Prof, Sampeyan Setuju Pembakaran Buku? 56
Jumat, 4 Sep '09 20:50
Sungguh saya tidak habis pikir seorang guru besar sejarah seperti Sampeyan bisa-bisanya ngomong begini: "Sejarah memang versinya yang menang. Lha, gimana, kalah kok njaluk sejarah!"
Prof. Aminuddin Kasdi, sampeyan pasti tahu itu parafrase yang sudah nyaris menjadi klise, sekaligus sindiran yang tajam pada narasi sejarah yang dianggap selalu memberi porsi besar pada para "pemenang" dan mengabaikan para "pecundang", tak peduli ia punya peranan besar atau kecil sekali pun.
Mestinya, mahasiswa sejarah, para pengajar sejarah, apalagi para guru besar sejarah macam Sampeyan, merasa malu dan tersindir dengan parafrase itu. Sebab, jika parafrase itu diterima dan dilanggengkan, itu sama saja mengatakan: "Lha ke mana para sejarawan? Apa ngumpet di ketiak penguasa semua?
Jika memang sejarah hanya untuk para pemenang, ngapain lagi belajar sejarah, mempelajari filsafat sejarah, metode dan metodologi sejarah? Jika sejarah hanya memberi tempat pada para pemenang yang berhasil memenangkan satu "kompetisi" panjang merebut kekuasaan, ngapain lagi masih ada Departemen Sejarah di perguruan tinggi? Ngapain pula Sampeyan ngajar sejarah di kampus? Ngapain pula Sampeyan masih jadi guru besar sejarah?
Jika demikian, tak usahlah melakukan penelitian tentang DI/TII, PRRI/PERMESTA, atau RMS. Tak usah pula susah-susah menulis tentang Kartosuwirjo, Aidit, Njoto, Soumakil, Sjafruddin Prawiranegara, Soetan Sjahrir, atau Tan Malaka. Tak usah pula Anda menulis buku tentang BTI yang mengkampanyekan land reform?
Jika benar bahwa para pecundang dalam sejarah tak usah diberi tempat dalam historiografi, maka saya sarankan Sampeyan juga membakar semua buku-buku tentang PKI, semua-mua buku tentang DI/TII, segala-gala buku tentang PRRI/Permesta.
Eits, tapi nanti dulu. Tapi kenapa Sampeyan hanya mengamini dan membiarkan pembakaran buku Revolusi Agustus karya Soemarsono? Apa karena Soemarsono seorang komunis?
Oooo, jika begitu, saya paham apa yang Sampeyan maksudkan. Sampeyan maksudnya ingin omong: Para pecundang memang tak berhak meminta sejarah, tapi tak semua harus dibakar, cukup buku-buku PKI saja yang dibakar, bukan? Karena mereka komunis, bukan?
Prof., sejarah di negeri ini memang penuh dengan bau yang tak sedap. Tidak mudah, memang, mengakui hal itu. Apalagi jika kebenaran sejarah itu ternyata tidak sesuai seperti yang Sampeyan bayangkan, tidak senada dengan yang Sampeyan harapkan.
Seorang fans berat Soekarno pasti akan merasa tak enak hati jika teringat Soekarno yang inspiratif itu pun pernah berlaku lancung memenjarakan lawan-lawan politiknya [Sjahrir, Natsir, Kasman Singodimedjo sampai Mochtar Loebis] tanpa pengadilan dan membubarkan partai-partai yang berlawanan pandangan politik dirinya [PSI dan Masjumi].
Seorang pengagum Pramoedya, sastrawan yang karya-karyanya penuh dengan pembelaan terhadap kemanusiaan, pasti akan sedikit perih jika ingat bahwa Pram pernah berkata: "Kenapa buku-buku semacam ini [novel Dokter Zhivago karya Boris Pasternak] masih juga bisa ditemukan di pinggir jalan?"
Seorang anak muda dari lingkungan NU yang tercerahkan pasti akan perih hatinya menyadari banyak santri dan kyai yang mengamini dan bahkan melakukan pembunuhan massal pada orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI.
Seorang terpelajar Indonesia akan sedih mengetahui bahwa tentara dari negeri yang sangat ia cintai pernah berlaku lancung dan ganas di Aceh, Timor Timur dan Papua.
