Antara Timor Leste dan Malaysia 12

Senin, 31 Agu '09 19:15

 

Selamat ulang tahun Malaysia.

Saya merasa sangat ingin menuliskan ini di penghujung bulan Agustus. Ini bulan yang penting untuk membicarakan perkara identitas kebangsaan kita, Indonesia, dalam menjalin hubungan dengan dua negara tetangga yang juga berhari penting pada Agustus. 30 Agustus perayaan referendum yang melahirkan kemerdekaan Timor Leste yang tahun ini menginjak satu dekade. Hari ini, 31 Agustus Hari Merdeka Malaysia yang tahun ini memasuki angka 52.

Di luar pemaknaan soal bulan ini, yang lebih menggerakkan saya untuk tulisan ini adalah silang pendapat baru saja dengan seorang teman. Pada statusnya di sebuah jaringan maya pertemanan dia menulis: “Ramos-Horta Minta Rakyat Timorleste Maafkan Indonesia (detik.com)..maksud lo, Indonesia melakukan salah gitu sama Timor Timur?... Ramos Horta sendiri bukan orang Timor Timur, seluruh hidupnya dihabiskan di Portugal, tanpa tahu apa sebenarnya yang menjadi keinginan rakyat Timtim...”

Sambil menanggapi statusnya, saya menulis status saya sendiri yang bernada sinikal: “31 agustus hari merdeka malaysia. Selamat ultah yah sayang.... mau kado apa? Pendet? Ulos? Songket? Rica2? Srimpi? Wayang? Serampang XII? Gamelan? Angklung? Nasi uduk? Ambil...ambil”

Saya terganggu dengan kalimat teman itu. Belum lama, ketika ramai-ramai soal Manohara dan Ambalat, seperti kebiasaan umum orang Indonesia, teman itu mericuhkan kegemaran Malaysia crossing the line yang kurang ajar dan tak pernah minta maaf. Baginya kalau Malaysia cari gara-gara di perbatasan, tembak saja dulu kapalnya, baru berdiplomasi.

Bukan saya terlalu sayang pada Malaysia, juga pada Timor Leste. Tapi saya kecewa masih banyak orang tidak pernah bisa selesai dengan perkara Timor Leste. Dan selalu menempatkan standar yang acak adut dalam mengekspresikan identitas kebangsaan. Sehingga dalam soal-soal menyangkut Timor Leste dan Malaysia kerap terlihat standar ganda yang memamerkan kelemahan pola pikir.

Saya mengerti Ramos Horta bukan figur yang disukai di Indonesia. Tapi itu bukan alasan yang tepat untuk melecehkan pernyataannya menurut saya penting dalam konteks rekonsiliasi.

Air Susu Poskolonial

Ada ide yang masih hidup di banyak kepala sampai saat ini, Timor Leste adalah entitas yang tak tahu berterima kasih. “Air susu” semasa 24 tahun integrasi dibayar oleh “air tuba” keputusan merdeka. Mereka yang tak rela ini selalu membawa-bawa sekian banyak kemajuan fisik yang sudah dihadiahkan pemerintah Orde Baru pada Timor Timur sejak tahun 1974. Berapa panjang jalan, berapa banyak gedung sekolah yang terbangun bila dibandingkan sejak Portugis angkat kaki dari bumi Timor Loro Sae.

Dalam bahasa Tetum, tidak ada kata “terima kasih.” Bila sedang di Timor Leste, dan ingin mengekspresikan terima kasih, ucap saja “obrigado” dari bahasa Porto. Tapi perkara linguistik itu bukan soal penting bagi saya karena sebenarnya apa yang telah diinjeksikan Orde Baru ke Timor Timur adalah ongkos yang harus dibayar demi tujuan aneksasi itu.

Saya melihat suatu sindrom identitas poskolonial dalam memandang Timor Leste. Entitas yang pernah ditundukkan tidak akan pernah lebih baik dibandingkan dengan bekas penjajahnya. Edward Said dalam studi poskolonialnya tentang film Tarzan melihat artifak kebudayaan itu sebagai hasrat barat menundukkan belantara ganas. Dan identitas barat itu direpresentasi oleh seorang bayi yang akhirnya menjadi penguasa “rimba” yang bisa mewakili Afrika, dunia gelap, tak berperadaban.

