Penegakan Khilafah Islamiyah = Gerakan Oportunis? 69

Jumat, 25 Sep '09 04:02

Iklim di Indonesia telah terbuka. Gerakan-gerakan yang dahulu tiarap, kini dengan tanpa khawatir menampakkan diri.

Ada gerakan-gerakan yang masih mengakui dan bersedia bernaung dalam wadah NKRI, namun ada pula gerakan yang jika ditilik, konsekuensi perjuangan ini akan meniscayakan runtuhnya NKRI.

Mudah ditebak, salah satu model yang terakhir ini mengacu pada gerakan yang mencitakan berdirinya khilafah islamiyah.

Jika kita memakai logika Indonesia sebagai negara berdaulat, setiap yang berdaulat pasti akan berusaha mempertahankan kedaulatannya. Dan siapapun yang berusaha merongrong kedaulatan layak dianggap musuh utama.

Semisal Indonesia sebagai sebuah negara menyusun daftar siapa musuh-musuhnya, gerakan-gerakan semacam ini akan menghuni salah satu daftar teratas.

Kita semua mafhum, fokus tembak gerakan khilafah ini meniscayakan demokrasi perlu dihancurkan. Sedang di lain sisi, kita juga paham kalo salah satu yang hendak ditegakkan dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat dan berserikat. Dan disini terletak bagian menariknya.

Justru di negara dengan kebebasan berserikat (baca: demokrasi) seperti Indonesia, gerakan jenis ini diberi napas hidup. Tak usah jauh-jauh ke negara diktator, di Arab sana saja, organisasi macam ini tidak akan bebas hidup karena jelas mengusung prinsip yang tidak sejalan dengan pemerintah.

Jadi mereka dapat tumbuh justru di negara dengan sistem yang mereka tentang. Berkembang biak justru di sistem yang mereka anggap kufur absolut. Setelah dapat kesempatan hidup, alih-alih memberikan kredit, eh malah hendak menghancurkannya. Dan dalam persilatan politik sikap semacam ini sudah jelas labelnya: oportunis.

Apa yang bisa kita harapkan dari para oportunis?

Satu perihal besar mesti dipastikan pula. Andaikata khilafah itu berdiri, apakah mereka masih akan membiarkan tumbuhnya perbedaan, termasuk gerakan yang menentang khilafah, sebagaimana mereka sebagai gerakan penentang demokrasi dibiarkan tumbuh di negara demokrasi? Terus terang saya ragu.

Silahkan periksa mendalam tabiat gerakan-gerakan ini. Jika masih ada intoleransi, eksklusif, menganggap sebagai golongan terbaik dengan dalih menegakkan aturan Tuhan, menganggap sistem lain buruk absolut, berarti keraguan saya mendapatkan konfirmasi.


Tag: demokrasi, khilafah, NKRI, oportunis, HT

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    hamatamu 0 0
    atas nama demokrasi mereka dibiarkan bertumbuh kembang, begitu? ; ))
    Hafie El-Sadat 0 0
    islam tidak menawarkan konsep pemerintahan apapun. oleh karenanya, sepanjang demokrasi dapat mewujudkan kemaslahatan bagi umat, Islam dapat secara fleksibel berasimilasi dengannya.
    hamatamu 0 0
    jadi yang nawarin konsep seperti di dalam http://politikana…usi-ideologi ini bijimana bung Hafie El-Sadat? : )
    Hafie El-Sadat 0 0
    paparan dalam tulisan tersebut saya kira belum cukup untuk menjadi dasar argumen. Silakan baca tulisan http://www.facebo…4&topic=9972 untuk gambaran yang lebih gamblang
    hamatamu 0 0
    coba baca tulisan-tulisan serupa di Politikana medio Maret-April-Mei 2009 bung Hafie El-Sadat, ada yang syabab HT loh : )
    hamatamu 1 suka | 0
    Hafie El-Sadat: btw itu 'note' belum sampai 24 jam, siapa penulisnya? anda? : D
    Hafie El-Sadat 1 suka | 0
    bukan saya, tapi seorang mahasiswa al-Azhar (koordinator Lakpesdam Mesir)..kebetulan saya sedang bikin essay yang serupa, tapi cukup beda..
    hamatamu 0 0
    serupa tapi beda itu seperti apa? boleh dibagi dengan warga Politikana bung Hafie El-Sadat? : )
    umbaran 0 0
    oportunis ? menjual agama untuk kekuasaan ?
    nasionalisosialis 0 0
    umbaran : setuju...agama menjadi mata uang untuk membeli kekuasaan
    INDONESIA BUKAN ARAB SAUDI DAN BUKAN PULA AMERIKA SERIKAT....be your self !!!!
    mengapa kita selalu ingin menjadi orang lain??? bukankah kita yg beragam ini bisa menjadi yang terdepan, dan diikuti oleh orang lain...
    akusuka 0 0
    Quote :

