Kita, Tetangga & Media 56

Selasa, 25 Agu '09 04:11

Berikut kompilasi video seputar isu 'budaya' antara Indonesia & Malaysia dalam beberapa hari terakhir. Sekaligus jawaban untuk Forlorn Hermit di artikel toRa, 'Inilah kenapa Malaysia Dendam'

Sebenarnya apa budaya asli itu? Dan bagaimana harus memperlakukannya?


Tag: indonesia, budaya, Malaysia, Kronik, tari, pendet

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Intel independen 0 2 tidak suka |
    budaya asli itu ya korup, selingkuh.
    itu asli buanget khas...sinetron.
    Striding Cloud 0 0
    Asli sendiri itu apa? orang teori terbaru menyatakan bahwa kita semua pendatang dari afrika....
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: lha justru itu saya juga mau tanya, pengen nodong anak sejarah atau anthro : D
    Striding Cloud 0 0
    [ http://politikana…omment-77661 ]
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: jangan lupa pertanyaan lanjutan saya, termasuk misalnya http://www.youtub…=12P68I5WzcY apa lantas kita tuntut juga mereka yang berkesenian? sikap apa sih yang harus diambil? : D
    Striding Cloud 0 0
    Dalam hal malaysia, ada kasus khusus
    Definisi budaya malaysia menurut undang undang mereka:
    1. Harus berdasarkan budaya ASLI MELAYU.
    2. Elemen yang cocok dari budaya lain boleh diterapkan sebagai budaya nasional
    3. Islam adalah komponen penting untuk menggabungkannya.

    Sedangkan definisi MELAYU per konstitusi mereka:
    "Seluruh MELAYU adalah muslim".

    Sedemikian sehingga ketika mereka mengklaim sebuah budaya merupakan budaya mereka, tanpa menyebutkan apakah termasuk dalam kategori 1 atau 2, harus kita cermati lebih dalam.

    Kita pantas marah jika memang mereka mengklaim pendet, yang merupakan budaya hindu bali (walaupun kemudian terbantahkan, tetap saja dapat dimaklumi)

    Kita pantas marah JIKA SEANDAINYA kemudian mereka mengklaim trowulan adalah warisan budaya mereka, hanya karena menurut mereka parameswara lah pewaris majapahit yang sah.

    Begitu pula dengan budaya-budaya kejawen, animis, dll, dll.

    Kita bangga dengan sejarah hindu kita(our hindu heritage). Kita mengakuinya, dan kita menyerapnya.

    Mereka per konstitusi sudah secara artifisial melabeli heritage tersebut berdasarkan pendapat politik atas kemurnian sebuah "ras".

    referensi:
    [ http://en.wikiped…sian_culture ]
    Leksa 0 0
    @kalangwan bisa menjawab mungkin ?

    beliau kan "lolosan" sejarah ; ))
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: sekalipun misalnya Malaysia memiliki masyarakat tamil, jawa, dan lain-lain? bukankah hak masyarakat tersebut untuk melestarikan budaya yang sudah turun-temurun dalam keluarga mereka?
    hamatamu 0 0
    Leksa: baik ada afaik ada dua yang dari sejarah dan satu dari anthropologi (satu lagi dari sosiologi tapi jarang muncul akhir-akhir ini ; )) )
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu: Maka katakanlah dengan jelas bahwa itu budaya jawa, maupun budaya tamil, bukan budaya nasional malaysia, yang sebagaimana tertulis UU mereka harus berdasar budaya melayu dan lebih lanjut per konstitusi eksklusif milik muslim saja.

