Berapa Buku Lagi yang Hendak Kalian Bakar? 60
Kamis, 3 Sep '09 21:34
Front Anti Komunis [FAK] kemarin membakar buku "Revolusi Agustus" karya Soemarsono. Aksi pembakaran buku itu dilakukan di Surabaya, tepatnya di gedung Graha Pena yang menjadi kantor Jawa Pos.
FAK sendiri terdiri atas beberapa ormas, di antaranya Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.
Soemarsono dianggap sebagai petinggi PKI yang terlibat pada peristiwa Madiun Affair. Pembakaran buku itu dipicu oleh serangkaian tulisan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, tentang peran Soemarsono dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Mereka menganggap, tulisan itu sebagai upaya memutihkan nama Soemarsono.
Berikut berita tentang peristiwa ini:
Front Anti Komunis yang meluruk kantor harian Jawa Pos di Gedung Graha Pena membakar koran Jawa Pos yang memuat pemberitaan soal Sumarsono. Pendemo juga membakar buku yang berjudul Sumarsono Revolusi Agustus Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah.
"Ini sebagai bentuk kekecewaan kami terhadap Dahlan Iskan dan Jawa Pos atas pemikirannya sejalan dengan Sumarsono eks Gubernur PKI 1948," kata Jubir Aksi Harukat kepada wartawan di sela-sela aksi di halaman Gedung Graha Pena, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (2/9/2009).Aksi ini diikuti berbagai ormas Islam diantaranya Front Pembela Islam Jawa Timur, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya serta ormas Islam lainnya.
Massa pengunjuk rasa membawa beberapa poster yang bertuliskan, 'Dahlan Iskan Segera Beri Keterangan atas Tindakanmu Memfasilitasi Sumarsono (eks Gubernur PKI 1948)', 'Ini Indonesiaku Minggatlah Hai Sumarsono', 'Wujudkan Indonesia Damai Tanpa Ideologi Komunis'.
Aksi ini mendapatkan penjagaan dari Polres Surabaya Selatan dan Polwiltabes Surabaya.
Naskah asli bisa dibaca DI SINI
Entah sampai kapan kita masih akan mendengar peristiwa vandalisme pembakaran buku. Dan, entah akan berapa biji buku lagi yang akan dibakar dan terbakar karena kebencian dan ketakutan!
Tag: PKI, pembakaran buku, Soemarsono, Jawa Pos
Terkait:
-
Prof, Sampeyan Setuju Pembakaran Buku?
Jumat, 4 Sep '09 20:50 -
Kwee Hin Houw, Generasi Terakhir Sin Po (1)
Selasa, 9 Feb '10 00:35 -
Pernyataan Sikap
Selasa, 12 Jan '10 23:57
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
perempuan api: Bagus
-
Yudiantoro: Penting
-
iloenx: Penting
-
nagawulan: Menarik
-
Manohira: Penting
-
R A P: Penting
-
hamatamu: Penting
-
maryulismax: Menarik
-
MR: Penting
-
Samz: Penting
-
Aji Prast: Terkini
-
ndableg: Bagus
-
conscientizacao: Penting
-
cibro: Bagus
-
Mihael Ellinsworth: Penting
-
GaraMata: Penting
-
boiga: Penting
-
Laksamana: Inspiratif
-
NOS: Penting
-
Lemon S. Sile: Menarik
-
Agus PW: Penting
-
yusro: Penting
-
kinanthi: Penting
-
Red-White Eagle: Penting
-
Sri Kirana: Penting
-
indira: Penting
-
Reinhart Velatrache: Penting
-
Xaliber von Reginhild: Penting
-
manuk: Penting
-
Ardani P: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
ah, ngomongin fpi bikin esmosi aja
yang bikn kaget, MUI ikut-ikut pula. Duh....
soalnya aksinya di bulan puasa...
apakah kalau sekali berbuat salah,
akan selalu dianggap salah...........
apakah kalau sekali berbuat keliru,
sirna pula perbuatan benar di masa lalu...
"wah berima juga bisa"
kalau bukan di bulan puasa piye?
Dahlan Iskan mencatat peran Soemarsono pada bulan-bulan pertama kemerdekaan di Surabaya, termasuk dalam perannya di perang 10 november. Dahlan menggambarkan betapa Soemarsono pny peran yang tidak kalah ketimbang Bung Tomo apalagi Roeslan Abdoelgani.
Begitulah memang kebenaran sejarah: ia kadang kala pahir. Para pengagum Soekarno akan susah mengakui kalau Karno yang nasionalis besar itu pernah berlaku otoriter, seperti halnya orang2 anti PKI pasti akan susah mengakui bahwa PKI pula yg pernah mbangun mesjid di beberapa tempat di sumatera. Taufik Ismail akan kepayahan kalau harus mengakui bahwa Lekra yang dikecamnya adalah organ yang kelak sama seperti dirinya: sama-sama mengecam sastra picisan nan mesum, sama-sama anti majalah playboy, dll.
Banyak dari kita yang ketika berhadapan dengan sejarah lebih suka menonjolkan apa yang mereka sukai dan "menggelapkan" apa yang tak mereka sukai.
Begitulah
kapan ya mereka ga salah kaprah?
Seperti "tahafut al-falasifa" dibalas dengan "tahafut at-tahafut".
[kapan ya mereka ga salah kaprah?]
