidato Bung Karno. Atau tak ada lagi sejenis kisah asmara yang terukir dari kiriman surat cinta di garis depan yang mengalir ke dapur-dapur umum lewat kurir bersama "setumpuk dokumen rahasia pasukan" sebagai katarsis dari kepenatan dan pengapnya asap revolusi. Semua sudah menjadi "fosil"dalam kerangka kesadaran ke-Indonesia-an. Lenyap bersama surutnya ideologi kolonialisme dan imperialisme barat atas bangsa-bangsa timur.

Sayangnya, perubahan itu tak selalu menggembirakan.

Wujud Indonesia dalam kesadaran kitapun menjadi lain. Dia,tak lagi berupa gugus-gugus yang mesti dipertahankan secara fisik dari pijakan penjajahan asing. Tak lagi berupa sebuah teritori kesadaran yang terancam karena ada helai-helai hegemoni menyelusup ke file-file kesadaran kita dan kemudian adalah virus yang dapat merobek sendi tulang, bahkan sumsum kebangsaan. Sebagai bangsa, Indonesia serta merta menjelma menjadi kerja keras membangun kehidupan ekonomi, menata kehidupan politik, menyaksikan perjalanan budaya : Sesuatu yang senantiasa mesti diberi legitimasi historis dari apa yang disebut sebagai "semangat juang '45" berdasarkan acuan tunggal bernama UUD 1945 yang dibingkai oleh kesadaran ber-Pancasila.

Dari sini akan timbul pertanyaan, apakah masih relevan mengedepankan aspek historis yang lahir dari kancah revolusi fisik tersebut untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi justru ditengah kecamuk keterbukaan dunia yang kian menyempitkan pilihan-pilihan kita untuk bisa tetap bertahan? Tentu tak semudah itu. mentransformasikan kesadaran era 45-an yang disemangati oleh api nasionalisme kepada kenyataan kontemporer yang berpijak pada bara modernisme, globalisme bahkan post modernisme. Pada gilirannya, modernisme pun "mengkhianati" nasionalisme 45-an itu dengan "putra bungsu" bernama Globalisme.

Bangsa inipun menjelma tidak sekedar sebuah "Nation" dengan negara sebagai perwujudan strukturnya : sesuatu yang kemudian memudahkan kita sebagai bangsa diatur dan dikendalikan semata-mata oleh negara, yang membawa kita membela dan mempertahankannya di tengah revolusi fisik. Saat ini, Pasar dan Media Massa menjelma menjadi "struktur" lain yang kemudian menggusur kokohnya "Nation" itu bahkan hingga sampai ke tingkat kesadaran. Bagaimana kiranya nasib "nasionalisme" (juga patriotisme) pada kenyataan ini? Logika pasar dan juga media massa jelas-jelas sangat berbeda dengan logika bangsa yang mengedepankan persatuan, keutuhan, kesatu paduan.

Era Globalisasi yang muncul menderu-deru, menjelma menjadi sebuah hegemoni baru, yang ternyata tidak lagi biadab seperti era Kolonialisme dan imperialisme, melainkan sangat "beradab" dan bekerja secara halus serta perlahan tapi pasti menggerogoti tulang sum-sum kebangsaan kita.

Gerakan #Indonesia Unite yang merupakan semacam "tali pengikat" untuk mengakomodir kemarahan dan keprihatinan kolektif sejumlah orang yang memiliki ikatan di social media network pasca ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton tanggal 17 Juli 2009, kerapkali dianggap sebagai usaha spontan dan reaktif belaka.

Gerakan yang pada awalnya muncul di Microblogging Twitter (di media ini #IndonesiaUnite pernah menduduki ranking pertama pada daftar trending topics atau topik yang paling banyak dibicarakan pengguna twitter di seluruh dunia) , lantas merambah ke Facebook, bagi saya tidak sekedar dimaknai sebagai sebuah kehebohan sesaat. Euforia yang "ditularkan" oleh IndonesiaUnite, sampai-sampai sejumlah orang dan pengguna social media network--secara patriotik-- mengganti avatar atau head-shotnya dengan bendera merah putih, menjelma menjadi sebuah inspirasi. Sebuah upaya merevitalisasi makna Nasionalisme itu sendiri dalam sebuah gempita yang langsung maupun tidak, menyentuh titik kesadaran kita pada kebanggaan berbangsa, kebanggaan memiliki Indonesia.