    Sikap "Ini budaya nasional kami" tersebut justru dengan sendirinya mematahkan argumen keturuntemurunan.
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: setelah kebanggaan tersebut kalau dicermati ucapan 'membantu' mempromosikan Indonesia lewat tvc atau program discovery itu mungkin gambaran ketidakmampuan kita menggarap promosi pariwisata dan budaya kita ya? : ))
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: misalkan tentang wayang yang diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003 http://www.unesco…=ID&topic=mp sedang dari situs kebudayaan malaysia bisa anda unduh http://kebudayaan…kulit001.pdf : D
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu:

    Kebanggan tersebut bukanlah sekedar kebanggaan semu anak kemaren sore bahwa kita berbudaya, namun kebanggaan bahwa kita cukup toleran untuk mengakui bahwa budaya itu bukan milik sejati kita dimasa kini, tapi milik sejati bangsa2 lampau, yang tidak sesederhana itu bisa dipukul rata kedalam label "Ras Melayu" yang secara spesifik dan politis didefinisikan di konstitusi.

    Soal kita tidak mampu menjaganya, itu adalah masalah uang dan prioritas penggunaan saja.
    Forlorn Hermit 0 0
    Video kedua yang di posting ndaru ini menurut saya udah summary dari permasalahan. Jero Wacik bilang "Kami menganggap itu iklan, pak Noorman menganggap itu dokumenter" terus ditambahkan pak Jero Wacik menyayangkan judulnya Enigmatic Malaysia yang langsung disamber sama mbak presentator yang kenes sebagai klaim kebudayaan.

    Pak Noorman bilang, kami tidak bermaksud mengklaim atau menyinggung, tapi pak Jero menyatakan bangsa Indonesia tersinggung.

    Ya wis, intinya tersinggung : ))

    Liat ini visit malaysia 2009, sampe polos gitu. Plain, yang nari aja pake baju putih-putih : ))
    http://www.youtub…=JjDMzK9eoRA

    Sebenernya mereka lumayan sudah mengakomodir. Dan kita ribut sekarang, padahal menurut jeng hamatamu Enigmatic Malaysia ini sudah ada dari taun lalu di Bali International Film Festival

    http://krustudios…runews/?p=26


    Not that I'm complaining about all this fuss, if it unites us, and makes us care about our culture, silahkan tersinggung sepuasnya : ))
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: saya memperhatikan lagi banyak dalam festival tari-tari di negeri tetangga tersebut memakai musik tradisional yang mirip dengan musik dari sunda misalnya http://www.youtub…=2JaHdpmtChU perhatikan 0:41, bagaimana dengan budaya yang kemudian diturunkembangkan di tetangga dan tumbuh dengan jalurnya seperti itu, apakah pantas juga menuntutnya?
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit: http://www.youtub…3wZCi6sQzZY& familiar dengan musik pengiringnya?
    Forlorn Hermit 0 0
    hamatamu: Yah itu kreativitas orang-orang Indonesia yang hijrah kesana, serampang dua belas campur lagu apalagi ndak tau ; ))
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu: Entahlah, lagipula, kenapa baru akhir2 ini mereka mengklaim? kenapa hal ini nyaris ndak terdengar di tahun 80an? heran saya.

    Menurut saya, kalau mereka mau mengklaim2, mereka harus perbaiki dulu UU dan konstitusi mereka, jangan sampai kelak berevolusi, misalnya, sri rama adalah melayu, dalam wayang melayu mereka. Atau budaya tato orang asli(baca: dayak) adalah budaya nasional "bangsa melayu".
    Forlorn Hermit 0 0
    Striding Cloud: Lucunya mereka ndak merasa mengklaim. Yang saya tangkap tersirat dari dialog antara mentri dengan kepala production house seperti itu. Noorman bikin film dokumenter, yang di edit sebagian dan dipakai oleh Discovery Channel.

    Discoverynya minta maaf di artikel yang saya link dari jakarta globe. Pak Noormannya gak merasa bikin iklan. Nanti kalau udah diskusi antar mentri, bisa dikira-kira mentrinya juga akan ngeles. Wong yang bikin film aja ndak merasa bikin iklan, apalagi mengklaim.
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit & Striding Cloud: ada hubungannya dengan jumlah mahasiswa seni & budaya asal negara tetangga yang belajar di negeri kita?
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit: selain enigmatic malaysia juga ada Passage to Malaysia di Discovery travel & living, kalau pertanyaan yang sekarang belum terjawab,mungkin akan terulang lagi lho kekonyolan ini : D
    Forlorn Hermit 0 0
    hamatamu: Misalnya bener ya, yang anda hubung-hubungkan, berarti mereka berusaha mengapresiasi budaya itu, dan nanti mengembangkan di negaranya. Itu lebih penting daripada klaim-klaiman, dan tersinggung-tersinggungan.