Seorang yang anti-PKI pasti akan susah untuk mengakui bahwa partai inilah yang pertama kali menggunakan nama Indonesia sebagai nama partainya. Seorang yang anti-PKI pasti akan kesulitan mengakui bahwa di saat partai dan organ-organ pergerakan lain memilih jalan moderat, justru PKI lah partai dan organ pergerakan pertama yang terang-terangan berani angkat senjata pada pemerintah kolonial Hindia-Belanda.
Jika Sampeyan seorang politisi atawa seorang ideolog, saya bisa mafhum jika Sampeyan hanya akan mengungkapkan apa yang dirasa penting dan sesuai dengan visi politik dan ideologi yang dianut. Tapi Sampeyan seorang akademisi, guru besar pula.
Baiklah, saya akan berterus terang sedikit. Sudah cukup lama saya dengar Sampeyan memang anti dengan segala yang berbau komunisme. Sampeyan orang yang selalu getol mewanti-wanti bahaya komunisme dan peluang kemungkinan bangkitnya PKI. Dan itu kadang Sampeyan lakukan di muka kelas saat sedang mengajar. Seturut pengakuan kawan saya yang sempat sampeyan ajar, sampeyan bisa sangat keras terhadap PKI di ruang kuliah.
Saya juga pernah membaca pernyataan Sampeyan tentang Papernas yang dulu kerap digebuki karena dianggap titisan PKI. Dengan cara berpikir stereotipikal ala Orde Baru, saya masih ingat, Sampeyan berkata: "Aroma PKI di Papernas itu banyak, di antaranya revolusi 1945 dianggap belum tuntas, jargon Tripanji, fokus pada buruh, tani, dan kaum miskin kota."
Baiklah, sekali lagi, baiklah, saya mencoba mafhum dan sekuatnya mencoba paham. Orang memang boleh punya pandangan politik, juga berhak menganut ideologi. Itu juga berlaku pada seorang akademisi, seorang sejarawan, bahkan seorang guru besar.
Tapi, sungguh, saya tak bisa paham kenapa Sampeyan ikut-ikutan membiarkan orang-orang yang membakar buku Revolusi Agustus karya Soemarsono? Saya sukar untuk paham kenapa bisa seorang guru besar mendukung aksi vandalisme? Kenapa bisa Anda hadir di kerumunan para pembakar buku dan bahkan memberikan orasi di sana dan seakan menjadi juru bicara para pembakar buku saat berdialog dengan redaksi Jawa Pos?
Untuk soal bakar-bakaran buku itu, maaf saja Prof. Aminuddin Kasdi, sampeyan sudah kelewatan!
Tag: PKI, Soemarsono, Jawa Pos, aminuddin kasdi
Terkait:
-
Berapa Buku Lagi yang Hendak Kalian Bakar?
Kamis, 3 Sep '09 21:34 -
Kwee Hin Houw, Generasi Terakhir Sin Po (1)
Selasa, 9 Feb '10 00:35 -
Pernyataan Sikap
Selasa, 12 Jan '10 23:57
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
cibro: Inspiratif
-
Yudiantoro: Penting
-
Striding Cloud: Penting
-
Manohira: Penting
-
Laksamana: Penting
-
conscientizacao: Penting
-
MR: Menarik
-
umbaran: Penting
-
NOS: Penting
-
iloenx: Keren
-
Mas Paman: Penting
-
Forlorn Hermit: Penting
-
hamatamu: Penting
-
hendijo: Penting
-
Aji Prast: Inspiratif
-
boiga: Penting
-
yusro: Penting
-
Red-White Eagle: Penting
-
kakilangit: Penting
-
Orang Ketiga: Penting
-
empis2: Menarik
-
pius: Menarik
-
Sri Kirana: Penting
-
MFH: Menarik
-
GaraMata: Penting
-
R A P: Penting
-
kinanthi: Penting
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
gama: Penting
-
kurit: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
baghdad apa cordova ya?
Entah mengapa nama/bau2 PKI untuk golongan tua (level bapak saya dan diatasnya) itu bener2 sensitif sekali, kalo ga mau dibilang alergi. Beberapa nukilan:
1. Teringat satu RDP bersama Komisi I DPR (2004-2009), dimana pimpinan rapatnya adalah seorang mantan Jendral di fraksi PDI-P, betapa dia begitu jijik dan bersemangat sekali bercerita betapa gundah dan masygulnya dia ketika ada kabar bahwa ada beberapa anggota DPR yang disinyalir terlibat PKI pada masa lalu.