    Ada gerakan-gerakan yang masih mengakui dan bersedia bernaung dalam wadah NKRI, namun ada pula gerakan yang jika ditilik, konsekuensi perjuangan ini akan meniscayakan runtuhnya NKRI.
    ----

    Apakah NII KW IX? Kalau memang KW9 membahayakan Republik Indonesia, lalu kenapa Pemerintah diam saja? Kenapa banyak orang2 ORBA di sana?

    Setahu saya khilafah islam dimotori oleh ex NII, sedangkan semacam Partai Keadilan Sejahtera, saya tidak yakin mampu membentuk negara ... sorry bukan underestimate kemampuan orang PKS.

    cek juga :
    Negara Islam Indonesia:
    http://akusuka.wo…m-indonesia/
    cibro 0 0
    hamatamu - Hafie El-Sadat - akusuka:
    ah... pening pun nengok kelen... suruh cek sana... suruh cek sini....
    Cek juga kantongnya... masih ada dompetnya gak!! : ))
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu:
    [_ atas nama demokrasi mereka dibiarkan bertumbuh kembang, begitu? ; )) _]

    Jadi mestinya diapain? Apakah harus kita kirim RPKAD untuk memburu mereka?
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: apa perlu bung? kan itu yang jadi pertanyaan saya diatas, ada tanda tanya tho? ada secuil kata-kata http://ngm.nation…/finkel-text halaman 2 ; "But it's a new democracy, still finding its legs"
    Striding Cloud 1 suka | 0
    hamatamu: Jadi, dikirimi RPKAD atau dibiarkan tumbuh berkembang? ; ))

    *ada tanda tanya juga kok.
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: lebih murah mana? ; ))
    conscientizacao 0 0
    hamatamu: Demokrasi harus mengakomodir perbedaan pendapat, bahkan di tingkat ideologi sekalipun... Saya rasa memang ya, mereka pantas mendapat tempat untuk tumbuh & berkembang. Bukankah harus ada semangat libertarian di sana?

    Artinya, selama ideologi baru itu berhasil meyakinkan sebagian besar rakyat Indonesia, bahwa itulah yang paling oke, dengan cara-cara yang demokratis pula, apakah tidak boleh para pemenang suara rakyat itu mengubah UUD 45?

    Lagipula, andaikan sebagian rakyat sudah muak dengan ideologi yang sekarang, karena tidak menawarkan apa-apa selain janji telanjang keliling mall? : D

    *garis bawah cara-cara yang demokratis itu ya* : D
    Pelanglang 0 0
    conscientizacao: Bahwa gerakan khilafah mendapat tempat di Ind itu sudah terjadi saat ini. Terimakasih kepada demokrasi: )

    Selanjutnya yang terjadi kan dialektika. Artikel diatas ditulis dalam rangka dialektika itu. Semacam tarung idelah.

    Artikel ini 'kebetulan' mengambil posisi skeptis atas gerakan khilafah.

    Salah satu yang dikritik adalah gerakan ini mengandung apa yang diistilahkan disana sebagai aroma 'oportunis'.

    Yang juga diangkat adalah prospek gerakan khilafah ini ke depan. Jika seandainya terwujud, apa dialektika macam ini masih bisa dinikmati di iklim kekhilafahan? Even terhadap wacana yang kontra khilafah?

    Jadi jika wacana khilafah diperbolehkan dalam iklim demokratis, maka tulisan diatas merupakan wacana yang skeptis akan gerakan khilafah.
    conscientizacao 0 0
    Pelanglang: Disini menariknya bung. Banyak yang mengkritik, gerakan seperti ini tidak mengikuti koridor demokrasi. Argumennya selalu "pokoknya". Lha gimana orang lain mau yakin kalau gagasannya Oke, kalau argumen-nya selalu pokoknya? Bagaimana dengan argumen yang mengakomodir posisi orang lain juga? Sudah siap dengan itu? : D
    hamatamu 0 0
    parahnya kemudian bung conscientizacao, yang mengkritik argumen pro khilafah juga pakai argumen pokoknya! jadilah keluar semua urat leher : ))
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu: Sepertinya komentar bung conscientizacao itu ambigu.

    Tafsiran saya: "Argumen 'gerakan itu' selalu 'pokoknya'"
    conscientizacao 0 0
    Striding Cloud: ambigu piye tho mas? : D
    Striding Cloud 1 suka | 0
    conscientizacao:
    Sepertinya, menurut hamatamu, berdasarkan tanggapan komentarnya, kalimat anda berarti:

    "Argumen yang nolak khilafah selalu pokoknya"
    conscientizacao 0 0
    hamatamu: Le, komentarmu kuwi maksute piye?

    Striding Cloud: Kalau yang saya maksud, persis seperti kata Anda mas, argumen yang pro khilafah kok masih seputar "pokoknya", belum mengakomodir posisi orang lain. Artinya malah meyakinkan diri sendiri, tapi tidak mencoba mempersuasi orang lain. Makanya saya tantang dengan 2 pertanyaan terakhir itu...

    *Bagaimana dengan argumen yang mengakomodir posisi orang lain juga? Sudah siap dengan itu? *
    Striding Cloud 0 0
    Saya yang salah tafsir kalimat hamatamu. Maafkan.
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: bukannya acapkali terjebak seperti itu ya? argumen yang pro demokrasi pun akhirnya jadi 'pokoknya' . jadi seperti kata bung conscientizacao dulu, masing-masing kubu berusaha menindas satu sama lain ; ))
    conscientizacao 0 0
    hamatamu: : )) : )) ; ))
    Striding Cloud 0 0
    hamatamu: Ya.

    Namun, pada dasarnya memang ada hal-hal fundamental yang sulit kalau tidak pakai pokoknya.

    Argumen pro khilafah: "Pokoknya Hak Tuhan Mutlak"

    Terlepas dari "Tuhan berdasar dari definisi yang mana".

    Sedangkan argumen Anti Khilafah: "Pokoknya Manusia diciptakan sederajat".
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud: benar : ))
    cibro 0 0
    : )) : ((
    mau komentar apa disini ya? kagak paham apa yg kelen omongin...
    John WM 0 0
    Hafie El-Sadat: absolutely right bro!
    John WM 0 0
    nasionalisosialis: yoi bro, RI hrs jadi Republik a-la Indonesia, bukan a-la Arab, or Barat, kalo kita malah make konsep "org lain" sama saja kita tidak bersyukur atas pemberian Tuhan yg berupa wawasan keindonesiaan ini
    Syahril 0 0

    menurut SAYA baik khilafah maupun demokrasi sama-sama berpotensi jadi "penindas" tergantung siapa penguasanya...