Barangkali ketika mereka bisa menjadi rendah hati seperti Ivan Turgenev yang melihat Kebenaran ibarat seekor cicak, yang berhasil kita tangkap selalu hanya ekornya yg bergerak-gerak hidup seolah kita berhasil menangkapnya, sementara sang cicak telah melesat entah ke mana.
...H. Imam Hambali perwakilan FPIS (Front Pembela Islam Surabaya) menyatakan gembira atas respon positif yang diberikan redaksi Jawa Pos. "Saatnya masyarakat tahu kebenaran tentang apa yang dilakukan oleh PKI," tegasnya ...
akan selalu dianggap salah..........."
*Mirip syair Ebiet G. Ade.
Kita kayaknya memang sangat memerlukan manajemen konflik. Sulit sekali me-rekonsiliasi. Kalau memang salah, ya nyatakan salah di hadapan hukum. Setelah itu, maafkanlah. Sesulit itukah memafkan?
Leksa: kan ada sabili
hamatamu: jika gembira, kenapa kalian [Imam Hambali dari FPIS] bakar buku?
memaafkan itu, kadang tidak mudah. itu sebabnya berlaku ikhlas juga sukar.
ini fakta, mau dikemanakan lagi.
FPI bersikap o'on, bukan barang baru. MUI? yaa mungkin pas kehabisan ide mau bikin fatwa lucu apa lagi
satu-satunya perlawanan terhadap Belanda yang tidak diakui sebagai gerakan perjuangan itu ya cuma perlawanan bersenjata PKI pada 1926/1927
apes benar dah PKI
Dan seandainya saja Partai Komunis Indonesia itu diperkenankan lagi menjadi sebuah partai dan memenangkan pemilu negeri ini... Niscaya Indonesia tidak akan seperti ini!
merdeka memang tidak mudah. kadang merdeka itu menggetarkan, tapi juga menggentarkan. tak banyak yang siap utk memanggul nasibnya sendirian tanpa cantelan. itu sebabnya, ada saja yang tergoda utk mencoba lari dari kebebasan.
Adalah lebih baik menjadi PKI tulen ketimbang memurkainya namun 'berlindung dibalik sesuatu' dgn menunjukkan aksi-aksi melebih tingkah PKI...
Tapi siapakah "pki tulen" itu?
Jika Saya memiliki faham dan ideologi marxist, tidak serta merta saya menjadi seorang pendukung bolshevik.
Membela anggota PKI terbantai yang dulu merupakan partai sah, atau memuja-muji pemikir-pemikirnya yang jelas-jelas Manusia Pemikir Indonesia yang terbaik pada zamannya, tidak serta merta berarti kita bisa menyangkal bahwa kelompok tersebut juga melakukan kekerasan.
Maka saya katakan, jika sekarang PKI berkuasa, maka saya mungkin akan menjadi salah satu orang yang duluan digantung.
Demikian pula jika FPI yang berkuasa.
iya bro, komunis memang punya salah, tapi mereka punya benar juga.
karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia
kata demi kata mengantarkan fantasi
habis sudah, habis sudah
bait demi bait pemicu anestesi
hangus sudah, hangus sudah
karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda
karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka
http://www.youtub…=8YiLnAV8St8
kisah yg seru, dn dahlan benar, bnyk sisi yg selama ini gelap dari perempuran di sby justru menjadi sedikit lbh terang dg kesaksian (saksi hidup) Soemarsono....
Oh iya kita tak harus menerima kesaksian soemarsono sebagai satu2nya kebenaran (dan soemarsono, juga dahlan, pun tdk berpretensi seperti itu), tetapi paling tdk kita bisa memiliki lebih banyaksudut pandang dala melihat heroisme rakyat Surabaya kala itu....
Terharu membaca pengakuan dahlan, bahwa ratusan anggota keluarganya jadi korban PKI dalam peristiwa madiun, sedang dia sama sekali tidak menyembunyikan kekagumannya pada Sormarsono sang tokoh PKI yg justru memotori pecahnya peristiwa madiun....
mengapa tokoh2 fpi, bahkan mui jatim, itu tak punya cukup kearifan memilah2 seperti yang dilakukan dahlan?
wallahu a'lam.
Lembaga yang hanya memakai kacamata kuda.
MFH: mestinya, sesekali mereka itu pake kacamata renang
*eh, serasa De Javu*
Masih terbawa pola pikir orde baru padahal...ah, sudahlah
Btw itu mereka menuntut Indonesia bebas komunisme, kalau saya menuntut Indonesia bebas syariat Islam saya bisa digebukin kali ya? Indonesia ya harusnya pancasila. *melipir*
menuntut indonesia bebas syariat islam? hehehe... seharusnya itu tetap dimungkinkan
Apalagi karya mas Dahlan. Beliau sangat paham betul akan Islam, bahkan lebih Islami cara berpikir beliau daripada FPI dsb.
benar nih ...bagaimana dengan kelompok ini ...kalau syariat Islam bener2 diberlakukan ...apa tidak tambah semena-mena ...tambah ....
salam kenal bung
=====
IMHO......
Lalu, bagaimana dg pengemis? juga warung tenda yg buka siang di bln puasa? PSK? cafe dan diskotik? ahmadiyah? bahkan sekadar golput saat pemilu lalu?
Iya, kalau diterapkan itu syariat islam mereka bisa makin semena-mena. Makanya saya menolak, saya mau ganti kewarganegeraan kalau itu terjadi -w-
===
yach begitulah.
btw, anda bukan reinkarnasi cinta dan shieny kan?
"salam kenal"
Silahkan login untuk memberikan pendapat