Bank Century, Kartu Sakti Gembosi SBY-Boediono? 20
Selasa, 1 Sep '09 13:56
Tanpa diduga sebelumnya, upaya pemerintah menyelamatkan Bank Century dari kehancuran akibat perambokan sistematis yang dilakukan pemiliknya berkembang cepat dan langsung masuk ke pusat medan politik nan panas.
Sejatinya, pengucuran dana (yang menurut Menkeu Sri Mulyani sebatas menaikkan CAR atau rasio kecukupan modal) sebesar Rp. 6,7 triliun hanya akan berbuntut pada pengusutan hukum di BPK, KPK atau kepolisian jika terindikasi ada oknum yang merekayasa pengucuran dana segar tersebut. Artinya, dengan asumsi ada orang-orang di pemerintahan dan di manajemen Bank Century yang menikmati keuntungan secara haram dari pengucuran dana, maka kasus ini, seperti biasa, akan kembali menambah daftar panjang koruptor dan penjahat berkerah putih Indonesia.
Tapi ternyata yang merebak belakangan adalah konflik horizontal antara Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menkeu Sri Mulyani dan Mantan Gubernur BI Boediono yang terpilih sebagai Wakil Presiden RI periode 2009-2014.
Jusuf Kalla yang merasa dirinya hendak dibenamkan dalam kasus ini langsung bereaksi. Dia segera mengoreksi tanggal audiensi antara dirinya dengan Sri Mulyani dan Boediono. Sebelumnya Sri Mulyani mengaku melaporkan kasus Bank Century ke Wapres Jusuf Kalla tanggal 22 November atau sehari sebelum LPS mengeluarkan dana pertama sebesar RP. 2,7 triliun lebih. Tapi menurut JK, Menkeu baru menghadap kepadanya (berhubung Presiden SBY masih berada di AS) tanggal 25 November 2009.
"Jadi, seolah-olah saya tahu pengucuran dana itu. Padahal, saya tidak tahu sama sekali," papar Wapres dalam sebuah jumpa pers yang dilengkapi dengan kronologi lengkap kasus Bank Century (KOMPAS, 1/9).
Selain itu, JK juga memaparkan bahwa Boediono tidak berani melaporkan pendiri Bank Century Robert Tantular yang jelas-jelas menipu banknya sendiri senilai Rp. 1,4 triliun ke pihak kepolisian. Karena Bank Indonesia tidak berani berbuat apa-apa dengan alasan tidak ada landasan hukum, akhirnya Jusuf Kalla berinisiatif menginstruksikan kapolri menangkap Robert Tantular.
Langkah JK ini bisa ditanggapi dengan pikiran positif dan negatif. Bagi yang berpikiran positif, apa yang dilakukan oleh JK adalah langkah yang tepat dalam rangka mendudukkan setiap perkara pada porsi yang sebenar-benarnya. Termasuk soal aspek kriminal dan langkah pemerintah yang dinilai tidak tegas dalam menangani kejahatan berkerah putih yang selalu berulang dari zaman Edi Tansil hingga era Robert Tanular dengan nilai kerugian yang fantastik hingga triliunan rupiah.
Tapi langkah JK ini juga bisa dianggap sebagai upaya penggembosan terhadap pemerintah terpilih. JK dinilai sedang berusaha mencitrakan sosok seorang Boediono sebagai pemimpin yang tidak tegas. Bila ini berkembang terus tanpa kendali politis dari partai penguasa dan pemenang pemilu, tidak mustahil citra pemerintahan SBY-Boediono langsung merosot bahkan sebelum mereka berdua dilantik Oktober nanti.
Tapi apapun penilaian orang terhadap pernyataan-pernyataan keras JK seputar kasus Bank Century, saya sepakat 1000% dengan ucapkan JK berikut:
"Pendapat saya sejak awal solusi terhadap bank-bank bermasalah tidak dengan bail out karena sesuai pengalaman tahun 1998 sehingga merugikan negara sampai Rp 600 triliun dalam bentuk bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Hingga kini bahkan sampai 20 tahun mendatang rakyat harus membayar dengan bunga dan pokok sebesar Rp 60 triliun melalui APBN. Padahal, seharusnya kasus itu menjadi tanggung jawab pengawas bank yang ketat dari Bank Indonesia," ujarnya.
Pertanyaannya, akankah Robert Tanular menjadi penjahat terakhir yang berhasil menggerus uang negara dan masyarakat triliunan rupiah lewat jalur perbankan? Atau besok kita kembali membaca kasus perampokan serupa?
Tag: Boediono, SBY, jk, Bank Century
Terkait:
-
Demokrasi Belum Membawa Kesejahteraan Rakyat
Jumat, 12 Feb '10 18:38 -
Menguak Sinyal-Sinyal Tersembunyi dari Pidato Boediono
Selasa, 9 Mar '10 12:25 -
KPK Harus Tangkap Koruptor Bank Century
Senin, 8 Mar '10 21:55
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Bagus
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
NOS: Menarik
-
kinanthi: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
l. wiji widodo: Menarik
-
BD cafe: Keren
-
Sandy CK: Penting
-
conscientizacao: Menarik
-
Red-White Eagle: Penting
-
manuk: Menarik
-
putusemar:
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
yusro: Menarik
-
Samz: Menarik
-
Reinhart Velatrache: Bagus
-
R A P: Menarik
-
bobkarno77: Menarik
-
boiga: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
Manohira: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
*lho?!@#??..uang ku Rp 6,7 triliun mana???...ah berprasangka baik aja..pasti ada yg lebih membutuhkan! kata ustad ganteng di tv...kalau harta kita hilang harus ikhlas...dan akan di ganti 10 x lipat...berarti bangsa ku ntar akan dapaet rejeki Rp 67 triliun!!
*lho?!@#??..uang ku Rp 6,7 triliun mana???...ah berprasangka baik aja..pasti ada yg lebih membutuhkan! kata ustad ganteng di tv...kalau harta kita hilang harus ikhlas...dan akan di ganti 10 x lipat...berarti bangsa ku ntar akan dapaet rejeki Rp 67 triliun!!
Setekah Darmin menjadi DGS BI mulai lebih terbuka sehingga BPK, KPK lebih mudah melakukan audit.
Kasus Century mengingatkan kembali pendapat Faisal Basri bahwa Gubernur BI mendatang masih harus orang luar yg kompeten dan punya integritas.
Kalau memang pemerintah mendapatkan keuntungan dari penyelamatan Bank Century, apalagi pembengkakan dananya juga sangat fantastis, jadi siapapun harus diadili karena kasus ini, tidak boleh tebang pilih lagi, sudah saatnya "Supremasi Hukum" ditegakkan di Republik ini.
pelarian lain dari dana kampanye Bravo Media Center...
(nglirik ...conscientizacao: ) .....
bang jet : kesini bang ...di "K" sepi ya ....
jadi nanti dana BLBI yg 600T akan balik jadi 6000T, amiin... anak cucu kita bakalan mewarisi negara yg kaya raya....
silakan tengok tulisan saya di kompasiana ini lebih rame plus seru kan obrolan komentatornya? tapi yang pasti nuansa obrolan di kompasiana dan politikana. dan itulah nikmatnya ngeblog di mana-mana....
Silahkan login untuk memberikan pendapat