Paranormal: Paradoks Indonesia Modern 27

Jumat, 2 Okt '09 13:56

Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini.

Sekitar Juli tahun 2006 lalu kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganyfisia.

Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan Human Rights Watch, yang dapat Anda baca di sini.

Sebagai penyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya.

Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama pada tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian yang ditampilkan saat itu antara lain Marawis dari Betawi serta tari  Saman dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis.

Acara berlangsung di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar.

Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima.

Ketika SBY baru menjabat Pesinden Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan penumpang satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun.

Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut.

Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?


Tag: indonesia, TKI, paranormal, pemimpin, HAM, Primitif

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    ndableg 0 0
    handphone-nya paranormal canggih2 lho.., keluaran seri terbaru

    *cuman sering nanya ke asistennya, 'cara mbuka fesbuk gimana, le?* : D
    Harlan Eryandi 0 0
    Mungkin "Pa ra normal" mas.
    Agus PW 0 0
    Dunia klenik memang akan selalu abadi.
    Pernah denger, pertarungan sepak bola dunia juga menggunakan jasa paranormal. Hanya sayang paranormal kita belum ada yang berkelas internasional
    5150 0 0
    Agus PW: bahkan berita terbaru CR7 akan disantet biar cedera oleh seorang dukun terkenal spanyol : D
    Agus PW 0 0
    5150: benerkan, sepak bola sangat kental nuansa kleniknya. ni sepak bola domestik saja, Arema biasanya kalau main pasti bawa boneka Singa, dan ditarok dipinggir gawang.. apakah itu termasuk klenik atau bukan?
    5150 0 0
    lha malah ada yang ngencingin gawang segala : ))
    Ibnu Muslim 0 0
    5150: cr7 ganteng sih : D
    Agus PW 0 0
    5150: ngencingin bola juga ada, yang ngencingin wasit yang belon ada. berani?? wek-kek-kek-kek
    Tai Chi Master 0 0
    sekarang ini paranormal indonesia nggak cuma bergerak di sektor klenik saja lho, ada juga yang terjun langsung sebagai politisi. Jadi perannya sekarang nggak cuman di belakang layar : D
    5150 0 0
    Agus PW: kalo wasit yang digebukin sampe terkencing2 mungkin ada : D
    cibro 0 0
    ada alternatif yang lebih bagus... nancapin lidi di atas tanah yang ujung lidinya ditarok cabe merah gemuk...
    hujan baru berhenti kalo ada lalat yang singgah di cape itu..

    ***kok mirip akse beibey ngepet ya?? harus njagain cabe biar gak lalatan.. ; )
    yusro 0 0
    Hanya orang yang gak normal yang butuh paranormal : )
    Huzein 0 0
    [Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?] Justru karena masih saja percaya paranormal maka kerusakan dan keterbelakangan mental seperti itu masih akan terus berkembang.....
    boiga 0 0
    cibro: hujan baru berhenti kalo ada lalat yang singgah di cape itu..
    __
    lha kalo hujan lebat gimana itu lalat bisa sukses singgah di sepotong cabe? : D
    umbaran 0 0
    coba dikumpulin, bikin simposium, suruh rame2 menerawang ekonomi Indonesia ke depan, kapan naik kapan krisis, bagaimana hindari krisis, catat baik2, kalau udah terjadi cari yang terawangannya oke, jadikan staf khusus presiden, doi kan percaya sihir dan yang begituan ... ; ))
    losun 0 0
    umbaran: ntar doi ngaku dizholimi lagi
    umbaran 0 0
    itu akan terus terjadi, ini kan republik sinetron, kalau mau dpt simpati yang cari karakter yang mengharu biru, sengsara disia-sia, meski cuma dalam kesan, dalam pencitraan

    *aslinya ya suka senang selalu*
    Xaliber von Reginhild 0 0
    Lain ladang, lain belalang. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

    Halah...

