HARI KEMENANGAN 12
Sabtu, 19 Sep '09 21:30
Orang sering menyebut saat seperti ini, saat merayakan hari raya fitri begini, sebagai hari kemenangan. Orang yang menyebut demikian itu entah sekadar latah atau memang merasa menang. Tapi, perasaan atau anggapan yang umum memang menunjuk kepada ’kesuksesan’ menjalani ibadah puasa Ramadan. Logika gagahnya, kita sudah berjuang sebulan penuh melawan hawa nafsu kita dan berhasil; maka kita berhak merayakan kemenangan ini. Perasaan atau anggapan ini mirip dengan kelegaan atau bahkan kepuasaan kita saat selesai menunaikan salat atau pulang dari ibadah haji.
Agar kita tidak selalu mengulang-ulang pengungkapan perasaan atau anggapan yang boleh jadi sekadar menghibur diri, kiranya perlu sesekali kita mengadakan rekonstruksi jalannya ’perjuangan’ kita itu. Soalnya, ada dawuh yang menyatakan, ada orang berpuasa yang hanya mendapatkan haus dan lapar.
Kita bisa menelusuri hari-hari Ramadan kita selama ini sambil mencermati apa yang sudah kita kerahkan bagi ’perjuangan’ meraih kemenangan hari ini. Kita mulai dengan kesibukan kita bertarawih yang biasanya gegap-gempita di surau-surau dan masjid-masjid. Kita menyaksikan tidak jarang ibadah ritual yang khas Ramadan itu nyaris kehilangan kekhusyukannya oleh ’semangat syiar’ sebagaimana terjadi di bagian-bagian lain dari peribadatan dan keberagamaan kita. Tua-muda, laki-laki-perempuan, dan anak-anak berbaur dalam ’kegairahan’ pelaksanaan salat. Dalam salat ini yang timbul mungkin dari keunikan jumlah rakaatnya yang tak biasa kita lakukan sehari-hari di bulan lain.
Lalu terbangun dini hari untuk mengisi perut dengan sedapat mungkin cukup untuk menopang tubuh kita hingga magrib esok hari, seperti ketika kita mengisi tangki kendaraan kita di pom bensin untuk menempuh jarak perjalanan tertentu. "Imsaknya jam berapa?" adalah pertanyaan yang sering terdengar dari mulut mereka yang tak yakin sudah cukup mengisi ’bahan bakar’ bagi esok hari.
Esok hari adalah hari yang terberat. Rasanya badan malas diajak bangun dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Keterlambatan kerja pun dimaklumi belaka oleh semua orang karena alasan suci puasa Ramadan. Tidur siang hari adalah sesuatu yang paling nikmat. Apalagi, banyak ustad mengatakan tidurnya orang puasa adalah ibadah. Sudah nikmat dapat pahala pula. Sore hari adalah saat mencari perintang-rintang waktu untuk ’mempercepat’ datangnya magrib, saat berbuka. Bahkan, di Jawa Barat ada istilah ngabuburit yang menunjuk kepada kegiatan ’mempercepat saat puasa’ itu.
Magrib adalah puncak ’syiar’ sebelum sampai ke siklus tarawih lagi. Kadang kelakuan kita seperti kelakuan orang yang sudah berhari-hari tidak makan lalu mendapatkan makanan. Ada yang dengan dalih mulia -daripada salat ingat makan, lebih baik makan ingat salat- menyerbu beraneka-ragam jenis makanan seperti balas dendam. Sering orang belum salat magrib, lupa kalau waktunya sangat pendek; atau menganggap di bulan puasa waktu magrib diperpanjang hingga selesai santap buka.
Setelah itu dan setelah tarawih, ada sementara umat Islam yang melakukan tadarus, ramai-ramai membaca Alquran. Alquran yang katanya pedoman hidup mereka ini memang -aneh!- jarang dibaca di hari-hari lain. Sayang, ketika berkenan membaca kitab suci mereka di bulan suci ini, banyak yang membacanya seperti sopir mengejar setoran. Begitu cepatnya hingga tak dikenali huruf-huruf dan makhraj-nya oleh yang mendengarkan.
Lalu jerih payah perjuangan seharian dan ibadah malamnya akan mendapat hiburan yang cukup. TV-TV dengan baik hati telah menyajikan tayangan-tayangan yang serba ’Islami’ sepanjang malam. Bahkan, goyangan bokong pun sudah dibungkus rapi, hingga kaum beriman tak perlu terlalu risi menikmatinya.
Tidak itu saja. TV-TV juga menyelipkan di sana-sini ustad-ustad dari berbagai aliran untuk bersaing menghibur kita dengan para artis. Alhamdulillah, perjuangan pun menjadi ringan kita tanggungkan dan tak terasa Ramadan pun cepat berlalu. Bahkan, bagi sebagian umat, ada yang merasa sudah selesai Ramadannya begitu malam tiba. Bukankah sudah buka, maka kehidupan malam pun dijalani sebagaimana hari-hari biasa di luar Ramadan. Artinya, bukan hanya yang halal-halal, hal-hal haram -biasanya yang sudah biasa dilakukan- pun di malam hari ikut menjadi halal.
