Janji Joko, Janji Saya dan Janji Mereka 36
Jumat, 25 Sep '09 01:51
Creeps with guns scare me. Are we back in the 80s again?
~ on Porn, Lonely Judges, Red Alert and Morrisey
Tadi malam ada pertemuan beberapa tokoh dan perancang hukum terbaik di negeri ini. Isi pertemuan mereka tampaknya penting dan saya tidak diikutkan mendengar atau berbicara karena lebih banyak merokok di luar. Setiap beberapa saat, beliau beliau itu melangkah keluar untuk sebatang rokok – hanya bagi yang masih bisa menerima asap rokok – dan saya sempat berbagi cerita.
Tentang KPK, anti korupsi, polisi, konstitusi dan prostitusi lain di negeri ini. Kebanyakan orang kayaknya tidak terlalu semangat untuk berdiskusi dengan blogger yang tidak jelas juntrungannya. Saya juga biasanya tidak banyak berguna diruangan yang tidak boleh merokok.
Tadi pagi, saya terima imel dari beberapa teman yang biasa berorganisasi. Tampaknya tidak ada yang mau terima salah kalau situasi yang seperti sekarang ini dibilang sudah keblinger. Teman saya ini – sekarang tidak berada di Indonesia, bersekolah diluar negeri dan sedang menunggu kabar bahagia – dia biasa berada di kalangan gerakan mahasiswa jaman reformasi dulu dan tampaknya agak tersinggung kalau dibilang mereka gagal. Gak tahu persis, zaman sekarang ini, komunikasi yang instan itu seringkali menghilangkan aromanya sebuah pesan pribadi. Mungkin saja teman saya itu hanya sekadar berbicara kegelisahannya sendiri dan cuma sekadar curhat.
Kembali ke cerita tadi malam, beberapa orang yang keluar merokok kemudian ngobrol sedikit soal twitter dan Joko Anwar dan aksi telanjangnya di Circle K di Bintaro. Ada yang tanya apa itu “twitter” dan siapa itu Joko Anwar dan kenapa dia telanjang di Circle K tengah malam.
Mungkin karena saya memang suka di Twitter jadi saya dipaksa menjelaskan pertanyaan ini, walaupun sebenarnya gak tahu apa apa. Undang Undang Film yang baru ini kan lebih konyol dari intuisinya Harmoko dulu, teman teman yang di film sudah jungkir balik nangis, nyanyi dan teriak, tapi kayaknya sedikit yang dengar, walaupun efek televisinya punya beberapa momen dramatis.
Saya bilang mungkin Joko memang gak tau apa apa dan cuma bisa tau omongannya sendiri, jadi dia memang konyol karena dia tahu ini sudah terlalu konyol. Saya gak kenal dengan Joko Anwar, tapi saya sendiri tidak terlalu yakin siapa yang gila saya atau dia. Saya kok tidak terlalu heran bahwa seorang sutradara Indonesia mendadak gila.
Poprishchin, itu tokoh utama dalam kisahnya Nikolai Gogol dalam Catatan Harian Seorang Gila. Ceritanya dia itu pegawai negeri yang jadi gila karena ingin mencuri perhatiannya seorang perempuan cantik. Ceritanya agak lucu walaupun sering agak miris tapi jadi gambar yang tidak terlalu aneh untuk kegilaannya orang dijalanan atas pemerintah mereka yang gagal masuk diakal. Mungkin kita yang mendadak waras.
Malam yang tadi, ada acara di Hard Rock FM, Joko Anwar dan teman temannya datang untuk cerita kenapa dan bagaimana. Kata Pandji – penyiar radio yang sekarang juga katanya jadi nabi di twitter – dalam acara yang judulnya provokasi, pertanyaan besarnya adalah, seberapa berani kita di Twitter?
Saya kemudian twit – kebebasan itu gak ada artinya kalau yang menggunakan gak tau rasanya bebas. Apa artinya bebas kalau rakyat itu masih jadi budak takut? )
Saya punya anjing yang kalau saya lepas pun, dia tak mau lari jauh. Kebebasan itu bukan diukur dengan talinya, tapi oleh anjingnya.
Saya angkat jempol untuk Joko dan teman teman. Janji itu janji – percuma punya suara kalau terlalu pekak untuk mendengar janji janji bohong.
Rakyat mungkin bodoh – dan kadang gila – tetapi toh biasanya mereka tidak terlalu bodoh untuk tidak bisa mengenali orang bodoh. Janji itu ikatan terakhirnya pemimpin – kalau bicaranya pun sudah tidak bisa dipercaya, apa bedanya kata kata yang dicetak manis dengan Joko yang telanjang masuk supermarket?
Rakyat yang banyak itu kan cuma bisa ikut, milih, nyontreng. Aspirasi dan harapan atas bangsanya dan pemimpinnya itu sarat dengan teriakan yang kepingin didengar – Kalau caranya itu dengan harus telanjang masuk ke supermarket, saya yakin masih banyak lagi yang siap telanjang. Saya siap untuk telanjang, tapi jelas titit Joko lebih populer dari titit saya jadi biar saja dia yang telanjang sekarang. Kita dulu pernah digebuki dan dan dipukuli, jadi fenomena twitter itu bukan konsekwensi terburuk, walaupun mungkin agak absurd.
Dulu, sebelum rame dengan #indonesiaunite dan macam macam lain, ada yang bikin kampanye Jangan Bikin Malu. Negaranya sekarang diatur sambil makan ketupat dan konstitusinya sekarang dibedah dengan SMS, kebijakan hukum dan ekonominya seperti mengarang bebas.
Sebelah mananya yang kita bisa tidak malu?
Masalahnya terlalu banyak memang kita semua terlalu sibuk untuk mau pura pura perduli. Lebaran cuma sekali. Politik itu biar diurus oleh orang orang penting.
Masih dari twitter, Joko Anwar, Novariyanti dan beberapa teman lain bicara soal Stop Pemiskinan dari PBB. Pada saat interview di radio, mereka cerita bahwa di PBB mereka diminta mencari figur yang bersih dan bermoral baik. Katanya ulama dan pemuka agama marah karena lebarannya dinodai. Orang orang tua yang sibuk bicara dengan nilai nilai mereka, sementara orang miskin dirazia di jalanan di Jakarta?
Saya lebih setuju dengan caranya Joko – tidak elegan mungkin, tapi memang karena permurtadan nilai yang dilakukan di negeri ini itu tidak lebih baik dari janji janji kosong yang tidak bisa dipegang, dan lebih mudah ditelanjangi.
Di pertemuan yang satu lagi, seperti di televisi, semua orang lagi bicara soal janji yang satu lagi. Janji janji bangsa yang katanya mau perang lawan korupsi dan segala bentuk pemalingan – siap jihad dan pasang integritas dengan segala aksesori mahalnya.
Dengan penuh rendah hati saya – untuk yang terhormat Pak Todung Mulya Lubis dan bapak bapak lain yang sementara tertunjuk jadi juru bicara Presiden sementara beliau absen – bapak bapak ini kan sekarang jadi martir legitimasi publik terhadap logika bernegara yang makin lama makin berantakan. Bagaimana rakyat yang bodoh ini mau belajar paham kalau pelajarannya versi pelesetan terus?
#stoppemiskinan - rakyat punya apa kalau sudah miskin - hak politik mereka pun termenerus dirampas dalam sebuah proses yang katanya atas nama demokrasi dan masyarakat berwibawa? Dimana letak wibawanya?
Waktu dulu Senayan perlu diduduki dan dipasang mikropon baru, kita dijanjikan pemerintahan yang baru, yang katanya lebih baik. Tidak perlu cerdas dan tidak selalu harus bijaksana, tetapi paling sedikit reformasi waktu itu bicara soal integritas dan pembenahan reformasi birokrasi, seperti ceritanya Nikolai Gogol tadi yang bingung sama tata acara Tsar Nicholas. Kalau katanya rakyat Indonesia kebanyakan masih bodoh, mungkin karena memang yang memimpin tidak mampu menjelaskan dengan baik.
Kalau tidak diundang makan ketupat dan sms rembug urus negara, Poprishchin jadi gila dan Joko Anwar telanjang di Circle K – rakyat yang lain bisanya cuma twitteran dan jadi pelengkap penggembira.
Gak tau siapa yang lebih waras, kita atau mereka karena semua sudah gak tau aturannya. Kalau sampai tata cara berbusana belanja pun akan diatur di negeri ini, saya berjanji juga akan lari telanjang di Circle K yang saya pilih sendiri dan tidak bilang bilang orang lain.
Tag: twitter, bukan pemerintah, ngobrol
Terkait:
-
Pernyataan Mario Teguh Tidak Selalu Mempesona (?)