    Jadi yang didebatkan ini sistemnya apa model penguasanya? mohon dijelaskan pada saya yang agak lamban mencerna ini : D
    John WM 0 0
    mnrt saya konsep khilafah islamiyah itu jelas, memperdagangkan agama untuk kepentingan politik! na'udzu billahi min dzalik....
    hendijo 0 0
    Striding Cloud:
    RPKAD dan Banser hanya khusus untuk orang2 kuminis : ) Untuk mereka jelas Densus 88 "ahlinya"hehehehe
    hamatamu 0 0
    hendijo: lmao : ))
    hendijo 0 0
    Syahril:
    Bisa jadi ya: Sy ingat kasus pembatalan kemenangan FIS di Aljazair oleh Rezim Militer setempat pada 1993...Alasaannya: kemenangan itu akan mengancam demokrasi...
    hamatamu 0 0
    dan kejadian yang menimpa FIS itu kemudian jadi 'mantra' yang selalu berulang dalam setiap perbincangan tentang demokrasi di kalangan aktivis HTI ya bung hendijo? ; ))
    hendijo 0 0
    Saya membayangkan orang2 yang "mengharamkan demokrasi itu" seperti seseorang yang menyatakan tidak suka bir, tapi "meracau " tentang haramnya bir sambil minum bir.Tanya kenapa?
    hamatamu 0 0
    jawabannya, karena mereka sedang mabuk bir bung hendijo! : )
    conscientizacao 0 0
    Nah, ini mau mulai dengan "pokoknya"? : D
    hendijo 0 0
    hamatamu:
    itu dia...sy selalu agakkesulitan untuk "mengatasi" argumen itu jika ngobrol2 sama mereka.Sy ingat Gusdur pun setuju FIS dibubarkan pd waktu itu.Tapi yang melakukan itu bukannya rezim militer sama dengan jenis kekuasaan yg membubarkan Aung San Suu Kyi cs di Burma? Di mana-mana rezim militer mana kenal demokrasi atuh?
    hendijo 0 0
    hamatamu:
    Sy berharap ada yang mengatakan itu...Ternyata nubuwat itu jatuh kepada anda hahahaha
    hamatamu 0 0
    mungkin bisa dilihat dari kerangka geopolitik & ekopolitik bung hendijo?
    hendijo 0 0
    hamatamu:
    Sy tidak tahu pasti,krn sy bukan ahli "anak-anak ilmu politik itu". Tp kalau melihat kasus Aljazair dan Burma sy melihat telah terjadi "pemerkosaan" oleh tentara terhadap demokrasi...Dan parahnya, harokah2 islam, melihat itu bukan pemerkosaan tapi suka sama suka...Mungkin mereka melihat sikap Barat (Prancis dalam kasus FIS) yg "terlihat" mendukung upaya itu...Sama2 berburuk sangka ya bgt akibatnya hehehe
    pujangga 0 0
    tes...tes...tes...1...2...3...dicoba

    tes...te s...tes...1...2...3...dicoba

    tes...tes...tes. ..1...2...3...dicoba

    suaranya sudah terdengar belum ya?
    hamatamu 0 0
    hendijo: wah saya juga bukan anak ilmu politik bung ; ))
    pujangga: mbrebeki! gak mesisan nganggo toa masjid? : p
    OddieBudiSantosa 0 0
    Dari segi ini tampak bagaimana demokrasi membuka ruang bagi pemikiran lain untuk memperkaya dirinya...sulit dibayangkan bagaimana tawaran kekhalifahan ala HTI berani memberi ruang bagi sebuah pergerakan yang mempertanyakan fondasi dasar sistem pemerintahan dimana mereka hidup : )
    krisnov 0 0
    Uhm....ya..ya...ya...dan yang dituduh para opurtunis itu, yang memperjuangkan tegaknya Khilafah di bumi Allah SWT, sebagian sudah ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa.

    Hak untuk bersuara, memperjuangkan suatu cita-cita, sudah ada jauuhh....sebelum lahir yang namanya DEMOKRASI.

    Dan para pejuang Khilafah itu ada di mana-mana bukan hanya di negara yang mendukung demokrasi seperti di Indonesia. Tapi juga di negara sosialis.

    Opurtunis mana yang tidak mau menikmati kekuasaan bersama pemerintah, siap ditangkap, di penjara, disiksa, dieksekusi, dituduh teroris, atau yang siap organisasinya dinyatakan sebagai organisasi terlarang ?



    Abu Jibriel 0 0
    Demokrasi nasibnya dibajak oleh kelompok antidemokrasi sebangsa militer dan HTI. mengenaskan.
    Yg konyol, markas mereka justru ada di Londonistan, bukan Pakistan
    OddieBudiSantosa 0 0
    Oportunis mana yang masih mau menikmati layanan publik yang dibayar oleh pajak warganegaranya sembari mengumpat-umpat sistem yang ,sebagian kalau tidak seluruhnya, ikut menunjang hidupnya ?
    teruterubozu 0 0
    ikut nanya... dalam demokrasi, apakah menjadi oportunis itu termasuk dosa?
    ErwienSamantha 0 0
    Gak penting labelisasi sistem pemerintahan dengan "Demokrasi", "Khilafah Islamiah", "Sosialis" atau apapun namanya karena sama sekali gak menjamin apapaun buat kebaikan kita semua. Lah wong cuman label ..

    Yang terpenting itu sistem pemerintahan yang meng"Indonesia", comot lah sesuatu yang baik dari Demokrasi misal tetang kebebasan berpendapat, comot lah dari Sosialis misal tentang pemerataan kesejahteraanya , comotlah dalah khilafah misal tentang hidup bukan hanya sekedar urusan duniawi serta comotlah dari akar budaya bangsa misal kebersamaan dan kegotong-royongan dari kita yang berbeda2 suku dan bahasa. Yang ujung pangkalnya nanti untuk semuanya , adil , makmur, aman , tentram dan sejahtera untuk mayoritas dan minoritas di negara Indonesia tercinta ini.

    Insya'allah suatu saat nanti kita bisa berbangga Iniloh bangsa kita, BANGSA INDONESIA!
    Agus PW 0 0
    ErwienSamantha: maka lahirlah "sistem pemerintah main comot" gitu maksudnya??
    ErwienSamantha 0 0
    Agus PW: ada salah mas? yang terpenting kan bukan nama tapi tujuan dan hasilnya kan?
    Agus PW 0 0
    ErwienSamantha: Ooo. Tapi bagaimana mencapai tujuan dan hasil yang diharapkan tanpa ada sistem dan aturan mainnya??
    boiga 0 0
    ini komen2nya kok seperti nostalgia artikel lalu ya.. yg bahasannya kira2 "demokrasi dengan nilai2nya perlahan membunuh dirinya sendiri"
    Agus PW 1 suka | 0
    boiga: bagi sebagian orang tema-tema di atas memang masih menarik untuk dibahas mas.. ini sebagian aja lho.
    fello citizen 0 0
    saya cuma ngikutin mbaca dan mendengarkan. gak pernah bisa paham kenapa negeri ini penuh sesak sekali dengan orang orang yang senang dengan wacana2 mbelah langit gak keruan - bicara mimpi mimpi sejarah yang lebih mirip seperti percaya takhyul yang gak tepat dengan akal sehat.

    kepemimpinan khalifah itu apa? Demokrasi itu apa? Libertarian itu apa? semua istilah dilempar jumbrungi seperti sedang tugas akhir kuliah.

    Model khilafah yang ada dalam islam itu selalu primordial, feudal dan dalam hampir semua bentuk kepemimpinan bentuk negara atau otoritas islam dimanapun, struktur zaman batu yang dipakai selalu gagal total dalam menerima dan menyelesaikan masalah pragmatis dan kontemporer.

    Pada saat kita bicara khilafah islam, isinya kan mlulu mentah mimpi2nya orang konservatif yang cuma baca buku sejarah dan berharap surga itu masih ada - diobok obok dengan nambah demokrasi lah, nilai kemanusiaan lah, paham liberal apa lah - tetap saja namanya itu mimpi basah orang orang tua yang bangunnya kesiangan.