    Misal semua orang indonesia pakai Batik, m,ulailah dari jajaran kabinetnya, seluruh Indonesia tahu batik itu budaya khas kita karena terlihat orang-orangnya begitu, masih ada yang berani ribut mengklaim ?

    Bikin iklan yang lebih menarik dari malaysia, suruh semua mentri pakai batik daripada Jas, wong negara panas gitu, apresiasi budayanya yang ditingkatkan dengan bukti nyata, kalau belum bisa semua orang mengapresiasi gamelan, ya bikinlah dokumenter tandingan, iklan yang lebih baik.

    Daripada ribut dan tersinggung ? Tapi ya itu masalah selera, namanya kalo udah tersinggung dan sensi mau bilang apa.
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit & Striding Cloud: misalnya dari portofolio Vanessa Chia; http://www.behanc…aysia/176770
    Forlorn Hermit 0 0
    Forlorn Hermit: Typo, dah ngantuk. Maksudnya kalau seluruh jajaran kabinet mentri pakai Batik, seluruh dunia (bukan seluruh Indonesia) bisa tahu batik itu budaya khas kita. Ndak ada yang akan ribut-ribut mengklaim.

    Striding Cloud 0 0
    Forlorn Hermit: Bung, kalau Anda mengikuti DC dan NGC, anda akan melihat bahwa beberapa tahun terakhir ini banyak sekali acara yang disponsori oleh malaysia, mulai dari acara kemerdekaan mereka, sampai soal-soal perahu.

    Adalah bohong besar kalau mereka tidak tahu atau tidak menyadari soal iklan-iklan tersebut, secara segalanya harus melalui proses approval yang kasi sponsorship.

    Saya melihat ada political mockery disini. Di hadapan dunia, mereka menunjukkan itu budaya mereka, dihadapan kita mereka bilang mereka tidak mengklaim.
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud & Forlorn Hermit: kalau ini gado-gado http://www.youtub…ture=related
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit: baiklah kita bikin sinetron sja sering-sering, siapa tahu beberapa saat kemudian mereka keracunan sinetron juga. gitu? : ))
    Forlorn Hermit 0 0
    Striding Cloud: I see, sepertinya memang begitu.
    Karena mereka memang tidak terang-terangan mengklaim, tapi secara halus membuat dokumenter, rasanya mau tidak mau mesti buat dokumenter tandingan.

    Seiring usaha mengungkap kebohongan mereka, mestinya usaha tandingan kita untuk menunjukkan kehadapan dunia tentang budaya yang kita miliki juga jangan terlupakan.
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud & Forlorn Hermit: ngakak guling-guling, 'Rendang Milik Siapa? Indonesia? Malaysia?' http://www.youtub…=wsF_10V4Z9s
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit: atau bikin acara tandingan dari ini http://www.youtub…=3gkMvpSWxKs : D
    hamatamu 0 0
    Forlorn Hermit: Rihanna "Umbrella" - Angklung/Bamboo Version ditayangkan di Live at Anugerah Era 2007, Astro Ria
    cintha 0 0
    hamatamu: aduh ....baru baca koment ke 3 ....udah ada yg mau nodong ....malu nih ...ntar nggak bisa kasih jawaban ...
    conscientizacao 0 0
    Kalau menurut saya sih, ga terlalu penting itu milik siapa. Pada akhirnya akan terbukti, bahwa yang merasa 'sayang' dengan suatu hasil/artefak budaya, akan lebih serius mengurusinya. Biar kapok nih bangsa kalau membiarkan budayanya terlantar.

