Keluarga Bang Sianturi 28
Jumat, 11 Sep '09 17:00
Tokoh-Tokoh:
Bang Sianturi: Pedagang Beras.
Pak Bei: Ketua RT. Ia menganggap Bang Sianturi seperti anaknya sendiri.
Pak Anas, Abah : Kedua orang ini menitipkan uangnya ke Bang Sianturi.
Robit: Anak Bang Sianturi yang royal dan suka sembarangan.
Medya: Anak Pak Anas yang menjadi sumber informasi bagi Pak Anas.
Pak Suwis: Partner usaha dagang berasnya Bang Sianturi.
Bu Amri K.: Pelanggan tetap Toko Berasnya Bang Sianturi dan Pak Suwis.
Menjadi Juragan Beras
Bang Sianturi diajak Pak Suwis jadi penyalur beras ke Sidikalang.
Karena ndak punya modal, dia mikir untuk ngutang ke Pak Anas dan Pak Abah. 50 juta dari Pak Anas, 50 juta dari Pak Abah.
Pak Anas mau-mau aja, karena pikirnya jika ada pedagang beras yang dekat, usaha warung masakan padangnya bisa dapat korting.
Pak Abah mau-mau aja, karena dia petani beras. Dia pikir, dia lebih mudah menyalurkan produksinya.
Perjanjiannya, Bang Sianturi bagi-bagi untung usaha berasnya ke mereka, 4 juta/orang tiap tahunnya.
Agar aman, Pak Anas dan Pak Abah minta agar Pak BeI, sang ketua RT, menjadi penjamin dan mengawasi untung ruginya Bang Sianturi. Harapan mereka, kalau tiba-tiba ada kejadian mendesak, mereka bisa tetap ambil duit mereka.
Pak Bei yang menganggap Bang Sianturi sebagai anak angkatnya sendiri, mau-mau aja, tapi dengan dua syarat:
Sejumlah 8 juta harus selalu disisakan dan disimpan ditempat yang bisa diakses bersama antara Bang Sianturi dan Pak BeI,
...plus dia dapat gaji mengawasi 100 ribu pertahun.
Tersepakatilah kondisi itu, dan mulailah Bang Sianturi menjadi pengusaha beras.
Itu terjadi 6 tahun lalu.
Dalam perjalanan waktu, Bang Sianturi sering lalai memenuhi syaratnya Pak BeI, karena berbagai keperluan, dia suka memakai sebagian dari 8 juta itu, entah untuk biaya anaknya lah, entah memang penjualan lagi seret.
Si abang berpikir, “Ngapain sih harus nyisain 8 juta? Duit diem itu adalah duit rugi”
Macetnya pembayaran Bu Amri.
Namanya dagang, muncul saling percaya dengan pelanggan tetap.
Pak Suwis kebetulan punya pelanggan yang sudah dekat banget, Bu Amri Kusdihardjo namanya. Bu Amri sering beli beras partai besar, bayarnya belakangan. Tapi Bu Amri orangnya pemurah, beliau sering bayar diatas harga pasaran, jika lagi untung besar.
Setelah beberapa tahun, tiba-tiba Bu Amri tertimpa musibah, rumahnya kebanjiran, beras yang disimpan disana busuk. Akibatnya Bu Amri kesulitan membayar Pak Suwis.
Masalah ini merembet ke Bang Sianturi, akibat dari telatnya pembayaran Bu Amri tadi, dia juga ndak dapat pembagian untung toko tadi.
Mau dibagi gimana, orang sedang ndak ada untung kok.
Tentang Si Robit, Anaknya yang manja
Robit adalah anak sulung Bang Sianturi. Merasa bapaknya juragan beras, dia sombong dan pemboros.
Bahkan, dialah sebenarnya penyebab uang jaminan 8 juta itu sering kurang. Ada aja yang dia minta ketika jadwal Pak Bei ngecek duit itu.
Seringnya sih, untuk beli mainan, atau kalau ndak, ya buat nraktir teman-temannya. Bang Sianturi rela-rela aja memanjakan anaknya,
“Anak itu pembawa rejeki, kalau dia ndak lahir dulu, ndak mungkin saya bisa jadi juragan beras”, pikirnya.
Takhyul yang aneh....
Si Robit, berteman dengan anaknya Pak Anas, Medya namanya. Si Medya sering menceritakan ke Bapaknya tentang Robit yang sering pamer. Kemaren dulu Robit menraktir teman sekelasnya makan bakso.
Bagi Pak Anas, itu tanda bahwa uangnya aman, dan bagi hasilnya akan lancar.
Keperluan mendadak Pak Abah
Pak Abah tiba-tiba ada keperluan mendadak. Banjir juga sudah membuat panennya gagal.
Buru-buru ia ke rumah Bang Sianturi untuk menarik sebagian modalnya barang 10-20 juta gitu....