2. Teringat saat Aksi 1998 dulu, kala Forkot yang memang 'ultra-keras' acap diberi label PKI karena kerap berlaku anarkis
3. Teringat Urban Poor Consortium saat demo sering diprovokasi dan hampir dipukuli oleh FBR, Forkabi, FPI karena dicap komunis/proletarian
Entah mengapa koq kayaknya orang2 tua angkatan atas saya (pinjem istilah bung kalangwan) kadang kelewatan dan melupakan dasar intelektualitas mereka kalo sudah berhubungan dengan segala sesuatu yang bau-bau PKI.
*OOT: Jadi inget dulu dipelototin orang satu bis, dan nyaris digelandang ke markas polisi, gara2 naik bis nenteng buku PKI, padahal PKI yang saya bawa itu PKI=Public Key Infrastructure, alias Digital Signature* Duh!
Baghdad, pada 1258
Pertama, orang-orang itu memang sangat benci dan anti dengan PKI, tak peduli mereka pernah terlukai atau tidak oleh PKI.
Kedua, karena takut. Banyak yang sebenarnya tidak tahu menahu dan tak pernah pny problem dengan PKI. Tapi, karena propaganda habis-habisan Orde Baru, mereka pun paham, PKI itu berbahaya, bukan atau karena PKI akan balik lagi, tapi karena beresiko tersangkut dengan aparat keamanan.
Seorang teman saya, pernah dimarahi habis-habisan ayahnya pada awal 1999 karena membaca buku Frans Magnis soal komunisme. Kemarahan yang fobsitis itu lebih karena khawatir anaknya bakal diapa2in oleh aparat keamanan.
Apa ya masih relevan isu komunisme diangkat saat ini, kenapa pula orang2 intelek macem Prof. Aminuddin Kasdi harus melacurkan dirinya untuk ikut ngeributin PKI/komunisme?
*Miko, komen anda gimana nih, mas? Anda anggota dewan lho sekarang...*
Yudiantoro: Sikap fobia atas komunisme itu laten, bahkan sampe ke kalangan akademisi. Aminuddin Kasdi saya kira bukan satu-satunya. Saya pun dulu pernah didamprat sama dosen saya waktu ngajuin paper ttg peranan pki dalamn tradisi polemik di indonesia.
*mendadak dejavu bakorstanas(da)*
sekaliber apa sih dia ini, jadi penasaran saya, kalau nggak ada apa2nya ya udah memang bukan intelektual ...sikapnya nggak mencerminkan itu
Saya sepakat dengan kalimat ini. Angkatan tua memang punya trauma terhadap PKI. Bapak saya hingga hari ini tidak bisa melihat setetespun darah, karena menyaksikan langsung pembantaian terhadap orang-orang PKI, dan/atau yang difitnah demikian. Siapa yang tidak paranoid dengan kata itu, kalau membayangkan perlakuan yang bakal diterima? Sunguh sebuah demonstrasi penindasan yang luar biasa.
Sialnya, bahkan hingga kini, dosa-dosa PKI seperti yang dituduhkan ORBA itu tidak jelas juntrungannya... Bagaimana caranya bisa rekonsiliasi? Apa kabar Komisi Kebenaran & Rekonsiliasi? Setelah UU 27/2004 dibatalkan MK, bagaimana cerita kelanjutannya ya?
Yudiantoro: buat saya komunisme sudah bukan lagi ancaman.
umbaran: saya punya dua bukunya, KAUM MERAH MENJARAH dan PERLAWANAN PENGUASA MADURA ATAS HEGEMONI MATARAM. Buku pertama saya baca cuma selintas-lintas, buku yang pertama saya baca sampai tuntas tahun 2003 dulu. Tidak terlalu istimewa, tapi tidak juga terlalu buruk.
conscientizacao: gimana mau rekonsiliasi kalo yang diinget cuma madiun affair 1948 dan gestapu 1965 dan ga mau inget pembantaian puluhan ribu simpatisan PKI.