Senin, 22 Feb '10 10:20 -
Menkominfo (Menteri Kontroversi dan Miskomunikasi)
Kamis, 18 Feb '10 18:52 -
Tanggapan APJII Terhadap Polemik RPM Konten
Rabu, 17 Feb '10 21:27
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
NOS: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
pandeg ruwahananto: Menarik
-
Roby Muhamad: Bagus
-
HTN: Keren
-
boiga: Menarik
-
bramedia jatiraga: Bagus
-
hamatamu: Biasa
-
Esemge: Bagus
-
hendijo: Penting
-
ndableg: Bagus
-
Nenda Fadhilah: Inspiratif
-
umbaran: Bagus
-
conscientizacao: Biasa
-
sipandu: Bagus
-
Ronsen: Bagus
-
yusro: Bagus
-
Manohira: Keren
-
cosmiclawyer: Bagus
-
karimj: Lucu
-
teruterubozu: Biasa
-
samsara: Menarik
-
Sri Kirana: Biasa
-
WicakS: Keren
-
jamur: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
akhirnya pakdhe fello citizen bikin artikel pake bahasa uruguay!
baru kali ini tulisan bung fello citizen amat lugas dan gampang dimengerti ...
Buat saya, uneg-uneg seperti ini sudah terjadi sejak tahun 1999, persis ketika pemilu pertama setelah reformasi. Telinga saya sudah otomatis menangkap hal sebaliknya dari apa yang diucapkan penguasa. Termasuk mereka yang dulu mengaku reformis. Jangan-jangan saya ini sudah termasuk kategori orang gila juga...
Lha yang pernah diculik saja bisa merapat ke penculiknya! Meski saya tetap menghormati keputusan beliau sebagai "pejuang" yang jauh lebih gigih dari saya, yang cuma omong doang disini.
Yang gila memang sistemnya. Hanya sistem gila yang memungkinkan orang gila leluasa jadi penguasa. *Eh, berima!*
hamatamu: halah, #nasionalimesablonase ?
I'm still not sure how funny politikana really is.
conscientizacao: terima kasih bung, saya mengerti sekali maksud anda. 10 tahun sudah teriak reformasi sekarang orang bener yang mau bener harus takut masuk bui. Bedanya cuma sekarang semua naik mobil lebih bagus.
soal diculik itu kan kalau sudah terlalu ndableg. kalau masih bisa di rekrut jadi Tim Apainitu kan lebih elegan kelihatannya.
Sebenarnya bagian kedua tulisan ini, yang "Janji Mereka" ada di blog saya dalam bahasa Inggris. Mungkin bisa jadi catatan referensi #melawanlupa lagi.
bikin hashtag terus supaya twitter terdengar lebih serius!
http://treeatwork…crobats.html
lha?
apa tadi bahasanya? *keplok*
sekarang aku gak ngerti. disebelah mana?
LOL. You werent called "white man's burden"-ish, because of your language.
It was because you were first using exclusive londho's term like: "Stupid Indonesian Logic", and such.
Translation:
Hwakakakaka. Loe bukannya gw sebut rada2 bergaya "bebane wong londho", gara2 bahasa loe.
Tapi gara-gara loe pertamakali menggunakan istilah ekslusif "orang londho" seperti: "Logika Orang Indonesia yang bodoh", dan sejenisnya.
.............
Buat yang lain yang ndak nangkep referensinya, gw merefer ke sebuah puisi karya Rudyard Kipling berjudul "The white man's burden"[ Ref. http://en.wikiped…n%27s_Burden ].
Puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana cara pandang eurosentris memandang remeh segala hal yang tidak berbau western, sebagai sebuah bentuk imperialisme budaya.
Dengan menggunakan istilah seperti "Stupid Indonesian Logic", orang ini serta merta jadi pengejawantahan dari puisi tersebut.
baru kali ini tulisan bung fello citizen amat lugas dan gampang dimengerti ... )
karna pake bahasa uruguay itu mungkin mas umbaran ..
Kipling is always a good read though it was actually my ex wife that read them difficult stuff.
Tempek kalo nggak salah
Maksud saya anda?
Tidak, yang saya tulis bokong ayam...
Ah salah tulis....
[Maksud saya anda?
harusnya : Maksud anda, saya?
LOL. saya juga agak lucu sendiri mbacanya. sudah kepalang mbablas
yang saya ingat ya kasus dhanis itu, seperti yang dibilang macan di atas.
tapi tidak nyaman dengan tags awal berkesan "merendahkan" logika org Indonesia- seperti yg HOD jelaskan diatas
Eh,..
saya ternyata juga jatuh cinta dengan tulisan dalam bahasa Indonesianya...
Tapi seperti anda bilang,..
bahasa tidak masalah, yg penting isinya tersampaikan.
Semoga pemimpin2 kita yg ndak ngerti bahasa londo, bisa ngerti...
Silahkan login untuk memberikan pendapat