Antara Situgintung Dan Tasikmalaya 11

Jumat, 11 Sep '09 18:40, dibaca 195 kali

Tentu kita masih ingat dengan musibah jebolnya tanggul Situgintung beberapa waktu lalu, yang memakan korban 100 lebih jiwa saudara-saudara kita. Salah satu tragedi memilukan dalam perjalanan sejarah bangsa kita akibat kelalaian manusia.

Tanpa mengecilkan arti musibah tersebut, satu fenomena yang masih segar dalam ingatan kita sesaat setelah musibah terjadi adalah berdirinya tenda-tenda berlambang partai politik atupun spanduk serta baliho bergambar para caleg lengkap dengan gambar partai serta nomor urut dengan ungkapan belasungkawa. Banyaknya tenda serta baliho yang berdiri sampai-sampai menyerupai pasar malam.

Tanpa niat sedikitpun mengecilkan arti berbagai bantuan dari partai politik serta para caleg, dalam benak tentu menyisakan satu pertanyaan, tuluskah mereka membantu para korban ataukah ada agenda untuk mencari simpati publik menjelang hari pemilihan umum. Berulang kali saya mencoba meyakinkan diri bahwa tidak pada tempatnya berprasangka terhadap berbagai bentuan tersebut, tapi jujur  tetap saja ada pertanyaan dalam benak mengenai motif pemberian bantuan.  Entahlah…

Beberapa saat yang lalu, kita dikejutkan dengan musibah gempa 7,3 Skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya. Saudara-saudara kita yang menjadi korban sekitar 70 nyawa dan 35 orang belum ditemukan. Banyak diantara korban yang sampai sekarang belum mendapatkan bantuan, baik berupa makanan maupun obat-obatan. Banyak diantaranya harus tinggal di tenda pengungsian, sementara hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.

Satu hal yang berbeda dengan musibah Situgintung, tidak ada lagi tenda-tenda partai berdiri dengan meriah. Tidak ada lagi senyum manis para caleg yang menunjukkan mimik  empati. Tidak ada lagi ribuan dos makanan yang seakan mengalir  tanpa henti dari para caleg. Dimanakah mereka semua?

Bencana gempa bumi tidak sepenuhnya bisa diprediksi, dan tidak ada seorangpun yang menginginkannya termasuk saudara-saudara kita di Tasikmalaya. Tetapi semua sudah terjadi, dan dalam benak mereka yang tertimpa musibah mungkin timbul pertanyaan dalam duka dan kepasrahan, andai saja gempa terjadi menjelang pemilu…


Tag: tasikmalaya, gempa bumi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ndableg 0 0
para caleg udah pada stress ama gila pakdhe.. banyak di antara mereka yg nggak kepilih
komprang 0 0
ndableg: ato mungkin sebaliknya, lg sibuk mo pelantikan jd lupa daratan : D
Esemge 0 0
Mereka,..mereka..lalu dimana kita?
komprang 0 0
Esemge: good question, jadi inget pesan bu guru: "apabila tangan kananmu memberi janganlah tangan kirimu melihat". : )
yusro 1 suka | 0
Jangan hiraukan mereka. Tapi mari bergandeng tangan dan melakukan apa yang kita bisa : )
Esemge 0 0
Good job komprang: pasti bu gurunya cantik..., ups !
komprang 0 0
yusro: ikuuut pakdhe.. : )
Esemge: cantik sih ndak.. cuman bohay ; )
Esemge 0 0
yusro: setuju bung
olive 0 0
publikasi medianya kalah ma century & malingsia... : )
Leksa 0 0
olive: publikasi yang kurang memang jadi satu masukan untuk mitigasi bencana Tasik kemarin..

Tetapi, persoalan yang dibahas ini, bagaimana peran para partai dan caleg itu di mitigasi Gempa Tasik kemarin?
Mosok mereka disamakan dengan warga biasa, nunggu dihebohi oleh media dulu.
Justru sebagai yang katanya "perwakilan rakyat", "suara rakyat", mereka dong yang menjemput bola,
kalo perlu mereka lah yang membuat heboh ke media2...

No excuse buat saya, kalo dipakai alasan kalah pamor dari berita Century dan Malaysia...
bahkan gosip KD cerai sekalipun...
cibro 0 0
yusro: { Jangan hiraukan mereka. Tapi mari bergandeng tangan dan melakukan apa yang kita bisa : ) }

tapi-kan klo bergandeng tangan dengan mereka, dan melakukan apa yang kita bisa dan apa yang mereka mau pasti tambah seru toh? ; )

Silahkan login untuk memberikan pendapat