Bocah Pengungsi 9

Sabtu, 12 Sep '09 09:46

 

Goncangan 7,3 skala richter telah membuat para bocah Pangalengan sementara terputus dengan masa depan mereka.

Pagi menyeruak di tengah Pangalengan yang mulai menggeliat. Sinar matahari mulai membeliak, memelototi lapangan sepakbola yang jadi lautan tenda berwarna-warni. Dekat lapangan, melintas  sebuah truk mini bergambar Che Guevara,yang lebih mirip preman kelaparan. Di atas baknya teronggok  tumpukan sayur mayur berwarna hijau muda. 

Saya mendekati kerumunan bocah-bocah kecil yang tengah rebut-ribut berebutan air di MCK darurat. Begitu jarak kami hanya sepelemparan batu, mereka serentak menatap saya dan diam seketika.”Kenapa diam? Takut saya makan ya?” Mereka tertawa malu-malu.

Salah satu bernama Reva (11). Matanya tajam, wajahnya tegas dengan rambut model Duran-Duran, kelompok musik pop Inggris yang tenar pada 1980-an. Di atas dada Reva,melingkar kalung tali karamantel berwarna hitam. 

Temannya,Yusuf (10) justru sebaliknya: agak pendiam dan malu-malu. Fawzi agak kocak namun memiliki mata aneh yang sorotnya mengingatkan saya pada Latamso,bocah Poso yang 2 tahun lalu saya temui di kawasan Lombogia tengah memainkan belasan butir peluru AK 47. Ada juga Wulan dan Puji, dua gadis kecil yang kalau bicara suka berebutan dan saling menimpali satu sama lain.

Mereka berlima adalah murid SD Cikaniki Pangalengan. Sebuah sekolah dasar samping lapangan sepakbola yang  kini kondisinya menyedihkan akibat Jumat 2 pekan lalu dihantam lindu berkekuatan 7,3 dalam skala richter .”Kami tidak bisa belajar,karena semua kelas penuh debu dan batu,”ujar Reva.

 Reva benar. Ketika saya dan Denny Abdullah—salah seorang teman relawan lokal—menengok SD Cikaniki, suasana sekolah memang sudah tidak jelas juntrungannya.  Hampir di setiap kelas, kami menemukan tembok-tembok dan platform jebol. Serpihan tembok dan debu bertebaran di mana-mana, memenuhi bangku-bangku reyot dan buku-buku pelajaran yang  terserak begitu saja.

 Yusuf cerita kepada saya, sudah seminggu ia dan kawan-kawannya tidak bersekolah. Kendati 2 hari pertama, ia mengaku gembira bisa libur tapi lama-lama ia mengaku  jenuh juga. Selain itu, tak dapat dipungkiri Yusuf pun merasa kangen kepada teman-teman dan guru-gurunya. Lalu kemana teman-teman dan guru-guru mereka?

“Tidak tahu,mungkin ada di tenda-tenda yang ada di desa lain,”ujar Yusuf dalam bahasa Sunda.  

Tak ada aktifitas yang jelas selama di pengungsian. Guna membunuh waktu, kegiatan para bocah itu jika tidak bermain ya membantu orangtua mereka. Macam-macam kegiatan yang disebut membantu orangtua tersebut. Ada yang ikut menjadi kuli panggul di pasar, ikut dagang, atau sekadar mengasuh adik-adiknya yang masih balita.

Bunyanun Marsus mengakui situasi yang sangat “tidak sehat” secara psikologis dari anak-anak tersebut. Menurut Kepala Desa Margamulya itu, kini ada ribuan anak-anak korban gempa di Pangalengan yang pendidikannya terbengkalai begitu saja. “Sementara ini mereka seolah putus dengan masa depan mereka,”ujar lelaki kelahiran Pangalengan 45 tahun lalu itu.

Dalam kondisi seperti itu, adakah  langkah yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung atau Provinsi Jawa Barat? Bunyan menggeleng lemah. Alih-alih menyediakan tempat belajar sementara, memberi hiburan kepada anak-anak para pengungsi itu pun tak mereka lakukan.

“Tak ada mereka kesini,”ujar Entin (49), salah seorang dari orang tua murid SD Cikaniki.

 Pagi kian tegas menyeruak suasana Pangalengan. Di dekat tenda yang berwarna biru, dua orang bocah tengah bersitegang. Rupanya mereka tengah memperebutkan sebungkus mie instant yang kemasaanya sudah agak terbuka.Tak ada kompromi di antara mereka, pertikaian berakhir dengan dikuasainya kemasan mie instant oleh Si Kuat. Dan Si Lemah? Hanya bisa meraung-raung memanggil-manggil ibunya. (hendijo)


Tag: reportase

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Agus PW 0 0
    Menarik ; "pertikaian berakhir dengan dikuasai mie instan oleh si Kuat". Ini sindiran atau kenyataan mas...

    Mohon maaf para petinggi negara baru sibuk urus Mentri sama Bank Century, jadi belum sempat mikirin apakah rakyatnya sekolah atau tidak.. Sekali lagi mohon maaf..
    Esemge 0 0
    Agus PW: sudah dimaafken daripada yang mana tidak dimaafken..
    Agus PW 0 0
    Esemge: kok jadi gaya bahasa Orba.. Anteknya ya...he.he..
    Esemge 0 0
    Agus PW: aku cuman meniruken butet yang mana juga meniruken alm mbah kakung
    Agus PW 0 0
    Esemge: kayaknya betul-betul merindukan...
    hamatamu 0 0
    kabar dari kawan sawung & @hendijo, koordinasi masih menyedihkan sekali & PMI membutuhkan GPS untuk mendata titik pengungsian. sepertinya bencana kali ini cuma dilihat sekilas karena tidak ada embel-embel nasional? : |
    hamatamu 0 0
    kalau satkorlak memble, mungkin data bisa minta UN-OCHA. atau ada pihak lain yang bertindak sebagai media center? : |
    Silly 0 0
    aduh, menyedihkan sekali kondisi disana yah. We wish we can do something. Politikana punya perwakilan yang kesana gak sih? Ngerumpi nitip ikutan nyumbang dong... : )
    hendijo 0 0
    Silly:
    sy kasih saran kalau mau kasih bantuan, benar-benar harus punya link di sana,yg tentunya kita bisa percayai untuk menyalurkan ke orang2 yang membutuhkan...Jadi ilustrasinya begini: begitu datang mobil yang berisi bantuan,beberapa petugas mencegat mobil itu dan bilang "silakan bantuan ditampung aja di Kecamatan" Nah kalo kita punya tujuan pasti, kita tinggal bilang kami akan kasih ke posko anu,dan akan lebih baik kalau orang yang jadi link kita memandu dan stand by di jalan utama...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat