Politikana - Politikini 9
Kamis, 13 Agu '09 23:30
Akhir-akhir ini, terutama setelah pilpres berakhir dan kejadian bom Marriot jilid 2 hingga penyergapan teroris, para penulis di Politikana mulai ketularan virus media. Semua orang berlomba-lomba untuk menyajikan tulisan terkini dari isu yang sedang berkembang tersebut, tak peduli copas atau sekedar urun rasa. Kualitas tulisan menjadi barang langka, apalagi bila berlawanan dengan isu terkini. Saat ini yang terpenting adalah kekinian dan kebaruan isu, bukan kualitas tulisan.
Untuk mengujinya, cobalah buat tulisan dengan judul yang memuat kata Teroris, Noordin, atau sisa Pilpres seperti Prabowo, SBY, JK, dijamin cepat masuk headline dan bertahan lebih lama walaupun isinya mungkin tidak nyambung sama sekali dengan judulnya. Tapi cobalah bikin judul yang agak serius, misalnya tentang korupsi, pemerintahan, keuangan negara, walaupun terkadang masuk headline, tapi cuma mampir sebentar, untuk kemudian kembali menghilang. Untung ada moderator yang cukup jeli menyimpan tulisan-tulisan bagus di kolom tersendiri.
Memang Politikana sangat cocok buat penulis pemula untuk berlatih sekaligus menguji tulisannya. Hasil ujian dapat dilihat dari lamanya waktu nangkring di headline, besarnya rating, dan banyaknya komentar, lepas dari penilaian positif atau negatif, tapi parameter itu menunjukkan tinggi rendahnya perhatian pembaca terhadap tulisan kita. Membangun nama di Politikana juga gampang-gampang susah. Bila tulisan kita dianggap bagus, walaupun tidak lama nangkring di headline, tapi kita sudah punya 'penggemar' tetap yang selalu menanti hadirnya tulisan terbaru kita. Namun bila tulisannya tidak menarik, lama kelamaan tulisan kita tidak akan dilirik, dan secara alamiah akan hilang secara perlahan. Hukum alam berlaku disini, walau sedikit berbau neoliberalisme.
Politikana lambat laun berubah menjadi Politikini, yang lebih fokus kepada isu-isu terkini ketimbang isu politik yang lebih luas dan bermanfaat bagi perbaikan bangsa. Tulisan yang mengikuti arus besar isu terkini akan naik daun, sementara tulisan yang melawan arus atau tidak terkait dengan isu utama akan cepat menghilang dari peredaran. Ukuran kualitas menjadi sangat subyektif dan tidak tercermin dari rating maupun komentar. Tinggallah hukum pasar yang akan berkuasa.
Tag: politikana, media, pasar, tulisan, hukum alam
Terkait:
-
Apakah Penulis Politikana adalah Jurnalis?
Senin, 22 Feb '10 09:48 -
Pasar Tradisional Bernama Politikana
Selasa, 1 Des '09 12:54 -
Belajar Menulis di Politikana
Senin, 27 Jul '09 14:17
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Subroto: Lucu
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
afreeze: Biasa
-
ndableg: Biasa
-
GaraMata: Menarik
-
anti-fenomena: Menarik
-
R A P: Bagus
-
perempuan api: Lucu
-
l. wiji widodo: Terkini
-
Pedy: Biasa
-
Ibnu Muslim: Biasa
-
adel: Bagus
-
Samz: Menarik
-
nagawulan: Biasa
-
djibrieljd: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
-------------
Mungkin ada yg berminat dengan jasa kloner utk ngasi rating bagus
Jadi ingat waktu masih jd pengamat di Politikana, masa2 debat khilafah lg rame2nya, kloningan menjamur utk kasih rating bagus di artikel2 para khilafers
*kok nggak ada yg nyinggung putri Indonesia yg pake bikini yah?*
TAAAAAAH!!!!
Silahkan login untuk memberikan pendapat