Kita, Tetangga & Media 56
Selasa, 25 Agu '09 04:11
Berikut kompilasi video seputar isu 'budaya' antara Indonesia & Malaysia dalam beberapa hari terakhir. Sekaligus jawaban untuk Forlorn Hermit di artikel toRa, 'Inilah kenapa Malaysia Dendam'
Sebenarnya apa budaya asli itu? Dan bagaimana harus memperlakukannya?
Tag: indonesia, budaya, Malaysia, Kronik, tari, pendet
Terkait:
-
Daripada Punah Mending Dikasih ke Malaysia?
Jumat, 4 Sep '09 22:02 -
Departemen Perbatasan Negara
Senin, 31 Agu '09 12:50 -
Kejahatan Malaysia Terhadap Indonesia, Paling Lengkap Di Seluruh Dunia
Kamis, 27 Agu '09 04:04
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Intel independen:
-
Striding Cloud: Menarik
-
boiga: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
yusro: Penting
-
LCFR: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
Bung Ajo: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
bangkeren: Bagus
-
R A P: Bagus
-
Red-White Eagle: Menarik
-
Ning: Biasa
-
Yudiantoro: Menarik
-
Aji Prast: Terkini
-
KerangBulu: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
itu asli buanget khas...sinetron.
Definisi budaya malaysia menurut undang undang mereka:
1. Harus berdasarkan budaya ASLI MELAYU.
2. Elemen yang cocok dari budaya lain boleh diterapkan sebagai budaya nasional
3. Islam adalah komponen penting untuk menggabungkannya.
Sedangkan definisi MELAYU per konstitusi mereka:
"Seluruh MELAYU adalah muslim".
Sedemikian sehingga ketika mereka mengklaim sebuah budaya merupakan budaya mereka, tanpa menyebutkan apakah termasuk dalam kategori 1 atau 2, harus kita cermati lebih dalam.
Kita pantas marah jika memang mereka mengklaim pendet, yang merupakan budaya hindu bali (walaupun kemudian terbantahkan, tetap saja dapat dimaklumi)
Kita pantas marah JIKA SEANDAINYA kemudian mereka mengklaim trowulan adalah warisan budaya mereka, hanya karena menurut mereka parameswara lah pewaris majapahit yang sah.
Begitu pula dengan budaya-budaya kejawen, animis, dll, dll.
Kita bangga dengan sejarah hindu kita(our hindu heritage). Kita mengakuinya, dan kita menyerapnya.
Mereka per konstitusi sudah secara artifisial melabeli heritage tersebut berdasarkan pendapat politik atas kemurnian sebuah "ras".
referensi:
[ http://en.wikiped…sian_culture ]
beliau kan "lolosan" sejarah
Sikap "Ini budaya nasional kami" tersebut justru dengan sendirinya mematahkan argumen keturuntemurunan.
Kebanggan tersebut bukanlah sekedar kebanggaan semu anak kemaren sore bahwa kita berbudaya, namun kebanggaan bahwa kita cukup toleran untuk mengakui bahwa budaya itu bukan milik sejati kita dimasa kini, tapi milik sejati bangsa2 lampau, yang tidak sesederhana itu bisa dipukul rata kedalam label "Ras Melayu" yang secara spesifik dan politis didefinisikan di konstitusi.
Soal kita tidak mampu menjaganya, itu adalah masalah uang dan prioritas penggunaan saja.
Pak Noorman bilang, kami tidak bermaksud mengklaim atau menyinggung, tapi pak Jero menyatakan bangsa Indonesia tersinggung.
Ya wis, intinya tersinggung
Liat ini visit malaysia 2009, sampe polos gitu. Plain, yang nari aja pake baju putih-putih
http://www.youtub…=JjDMzK9eoRA
Sebenernya mereka lumayan sudah mengakomodir. Dan kita ribut sekarang, padahal menurut jeng hamatamu Enigmatic Malaysia ini sudah ada dari taun lalu di Bali International Film Festival
http://krustudios…runews/?p=26
Not that I'm complaining about all this fuss, if it unites us, and makes us care about our culture, silahkan tersinggung sepuasnya
Menurut saya, kalau mereka mau mengklaim2, mereka harus perbaiki dulu UU dan konstitusi mereka, jangan sampai kelak berevolusi, misalnya, sri rama adalah melayu, dalam wayang melayu mereka. Atau budaya tato orang asli(baca: dayak) adalah budaya nasional "bangsa melayu".
Discoverynya minta maaf di artikel yang saya link dari jakarta globe. Pak Noormannya gak merasa bikin iklan. Nanti kalau udah diskusi antar mentri, bisa dikira-kira mentrinya juga akan ngeles. Wong yang bikin film aja ndak merasa bikin iklan, apalagi mengklaim.
Misal semua orang indonesia pakai Batik, m,ulailah dari jajaran kabinetnya, seluruh Indonesia tahu batik itu budaya khas kita karena terlihat orang-orangnya begitu, masih ada yang berani ribut mengklaim ?
Bikin iklan yang lebih menarik dari malaysia, suruh semua mentri pakai batik daripada Jas, wong negara panas gitu, apresiasi budayanya yang ditingkatkan dengan bukti nyata, kalau belum bisa semua orang mengapresiasi gamelan, ya bikinlah dokumenter tandingan, iklan yang lebih baik.
Daripada ribut dan tersinggung ? Tapi ya itu masalah selera, namanya kalo udah tersinggung dan sensi mau bilang apa.
Adalah bohong besar kalau mereka tidak tahu atau tidak menyadari soal iklan-iklan tersebut, secara segalanya harus melalui proses approval yang kasi sponsorship.
Saya melihat ada political mockery disini. Di hadapan dunia, mereka menunjukkan itu budaya mereka, dihadapan kita mereka bilang mereka tidak mengklaim.
Karena mereka memang tidak terang-terangan mengklaim, tapi secara halus membuat dokumenter, rasanya mau tidak mau mesti buat dokumenter tandingan.
Seiring usaha mengungkap kebohongan mereka, mestinya usaha tandingan kita untuk menunjukkan kehadapan dunia tentang budaya yang kita miliki juga jangan terlupakan.
Langsung ke inti permasalahan sajalah. Ini kan persoalan komersialisasi artefak budaya Indonesia, untuk kepentingan Pariwisata Malaysia. Bagi saya sih sesederhana itu. Karena kita tahu bahwa dunia ini sudah menjadi kian datar, Global Village. Kalau mau berpikiran kapitalis sekalian, ya suruh saja tuh Malaysia bayar royalti, asal jangan lupa mencantumkan sumbernya.
Kalau persoalannya jadi bayar-membayar royalti, wah ini jadi urusan HAKI, versi internasional. APakah kita perlu minta Malaysia bayar denda atas 'keuntungan' yang didapatkannya karena mendompleng ketenaran Pendet, Ponoraogo, dll.?
Beberapa kali saya bilang, ini sebenarnya CO-BRANDING ILLEGAL, karena yang diajak CO-BRANDING ga pernah dikasi tau...
Akhirnya kita tidak pernah mendapat 'share' keuntungan.
Bisa gak si, bikin seperti itu? Semua negara boleh mengembangkan/jualan batik, reog, pendhet, kalo semua orang tahu itu asalnya indonesia, ya ga masalah kan?
Dan biasanya, di tempat asalnya, itu yg terbagus (kita sendiri yg harus mengusahakannya).
Forlorn Hermit: gak perlu minta share lah... bikin aja yg lebih bagus
Misalnya, "Makan siang di Jakarta, setelah lelah berkeliling Petronas," *Muncullah gambar Petronas di iklan itu.
Biarkan soal budaya itu milik rakyat. Pendet akan tetap milik orang Bali. Reog akan tetap milik Ponoroga. *kalau milik Malaysia asli yang mana ya?*
Sekaligus mencoba mengomentari LCFR: Negara emang punya kebudayaan? Kayaknya yang punya kan masyarakatnya. Jepang, mengaku tidak punya budaya asli, lalu mencomot sana-sini dari China. Apa yang kita lihat sekarang, adalah kepinteran orang Jepang dalam mengubah China menjadi 'Jepang'.
ndoet: Heuheuheu... Sorry, kalau mau konsisten jualan, ya bginilah jadinya...
itu kan becandaan aja.
Problemnya, di sini bukan soal kebudayaan yang asli atau ada tidaknya akar yang menunjang klaim2 Malaysia itu. Saat ini adalah era komodifikasi di mana diskusi ttg akar-akar kebudayaan bisa jadi tidak lagi relevan karena toh di sini spaghetti dan pizza yang tak berakar kuat dalam lidah orang Jawa pun bisa menyisihkan arem-arem.
Klaim Malaysia itu bergerak di area industri, tepatnya industri pariwisata. Industri intim dengan kemasan produk, promosi yang gencar, dll. Bahkan walau pun pendet dan reog tak mungkin tumbuh dari akar kebudayaan Malaysia sekali pun, sebagai produk industri pariwisata hal itu bisa dimungkinkan terus berkembang.
Saya kira, iklan itu sedang berusaha menampilkan tag line pariwisata malaysia 'trully asia', di mana dia mengklaim diri sebagai negara kosmopolitan, yg menampung masyarakat (dan kebudayaannya) dari seluruh pelosok asia. dan mungkin juga mempromosikan malaysia sebagai hub untuk ke negara2 di sekitarnya.
Lagipula yang disuruh mendaftarkan itu masing-masing daerahnya, bukan dipukul rata dalam satu kesatuan "budaya asli melayu"
..Noordin.
Silahkan login untuk memberikan pendapat