ITB, UI, UGM dan IPB Melawan PT Thailand dan Malaysia. 1

Jumat, 4 Sep '09 08:09

 

Oleh Cardiyan HIS

 

Strategi persaingan antar perguruan tinggi (selanjutnya disingkat PT) di dunia internasional menarik untuk dikaji. Khususnya pada salah satu indikator utama kualitas PT yakni publikasi paper para dosen penelitinya yang dimuat di jurnal internasional. Berbagai upaya "public relations" yang menarik terus diupayakan oleh PT-PT di Asean khususnya PT-PT Thailand dan Malaysia, begitu  sistematisnya. Khusus untuk PT-PT Singapura  tidak dibahas disini karena dari segi dana riset yang diberikan oleh Pemerintah ke National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) misalnya, sudah setara dengan dana riset universitas papan atas di dunia seperti MIT, Harvard University (di atas US$ 470 juta per tahun 2007). Selain itu, NUS yang memiliki 52.502 jumlah judul publikasi dan NTU (27.581) perolehannya diuntungkan oleh afiliasi jumlah publikasi dosen-dosen terbaik yang direkrut NUS dan NTU dari berbagai belahan dunia, sehingga otomatis mengkatrol Citations Index mereka.   

Di sinilah PT-PT Indonesia harus mengaku kalah dalam strategi pencitraan yang dilakukan secara sistematis oleh PT-PT Thailand dan Malaysia terlebih-terlebih oleh NUS dan NTU. PT-PT Indonesia yang diwakili ITB, UI, UGM dan IPB hanya masih menang dibanding PT-PT di Filipina seperti University of the Philipines at Los Banos yang memiliki jumlah judul publikasi sebanyak 993,  University of the Philipines at  Manila (912), UPCM (71), WHO WP (66), kecuali University of the Philipines at Daliman yang memiliki jumlah 1.641 judul publikasi).      Atau dengan PT-PT di  Vietnam seperti Vietnam National University (562), VAEC (112), UNSV (100), CTDV (76) dan NINV (73).

Politik pencitraan bagi PT-PT Thailand dan Malaysia sangat disadari oleh mereka akan membuat PT-PT mereka bisa survive  bahkan diharapkan menjadi kiblat PT, minimal di kawasan regional ASEAN. Dan ini berarti akan menjadi kiblat pula dengan berdatangannya mahasiswa asing untuk menuntut ilmu. Juga kalangan industri akan melirik hasil riset PT mereka.  Jadi ujung-ujungnya berarti bisnis  besar di bidang pendidikan tinggi, seperti yang telah berhasil diperankan dengan baik oleh PT-PT di Australia dan Singapura.

ITB (yang memiliki 1.200 jumlah publikasi versi Scopus) sebagai representasi terbaik Indonesia dalam hal jumlah dan juga kualitas publikasi di jurnal internasional dibanding UI (1.186),  UGM (742), LIPI (527) dan IPB (512).  Namun demikian ternyata ITB masih kalah jauh dalam jumlah judul publikasi dibanding  PT-PT papan atas di Thailand dan Malaysia. PT-PT di Thailand dan Malaysia memang terkatrol banyak terutama dengan memasukkan banyak paper pada jurnal lokal nasional mereka Indexed oleh Scopus dan ISI Knowledge. Begitu pula  PT-PT Thailand dan Malaysia terkatrol banyak dari jumlah paper pada proceedings Indexed oleh Scopus dan ISI Knowledge dari hasil  seminar dan konferensi ilmiah internasional yang diselenggarakan di negeri mereka. PT-PT Thailand  seperti Mahidol University memiliki jumlah judul publikasi sebanyak 13.556, Chulalongkorn University (9.956), CMU (4854), AIT (3.253), PSU (3.239).   Dan PT-PT papan atas Malaysia seperti University of Malaya (9.447), Universiti Sains Malaysia (6.361), Universiti Putera Malaysia (5.540), Universiti Kebangsaan Malaysia (4.454) dan Universiti Teknologi Malaysia (2.306).

Tanya kenapa? Dosen-dosen peneliti ITB memang unggul dalam hal substansi, kandungan dan orisinalitas paper sehingga banyak dimuat di jurnal-jurnal papan atas (first tier) di dunia dibanding paper-paper PT-PT asal Thailand dan Malaysia yang mayoritas hanya dimuat di jurnal-jurnal internasional second tier.   Ini menyebabkan dampak yang sangat signifikan terhadap jumlah paper dirujuk (Times Cited) milik dosen-dosen peneliti ITB yang dirujuk oleh banyak dosen peneliti kelas dunia pula,   dibanding Times Cited seluruh dosen peneliti PT-PT di Thailand dan Malaysia bahkan dibanding PT-PT Singapura untuk disiplin ilmu tertentu seperti Natural Sciences.

Paper Prof.DR.Ir. Sri Widiyantoro (ITB) berjudul "The Evidence for deep mantle circulation from Global tomography" yang dimuat di jurnal sangat bergengsi di dunia "Nature" volume 386, Tahun 1997, misalnya telah dirujuk 576 kali!!! Sri Widiyantoro telah menulis 19 paper yang dimuat di jurnal-jurnal papan atas, selain Nature juga antara lain dimuat di jurnal sangat kredibel di dunia yakni "Science", "Review of Geophysics", "Journal of Geophysical Research-Solid Earth", "Earth and Planetary Science Letters". Total Times Cited (jumlah paper dirujuk) Sri Widiyantoro versi Scopus adalah 1.472 sedangkan versi ISI Web of Knowledge adalah 1.240, merupakan yang tertinggi di ASEAN. ITB juga masih memiliki dosen-dosen peneliti papan atas pada bidangnya yang berkelas dunia yang jumlah Times Cited-nya ratusan seperti Benjamin Soenarko, Halim M, Noer AS, Soemarsono, Hidayat R, Wilson W. Wenas, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Firman T, Gusnidar T, Pancoro A, Onggo D, Linaya C, Arif I, Herman, Suwono  A, Hidayat T, Akhmaloka, Priadi B, Cahyati, Wenten IG, Hadi S,  Adisasmito S, Wurjanto A, Herdianita NR, Rusdi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum DS, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Dahono P, Arismunandar dan banyak lagi.