Walau mungkin saja ada yang beranggapan bahwa euforia Nasionalisme pada #IndonesiaUnite terkesan berlebihan, genit, berisik dan dibuat-buat dengan membuat pernyataan bernuansa patriotis di deretan 140 karakter huruf pada media microblogging, gerakan ini sudah "menghimbau" kita untuk kembali pulang ditengah riuh globalisasi, menghayati kebhinekaan, merasakan Indonesia sebagai sebuah kesatuan yang koheren dan patut dibanggakan.

Saat menulis artikel ini, saya memutar lagu Iwan Fals dari koleksi MP3 saya. Sebuah lagu berjudul"Siang di Pelataran SD Kampung", yang membuat dada saya bergemuruh oleh rasa haru :

sentuhan angin waktu siang

kibarkan satu kain bendera usang

di halaman sekolah dasar

di tengah khidmat anak desa

nyanyikan lagu bangsa; bergemalah...

tegap engkau berdiri

walau tanpa alas kaki

lantang suara anak-anak

di sana kadar cinta mereka

tak terhitung besarnya

walau tak terucap

namun bisa kurasa; bergemalah...

ya, harapan tertanam

ya, tonggak bangsa

ternyata tak tenggelam

dengarlah nyanyi mereka, kawan

melengking nyaring menembus awan

lihatlah cinta bangsa di dadanya

(tak) peduli usang kain bendera

Ingatan saya mendadak terbang jauh ke dua puluhan tahun yang silam, ketika saya dan kawan-kawan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) mencium bendera merah putih dengan tangis tertahan dan keharuan menyesak kalbu, pada malam sebelum kami bertugas mengibarkan bendera di Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Instruktur baris berbaris kami dengan suara lirih dan bergetar diiringi lagu "Syukur" mengisahkan kembali semangat perjuangan para pahlawan menegakkan kedaulatan bangsa ini.

Dan tanpa terasa air mata menetes perlahan melalui tebing pipi ketika saya mencium bendera merah putih itu dengan khidmat. Keharuan serupa yang kembali menyeruak ketika gerakan IndonesiaUnite itu digemakan secara lantang.

Tidak sebatas slogan namun juga sebuah tindakan untuk merawat, menyelamatkan dan membanggakan bangsa ini dengan segenap kemampuan yang kita punya, karena, seperti apa yang diungkapkan pada awal tulisan ini,""Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan aku".

Dirgahayu Indonesiaku!

I Love you Full!

Sumber Gambar


Tag: persatuan, iwan fals, Indonesia Unite

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    yusro 0 0
    Mari bergandeng tangan untuk hari depan Indonesia yang lebih baik.
    Amril Taufik Gobel 0 0
    Terimakasih atas komentarnya Mas Yusro
    Ya..mari kita bersatu menuju Indonesia yg lebih baik!
    Ibnu Muslim 0 0
    Bertanah air satu, Tanah air Indonesia
    Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
    Berbahasa satu, Bahasa Indonesia

    Bersatulah Indonesia-ku, Merdeka !!
    Arniko 1 suka | 0
    Bersatu dalam bentuk apa? Perlu definisi lebih jelas! Bersatu seperti Sumpah Pemuda? Sudah tentu, tidak perlu diulang-ulang. Walaupun melalui cobaan berat tahun lima-puluhan masing-masing daerah ingin pisah, bersatu at gun point. Bersatunya pola fikir antar departemen-departemen pemerintah demi kemudahan dan kesejahteraan masyarakat? Ini paling penting, tapi sayang masih jauh dari harapan karena ego kekuasaan dan kepentingan kelompok/pribadi masih dominan.
    Subroto 0 0
    Semoga gerombolan Pedy M Top bisa memahami artikel bagus ini
    Yojimbo Usagi 0 0
    Subroto:

    kayaknya dendam banget sama Pedy ya ? ; ))
    boiga 0 0
    Amril Taufik Gobel: semoga masih subur kemuliaan di tanah ini..

    itu salah satu lagu iwan fals favorit saya juga, lagu yang menyentuh dan cantik.. : )

    Nanu Djandam 0 0
    pengabdian, keunggulan, inovasi, keterbukaan, dan konektifitas.

    Perjuangan pada peta pertempuran baru.

    www.modernisator.org
    Romas Resky 0 0
    Unity is not necessary, justice and prosperity that matter.
    semoel 0 0
    Nasionalisme ala 45 mungkin sudah tak terpahami generasi baru tuk jadi pijakan di era globalisasi sebab pada umumnya pemahaman nasionalisme adalah tuk keperluan menangakal serangan fisik, ini dapat terlihat dari beberapa kasus, seperti amabalat atau teroris, bangsa ini tetap terbakar jiwanya secara kompak. sementara dibidang lain walaupun sangat terancam kehilangan jati dirinya seperti soasial budaya, hanya sedikit yg jiwanya memahi harus berbuat apa, kebanyakan tdk merasakan sbg sebuah ancaman. Sekarang kita butuh nasionalisme yg mampu melihat ancaman dan tatangan kedepan serta antisipasi tindakan yg diperlukannya. Dan kita jg butuh nasionalisme yg tidak hanya melihat cerita perjuangan dan keberhasilan masa lalu, tp jg nasionalisme yg bisa melihat potensi diri tuk bisa lari lebih kencang.
    Linda 0 0
    Mengapa anak muda begitu terkesan kepada lagu-lagu tertentu, bisa menikmati sepanjang hari dan mempunyai kesan yang dalam dalam kata-kata yang ada pada lagu itu? Tentu karena liriknya begitu masuk di hati... dan telinga mendengar puluhan kali berulang-ulang dari berbagai media. Televisi, radio, CD dlsb

    Cobalah pemerintah mulai memikirkan, lagu-lagu Indonesia tentang tanah air ini dikumandangkan sesering mungkin. Bisa dengan aransemen baru. Kalau perlu dengan gaya nge rock sekalipun. Tapi kata-kata itu masuk ke hati yang mendengarnya. Kekuatan jiwa kebangsaan kita bisa muncul dari kekuatan kata-kata dari sebuah lagu. Amati dan hayati . Indonesia .. tanah air beta.. dst... Tanah airku Indonesia... negeri elok amat kupuja.. Tanah airku tidak kulupakan.. kan terkenang selama hidupku.. biarpun saya .. pergi jauh.. dst..

    Coba hayati.. hayati.. hayati ..!! Semoga kekuatan kata-katanya membuat kekuatan , enerji berlebih bagi kita untuk lebih membela bangsa ini secara utuh. Berangkulan lah semua penganut partai mana pun. Kalau sudah kecolongan seperti yang negera tetangga lakukan, ini sudah saatnya kita bergandeng tangan tanpa sekat-sekat partai lagi.

    Tayangkan lagu-lagu kebangsaan kita secepatnya. Hanya manusia beku lah yang mungkin tidak tergugah....
    AUGI 0 0
    Salam.

    Tanah dan air. Dalam bisnis menjadi Sertifikat Tanah, Air menjadi distribusi air irigasi, air baku PAM, air gelontor industri.

    Saat Tsunami di Aceh, batas bangunan, tanah garapan, tanah milik hilang dan sertifikat tanah yang basah di jemur pelataran BPN.

    Hutan lindung yang dijarah, ditebang dibakar di Riau dan Kalimantan mengurangi mutu udara.

    Udara yang segar, kelembaban tropis yang menyegarkan tubuh. Campuran gas hidrogen dan oksigen melalui pengembunan uap dipegunungan hasil penguapan energi matahari menjadi berkah yang besar.

    Campuran O2 + H2 + Listrik ---> H20
    butuh listrik berapa banyak ? ( belum dapat di wikipedia ;-D )


    Bayangkan sejenak oasis di gurun pasir Timur Tengah. ..

    Palingkan ke sungai-sungai Sumatra dan Kalimantan menggunakan Google Earth ...

    " Surga yang mengalir air sungai dibawahnya ..."

    seperti kutipan dari ayat suci ...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat