Menelusuri Jejak PKI Gunungkidul 23
Senin, 28 Sep '09 21:08
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyuburkan kembali gerakan PKI. Tulisan ini hanya sederhana, bahkan lebih terkesan garing. Tanpa penunjang foto (waduh jadi teringat hutang saya sama warga "P'' untuk menampilkan foto Partai Proletar, maaf belum terbayarkan) atau data-data statistik. Mohon maaf, ini masalah kemalasan penulis untuk mencari data atau dokumen penunjang tulisan ini. Namun semoga tetap dapat memberikan informasi bagi pembaca sekalian.
Tulisan ini adalah hasil wawancara saya dengan eks-PKI di Gunungkidul. Salah satunya adalah Bapak Dalhar/Mbah Dal. Dalam peristiwa PKI di Gunungkidul, beliau mempunyai pengaruh yang cukup elit di Kabupaten ini, ia adalah koordinator seni rakyat. Mungkin masih anak buahnya Lekra. Rumahnya dahulu sering dipakai untuk kumpul-kumpul, diskusi, atau rapat partai. Menurut ceritanya, dulu setiap malam selalu ada yang datang ke rumahnya. Di sana para teman-temannya bermain karawitan, tari, bernyanyi "genjer-genjer".
Menurutnya mengapa Gunungkidul mudah sekali penyebaran gerakan PKI? Ada beberapa alasan pertama, masyarakat di sana saat itu, mayoritas petani miskin. Maka digunakanlah propaganda dan janji-janji partai bahwa mereka akan memperjuangkan nasibnya. Kedua adalah pengrekrutan melalui jalur pernikahan. Ini juga sangat efektif. Ketiga adalah membentuk kelompok-kelompok rakyat, misalnya PPDI (Persatuan Pamong Desa Indonesia), Pemuda Rakyat, Gerwani, dan sebagainya. Lawan politiknya untuk PPDI adalah IPRIN (Ikatan Pamong Rakyat Indonesia). Sedangkan dari unsur guru ada PGRI non-faksentral (pro PKI), untuk yang anti PKI bernama PGRI Faksentral. Yang menarik ternyata, banyak para guru yang tidak tahu mana PGRI yang pro-PKI nama yang anti-PKI. Ibaratnya persatuan guru ini seperti Gatotkaca Kembar, jadi binggung mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu, bagi masyarakat yang tidak mempunyai partai maka ia akan dianggap PKI. Yang terjadi kemudian banyak masyarakat yang tidak tahu apa-apa kemudian diciduk (diculik) dan di penjara atau dibunuh.
Nah pada saat penumpasan PKI saat itu banyak guru-guru yang kemudian dipecat dan diganti yang baru dengan, maaf, sangat sembarangan. Misalnya, para takmir masjid, atau dari unsur keluarga atau belum tamat PGA sudah diminta untuk mengajar dengan cara menuakan umur. Ini terjadi terutama untuk guru-guru agama. Maka sekarang mungkin dapat dirasakan efek dari masalah ini, misalkan jumlah guru-guru agama yang sebenarnya masih muda sudah pensiun. Atau kualitas pendidikan agama (?). Ah saya kok malah suudhzon.
Bagaimana cara penumpasan gerakan ini? Mungkin sama dengan daerah-daerah yang lain. Yakni papan-papan nama, kaos, buku-buku, atau panflet yang bergambar PKI dikumpulkan dan dibakar di kantor Kecamatan. Sedangkan untuk para antek-antek PKI, diculik dari rumahnya dan dibawa ke suatu goa bernama Grubug di daerah Semanu dan dimasukkan ke dalam goa tersebut. Caranya, tangan antek-antek PKI tersebut diikat, mata ditutup, kemudian didorong dengan bayonet atau kayu bambu. Ada juga yang ditembak ditepi goa tersebut. Atau ada juga yang memilih masuk sendiri. Menurut cerita ketika peristiwa tragis itu sekitar tepi pantai Baron berwarna merah.
(Penjelasan tentang Goa saya serahkan pada mbak saya di Politikana itu. Beliau paham betul masalah itu). Demikian dari saya.
Tag: PKI, menelusuri
Terkait:
-
Pernyataan Sikap
Selasa, 12 Jan '10 23:57 -
Kisah Nyata Seorang Njoto
Selasa, 6 Okt '09 10:34 -
(Review) Lekra Tak Membakar Buku
Kamis, 1 Okt '09 23:49
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ErwienSamantha:
-
ndableg: Biasa
-
kalangwan: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
rahayupuji: Menarik
-
kurit: Menarik
-
losun: Biasa
-
boiga: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Agus PW: mungkin karena filmnya sudah nggak diputar TVRI
*semangat banget nulis..*
Gak mas ki mumpung masih nganggur... sesok nek wis mlebu sekolah yo ngurangi le neng Politikana. Nek sido...
di bawah permukaan karst Gunung Kidul terdapat paling tidak yang sudah diketahui, tujuh sungai: Bribin, Ngobaran, Seropan, Baron, Grubug, Toto, dan Sumurup (baru empat yang sudah dimanfaatkan, yaitu Seropan, Bribin, Ngobaran, dan Baron)
nah hilir Grubug sendiri berakhir di sebuah sump (n. 1. a. A low-lying place, such as a pit, that receives drainage.
b. A cesspool. 2. A hole at the lowest point of a mine shaft into which water is drained in order to be pumped out) yang bejarak kurang lebih 2 atau 3 Km dari mulut luweng Grubug. dari situ sudah tidak bisa ditelusuri lagi. beberapa tahun yang saya dan kawan pernah mencoba 'water tracing' sungai di bawah Grubug dengan aliran lain di gua di sekitarnya, tapi saat itu belum menemukan kesimpulan bahwa 1 sistem. masalah bahwa air-air sungai bawah tanah di Gunung Kidul bermuara di pantai atau lepas pantai selatan tentu sangat beralasan karena formasi pegunungan karst (batu gamping) Gunung Sewu adalah zona pengangkatan, yang mana landasannya lebih tinggi dari garis pantai selatan. dan seperti yang kita tahu batu gamping itu berpori.
nah PR selaku orang Gunung Kidul, untuk anda mas Agus PW, kalau pemerintah daerah sadar hal ini diatas, kenapa membiarkan bukit-bukit kapur itu dipotong, dipapas dan ditambang?
saya pernah lihat Pameran Reklame di Bentara Budaya Yogyakarta. salah satunya ada reklame daftar partai yang ikut pemilu. PKI jelas ada. di kolomnya PKI itu ada keterangannya "partai orang komunis dan orang tidak berpartai"
mungkin penyebabnya itu. mungkin lho...
*tp hebat ya, orang tidak berpartai (golput) tetep ada partainya*
Nah, yang saya maksud melawan kekeringan itu; sekarang ada sekelompok masyarakat di daerah Banyusoco Playen yang menemukan 15 titik sumber air di sekitar lereng batas antara Gunungkidul dan Bantul. Tepatnya dusun Ketangi. Panjenengan bisa maen-maen kesana jika pengen. Saya kenal ma ketua kelompoknya.
hamatamu: ok. nanti tgl 15 saya ketemu ma pak Bupatinya. Akan saya sampaikan. Nuwun urung rembug-nya..
Silahkan login untuk memberikan pendapat