Suatu sikap baik, sikap positif yang datang dari Horta, serta merta dicerca. Karena sindrom poskolonial tidak pernah merelakan bekas jajahan menjadi lebih baik. Di luar penilaian umum tentang Ramos Horta, dalam hal ini dia sangat maju dalam bersikap. Bila dibandingkan dengan pemimpin manapun dari negeri ini yang tak pernah meminta maaf pada Timor Leste.

Minta maaf atas 102.000-180.000 [berdasarkan laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi, CAVR, setebal 2.5000 halaman yang sudah diterima PBB] kematian orang Leste semasa pendudukan Indonesia. Jiwa yang melayang itu tak hanya akibat senjata dan kekerasan tapi juga, kelaparan dan penyakit akibat lemahnya kebijakan pemerintah Indonesia di provinsi bungsunya.

Ketika permintaan maaf tak pernah datang dari Indonesia, tak ada salahnya Horta menyerukan masyarakatnya untuk memaafkan. Perkara maaf-memafkan ini pernah saya tulis berjudul “Melupakan Indonesia”: http://tamankembangpete.blogspot.com/2006/07/melupakan-indonesia_06.html

Jadi sangat menggelikan bagi saya, ketika orang Indonesia bernafsu menuntut permintaan maaf Malaysia yang sebenarnya tak pernah melakukan kejahatan real terhadap hak asasi orang Indonesia. Sementara Indonesia tak pernah meminta maaf karena pembunuhan dan kejahatan yang nyata.

Tapi bila Timor Leste sudah memaafkan, maka kalau bisa mewakili bangsa Indonesia, saya ingin mengucapkan terima kasih. Seperti terima kasih saya juga pada Malaysia yang telah membukakan mata orang Indonesia hingga menyadari negerinya kaya budaya tapi lebih suka membudayakan angkara murka dan keras kepala.


Tag: Nasionalisme, Malaysia, timor leste

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Striding Cloud 0 0
    [__Dalam bahasa Tetum, tidak ada kata “terima kasih.” __]

    Wah bung, saya dengar dalam bahasa batak, tidak ada kata untuk "Saya minta maaf".
    Alfred P Ginting 0 0
    karena orang batak tak pernah salah : ))
    sawung 0 0
    pemimpin timor baik horta atau xanana paham bahwa tindakan indonesia dulu tidak lain akibat dorongan dari pihak "barat". situasi politik global tak bisa dipisahkan.
    cibro 0 0
    salam...
    NOS 0 0
    Saya jadi teringat film doku Kanada: Manufacturing Consent (berdasarkan buku Chomsky). Ketika tentara AS parade di New York merayakan kemenangan pada Perang Teluk I, seorang wartawan mewawancarai org2 yg berdiri di pinggir jalan. Wartawan itu bertanya: Tahukah Anda selain invasi Irak atas Kuwait, ada invasi lain seperti invasi terhadap Indonesia ke Timor Timur?
    hamatamu 0 0
    Alfred P Ginting: btw bung, apakah anda sudah memeriksa 'Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia: berdasarkan EYD dan Ortografia Patronizada' oleh Yohanes Manhitu? silahkan di halaman 241, jadi kali ini orang Batak salah? ; )
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud & Alfred P Ginting:

    agradese v; berterima kasih: hakarak ~ mestre sira ingin berterima kasih pada guru

    agradesimentu n; ucapan terima kasih: Ami hato'o - ba Ita-Boot. Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada anda

    yang dalam bahasa Porto; "orbrigado"
    Alfred P Ginting 0 0
    jadi "terima kasih" bahasa tetumnya apa?
    hamatamu 0 0
    Alfred P Ginting: btw yang bahasa Porto, saya ambil dari ucapan anda sendiri di FN ; ))
    Alfred P Ginting 0 0
    ngapain jauh2 ke FN, di atas saya udah sebut :"...bila sedang di Timor Leste, dan ingin mengekspresikan terima kasih, ucap saja “obrigado” dari bahasa Porto."

    Jadi anda yg sudah membuka kamus itu, "terima kasih" dalam bahasa tetum apa??
    hamatamu 0 0
    Alfred P Ginting: http://politikana…omment-82920 , beda struktur sama bahasa Porto kan?
    Alfred P Ginting 0 0
    apakah "berterima kasih" sama dengan "terima kasih" atau "say thanks" sama dengan "thanks"???

    yg saya bicarakan adalah "terima kasih" bukan kata lain

    Silahkan login untuk memberikan pendapat