Lingkaran 45
Jumat, 11 Sep '09 15:15, dibaca 222 kali
Saya percaya dengan lingkaran.
Lingkaran yang saya maksud di sini adalah bahwa semuanya akan selalu berputar dan apapun yang sudah dilakukan seseorang akan kembali kepadanya, entah bagaimanapun caranya. Ada yang bilang ini adalah konsep karma, ada yang bilang ini keadilan Tuhan, tapi menurut saya ini hanyalah sebatas konsekuensi. Aksi-reaksi, tit for tat, atau apalah semua itu.
Karena itu saya merasa sedikit lucu ketika di masa kini semua orang-orang "tua" meributkan mengenai degradasi moral dan betapa anak muda sekarang semakin jauh dari agama. Betapa modernisme telah merusak tatanan hidup, betapa budaya tidak lagi dihargai, dan lain sebagainya.
Ini adalah hal yang sangat lucu karena jika kita menelisik balik ke masa awal-awal peradaban monotheisme, mereka adalah momok bagi kaum-kaum yang sebelumnya tidak mengenal Tuhan yang tunggal. Mereka adalah modernis-modernis yang datang membawa kepercayaan baru yang bertentangan dan pada akhirnya menghabisi kebudayaan dan kepercayaan lama itu.
Kalau kita mau berkaca ke Eropa, kita bisa melihat betapa Paganisme dibantai habis di era Kaisar Theodosius I, yang juga meletakkan Katolik sebagai agama resmi negara tersebut. Penghancuran Paganisme ini sedemikian dahsyatnya sampai sekarang banyak dari kita yang melihat pentagram (yang merupakan salah satu simbol Pagan) dan langsung mengasosiasikannya dengan "sihir" dan "jahat".
Ini hanyalah satu contoh kecil yang, jujur saja bisa diperluas dengan memperlihatkan kejadian-kejadian yang muncul dalam sejarah peradaban manusia. Pembakaran penyihir, pembunuhan kucing (yang diasosiasikan dengan penyihir), penghancuran kuil-kuil pemujaan dewa, dan lain sebagainya.
Lalu apa urusannya dengan dunia modern saat ini?
"Dunia saat ini sedang di ambang kehancuran. Anak-anak mudanya bebas dan liar, melupakan ajaran agama dan menjadi atheis. Tidak lagi percaya Tuhan dan tenggelam dalam keduniawian."
Coba kita ganti sedikit paragraf di atas:
"Dunia saat ini sedang di ambang kehancuran. Anak-anak muda pergi melupakan ajaran dewa-dewa dan menyembah Tuhan dari Nazaret itu. Meninggalkan kuil dan melupakan asal segala kemakmuran kita, para dewa."
Lucu jika kita bayangkan, mungkin saja pertentangan-pertentangan yang ada di era ini bisa jadi telah terjadi berabad-abad yang lalu dengan nama lain, meskipun secara esensi sama.
Dan jangan heran jika satu milenia lagi akan ada omongan seperti ini:
Dunia saat ini sedang di ambang kehancuran. Anak-anak muda kehilangan realita, teggelam dalam kepercayaan purba berharap pada hidup setelah mati. Tidak lagi berpegang pada kenyataan dan tenggelam dalam masturbasi filosofi."
Rotasi lingkaran itu memang lama, tapi saya percaya lingkaran itu ada. Lalu jika sudah begini, yang manakah yang benar? Entahlah.
Que sera-sera. Jalani saja dengan niat baik dan harapan serta prasangka baik, maka hasilnya pasti akan baik.
(Sebuah catatan kecil di siang hari yang panas, 3:14 11:09:09)
Tag: masturbasi filosofi, ah nikmatnya masa muda
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
pradaksina: Keren
-
The Crow: Keren
-
zzerkid: Menarik
-
ilmu: Menarik
-
Nazil: Bagus
-
Shouen: Keren
-
conscientizacao: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
yusro: Menarik
-
pry s: Penting
-
ndableg: Bagus
-
Yudiantoro: Menarik
-
she: Keren
-
Apprayo: Menarik
-
Lorem Ipsum: Menarik
-
Huzein: Menarik
-
R A P: Menarik
-
boiga: Bagus
-
Aji Prast: Menarik
-
cibro: Lucu
-
lowercaser: Menarik
-
Bung Ajo: Menarik
Komentar:
Anomali dari?
bayangan saya, anomali tu artinya 'gak normal' atau 'gak bener'
thanx info-nya
conscientizacao: The Crow: Saya lebih menantikan Imhotep.
Oh, ternyata anomali yang seperti itu... kirain anomali seperti dalam "keanehan" atau "ketidakstabilan"
Rasa-rasanya lingkaran ini banyak sekali dibahas dalam berbagai nama, yang intinya tidak berbeda jauh?
Seingat saya, anomali kritis T. Kuhn memang merujuk ke situ. Sebuah paradigma baru, ketika lahir pasti mengundang anomali baru di masyarakat. Anomali, karena tidak sesuai dengan norma yang sudah berlangsung selama ini.
Kalau sebuah paradigma baru lolos ujian pada tahap Anomali kritis, baru ia akan melahirkan revolusi paradigma baru, dst... Bukan begitu, mas Nazil?
trend
the popular taste at a given time; "leather is the latest vogue"; "he followed current trends"; "the 1920s had a style of their own".
11/12 dengan mode.
"A constellation of concepts, values, perceptions and practices shared by a community which forms a particular vision of reality that is the basis of the way a community organizes itself."
- Thomas Kuhn, the Structure of Scientific Revolutions (1962)
Mungkin di bagian kecilnya paradigma itu ada trend, bahkan paradigma baru itu bisa melahirkan trend baru. Bisa dibilang, asal muasal trend yang Anda maksud datangnya dari paradigma baru-nya Kuhn.
Saya jadi lupa mengaitkan dengan Lingkaran-nya bung LCFR. Kalau mengikuti cara berpikir Kuhn, maka lingkaran yang Anda maksud itu tidak pernah ada. Kuhn berpandangan bahwa paradigma baru, memungkinkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah dan zaman.
Perubahan itu mutlak, dan benar-benar baru. Dia tidak saja 'berbeda', tetapi memang 'sama sekali baru. itu kata Kuhn...
Tapi bukan berarti saya tidak sependapat dengan Lingkaran Anda, bung LCFR. Saya pikir, Lingkaran ini memang kadang-kadang benar adanya... Entahlah...
Tidak perlu sungkan mengkoreksi saya
ya, ya saya bisa lihat sekarang point anda.
yang jadi prtanyaan saya adalah apakah paradigm shift itu sama sekali baru atau sebuah re-konstruksi dari paradigm lama yang dimodifikasi.
dan sama sekali tak mengenal jalan kembali, seperti halnya lingkaran sempurna ujung=simpul?
atau saya yang salah melihat lintasannya, yang sebenarnya bukan berputar pada satu jalur (berkeliling), tapi justru dari lingkaran kecil menuju lingkaran yang lebih besar (dari dalam menuju keluar, seperti bola dalam bola).
Sebenarnya, saya pernah mempelajari T. Kuhn untuk mencoba memahami adanya paradigma baru yang namanya Appreciative Inquiry (AI). AI disebut-sebut sebagai anti-tesisnya Problem Solving. Kalau selama ini kita berpikir untuk menyelesaikan masalah, AI mau meninggalkan tradisi itu. Ia mengajak pada perubahan yang revolusioner, tentang cara pandang kita terhadap 'masalah'.
Problem solving, datang dari paradigma defisit, memandang bahwa organisasi/komunitas/dunia ini adalah sekumpulan masalah yg perlu dicarikan solusinya. Dari hari ke hari kita hanya berkutat dengan pencarian solusi.
AI, mau mengubah cara pandang itu. Daripada memandang dunia ini adalah sekumpulan masalah, pandanglah ia sebagai sekumpulan potensi. Maka, kerja-kerja kita adalah merayakan keberhasilan di masa lalu, memanfaatkan segala potensi yang sudah ada, dan terus mengimajinasikan masa depan yang ideal. Tapi AI sendiri menolak kalau disebut sama dengan Positive Thinking. Masalah? itu cuma ilusi, otak kitalah yang menyebutnya demikian. Contoh: Anda bisa memandang sebuah gelas yang berisi air setengah gelas sebagai "Setengah Kosong", atau "Setengah Penuh".
Nah, Anda pasti pernah nonton film The Secret? Kira-kira cara pandang seperti itulah yang mirip-mirip dengan AI. Pertanyaan saya saat itu, dan sampai kini, apakah AI ini benar-benar baru seperti yang dimaksudkan Kuhn? Bukankah dalam budaya Jawa sudah populer kata-kata "untung..." yang menyiratkan ekstraksi hikmah positif dari semua peristiwa buruk sekalipun? Paling tidak kan rada-rada mirip gitu lho... *pengen aja cara berpikir lawas di tanah air ini tetap relevan dengan situasi mutakhir...
Pertanyaan saya saat itu, dan sampai kini, apakah AI ini benar-benar baru seperti yang dimaksudkan Kuhn? Bukankah dalam budaya Jawa sudah populer kata-kata "untung..." yang menyiratkan ekstraksi hikmah positif dari semua peristiwa buruk sekalipun? Paling tidak kan rada-rada mirip gitu lho... *pengen aja cara berpikir lawas di tanah air ini tetap relevan dengan situasi mutakhir... : ))
Innovation & Invention, bagaimana mendeteksi sesuatu itu benar-benar baru, atau cuma hasil modifikasi dari yang sudah pernah ada...
Tapi mengingat kembali keterbatasan kemampuan ingatan manusia, mungkinkah paradigm shift itu cuma penemuan kembali paradigm yang sudah pernah ada dalam bentuk yang bebeda (baru).
Mungkinkah tidak ada sesuatupun lagi sebenarnya yang benar2 baru?
Hahahahaha.a.a.a.
Pada akhirnya, saya tidak terlalu peduli ini benar-benar baru atau lama. Selama paradigma 'baru' itu menawarkan kebaikan, ada baiknya kita coba. Persoalannya, 'mencoba' paradigma bukan seperti mencicipi kue tart dengan cara mencolek-nya khan? Di sinilah peliknya.
Mengubah cara pandang defisit, menjadi appreciative, bukan kerjaan gampang. Itu butuh waktu, seperti yang digambarkan Kuhn: Pra paradigma -> Pra ilmu –> Paradigma -> Normal Science –> Anomali -> Krisis –> Revolusi -> Paradigma Baru -> Ekstra ordinary Science –> Anomali -> Krisis –> Revolusi.
Berapa ratus tahun itu kira-kira ya?
masalahnya kenapa itu kalau benar2 baru, saya berpikir ini nanti bisa jadi pola liar tidak bisa ditebak kemana arah dan dampaknya.
nah kalau ini adalah hasil produk lama kan bisa, diperkirakan deviasinya?
paradigma sendiri merupakan hasil dari proses fungsi waktu nampaknya. berapa ratus atau ribu, mungkin?
Tapi coba pikirkan sekarang manusia sudah beberda dari zaman dahulu, kita mempunyai alat
rekam yang lebih efisien dan efektif (artinya ingatan akan sejarah akan lebih baik dan lebih panjang) jejaring informasi yang lebih cepat dan murah (informasi akan lebih mudah disebar dan ditanggapi)
jadi kalau ada paradigm shift (lagi) menurut saya akan memakan waktu yang jauh lebih singkat ketimbang pada zaman dahulu, dan akan terus semakin singkat.
Not quite. That's why I said the model should look like 'Baygon bakar'. It never really touch the same point in its circular shift. Besides, if you watch closely at the burning 'Baygon bakar', you see imperfection in the structure that will lead to chaotic pattern some of the times.
I agree with this one, and it's also represented in the model I mentioned.
Semoga begitu bung. Dengan asumsi masyarakat berada pada posisi berpikir scientific seperti konteksnya T. Kuhn. Kalau pada kelompok masyarakat yang masih berpikir mitis, butuh ekstra effort saya kira...
Pada jaman itu pagan mempunyai kecenderungan untuk mengunggulkan dewanya masing-masing. Sehingga konflik antar pagan sering sekali terjadi - mungkin kita bisa tertawa sekarang tapi jaman itu, penyembah dewa matahari dan dewa bulan benar-benar saling bunuh karena merasa dewa mereka yang paling hebat (dgn kata lain: kepercayaan mereka paling benar).
Sampai diperkenalkan ide monoteistik, Tuhan yang bersifat abstrak dan universal ... selain menghilangkan masalah pertikaian antar kepercayaan, ini merupakan solusi terbaik untuk menyatukan persepsi tentang ketuhanan.
Persoalan mendasar (pada saat itu) adalah "para-manusia" yang punya banyak kepercayaan dan mereka saling bertikai karena membela kepercayaannya masing-masing.
Menurut saya, bahkan saat ini perulangannya masih sering sekali terlihat pada sekelompok orang yang "merasa paling benar" (seperti pagan pada saat itu - regardless of the belief) ...
Persoalan ini tidak akan selesai selama sentral persoalannya ada di luar sana .... Tuhan, Dewa Matahari, Baal atau apapun ...
Bukankah sentral persoalannya ada pada "para-manusia" yang bertikai karena "kepercayaan" mereka masing-masing? Apakah Tuhan perlu di bela? atau hanya manusia yang tidak suka manusia lainnya karena mereka berbeda? (kepercayaan, agama, ras?) Is it about god? or about human?
Humanity is universal enough for me ... regardless of what they belief ...
You might as well delete the words 'jaman itu', Boss.
Silahkan login untuk memberikan pendapat