Alhamdulillah, Mati Lampu? 44
Rabu, 30 Sep '09 09:22, dibaca 400 kali
Alhamdulillah mati lampu, itu adalah pertanda baik dan terhindar dari menonton telesinema yang lebih banyak mengajarkan kebencian dan menguras airmata. Benci dan airmata sesuatu yang perlu dihemat, hanya boleh dipakai pada saat-saat yang dibutuhkan. Benci berlebihan membuat kita jadi “paranoia” dan menangis berlebihan akan mengurangi “kegagahan” seorang lelaki. Ups, terlalu jauh analisanya ini cuma masalah sedikit kenikmatan mati lampu, hanya itu.
Jam 21.00, rumah masih ada cahaya dari lampu baterai. Cukup romantis dan temaram seperti berada dalam sebuah restoran yang lagi mengadakan acara “candle light dinner” (makan malam sambil plototin lilin). Anak-anak masih nyenyak dalam tidurnya walaupun mulai sedikit berkeringat, ini bagus kata orang tua-tua kita dahulu dan merupakan pertanda kesehatannya masih bagus, Alhamdulillah.
Jam 22.00, sikecil terbangun minta diantar kekamar mandi mau pipis. Istri tercinta menggendong kekamar mandi biar tidak ngompol dikasur. “Pa, airnya gak ada nih buat cebok si adek”! Ups, baru ingat bahwa pompa air itu baru berfungsi kalau ada setrum. “ Ma kan masih ada yang digentong”. Alhamdulillah untung masih punya gentong air kalau tidak, masalah ini akan berbuntut panjang, “sepanjang malam kenangan”.
Jam 23.00, siabang terbangun sepertinya mulai kepanasan suasanapun mulai gaduh, lampu bateraipun sudah nggak kuat “menerangi” karena kehabisan daya. Gusarpun mulai menjalar ke otak dan bereaksi menelpon PLN. Tut..tut…tut nada tak tersambung berbunyi, mungkin masih sibuk menerima telepon dari pelanggan lain atau telkomnya lagi overload dipakai untuk mengucapkan selamat kepada anggota DPR yang bakal dilantik dengan fasilitas megah senilai 11 milyar. Namun berkali-kali dihubungi “costumer service”-nya PLN tetap seperti memanggil Mbak Tutut sebagai nada tak tersambung.
Al…..ucapan syukurnya jadi tercekat, gelap dan panas membuat ucapannya berubah mejadi “alah PLN” tega pisan dikau membuat kami seperti ini. Mulailah tradisi nenek moyang yang konon seorang pelaut tapi sekarang ikannya buat orang asing, menyalakan lilin dan mencari koran bekas untuk mengipasi anak-anak agar bisa tertidur. Akhirnya suasana rumah kembali hening dan diterangi lilin sepanjang malam tanpa makanan. Yang pasti ini bukan “candle light dinner”.
Tag: Mati Lampu
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
l. wiji widodo: Lucu
-
hamatamu: Lucu
-
akusuka: Bagus
-
Nazil: Lucu
-
yusro: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
NOS: Menarik
-
conscientizacao: Penting
-
anti-fenomena: Bagus
-
cibro: Keren
-
kalipaksi: Lucu
-
ndableg: Lucu
-
LCFR: Lucu

Komentar:
Eniwei busway, info mana aja yang mati termasuk kapan aja bisa diakses disini: http://www.plnjay…idm=5&idSM=1
selamat datang kang, Direktur Distribusi Jawa-Bali bilang umur travo-nya udah 10tahun dan kelebihan 2 tahun dari jatah boleh dipakainya. Kunaon atuh kang?
*saya bukan lagi sibuk pelantikan, lagi sibuk kejer setoran nih abis lebaran, kantong cekak semua
*masalah kejar setoran kita senasib kang
mungkin penyebabnya bukan human error tapi money error
koreksi sedikit, bukan money error, tapi procurement error
NOS:
Untuk laki-laki : Jhon Trafolta
Untuk perempuan: Trafona Meledukiwati Putri
perlu pembiasaan hidup susah ni mas..
*becanda bro*
iya nih jagain lilin buat ngepetin BI biar dapet likuiditas kaya bank mutiara
l. wiji widodo:
Versi 2.0 masih beta gak
l. wiji widodo: tulisannya system failure
pantesan dapetnya triliunan
Silahkan login untuk memberikan pendapat