    Langsung ke inti permasalahan sajalah. Ini kan persoalan komersialisasi artefak budaya Indonesia, untuk kepentingan Pariwisata Malaysia. Bagi saya sih sesederhana itu. Karena kita tahu bahwa dunia ini sudah menjadi kian datar, Global Village. Kalau mau berpikiran kapitalis sekalian, ya suruh saja tuh Malaysia bayar royalti, asal jangan lupa mencantumkan sumbernya.

    Kalau persoalannya jadi bayar-membayar royalti, wah ini jadi urusan HAKI, versi internasional. APakah kita perlu minta Malaysia bayar denda atas 'keuntungan' yang didapatkannya karena mendompleng ketenaran Pendet, Ponoraogo, dll.?

    Beberapa kali saya bilang, ini sebenarnya CO-BRANDING ILLEGAL, karena yang diajak CO-BRANDING ga pernah dikasi tau... : D
    Akhirnya kita tidak pernah mendapat 'share' keuntungan.
    Forlorn Hermit 0 0
    conscientizacao: Sepakat ama paragraph pertama. Yang paragraph akhir, pilihannya apa ? melegalkan co-branding, minta royalti, atau bikin brand sendiri yang lebih mentereng ?
    LCFR 1 suka | 0
    Humm... memangnya budaya itu milik negara yah? Penasaran aja sih soal ini.
    ndoet 0 0
    conscientizacao: dasar neolib : D
    kinanthi 0 0
    Biarpun di indonesia banyak barongsay (bahkan pernah juara dunia, kalo ga salah), semua orang tahu, itu asalnya dari china.

    Bisa gak si, bikin seperti itu? Semua negara boleh mengembangkan/jualan batik, reog, pendhet, kalo semua orang tahu itu asalnya indonesia, ya ga masalah kan?

    Dan biasanya, di tempat asalnya, itu yg terbagus (kita sendiri yg harus mengusahakannya).

    Forlorn Hermit: gak perlu minta share lah... bikin aja yg lebih bagus
    conscientizacao 0 0
    Forlorn Hermit: Menurut saya sih, kalau memang sepakat ini urusan dagang, maka sebaiknya CO-Branding aja yang legal. Kan bisa saling menguntungkan, tidak ada klaim ini milik siapa.

    Misalnya, "Makan siang di Jakarta, setelah lelah berkeliling Petronas," *Muncullah gambar Petronas di iklan itu. : D *kebayang, khan?*

    Biarkan soal budaya itu milik rakyat. Pendet akan tetap milik orang Bali. Reog akan tetap milik Ponoroga. *kalau milik Malaysia asli yang mana ya?*

    Sekaligus mencoba mengomentari LCFR: Negara emang punya kebudayaan? Kayaknya yang punya kan masyarakatnya. Jepang, mengaku tidak punya budaya asli, lalu mencomot sana-sini dari China. Apa yang kita lihat sekarang, adalah kepinteran orang Jepang dalam mengubah China menjadi 'Jepang'. : ) Toh, China cuma 'bete' sama Jepang gara-gara perang, bukan karena pencatutan budaya... Gitu bukan?

    ndoet: Heuheuheu... Sorry, kalau mau konsisten jualan, ya bginilah jadinya... : )
    conscientizacao 0 0
    Ini ada tulisan menarik, mengani "The Brand Called Indonesia" http://desaingraf…ia%E2%80%9D/
    ndoet 0 0
    conscientizacao: jiah, ga usah sorry2 kali.
    itu kan becandaan aja. : D
    kalangwan 0 0
    Jika kita percaya bahwa kebudayaan yang kuat itu tidak tumbuh dalam semalam, maka sebenarnya kita ga perlu2 amat khawatir dengan klaim2 negara mana pun [termasuk Malaysia]. Dengan pre-asumsi itu, logisnya, tari pendet, reog atau apa pun yang mereka klaim tak akan pernah bisa berkembang karena di sana tak memiliki akarnya.

    Problemnya, di sini bukan soal kebudayaan yang asli atau ada tidaknya akar yang menunjang klaim2 Malaysia itu. Saat ini adalah era komodifikasi di mana diskusi ttg akar-akar kebudayaan bisa jadi tidak lagi relevan karena toh di sini spaghetti dan pizza yang tak berakar kuat dalam lidah orang Jawa pun bisa menyisihkan arem-arem.

