Fanatisme dan Agama 30

Jumat, 2 Okt '09 13:49

"Fanatisme menunjukkan kesempitan cakrawala dan kebodohan. Manusia fanatik mengira bahwa dunia hanya bagus bila hanya ada satu jenis pohon, yakni pohon yang ia sukai. Orang fanatik paling suka pada pakaian seragam dan langkah−langkah barisan yang seirama di bawah satu komando. Dia nekad mati, demi cita−cita yang baik tetapi juga yang jahat.

Manusia religius tidak fanatik, karena sadar tentang keterbatasan manusia. Karena dia tahu bahwa hanya Tuhanlah satu−satunya yang selalu benar serta menguasai semua sudut galaksi. Manusia religius mencari kebenaran dan mengajak kawan menikmati kebenaran yang ia temukan secara yakin dan jujur. Tetapi ia menghargai kawan dalam kemerdekaannya untuk memilih dan menentukan sendiri jalan hidupnya. Sebab ia sendiri sadar, betapa indah dan berharga kemerdekaan sejati manusia. Anak−anak kita pun harus kita ajak jangan fanatik. Untuk toleran dan menghargai kenyataan, bahwa kawannya lain dari dia. Anak−anak dapat mulai belajar, betapa indahnya dunia yang memiliki sekian warna bunga dan jenis pohon serta perdu."

Y. B. Mangunwijaya (Romo Mangun)

"Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak", Gramedia, 1986.

 

Sungguh bijak kata-kata yang disampaikan oleh Romo Mangun tadi.

Apakah untuk menjadi 'orang-yang-beriman' itu kita mesti menjadi fanatik? Apakah bersikap toleran lantas menjadi ukuran kemurtadan seseorang?

kadangkala sikap fanatisme itu tidaklah murni atas dasar iman atau keyakinan saja tapi juga ada motif lain dibaliknya, Ego.

Ego demi mewujudkan 'Idealisme' pribadinya di tengah-tengah dunia yang memang tidak pernah Ideal.

Seseorang fanatis mengikuti cita-cita pemikirannya sendiri yang sebenarnya hanya mengikuti hawa nafsu pribadinya dan seringkali memakai dalih "untuk kemaslahatan bersama" namun sebenarnya hanya untuk menyenangkan hatinya semata.

Berbekal tafsir yang mereka ciptakan sendiri mereka mencoba mengatur ulang dunia (menurut seleranya). Karena itu bagi seorang fanatis apapun penghalang menuju cita-citanya harus diterobos, disingkirkan, dimusnahkan kalau perlu.

Lantas kalau begitu masih pantaskah mereka disebut orang yang 'beriman'? Ya, mereka memang beriman, tetapi mereka hanya beriman pada dirinya sendiri, menuhankan dirinya (dan keinginannya) sendiri. Menghakimi oranglain dan menganggap dirinya tidak pernah salah, dan disanalah nyata benar kesalahan mereka.


Tag: agama, fanatisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    ndableg 0 0
    kalo suka misoh2 menunjukkan apa om?
    cynical 0 0
    toleransi beragama maksudnya toleransi agama>
    cynical 0 0
    toleransi beragama maksudnya
    toleransi agama>
    dikrezz 0 0
    ndableg:

    Nganu, itu.. *speechless*

    @cynical:

    : ) maaf, bisa tolong dijelaskan lagi maksudnya?

    *kurangfokus*
    cibro 0 0
    ndableg:
    Hari Misoh Nasional ternyata berbarengan dengan Hari Batik Nasional toh mas???

    Pas, gampang ngingetnya.... begitu pake batik.. langsung pake misoh2...

    ; ))
    Esemge 0 0
    Keteraturan sempurna membuat dunia seperti pemakaman
    cynical 1 suka, 1 tidak suka |
    toleransi beragama itu artinya
    1. pendapatku benar, pendapatmu benar, atau
    2. pendapatku benar, pendapatmu salah, tapi silahkan aja pegang pendapatmu

    ---------
    rupanya apapun yang ditulis hilang jika ditulis setelah tanda >

    Striding Cloud 0 0
    cynical:

    Kalau menurutku, toleransi beragama itu artinya: Pendapatku maupun pendapatmu bisa benar bisa salah, yang penting tidak berhenti mencari, dan menyerahkan kepada Tuhaan untuk menilai.
    BD cafe 0 0
    Fanatisme agama pasti terjadi pada semua agama, selama fanatisme tidak saling serang menyerang, tidak akan terjadi masalah.
    Ketika fanatisme agama dihadapkan pada keinginan untuk melindungi sesama seumatnya, maka mulailah terjadi friksi-friksi.
    Kenyataannya yg terjadi di Indonesia, ada usaha-usaha penyebaran agama kepada orang yg sudah beragama, yg jelas-jelas bertentangan dengan kesepakatan, ketentuan dan peraturan, karena kegiatan dakwah, misionaris dll hanya boleh ditujukan kepada orang yg belum beragama, masih Animisme dan Dinamisme.
    Dan ada juga beberapa kasus penyebaran agama dengan iming-iming bantuan ekonomi, jadi hal tsb merupakan pelanggaran yg nyata.
    Serta banyak lagi kejadian ganjil adalah pendirian tempat ibadah, tetapi tidak ada warga sekitarnya yg memeluk agama tsb, sehingga dalam melakukan kegiatannya tempat ibadah tsb mengimport umat dari tempat lain.
    Sehingga terjadi penolakan pembangunan atau perubahan rumah menjadi tempat ibadah massal, seperti di Manado, Kupang, Jayapura dll karena didaerah tsb mayoritas masyarakatnya pemeluk agama tertentu, sehingga untuk membangun tempat ibadah untuk pemeluk agama yg minoritas disana, pasti akan mengalami kesulitan dan akan mengalami banyak penentangan-penentangan.
    cynical 0 0
    Striding Cloud: Kalau menurutku, toleransi beragama itu artinya: Pendapatku maupun pendapatmu bisa benar bisa salah, tapi aku yakin pendapatku benar dan pendapatmu salah. silahkan sampaikan argumenmu kalau aku salah, dan akan aku sampaikan argumenku kalau kamu salah. tapi silahkan kalau kamu tetap dalam agamamu. masalah nanti masuk surga neraka itu urusan Dia.

    bagaimana dikrezz:
    Striding Cloud 0 0
    cynical:
    lhah, masalahnya begini bung, kalau sudah urusan agama, maka itu sudah urusan faith only.

    Dasar dari seluruh argumen akan kembali kepada hal mendasar seperti: Apakah Anda PERCAYA bahwa suatu hal metafisik X exist?

    Jika sudah demikian, sifatnya jadi unfalsifiable, dan segala argumen atas hal yang hal unfalsifiable adalah sia-sia.

    Misalnya, Saya percaya bahwa alam semesta baru diciptakan pada hari kamis minggu lalu, lengkap dengan sejarahnya. Anda bisa saja dengan mudah menertawakannya, tapi siapa yang bisa menggoyahkan faith itu?
    Yojimbo Usagi 0 0
    BD cafe:

    kutip : "karena kegiatan dakwah, misionaris dll hanya boleh ditujukan kepada orang yg belum beragama, masih Animisme dan Dinamisme. "

    Animisme dan Dinamisme bukan agama ? Apa sih definisi agama ?

    *ah...sudahlah
    5150 0 0
    Yojimbo Usagi: pusing ya bang? semua ribut soal agama tapi gak ada yang bisa kasih definisi agama : ))
    Yojimbo Usagi 0 0
    5150:
    iya...ignostic aja deh ; ))
    krisnov 1 suka | 0
    dikrezz

    Bro sendiri juga fanatik terhadap kebalikkannya dari apa yang bro anggap fanatik tsb.

    Bisa jadi karena lack of knowledge maka apa yang bro anggap fanatik itu salah adalah benar.

    Terimakasih.
    cynical 0 0
    Striding Cloud: tidak juga. tidak hanya kepercayaan semata. makanya ada orang berpindah agama.
    Striding Cloud 0 0
    cynical: ada banyak sebab orang pindah agama, belum tentu atas alasan2 yang murni, di saat lain, argumentasi hanyalah menguatkan prekonsepsi yang sudah ada dalam pikirannya, bukan mengubahnya.
    hamatamu 0 0
    Yojimbo Usagi: agnostic kali? : )
    dikrezz 0 0
    Esemge:

    [Keteraturan sempurna membuat dunia seperti pemakaman]

    Manusia kadang ingin semua hal yang ada di alam semesta ini selurus penggaris yang dipakainya, sehingga dia bisa mengukur segalanya.

    cynical:

    saya akan bagi menjadi dua terminologi:

    -pandangan (pemikiran yg dianut)
    -sikap (cara memperlakukan orang lain)

    [toleransi beragama itu artinya
    1. pendapatku benar, pendapatmu benar, ..]

    - Pandangan: Semuanya benar
    (anda-saya benar)
    - Sikap (kemungkinan) :
    *Acuh tak acuh dan/atau saling mendukung.


    [atau,
    2. pendapatku benar, pendapatmu salah, tapi silahkan aja pegang pendapatmu]

    -Pandangan (kemungkinan):
    *Saya benar-anda salah
    *Salah satu dari kita mungkin salah

    -Sikap:
    *intoleran (anda harus ikut saya karena saya benar)
    *toleran (sailahkan ikuti cara masing-masing)

    Striding Cloud:

    [Kalau menurutku, toleransi beragama itu artinya: Pendapatku maupun pendapatmu bisa benar bisa salah, yang penting tidak berhenti mencari, dan menyerahkan kepada Tuhaan untuk menilai.]

    Justifikasi ditangan tuhan, bukan manusia.
    Hmm. saya setuju.

    dikrezz 0 0
    BD cafe:

    [Fanatisme agama pasti terjadi pada semua agama, selama fanatisme tidak saling serang menyerang, tidak akan terjadi masalah...]