    Saya pernah baca, dari buku Pemikiran Politik Indonesia, percaya pada hal mistis macam ini yang justru bikin Indonesia punya kultur yang unik... bahkan ini yang membentuk filosofi kerajaan pada zaman dulu (sementara di Eropa pada masa itu udah lewat masanya Aristoteles, lol). Di sisi lain, oleh buku lain, pernah diutarakan juga bahwa kebijakan lokal semacam kejwen itu justru yang dianggap cara paling plural untuk memahami Tuhan *oke yang ini OOT*
    conscientizacao 0 0
    Xaliber von Reginhild:
    Inilah PARADIGMA MAGIS. Cara pandang yang KONSERVATIF, dilandasi Teori Sosial Fatalistik, tidak mampu menjelaskan sebab-akibat suatu fenomena, dan kaitan antara sistem atau struktur terhadap persoalan di masyarakat. Semua kembali kepada yang supranatural, dan di luar rasio manusia. Menggantungkan diri pada kekuatan di luar sana... *dan tidak berbuat apa-apa*

    http://politikana…omment-89500
    Aji Prast 0 0
    Agus PW: [Arema biasanya kalau main pasti bawa boneka Singa, dan ditarok dipinggir gawang.. apakah itu termasuk klenik atau bukan?]
    ..itu ritual, tidak lebih.
    cumipeyang 0 0
    Aji Prast: yang lebih "unik" lagi kalau 16 besar piala dunia, kalau ada negara tim-teng yang masuk pasti disablon bendera di bola utk pertandingan ybs,
    kalau yang masuk Saudi kayaknya bola-sepaknya jadi "ritual" yang serem
    hamatamu 0 0
    ndableg: http://politikana…omment-94330 , hngggg bukannya itu masih mending? ada juga lho yang tanya pendaftaran Facebook itu tutup jam berapa & bukan paranormal (kayanya) : D
    akusuka 0 0
    @ Herman:

    Dalam bukunya Fazlur Rahman, Kontroversi Kenabian dalam Islam, ada penjelasan mengenai empati alam semesta ..

    Apa maksudnya empati dengan tulisan juragan Herman di atas?

    Begini, tubuh manusia terdiri dari Jiwa dan Tubuh kasar. Nah kalau setuju dengan ketentuan ini, mudah menjelaskan mengapa Pawang Hujan (atau ada doa minta hujan dalam islam) bisa saja berhasil mendatangkan hujan ke tempat yang menurut analisis meteorolgi tidak mungkin hujan.

    Kenafa ada hipnotis?

    Kenafa ada sihir? ingat wanita yang di perutnya keluar banyak besi dari kalimantan?

    Semua dapat dijelaskan karena adanya jiwa tadi. Jiwa manusia dan jiwa alam semesta ini berhubungan.

    Kenafa sedekah sering membawa berkah?

    Semua tidak dapat dijelaskan secara ilmiah (mekanis) kalau tidak percaya adanya unsur jiwa yang sangat dominan dalam alam semesta ini.
    Herman 0 0
    @ akusuka:

    Saya percaya akan adanya alam ghaib, akan halnya yang Anda paparkan di atas. Namun, saya tak ingin kita menggunakan cara-cara irasional dalam penyelesaian setiap persoalan kehidupan. Gunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan jasa paranormal.

    Lihat bagaimana di masa-masa pemilihan kepala daerah dan bahkan pemilihan presiden, banyak orang yang mendatangi paranormal. Lalu, setelah terpilih, apakah itu pula yang mereka lakukan untuk mengentaskan kemiskinan dan jerat kapitalisme global?


    Xaliber von Reginhild 0 0
    conscientizacao:
    Paulo Friere?

    Saya kira, kalau benar itu yang dikatakan Paulo, hal tersebut beda konteksnya...

    Sistem kepercayaan kuno justrulah yang membentuk sistem sosial kuno pula. Dulu, raja diangkat bukan karena apa-apa, tapi karena dianggap dia yang paling memiliki wangsit. Sementara, rakyat harus mengikuti perintah raja meskipun rajanya bengis sekali pun. Mengapa begitu? Karena rakyat percaya bahwa raja adalah yang punya wangsit. Yang punya 'kuasa'. Jadi biarpun mau sebengis apa pun juga, tindakan raja dianggap sah sebagai bentuk manifestasi 'wangsit' itu.

    Disonansi kognitif? Barangkali.
    Tapi yang jelas, menurut saya, yang diutarakan mas itu, err... tak selaras dengan apa yang saya maksud. Barangkali saya aja yang nggak mampu menjelaskannya dengan baik. : p
    akusuka 0 0
    Herman: setuju juragan
    Supli Rahim 0 0
    tulisan yang bagus

    Silahkan login untuk memberikan pendapat