Untuk melihat fenomena ITB yang kalah di jumlah paper dibanding PT-PT Thailand dan Malaysia, tetapi ITB menang di jumlah paper dirujuk atau Times Cited. Maka ada bagusnya membaca H-Index seperti yang diusulkan oleh Jorge E. Hirsch. Hirsch menegaskan bahwa total jumlah paper tidak memperhitungkan kualitas publikasi ilmiah. Sedangkan jumlah citations (Times Cited) paper akan menunjukkan indikasi atas kualitas paper tersebut karena dimuat di publikasi ilmiah yang sangat kredibel dan kemudian menjadi rujukan banyak para peneliti di dunia. Juga bisa dibaca untuk tema serupa pada teori-teori John P. Perdew, yang telah sangat berhasil dalam devising baru perkiraan yang banyak digunakan dalam Teori Kerapatan Fungsional. Dia telah menerbitkan karya-karyanya dimana 3 karya dikutip  lebih dari 5.000 kali dan 2 dikutip lebih dari 4.000 kali. Beberapa ribu makalah memanfaatkan Teori Kerapatan Fungsional yang diterbitkan setiap tahun, kebanyakan dari mereka mengambil sekurang-kurangnya satu paper karya JP Perdew.  Dapat dibaca H-index Me pada www. scienceblogs.com/pontiff September 15, 2005 on 9:37 pm I In Science I.

Namun terus terang, penulis ingin mengkritik  ITB terlalu "polos", terlalu "PD" (percaya diri) dengan keunggulan substansi, kandungan dan orisinalitas karya penelitian yang ditulis dosen-dosennya dalam paper-paper di jurnal internasional papan atas di dunia. Tetapi ITB kalah telak dalam aspek strategi pencitraan dan strategi perekayasaan secara sistematis dibanding  PT-PT di Thailand dan Malaysia.  PT-PT Thailand dan Malaysia sangat pintar dan gesit dalam memobilisasi gerakan pencitraan jurnal-jurnal nasional milik mereka agar yang terpenting  semua paper yang dimuatnya masuk terlebih dulu pada Index ISI Knowledge dan Scopus, disamping Google Sholar (lembaga independen  yang mengumpulkan berbagai karya dari jurnal ilmiah ternama dan terpilih di dunia).  Dosen-dosen senior mereka membimbing langsung dosen-dosen yunior dan mahasiswa program pasca sarjana agar berusaha menulis paper dengan target yang penting agar dimuat terlebih dulu di jurnal lokal agar paper tersebut berhasil Indexed oleh ISI Knowledge dan Scopus. PT-PT mereka merangsang bonus tinggi kepada dosen-dosen peneliti yang papernya berhasil dimuat di jurnal internasional meskipun di jurnal internasional kelas dua, sehingga tak apa-apa untuk tahap-tahap awal paper-paper mereka akan kurang dalam hal Times Cited.  Mereka juga memperbanyak event kegiatan seminar dan konferensi ilmiah internasional sehingga hasilnya dibukukan dalam bentuk proceedings yang kemudian Indexed di Scopus dan ISI Knowledge.

PT-PT di Indonesia boleh saja belajar dengan strategi yang dilakukan oleh PT-PT Thailand dan Malaysia yakni dengan mewajibkan mahasiswa Pasca Sarjana S-2 dan terlebih-lebih S-3 untuk menulis thesis dalam bahasa Inggris yang novelty yang kemudian dijadikan paper untuk dikirim dan diseleksi untuk pemuatan di jurnal nasional dan kemudian di jurnal internasional. Program ini kalau konsisten dilakukan akan membuat produktifitas paper yang dihasilkan PT-PT di Indonesia akan melonjak tajam. Tetapi tetap politik pencitraan ini tidak melupakan akar pokoknya yakni paper yang substansial, kaya kandungannya dan orisinal. Selamat meneliti dan menuliskannya ke dalam jurnal-jurnal kredibel di dunia.


Tag: UI, ITB, UGM, IPB, Cardiyan HIS, Perguruan Tinggi Thailand dan Malaysia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    manuk 0 0
    Bung Cardiyan, yang menjadi masalah adalah dengan dosen sebagai "ujung tombak", sebagian besar waktunya habis bukan untuk riset, tapi untuk berbagai proyek, kegiatan, dan birokrasi kampus, yang tidak berhubungan langsung dengan penelitian dan penulisan artikel ilmiah.

    Selain itu, dengan mewajibkan mahasiswa Pasca Sarjana untuk menulis: yang manjadi poin utama adalah dosen juga harus menyediakan waktu yang cukup untuk membimbing mereka dalam penulisan artikel.

    Yang terjadi selama ini tidak demikian. Mungkin hal ini yang harus menjadi perhatian utama jika kita ingin PT di Indonesia benar2 ingin mengejar kuantitas dan kualitas artikel ilmiah di jurnal-jurnal internasional.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat