Provokasi, Apakah Perlu ? 4

Minggu, 13 Sep '09 12:17, dibaca 488 kali

Provokator, suatu kata yang berkonotasi sangat jelak. Saat kita mendengar kata itu maka salah satu persepsi yang ada dibenak kita adalah penjahat yang melakukan tindakan untuk membakar kemarahan pihak yang diprovokasi. Kata ini juga sering semena-mena dipakai untuk menstigma suatu kelompok atau orang yang kita tidak sukai.  

Jika ada pihak yang disebut sebagai provokator maka tentu ada pihak yang disebut sebagai pihak yang terprovokasi. Terkadang sebuah provokasi tidak mencapai hasilnya, karena pihak yang diprovokasi tidak menjadi terbangkitkan rasa kemarahannya lantaran tindakan provokasi ini. Seringkali pula, jika ada pihak yang terprovokasi itu tidak menjadi bangkit rasa marahnya, maka kita menyebutnya sebagai pihak yang dewasa dalam berfikir dan dalam bertindak.

Pada kasus terakhir ini dapat kita lihat pada kasus hubungan antara Indonesia dengan Malaysia. Ini berkait dengan provokasi di ranah rasa nasionalisme.

Banyak pihak yang bertindak sebagai provokator, mengungkap berbagai informasi fakta yang bernuansa mengompori rasa marah rakyat Indonesia. Diungkap berbagai fakta berkaitan dengan Tari Pendet, Pulau Jemur, Pelecehan atas lirik lagu Indonesia Raya, dan yang lain sebagainya. Pada kasus ini banyak kelompok di masyarakat Indonesia menjadi marah karenanya, namun ada pula yang tak marah karenanya.

Termutakhir adalah soal Gerakan Ganyang Malaysia dan rencana sebuah kelompok yang akan mengirimkan 1.500 sukarelawan ke Malaysia. Dalam konteks ini, dilakukan warming up dengan melakukan Sweeping terhadap warganegara Malaysia yang ada di Indonesia.

Tindakan Sweeping ini kemudian membuat pihak Malaysia bereaksi, pihak kementrian Malaysia memanggil Dubes Indonesia untuk Malaysia. Tak hanya pihak Malaysia saja yang menjadi terpalingkan perhatiannya kepada tindakan ini, pihak Indonesia pun kemudia tersulut pula untuk menjadi serius menanganinya. Sampai-sampai juga membuat Mantan Wapres Indonesia, Tri Sutrisno, menyempatkan bertemu dengan Presiden SBY untuk membahas soal hubungan Malaysia dengan Indonesia ini.

Dalam konteks ini kita apakah menyebut pihak yang memberikan informasi fakta adanya masalah di soal Tari Pendet, Pulau Jemur, Pelecehan atas lirik lagu Indonesia Raya, itu sebagai provokator ?.

Apakah juga kita akan mempermasalahkan mengapa informasi fakta itu dibuka ke ranah public ?. Mengapa tak dilakukan saja upaya diplomasi agar tak menyulut kemarahan rakyat Indonesia ?.

Hal yang lainnya, mana yang akan kita persalahkan, kelompok yang terprovokasi (baca : bangkit rasa Nasionalismenya) karena adanya berita informasi itu ?. Atau kelompok yang tak terprovokasi (baca : tak bangkit rasa Nasionalismenya) karena adanya berita informasi itu ?.

Ada kelompok yang menilai buat sebagian yang tidak menjadi bangkit rasa kemarahannya, maka pantas dipertanyakan rasa nasionalismenya.

Bisa jadi memang benar bahwa seharusnya rasa nasionalisme kita menjadi bangkit. Tapi tentu bangkitnya rasa nasionalisme itu tidaklah elok jika diwujudkan dalam tindakan yang berlebihan dan cenderung bernuansa anarkis.

Selainnya itu, banyak pihak yang mempersalahkan kelompok yang melakukan tindakan sweeping itu. Tak kurang yang menilainya sebagai tindakan yang berlebihan yang dapat memprovokasi hubungan Indonesia dengan Malysia menjadi lebih buruk lagi.

Namun, dari sisi lainnya, ada hikmah dibalik tindakan provokasi kelompok yang melakukan sweeping ini, yaitu pihak pemerintah Indonesia (termasuk pihak pemerintah Malaysia) menjadi serius menangani masalah ini.

Semoga, karena adanya tindakan provokasi itu, maka kedua belah pihak segera melakukan pembenahan-pembenahan yang serius terhadap akar masalahnya, sehingga di masa depan menjadi harmonis hubungan kedua bangsa.

Lalu, pantaskah jika kemudian mengucapkan terimakasih kepada provokator yang telah melakukan tindakan Sweeping itu ?.

Wallahualambishshawab.

 

*

Artikel terkait yang berjudul ‘Information of Power’ dapat dibaca dengan mengklik disini

*



Tag: Nasionalisme, media, internet, provokasi, Provokator

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Esemge 0 0
Sibling rivalry
cibro 0 0
[ Lalu, pantaskah jika kemudian mengucapkan terimakasih kepada provokator yang telah melakukan tindakan Sweeping itu ? ]

Kalau menurut saya, bagaimana menurut Anda sajalah... gmn baeknya getho, asal jangan ada dendam di antara kita.... ; ))
Dominiq 0 0
Provokasi jaman sekarang kayaknya udah ketinggalan Kereta Om...udah pada melek info sich
conscientizacao 0 0
Maksute mau nunjuk media massa sebagai provokator, gitu tho cah?

Silahkan login untuk memberikan pendapat