    Ya, betul. Selama fanatisme tadi masih berbentuk pemikiran dan belum mewujud dalam perkataan dan perbuatan memang belumlah berbahaya hanya berpotensi berbahaya.

    Tapi kalau sudak meujud dalam tindakan....


    seperti yang bung paparkan tadi semuanya ingin mendominasi, merasa terancam, isu-isu kristenisasi, islamisasi dan lain-lainnya.

    Dua gajah bertarung, pelandunk mati detengah-tengah.

    kasihan penganut (agama) Animisme dan Dinamisme yang hanya ingin hidup sesuai dengan alam.
    Yojimbo Usagi 0 0
    hamatamu: en.wikipedia.org/…/Ignosticism

    dikrezz 0 0
    cynical:

    [Harbinger Of Death: Kalau menurutku, toleransi beragama itu artinya:

    Pendapatku maupun pendapatmu bisa benar bisa salah,*1

    tapi aku yakin pendapatku benar dan pendapatmu salah.*2 ]


    Inkosistensi ide,
    yakin (bisa) salah *1, tetapi yakin (pasti) benar*2.

    Coba ditelaah lagi secara logika.


    [silahkan sampaikan argumenmu kalau aku salah, dan akan aku sampaikan argumenku kalau kamu salah. tapi silahkan kalau kamu tetap dalam agamamu. masalah nanti masuk surga neraka itu urusan Dia.]

    Kalau dalam perdebatan ilmiah kita mendapatkan referensi dari fakta empiris (dan logis) dapat dibuktikan eksistensinya sewaktu kita hidup.

    Nah, kalau agama dari referensi kitab-kitab untuk membahas hal-hal metafisik (supra) pembuktiannya nanti setelah kita mati.

    perdebatan yang bakal panjang dan lamaaaaa.


    dikrezz 0 0
    krisnov:

    [Bro sendiri juga fanatik terhadap kebalikkannya dari apa yang bro anggap fanatik tsb.]

    Oke, bung menganggap saya ini 'Anti-fanatik'

    [Bisa jadi karena lack of knowledge]

    Oke, Saya, Anda, Kita semua sama-sama tidak tahu siapa salah siapa benar.

    KITA HANYA BISA YAKIN.

    (bedakan istilah 'mengetahui' dan 'meyakini')

    [maka apa yang bro anggap fanatik itu salah adalah benar.]


    Hanya karena saya tidak tahu, bukan berarti kaum-fanatik benar hanya ada 'kemungkinan benar' (kebolehjadian benar).

    Dan saya juga berhak atas 'kebolehjadian' tersebut.


    Sampai (Nanti) ada bukti nyata dan jelas.


    Tapi yang jadi keluhan saya ialah jangan hanya karena yakin benar lantas mengkafirkan orang lain. semenjak kita hanya menyandang 'kebolehjadian' benar tersebut.

    [Terimakasih.]

    Sama-sama.
    Subroto 0 0
    Inspiratif, Manusia religius tidak fanatik!
    Subroto 0 0
    Contoh orang fanatik itu, berjalan kemana2 nenteng simbol keagamaannya seolah keimanan diukur oleh penampilan luar.
    Lalu berkhotbah seperti ini http://politikana…h-berlebihan

    boiga 0 0
    : )) Subroto dan video favoritnya! : ))

    piss bro.. : )
    HTN 0 0
    kalau bagi saya sih toleransi beragama itu:

    saya YAKIN pendapat saya benar..pendapat Anda MUNGKIN benar..dan saya tidak butuh pembuktian bahwa pendapat saya SALAH karena saya tidak akan membuktikan bahwa pendapat Anda SALAH..

    biarlah pendapat kita ini kita simpan masing di hati, karena pendapat ini tidak bisa kita LOGIKA, terlalu kecil otak kita untuk melogikan DIA, sayang pencipta dan segala misterinya...kita hanya bisa mengimani..bukanlah iman adalah percaya?
    HTN 0 0
    aduh ada typo : sang pencipta* bukan sayang pencipta..hahaha
    Mas Pras 0 0
    Fanatisme beragama itu...
    1. Saya benar dan Anda salah
    2. Saya benar dan Anda benar, tapi Anda sudah dijamin masuk neraka, karena itu Anda pasti salah

    Ya jelas tidak bakal ketemu titik temunya. Fanatisme lebih ke pola pikir, menurut saya, entah individu atau kelompok, atau pola pikir kelompok yang memaksa individu-individu yang sealiran untuk berpikir sama.

    Padahal sudah ada Lakum dinukum waliyadiin, tetap saja ada yang belum memahami...
    Silly 0 0
    cuma mo bilang... disini artikel bagus pun bisa dirating jelek yah, hehehe... yah, balik lagi, emang semua kembali pada pribadi masing2 sih yahhh...

    *balik maning nang ngerumpi.com, ngadem dulu ahhh* : D

    Silahkan login untuk memberikan pendapat