Itu yang tampak. Mungkin ada yang tak tampak pada tampilan-tampilan lahir itu. Misalnya, ketika di siang hari, kita menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu -seperti makan-minum- yang di hari-hari bulan lain dihalalkan, mungkin ada yang mencerdasinya sebagai ’memberi pelajaran’ kepada nafsu yang selama ini umbar-umbaran atau sebagai latihan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan. Siapa tahu sehabis Ramadan, diri menjadi terlatih dan kuat untuk menahan godaan yang selama ini biasa dijumpai di mana-mana, termasuk dan terutama yang ada dalam diri sendiri. Dan, menyadari kebenaran puisi Busheiri -Annafsu katthifli in tuhmilhu syabba ’alaa/ hubbir radhaa’I wain tafthimhu yanfathimi (Nafsu bagaikan bayi bila kau biarkan akan besar dia/ dengan terus suka menyusu dan bila kau sapih akan tersapih jua).
Kesukaan kita kepada dunia -harta, pangkat, dan wanita- sungguh sudah melebihi kesukaan bayi terhadap susu. Mungkin karena hingga sekarang, kita tak pernah disapih atau menyapih diri; malah seperti terus diujo, dibiarkan, dan dituruti. Lalu menjadi semacam penyakit. Kita pun seperti membiarkan diri kita dipermainkan dunia. Dunia sengaja mengiming-imingi mainan kepada kita dan ketika kita mendekatinya, dia pun lari agar kita mengejarnya. Lalu ngos-ngosan kita mengejarnya. Begitu kita menangkap mainan itu, dia mengiming-imingi kita lagi dengan mainan yang lain. Begitulah seterusnya hingga kita kehabisan tenaga dan tiba-tiba selalu seperti mengejut, maut menjemput kita tanpa memberi kesempatan lagi kepada kita untuk menghitung perolehan kita. Selalu begitu.
Lihatlah mereka yang tak tahan melawan godaan harta. Kehormatan dan harga diri pun mereka pertaruhkan. Padahal, sebesar apa pun, harta tak pernah bisa memuaskan manusia. Sikatlah semua yang halal dan yang haram! Mintalah atau terimalah sogokan yang disodorkan kepada Anda! Makanlah semua harta yang dipercayakan kepada Anda sebanyak-banyaknya! Percayalah, Anda tak akan puas juga; sebelum orang menjejalkan tanah ke tempat tinggal Anda yang terakhir. Liang lahat. Takdir Anda yang niscaya.
Lihatlah mereka yang tak tahan kepada godaan pangkat. Rasa malu pun mereka siap menyingkirkannya dan sikap tega pun dengan enteng mereka ambil, demi kehormatan dan kekuasaan sesaat. Padahal, setinggi apa pun kedudukan, ia takkan langgeng. Rebutlah kedudukan dengan paksa atau tipu daya! Gunakan segala kemampuan dan kekayaan Anda dan nikmatilah kursi yang Anda dambakan hingga pantat Anda lecet. Percayalah Anda tak akan terpuaskan, sebelum Anda terjungkal dan diabaikan atau terkapar diusung orang.
Kepuasan ada dalam diri. Karena itu, hanya mereka yang dapat menguasai diri yang dapat merasakan kepuasan sejati. Mereka yang membiarkan diri mereka dikuasai dunia, nafsu, dan setan, hanya akan lelah hingga ajal mereka.
Maka berbahagialah mereka yang dapat mencerdasi anugerah Allah berupa puasa Ramadan ini dan menggunakannya untuk menyiasati dan membenahi diri. Berbahagialah mereka yang setelah ini menjadi orang kuat yang mampu mencibir segala godaan dari mana pun yang akan menjerumuskan mereka. Mereka yang berjuang bagi menundukkan segala sesuatu -selain Allah- yang selama ini menjajah diri. Dengan demikian, mereka berhak mensyukuri kemenangan dan menjadi khalifah Allah yang merdeka dan berkuasa. Bukan budak yang terus terbelenggu oleh kepentingan dunia yang sementara. Dan, selanjutnya, setelah Ramadan berlalu, mereka pun menjadi manusia baru. Manusia yang benar-benar manusia yang tidak rakus seperti tikus; tidak buas seperti macan; tidak licik dan kejam seperti serigala; tidak menjilat seperti anjing; tidak seperti monyet yang tak tahu malu; tidak seperti keledai yang tolol… Menjadi manusia fitri.
Kepada mereka ini, sudah selayaknya kita sampaikan selamat hari raya dan selamat atas kemenangan mereka. (Ahmad Mustofa Bisri)
Tag: kemenangan, gusmus, hari
Terkait:
-
1.Nabung dan 2.Belanja
Jumat, 29 Jan '10 08:09 -
Seratus Hari
Kamis, 28 Jan '10 06:34 -
Cicak, Pahlawan Yang Diimpikan
Selasa, 10 Nov '09 17:34
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ndableg: Bagus
-
NOS: Menarik
-
Sri Kirana: Bagus
-
umbaran: Bagus
-
hendijo: Bagus
-
boiga: Bagus
-
conscientizacao: Bagus
-
tkp: Bagus
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
rianty: Inspiratif
-
hamatamu: Bagus
-
yusro: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
salam kemenangan pakdhe, merdeka!!
*lebarantidakpulangkampung*
hendijo: Maksutna aapaan nih?
Minal aidin juga untuk semua... Paling tidak, semoga cermin di rumah sekarang lebih bersih, sehingga mampu memantulkan bayangan diri kita secara lebih utuh dan obyektif
__
rasanya mau ngelus2 itu pipi ustadz2...
btw, saya posting kok mirip2 ini ya? tapi biarlah..
Ya semua kapitalis berpesta pora dengan segala suka cita memanjakan nafsu konsumtif sebagian manusia-manusia yang sudah menahan nafsu selama sebulan hehehehe
Maaf Lahir Bathin untuk Semua.
Silahkan login untuk memberikan pendapat