Pak Abah, ketemunya Robit.
Si Robit, setelah mendengar Pak Abah, bercerita bahwa sebagai anak Juragan Beras, dia tahu dimana Bapaknya dan Pak Bei menyimpan 8 juta uang jaminan itu.
Karena merasa turut berkuasa, Si Robit kemudian memberikan uang itu ke Pak Abah. Merasa tertolong, Pak Abah memberikan 100ribu buat Si Robit.
Ketika Bang Sianturi kembali, Si Robit menceritakan soal itu kepadanya. Bang Sianturi serbasalah, ia terlalu sayang kepada anaknya untuk bisa marah, namun ia juga sebenarnya memerlukan uang itu untuk sementara membayari bagi hasil tahun ini.
Hari Bagi Hasil
Hari bagi hasil tahun ini tiba. Tapi karena usaha berasnya lagi macet, Bang Sianturi sengaja menghilang.
Pak Anas datang. Ditunggu-tunggu tidak muncul, Pak Anas mulai gerah, lebaran sudah dekat, dia benar-benar memerlukan uang bagi hasil itu.
Karena tidak berhasil menemui Bang Sianturi, Pak Anas pergi menemui Pak BeI menceritakan hilangnya Bang Sianturi. Tersenyum bijak Pak BeI bilang: “Inilah dulu gunanya uang jaminan itu”.
Bersama-sama mereka membuka tempat penyimpanan jaminan... Kosong.
“WAH!! ndak beres ini!!!” Seru Pak Anas. Ia kemudian menuntut Pak Bei sebagai penjamin-yang-dibayar, untuk memberikan uang bagi hasilnya. Pak Bei kebetulan dompetnya berisi 2 juta, lalu menawarkan kepada Pak Anas. Pak Anas menerima dengan menggerutu, dan mengatakan akan kembali besok untuk 2 juta lagi.
Ketika Pak Bei berhasil menemui Bang Sianturi, dia menuntut jawaban atas hilangnya 8 juta itu. Dia mengingatkan, bahwa Bang Sianturi sudah minus 2 persen.
Paling tidak Bang Sianturi harus menyediakan 10 juta untuk mengganti uang jaminan termasuk minus 2 jutanya, dan 6 juta lagi untuk membayar Bagi hasil tahunan yang disepakati.
Karena tidak ada uang, Bang Sianturi pun memohon bantuan Pak Bei dan menceritakan segalanya.
“Jadi saya harus minjamin berapa nih?” Tanya Pak BeI.
“2 juta saja Pak, untuk nalangin Untuk Pak Anas” Jawab Bang Sianturi.
“Baiklah, tapi kamu harus segera tutup kekurangannya, TERMASUK uang jaminan itu” putus Pak BeI.
Sialnya, Si Robit pamer ke si Medya, bahwa dia baru dapet duit dari Pak Abah. Dan cerita itupun sampai ke Pak Anas.
Emosi, Pak Anas bertekad menarik seluruh dananya besok.
Keesokan harinya, Bang Sianturi pergi ke Pak Suwis untuk mengusahakan dana, akibatnya Pak Anas lagi-lagi tidak bertemu dengan Bang Sianturi, mudah diduga, kemudian Pak Bei lah yang dikejar.
Pak Bei berhitung-hitung, dia sudah keluar uang 4 juta, sekarang mesti keluar uang 50 juta lagi?
Atas dasar itikad baik, ia mengambil dari tabungan hari tuanya, tanpa berkonsultasi dengan istrinya. Karena dulu mengiyakan menjadi penjamin, kini Pak Bei mengeluarkan uang total 54 juta.
....
Kelak di kemudian hari, ketika segala kekacauan ini terbuka, Istri Pak Bei menempeleng Pak Bei dan Robit....
DISCLAIMER Anti Bom Emping:
Saya tidak memiliki hubungan darah dengan seluruh Marga Sianturi, Pak Bei, Pak Anas, Pak Abah, Pak Suwis, maupun Bu Amri.
Namun saya mengakui saya pernah nitip duit ke Bu Amri, dan menerima cicilan hak saya secara rutin.
Diluar itu, saya tidak dibayar oleh siapapun untuk menuliskan ini.
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dikrezz: Menarik
-
conscientizacao: Bagus
-
Red-White Eagle: Keren
-
ndableg: Bagus
-
Yudiantoro: Lucu
-
Esemge: Bagus
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
hamatamu: Bagus
-
perempuan api: Bagus
-
yusro: Keren
-
5150: Keren
-
ISK: Menarik
-
Sri Kirana: Bagus
-
Laksamana: Bagus
-
boiga: Bagus
-
cibro: Bagus
-
iloenx: Lucu
-
LCFR: Menarik
-
kinanthi: Menarik
-
Barry: Lucu


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Sudah mirip?