    Klaim Malaysia itu bergerak di area industri, tepatnya industri pariwisata. Industri intim dengan kemasan produk, promosi yang gencar, dll. Bahkan walau pun pendet dan reog tak mungkin tumbuh dari akar kebudayaan Malaysia sekali pun, sebagai produk industri pariwisata hal itu bisa dimungkinkan terus berkembang.

    kinanthi 0 0
    kalangwan: saya juga melihat seperti itu. Saya tidak tahu bentuk klaimnya seperti apa, apakah hanya menampilkan gambar tari pendhet di iklannya atau gimana. Dan apakah memang hal itu dapat disebut klaim, mengingat salah satu iklan pariwisata indonesia juga menampilkan barongsay.

    Saya kira, iklan itu sedang berusaha menampilkan tag line pariwisata malaysia 'trully asia', di mana dia mengklaim diri sebagai negara kosmopolitan, yg menampung masyarakat (dan kebudayaannya) dari seluruh pelosok asia. dan mungkin juga mempromosikan malaysia sebagai hub untuk ke negara2 di sekitarnya.
    hamatamu 0 0
    kalangwan: nah mulakno kuwi akeh sing ajar nang kene, terima kasih untuk jawabannya bung : ))
    hamatamu 0 0
    kinanthi: nah perhatikan url yang bertaburan di kolom komentar ini ; )
    kinanthi 0 0
    hamatamu: males buka youtube, internet lemot : D
    Striding Cloud 0 0
    LCFR: Exactly, makanya ketika ada negara yang per UU dan per konstitusi mengklaim suatu budaya sebagai budaya asli suatu "ras" dan agama tertentu(ingeniously malay), harus kita tolak dengan tegas.
    LCFR 0 0
    Striding Cloud: Including our country?
    Striding Cloud 0 0
    LCFR: Apakah negara kita mengklaim budaya tersebut per UU dan per konstitusi sebagai bagian dari budaya suatu ras dan agama tertentu?
    LCFR 0 0
    Striding Cloud: Belum aja sih. Tapi kalau nanti sudah mulai didata dan diklaim sebagai "kebudayaan Indonesia", who knows? Pengalaman membuktikan kita bisa lebih chauvinis dari mereka, kan?
    conscientizacao 0 0
    Kebudayaan nasional digambarkan sebagai “puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia”. Kalau mau dijadikan barang dagangan, silakan, patenkan. Ingat, umurnya cuma 50 tahun. Coca cola saja ngga mau patenkan resepnya. Monggo, kalau ada yang mau tiru, silakan coba... : D
    Striding Cloud 0 0
    LCFR: Dalam posisi terserang, saya kira wajar saja kita bereaksi dengan menggunakan obat mereka.

    Lagipula yang disuruh mendaftarkan itu masing-masing daerahnya, bukan dipukul rata dalam satu kesatuan "budaya asli melayu"
    LCFR 0 0
    Striding Cloud: We'll see. Yang jelas asal jangan dibilang "punya Indonesia" sih, saya oke-oke aja.
    bangkeren 0 0
    Tetangga adalah saudara dekat kita,.kalo kita ada masalah,..pasti tetangga dekat kita yang bantuin kita dulu,..cuman tetangga ada yang memang sok pintar dan sok jago,....lha ini ada tetangga seperti itu,..enaknya diapain yaaa...TTM kali yaaaa....Tetangga Tapi Memalukan...
    hamatamu 0 0
    kinanthi: padahal di url yang bertaburan itu ada gabungan kuda lumping atau kuda kepang, mak yong dan degung sunda : ))
    Aji Prast 1 suka | 0
    conscientizacao: [*kalau milik Malaysia asli yang mana ya?*]

    ..Noordin.
    conscientizacao 0 0
    Aji Prast: wakakakaka... : ))

    Silahkan login untuk memberikan pendapat