Terima Kasih Telah Memecah Belah Kami! 16
Selasa, 15 Sep '09 06:18
Kepada Bapak2 dan Ibu2 Anggota Dewan Yang Terhormat,
Meski masa jabatan anda untuk periode 2004-2009 akan berakhir pada tanggal 30 September nanti, namun kinerja anda dalam membuat undang-undang sangatlah luar biasa. Klaim akan diselesaikannya 22 undang-undang dalam waktu sebulan sampai akhir periode tampaknya akan tercapai.
Namun, apakah itu yang kami inginkan? Apakah kami tampak begitu ingin mendapatkan warisan bertumpuk-tumpuk undang-undang dari akhir masa jabatan anda semua?
Padahal keinginan kami sederhana sekali. Kami hanya ingin anda menjadi wakil kami yang sebenar-benarnya. Bukan wakil penguasa, atau wakil pengusaha.
Wakil kami yang tidak tidur ketika sidang soal nasib rakyat. Wakil kami yang tidak mangkir ketika sidang soal hajat hidup orang banyak. Wakil kami yang tidak tuli ketika aspirasi rakyat datang menghampiri. Wakil kami yang tidak buta ketika kesewenang-wenangan terjadi. Wakil kami yang tidak risih ketika harus turun ke dusun-dusun terbelakang. Wakil kami yang tidak gagap ketika berbicara tentang kebenaran. Wakil kami yang punya nyali untuk bertindak benar. Wakil kami yang punya hati untuk berkata: Stop Korupsi!
Apakah keinginan kami terlalu berlebihan? Apakah penghasilan anda dari uang pajak kami tidak cukup untuk memenuhi keinginan kami?
Kami tidak ingin undang-undang yang dibuat asal jadi. Kami tidak ingin undang-undang yang justru membungkam mulut kami. Kami tidak ingin undang-undang yang justru membuat koruptor tertawa bahagia.
Pernahkah anda berpikir untuk menanyakan keinginan kami? Tahukah anda bahwa dengan begitu banyaknya undang-undang yang dibahas membuat masyarakat tidak dapat memberikan perhatian khusus terhadap pembahasan suatu undang-undang? Tahukah anda bahwa dengan begitu banyaknya undang-undang yang dibahas membuat konsentrasi masyarakat terpecah belah dalam menyikapinya?
Mungkinkah hal itu yang memang anda sekalian inginkan? Agar bertumpuk-tumpuk undang-undang itu dapat lolos dengan mudah tanpa hambatan berarti?
Kalau memang demikian yang anda sekalian inginkan, kami ucapkan selamat. Anda sekalian telah berhasil memecah belah konsentrasi kami sehingga tidak mampu mengikuti dan menyikapi semua pembahasan undang-undang yang nantinya akan diberlakukan kepada kami. (Atau mungkin yang akan diberlakukan kepada anda juga saat anda pensiun nanti)
Bapak2 dan Ibu2 anggota Dewan yang terhormat, kami mengucapkan terima kasih atas pengabdian anda selama ini. Terima kasih juga telah memecah belah konsentrasi kami di akhir masa jabatan anda. Semoga pada saat anda pensiun nanti, anda bisa merasakan sendiri apa yang kami rakyat biasa rasakan akibat penerapan hasil karya anda.
Tangerang, 15 September 2009
Ari Juliano Gema
Seorang rakyat biasa
(foto: 4.bp.blogspot.com)
Tag: DPR, undang-undang
Terkait:
-
Dokter pun Bisa Sakit, Bagaimana....?
Rabu, 10 Mar '10 08:59 -
trus apalagi?
Selasa, 9 Mar '10 17:50 -
KPK Harus Tangkap Koruptor Bank Century
Senin, 8 Mar '10 21:55
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Biasa
-
Laksamana: Bagus
-
heriyadi: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
Lemon S. Sile: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
mpokb: Menarik
-
Red-White Eagle: Penting
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
yusro: Penting
-
Slamet: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
gesedese: Menarik
-
BD cafe: Inspiratif
-
marios marios: Penting
-
Restiono: Menarik
-
Logical Fallacy: Bagus
-
boiga: Menarik
-
Ndoro Kakung: Keren
-
santi-ong: Menarik
-
mustofaninoff: Bagus
-
karimj: Menarik
-
akusuka: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
kok saya cuma tahu beberapa yak? tugas sosialisasi undang-undang itu ada di tangan siapa?
Dik Ari Juliano Gema,
Sampeyan ndak usah terimakasih seperti itu. Ini memang sudah tugas kami sebagai wakil rakyat. Membikin undang-undang sesuai target waktu.
Memang kami jarang mencari masukan dari rakyat dalam pembuatan undang-undang tersebut, karena kami hakul yakin, bahwa kamilah yang paling tahu apa yang diinginkan rakyat, karena kami adalah wakil rakyat.
Bahwa undang-undangnya ndak jelas, mewakili kepentingan penguasa dan pengusaha, membungkam kebebasan rakyat. Itu adalah bagian dari dinamika supaya rakyat bisa mengkritisi, menyampaikan usulan perubah melalui jalur yang berlaku. Selanjutnya wakil rakyat berikutnya akan dapat proyek lagi untuk mengamandemen undang-undang itu tadi.
Bung Ajo yang kritis.... jangan berterima kasih kepada kami.... kami lah yang harusnya berterima kasih kepada Bung Ajo sebagai rakyat biasa dan jumlahnya sedikit (minoritas).
Kalo saja banyak rakyat yang kritis di negeri ini, kami yakin... kami tidak akan pernah terpilih menjadi wakil rakyat.
Silahkan login untuk memberikan pendapat