    Kalau bicara "reformasi" kemudian dibilang jadi romantisme sejarah, ngimpi dan nyabyar soal 'khilafah" itu cuma wacana onani orang yang gak bisa tidur.



    meh.




    umbaran 0 0
    fello citizen: (itu cuma wacana onani orang yang gak bisa tidur) bukan, istilah yg tepat mimpi basah
    orang yang getol memimpikan masa lalu adalah orang yang tdk punya kesanggupan untuk menghadapi masa kini
    hamatamu 0 0
    itu kenapa sebutan bagi laskar ini di Politikana adalah 'laskar langitan' bung fello citizen ; )
    ndableg 0 0
    ini lagi ngomongin miyabi apa khilafah sih? : D
    boiga 0 0
    ndableg: huss! di sebelah! di sebelah!
    cibro 0 0
    boiga .. ndableg: : ))

    hamatamu: e.. da bangun...
    kunderemp 0 0
    Kata treespotter:
    [kepemimpinan khalifah itu apa? Demokrasi itu apa? Libertarian itu apa? semua istilah dilempar jumbrungi seperti sedang tugas akhir kuliah.

    Model khilafah yang ada dalam islam itu selalu primordial, feudal dan dalam hampir semua bentuk kepemimpinan bentuk negara atau otoritas islam dimanapun, struktur zaman batu yang dipakai selalu gagal total dalam menerima dan menyelesaikan masalah pragmatis dan kontemporer.]

    Feudal itu apa? : p
    Model yang primordial itu apa? : )

    Coba jelaskan pada kami sebelum kami mengikuti anda.
    hamatamu 0 0
    jadi menurut bung kunderemp, bung fello citizen sedang mencari pengikut, semacam nabi begitu? : )
    kunderemp 0 0
    Tidak.. karena bung treespotter mengritik orang-orang yang doyan melempar istilah seperti 'demokrasi' dan 'libertarian' maka saya penasaran apakah bung treespotter juga mengerti istilah 'feudal' dan model yang primordial sebelum melempar istilah itu di komentarnya. : )

    Sekedar menjajaki sebelum mengangguk atau menggeleng2kan kepala. : )
    PakBodong 0 0
    Bosen ah..... bangsa ini atas nama kebenaran sukanya cuma banyak omong... kalau tidak duduk dalam pemerintahan sukanya njegalin yang sedang berkuasa , sehingga yang sedang berkuasa tidak mempunyai kesempatan untuk membangun kesejahteraan bangsa karena selalu dijegalin saja..... tetapi kalau yang sedang berkuasa sekarang ini jatuh, mereka akan gantian njegalin, semua dengan dalih atas nama kebenaran, atas nama rakyat atasnama....atas nama........ Mbok mari kita dukung dan kita bantu pemerintah yang sedang berkuasa ( asal bukan diktator dan sejenisnya ) dengan kerja yang positip , sehingga rakyat Indonesia cepat bisa maju.
    ki baraja 0 0
    pusing ah....

    dasar manusia nya aja kalo mau jadi perhatian sih, dikasih aturan sebagus apapun gak bakalan jamin dunia ini bisa lebih baik

    orang2 yang "narsis" ingin mendirikan khilafah...
    tolong dibahasaindonesiakan : khilafah itu apa?
    apa yang ada sekarang indonesia ini bukan khilafah?... maunya ke-arab arab an
    segala sesuatu dibahasa arabkan...

    cukup bacaa solat aje deh yang basa sonoh, yang lainnya... pake pemahaman dengan bahasa kita sendiri aja.

    plis, tegakan hukum dan peraturan yang ada.
    yang sudah ada juga cukup menjamin kehidupan akan lebih tertib dan lebih baik JIKA DIJALANKAN !!!...
    mau diganti pake sareat islam juga kalo dasarnya gak mau jalanin mah tetep aja dunia ini akan kacaw balaw dan berantakan.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat