Cari Duit di Indonesia, Menyumbang Sekolah Singapura. Aduh! 10

Selasa, 25 Agu '09 16:14

 

Oleh Cardiyan HIS

 

Perilaku sebagian konglomerat Indonesia memang sering menjengkelkan. Cari duit di Indonesia tetapi kalau membelanjakan uangnya malah di Singapura. Buktinya? Lippo Group dan Mayapada Group secara atraktif menyumbang sekolah Singapura. Ada apa sebenarnya?

 

Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu mah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI, tokh Singapura tetap "belagu bego"  tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung.  Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini eh malah  "dipelihara" terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya duit simpanan hasil rampokan dari Indonesia kok, ya bagi pemerintah Singapura pun sangat "bermanfaat" tokh,  untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi duit rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!

 

Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat.  Meskipun itu namanya perbuatan "mulia" memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada duit. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Eh, konglomerat seperti  Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif  malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini  bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni  Tahir, Chairman of  Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.

 

Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan "cap sumbangan pendidikan" ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi "pulen" dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!

 

Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing.  BJ Habibie.  Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.

 

Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB -----yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) -----  untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.

 

Bahan-bahan antara lain dari:

http://www2.bschool.nus.edu.sg/corpdev/bizleads/BIZ%20Leads%


http://www.thefinancialexpress-bd.com/2007/11/13/17021.html 

 

 

 


Tag: Cardiyan HIS, Stephen Riady, Tahir, Sumbang Sekolah Singapura

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Striding Cloud 0 0
    ironinya, yang menyumbang berarti sebenarnya pemerintah RI...
    Leksa 0 0
    almarhum bapak saya pernah pesan,..
    "kau bayarlah zakat dimana kau hidup.."

    Jadilah saya tidak pernah bayar zakat di daerah asal saya sejak 11 thn lalu...
    Yudiantoro 0 0
    Leksa: terus kau bayar di mana bung? di bandung? ; ))
    conscientizacao 0 0
    Waduh, tahlilan lagi deh... : (
    Leksa 0 0
    kalo dulu di magelang, ya di magelang,
    di bandung ya di bandung,..

    kalo sekarang karena nomaden,
    tergantung dalam setaun itu saya makan beras dan dapat rejeki paling banyak dari daerah mana,..
    cumipeyang 0 0
    di Singapore b*rak duit
    di Indonesia b*rak beneran
    boiga 0 0
    Leksa: memang sepantasnya demikian bukan?
    Leksa 0 0
    hu uh,..

    walo sekarang lebih gampang,..
    bisa lewat Bazis,... mungkin bank syariah juga bisa kali yak (CMIIW) ...

    Ini kan satu kultur lama, budaya lama dikampung2 dulu,... zakat dari kampung sekitar, dibagi2kan untuk kampung itu juga, biasanya semalam atau 2 malam sebelum lebaran...
    saya waktu itu masih kecil, inget banget keliling malam2 puasa buat bagi2 zakat, naik sepeda, gerobak .. : D

    boiga 0 0
    Leksa: ini sepertinya saya lebih suka, membagi2 zakat langsung kepada yang berhak.. apalagi pake bawa2 gerobak segala.. : )
    just_me 0 0
    hidup di singapura, nyumbang di singapura, oke lah tapi giliran kolaps, kok minta tolongnya pemerintah indonesia ??

    Silahkan login untuk memberikan pendapat