*ngelirik Striding Cloud dengan ide sovietisasinya*
Sulit membayangkan bagaimana ia mengajarkan sejarah kritis kepada para mahasiswanya. Atau jangan2 hal demikian tidak dilakukan.
*pletakk, ada asbak melayang...*
Coba baca link ini
http://indonesiab….com/?p=1508
di situ kelihatan bagaimana cara dia mengajar mahasiswanya. di situ diwawancarai salah satu mahasiswanya yang pernah mengajaknya berdebat di kelas
prof ini memang konsisten di dlm ruang kuliah maupun di jalanan
memprihatinkan, kasihan saja mahasiswanya, di ruang kuliah nggebrak meja, di jalanan bakar2 buku
conscientizacao: sdh ditutup kan ....
Saya sudah sharing naskah ini dan beberapa berita terkait ttg keterlibatan Kasdi pasa pembakaran buku ke beberapa milis
Komunisme-marxisme juga merupakan ancaman, karena didalamnya ada teori pertentangan kelas.
Teori tersebut ketika sampai di masyarakat awam, menjadi kejam sekali. Penyangkalan kenyataan Bahwa "PKI pernah menggunakan ideologi kekerasan", saya kira sama halnya dengan menyangkal adanya kamp konsentrasi selama PD2.
Having said that, menutup mata total terhadap ide-ide mereka dan menganggapnya sebagai hantu yang harus dibantai, adalah bodoh.
Dalam pemikiran saya sendiri, teori pertentangan kelas itu dapat dipakai, tapi bukan sekedar dalam perebutan modal berupa tanah yang cenderung represif ke kelas berbeda, di zaman yang lebih modern, ide-ide sovietisasi (dan berbagai ide komunistik lainnya) dapat diterapkan dalam sistem modal yang lebih modern, seperti saham dan dividen.
Class struggle komunisme primitif yang mengandalkan kekerasan dalam memperjuangkan kesamaan hak modal seperti tanah, saya belokkan menjadi Struggle to upgrade class, yaitu aspirasi untuk memperbaiki nasib bersama, bukan sekedar aspirasi untuk mengambil dari kelas lain atas idealisme hak yang sama.
Lho saya malah mengagumi pemikiran anda yang berseri itu, betapa sebenarnya pola pikir sosialis ala soviet (yang dimofikasi) tersebut, bisa jadi merupakan obat mujarab bagi indonesia yang masih kepayahan (mentally and economically) sampai saat ini.
Apapun pencabangan dari komunisme itu sendiri, either marxisme, leninisme, atau maois, semua toh bersumber pada pertentangan kelas, yang saya tetap menganggap itu adalah konsekuensi dari sebuah ideologi. Toh liberalisme juga memiliki bahaya pertentangan kelas dalam konteks yang berbeda (market driven economic). Podo bhae tho?
Jadi ya buat saya, komunisme bukan ancaman.
[__Toh liberalisme juga memiliki bahaya pertentangan kelas dalam konteks yang berbeda (market driven economic). Podo bhae tho?__]
Jikalaupun semuanya bersumber pada pertentangan kelas, bukan berarti penanganan masing-masing ideologi adalah sama. Ada perbedaan inisiatif dan target inisiatif.
Propaganda PKI yang pernah saya lihat sekilas, membicarakan soal kaum Reaksioner yang harus diberantas oleh kaum Revolusioner.
Reaksioner merupakan label yang diberikan kepada para konservatif, yang cenderung lembam. Atau lebih jauh lagi, kepada para religius yang cenderung mengatakan semua sudah pada tempatnya (Takdir). Madilognya Tan Malaka seingat saya memberi porsi yang cukup besar dalam menghapus pikiran religious serupa takdir tersebut.
Inisiatif perubahan kaum revolusioner berpegang pada pemikiran bahwa kaum reaksioner akan berusaha mempertahankan legitimasi kelasnya dengan cara apapun, sehingga layak direbut dengan cara apapun juga.
Inilah yang saya tolak. Menurut saya, ada juga kemungkinan suatu kaum non-revolusioner juga memiliki cita-cita kemakmuran bersama (commonwealth).
Dalam artikelnya kawan Ndaru: [ http://politikana…i-dan-negara ], dapat kita fahami, nafsu-nafsu seperti itu sebenarnyalah dapat disalurkan dengan lebih beradab daripada rebut-rebutan tanah, atau menggalang massa untuk menggorok Pak Kiyai yang Tuan tanah, atau para feodal.
Mengalihkan Inisiatif Pertentangan Kelas, menjadi aspirasi perbaikan kelas, atau dalam bahasanya Internationale yang dinyanyikan amir syarifuddin ketika ditembak mati: We'll shoot the generals on our own side.
Kita ambil contoh yang lebih personal. Tentunya Anda tidak mau jika sopir anda (atau ex sopir-sopir Anda) kemudian dicekoki dengan pemikiran bahwa Anda berkonspirasi untuk tetap membuat mereka berpenghidupan sebagai sopir (atau yang sekelasnya), dan satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan mereka adalah dengan berinisiatif merebut modal (mobil Anda), bukan?
Jadi kesimpulan saya, walaupun komunisme dan liberalisme pada dasarnya adalah sama-sama leftist, ada perbedaan pada inisiatif dan arah inisiatif tersebut.
mau ne nembak ke Tentara, tapi biasnya lahir ke PKI...
Ibu saya dulu sempat panik karena pernah sekali mudik awal kuliah (baru aja reformasi lho..) bawa pulang buku sosial, kalo ga salah Bukunya Paulo Freire.
Dahinya mengernyit, ketika melihat buku itu. Sambil melempar kalimat "halah Dek, ngapain baca buku-buku kek gitu..."
Masa Orba pas di Aceh, aura anti PKI nya kenceng banget. Makian "dasar anak PKI" itu udah bisa mengundang rencong lawan rencong.
Ditambah konflik lagi GAM,..
makin lengkaplah ketakutan thdp aparatnya..
Ibarat kata, komunisme dan sodara2nya sudah secara struktur kultural menjadi kutukan berdarah disana. Dan niat2 separatisme dilihat seperti hawa iblis yang manganga.
tapi yang megang pentung dan dengan semngat teriak anti PKI itu, ndak tahu apa obrolan anda di atas.
Mungkin kalo denger Tung Des Waringin nyebut "gerakan revolusioner meraih kemakmuran anda", bisa jadi mereka ngira si salam super itu PKI
Sebenernya diskusi saya awalnya simpel saja, bahwa saya tidak menganggap komunisme adalah ancaman bagi Indonesia, bahkan sejak Tan Malaka dahulu. Saya berpendapat justru PKI (alias implementasi ideologinya) yang membahayakan bagi Indonesia.
Tetapi tetap bung, saya ucapkan terima kasih kepada anda yang sudah bersusah payah menerangkan dan menunjukkan pemahaman anda yang luar biasa tentang ideologi ini.
Jika kaum intelektual komunis memaklumi adanya korban revolusi, kaum intelektual reaksioner justru menutup mata dari fakta bahwa reaksi mereka memiliki efek kepada awam yang sama buruknya atau bahkan lebih buruk daripada "penerimaan intelektual komunis akan kewajaran adanya korban dalam revolusi".
Perbedaannya jelas: ideologi kekerasan komunisme sudah berada dari sejak dalam pemikiran intelektualnya, sehingga wajar dianggap sebagai ancaman. Sedangkan para reaksioner berpura-pura bahwa mereka tidak menganut ideologi kekerasan yang sama.
Mungkin ini juga yang membuat azas liberalisme lebih mudah diterima ketimbang komunisme:
Kedua ideologi ini menuntut korban dan jumlah darah yang sama untuk sampai kepada tujuan ideologi tersebut. Hanya cara meminta korban dan darah yang berbeda, yaitu brutal and direct - untuk communism dan slow and painful death - untuk liberalism, yang membuat liberalisme jadi tampak lebih 'bersahabat' ketimbang komunisme
conscientizacao: Ngepringan? fyi, ada yang lain lagi bung dari setumpuk kisah keluarga-keluarga PKI, http://tinyurl.co…ve-indonesia
film dokumenter berdurasi 26 menit oleh Lexy Junior Rambadeta (2001). Ibu Muryati, salah satu anak dari sekian korban meminta menggali kuburan massal itu untuk menemukan jenazah ayahnya agar bisa dimakamkan secara layak di pemakaman keluarga. Ketika pemugaran berhasil dilakukan, cerita seperti kembali ke awal. Tulang belulang itu masih tak bisa dikuburkan secara layak melainkan dibakar oleh warga yang tidak setuju hanya karena momok masa lalu buruknya citra PKI. Kuburan masal itu ada di Hutan Situkup, desa Dempes, kecamatan Kaliwiro, Wonosobo
coba perhatikan menit ke-18, memperlihatkan masa empat bulan dari waktu penggalian ketika para keluarga korban ingin menguburkan tulang belulang mereka di desa Kaloran, Temanggung. Masyarakat tidak setuju dan melakukan pemboikotan. Rumah keluarga korban diserang dan akhirnya, peti-peti yang berisi tulang belulang itu tak jadi dikuburkan tapi dibakar.
Bangsat betul memang. Entah harus berapa generasi lagi agar fobia itu bisa enyah.
andai saja kita bisa mempelajari sejarah hidup sang profesor sejarah, siapa tahu bakal ketemu sisi dendam pribadinya yang membuat dia tidak mampu lagi obyektif.
Mungkin ada keluarga dekatnya yang menjadi korban, kita tak tahu. Tapi Dahlan Iskan, yang beberapa keluarganya menjadi korban 1948, toh bisa bersikap rileks pada masa silam. Tak ada salahnya, tentu saja, memahami latar belakang Sang Profesor. Tapi, bahkan andai benar ada keluarganya yang menjadi korban sekali pun, tindakannya menyokong dan mendiamkan pembakaran buku tetap tak bisa diterima.
Tentu saja benar sukar menulis sejarah secara obyektif atau tanpa keberpihakan. Tapi berpihak dan berlaku vandalis adalah dua hal yang berbeda. Untuk yang pertama, hingga level-level tertentu, saya bisa paham. Tapi tidak untuk yang kedua.
sayang ndableg gak ikut, bahkan hanya utk merating pun beliau masih enggan...
And pigs might fly.
cibro: Maybe ndableg is still listening to "Crying Game", bursting into tears every 10 minutes.
yusro: And out there you'll find lots "guru berjiwa besar dan bergaji kecil"
conscientizacao: That's a very likely possibility.
conscientizacao: mungkin saja begitu. seperti sosok kakek dalam film "everyhting is illuminated" yg selalu memaki-maki yahudi, ternyata dia sendiri yahudi, yang menjadi satu2nya yahudi di kampungnya yg berhasil lolos dari pembantaian karena menyuap tentara jerman
yusro: itu mah guru besar kepala
Kekerasan yang dianggap imanen dalam diri ideologi komunisme, bagi Marx sendiri, adalah sesuatu yang niscaya. Ia bukan produk kebengisan komunisme, melainkan produk progresifitas sejarah, kendati --tentu saja-- di tingkat lapangan manusia pula yang melakukannya. Maksudnya, Marx --dengan lebih dulu memerikan tahap-tahap perkembangan sejarah-- percaya bahwa pertentangan kelas itu sebagai sebuah keniscayaan akibat akumulasi faktor-faktor produksi.
Menariknya, jika kita masih menggunakan pandangan komunisme, kapitalisme --yang merupakan anak kandung liberalisme-- juga punya watak kekerasan yang inheren dalam salah satu tahapannya.
Salah satu sumbangan terpenting dari Lenin dalam gugusan pemikiran marxian adalah pada eksplanasinya ihwal bagaimana kapitalisme bersalin rupa dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme. Bagi Lenin, kolonialisme dan imperialisme --yang tentu saja memakan tumbal darah yang juga tak sedikit-- adalah cara kapitalisme untuk menyiasati [1] ketiadaan bahan baku di negeri asalnya dan [2] memperluas pasar barang-barang produksi mereka.
Itu sebabnya, pernah Soekarno menggunakan alegori naga ihwal kapitalisme itu dalam pledoi Indonesia Menggugat pada 1930 di Gedung Landraad Bandung. Kapitalisme itu seperti naga, kata Karno, yang yang mulutnya menghisap di negeri jajahan sementara perut dan ekornya ada di seberang lautan.
bagi Indonesia GPK GAM, Fretilin Timor Leste itu penghianat, bagi mereka Indonesia Penjajah..
sekarang mereka menang, jadi gubernur & presiden (dianggap pahlawan) so?
again history of the conflict is written by the winner...
salam politikana
Silahkan login untuk memberikan pendapat