Saya baru mendapat pencerahan, BS = Pak Anas.
Tadinya saya kira BS= Pak Abah.
etapi, masalah saya, saya terlalu pusing dengan begitu banyak nama. omigad!!!
*simpleton yang akhirnya mengerti*
Iya, maaf, buru2 harus segera pergi tadi sore. Jadi kurang pengenalan tokoh.
5150:
Yang terburuk belum terjadi.
Yang terburuk Jika Pak BeI tidak dipercaya warganya lagi gara-gara itu, Istrinya minta cerai dengan alimony tinggi. Lalu Pak Abah dan Pak Anas menarik seluruh dananya dengan cara apapun, Bang Sianturi dihabisi, Robit digantung.
Eh setelah segala hal itu terjadi, Bu Amri berhasil membayar hutangnya.
Yang untung adalah Pak Suwis.
anti-fenomena: Mewakili Anda dan Saya.
Aji Prast: ayolaaahhhhh.....
uang yang dilepas pak BeI sebesar 54 juta dari tabungan hari tuanya??
kok saya tadi sempat mikir, itu uang iuran warga ya ...
CMIIW
uang iuran warga yg telah dikumpulin selama ini..
hahahah... Ok, kalau versi LPSnya begini:
Waktu didirikan pemerintah kasi 4 trilyun untuk menjamin tabungan.
Dalam perjalanannya Bank-bank membayar tahunan ke BI (iuran 100ribu pertahunnya Bang Sianturi).
Total dana yang terkumpul adalah 14 trilyun. Jadi, bisa dikatakan 4trilyun (dana warga) tadi tidak tersentuh.
Agar ada yang mewakili rakyat, maka ada tokoh Istri Pak Bei, karena biarpun yang bekerja untuk mengisi tabungan itu hanyalah Pak Bei, Bu Bei tetap berhak dikonsultasikan.
jadi kerja ne RT kek Pak Bei kui ngumpuli duit cukong-cukong thooo....
*mendadak kepikiran bercita2 jadi Pak RT
Pas ada kejadian-kejadian banjirnya bu amri, toh cukong2nya juga yang ditolong.
Makanya di skala besar Indonesia itu jadi aneh, yang urunan duit pada sepakat, kok yang ndak urunan ribut?
Tapi kalau soal si Robit ditempeleng, saya setuju betul.
[..Makanya di skala besar Indonesia itu jadi aneh, yang urunan duit pada sepakat, kok yang ndak urunan ribut? : D ..]
Iya ya aneh...
apa ndak kesel itu si abang2 lainnya, duitnya banyak dipake ke ngejamin Bang Sianturi .. :-?
kok mereka adem2 aja sih ?
Rata-rata sepakat, karena menurut mereka, mereka juga bisa terkena kalau bang sianturi dibiarin. Itu buktinya ada data bilang ada perpindahan dana 11 trilyun dari abang kecil ke abang besar, kalau dibiarin, bisa-bisa abang2 penjual beras kecil2an ikutan ancur.
Cuma... walau udah pada sepakat gitu, teteup ada warga yang nggosip jelek, "Peer Solidarity" katanya, yang lain bilang "Konspirasi para abang2 penjual beras"...
Ada lagi warga yang bilang, kalau duit urunan si abang-abang itu lebih baik dirampas dan digunakan untuk biaya sekolah anak-anak yang ndak ada kaitannya dengan para abang2
Boedi Siapa itu, ternyata duitnya dipindahin sembarangan makanya dia protes, mengakibatkan nasabah lain ngerush.
Tadinya tafsiran saya Boedi Siapa itu tiba-tiba narik tabungannya dalam jumlah besar, yang kemudian menyebabkan CARnya negatif, dan memberikan sentimen negatif lalu Nasabah lain ngerush.
we're waiting...
Atas dasar itikad baik, ia mengambil dari tabungan hari tuanya, tanpa berkonsultasi dengan istrinya. Karena dulu mengiyakan menjadi penjamin, kini Pak Bei mengeluarkan uang total 54 juta.
...
Kelak di kemudian hari, ketika segala kekacauan ini terbuka, Istri Pak Bei menempeleng Pak Bei dan Robit....
===
maaf kalo imao, tapi ada sedikit data yang hilang di paragrap itu. Mungkin kalimat yg lebih lengkap begini: [...Pak Bei berhitung-hitung, dia sudah keluar uang 4 juta, sekarang mesti keluar uang 50 juta lagi? Istri Pak Bei sebetulnya tahu Pak Bei kudu mengeluarkan 50 juta itu, tapi seperti umumnya sifat wanita (maaf, moga2 gak ada yg tersuinggung), dia berpura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu. "EGP, itu bukan urusan gw," kata istri pak Bei yg bawel itu...
Atas dasar itikad baik...... ]
Silahkan login untuk memberikan pendapat