Terlahir atas lenyap 7

Senin, 28 Sep '09 20:05

Saya mencoba tenang saat menulis tulisan ini. Meski emosi saya sedang berkecamuk dan meluap, ingin rasanya membanting tumpukan buku yang ada didekat saya, merobeknya dan membakarnya hingga lenyap. Ah, kalaupun itu saya lakukan belum tentu emosi juga padam. percuma. lebih baik saya menulis tulisan yang mungkin saja ada yang membaca.

Sudah menjadi kebiasaan tepatnya kegemaran saya untuk menulis atau mencorat-coret dibuku kecil yang biasa saya bawa, atau menuliskannya pada ponsel. Yang saya tulis bukanlah hal penting, artikel atau tulisan yang berbobot. Hanya sekedar tulisan yang sebagian teman menyebutnya puisi (duh). Entahlah, saya lebih suka menyebutnya coretan. Sekedar goresan, tak lebih, kerena menurut saya tulisan yang saya tulis biasa saja.

Lantas apa hubungannya tulisan yang biasa itu dengan emosi saya saat ini?

Ceitanya, kemarin sewaktu berlibur ke luar kota saya tukar pakai ponsel dengan adik saya. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menulis sesuatu yang menginspirasi saya untuk menulis sesuatu. Meski tulisan itu hanya beberapa baris.

Sekembali dari berlibur saya kembalikan ponsel milik adik tanpa menyalin catatan yang ada di ponsel tersebut. Beberapa hari kemudian saya teringat akan catatan itu, saya pinjam kembali ponsel adik. Ternyata catatan yang saya maksud terhapus oleh adik, tak hanya itu daftar contact beberapa teman pun ikut lenyap.

Karena bagi saya catatan itu penting, saya mencoba menuliskannya kembali. Saya mencoba menulisnya, baru beberapa kata saya menyerah. Saya mencoba hadirkan imagi untuk menulis kembali terasa percuma. Sedih, kesal, bercampur.

Saya teringat apa yang pernah saya baca dari blog salah satu penulis novel (maaf saya lupa), bahwa beliau pernah kehilangan naskah yang siap diterbitkan dan beliau tidak memiliki back-upnya. Coretan saya yang terhapus itu hanya beberapa halaman saya itu sudah membuat saya merasa kehilangan, lantas bagaimana penulis tersebut? benar apa yang dibilang penulis tersebut, percuma bila kita meratapi kesedihan.

Mahalnya sebuah inspirasi walau hanya untuk sepenggal kalimat, seperti tulisan ini yang hadir akibat dari coretan yang lenyap.

 


Tag: mungkin bernilai

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    losun 0 0
    ikut berduka.. (walau nggak pandai nulis)
    dikrezz 0 0
    hah?!

    Ini politikana.com atau curhatikana.com ?
    el afiq 0 0
    losun: trims.. : )

    dikrezz: kan OOT : D
    ndableg 0 0
    el afiq: sudah coba misoh2 mas?

    *kalo perlu jambak2in rambut sendiri*
    boiga 0 0
    ndableg: setelah misoh2 beres nanti kita tinggal keplok2 ya? : )
    krisnov 0 0
    Lain kali gak perlu tukeran HP kali ye...he..he..he..
    botaksakti 0 0
    Mas....yang kehilangan inspirasi kehidupan juga sangat banyak.....bayangkan itu....

    Silahkan login untuk memberikan pendapat