Hikmah Dibalik Musibah 15

Senin, 5 Okt '09 10:36

Berbagai musibah mungkin saja terjadi kepada kita, kapanpun dan kepada siapapun semua orang, apakah musibah tsunami, gempa bumi, banjir dll. Ketika musibah itu terjadi ada sejumlah permasalahan besar didalamnya, diantaranya ada takdir, ada kesabaran, ada pahala, ada tuntutan agar hamba menyadari bahwa yang mengambil adalah yang memberi (menganugerahkan), ada pula semacam peringatan agar hamba menjaga serta memelihara keseimbangan alam (beserta isinya) yang diciptakanNya untuk kita semua.

Kita sering berkata, bahwa ”segala puji hanyalah bagi Allah, Tuhan penguasa (dan pencipta) semesta alam.” Allah telah mengabarkannya bahwa alam semesta diciptakan tidak dengan main-main dan tidak pula sia-sia. Alam semesta ini diciptakan dengan qadha dan qadar, dengan keteraturan dan perhitungan. Ini benar, karena dalam syariah-syariah yang turun, disana terdapat seruan untuk terorganisir, tertata dan tertib. Namun seruan itu sendiri sering tidak kita indahkan, bahkan kita abaikan dan kita langgar.

Ketika suatu musibah itu terjadi, kita sering menerimanya bahwa itu semua merupakan penebusan dosa dan kesalahan, sekali gus pahala dan ganjaran disisi Tuhan, dan jika kita menyadari bahwa semua ini adalah hikmah yang dapat dipetik dari musibah itu, maka tentunya kita harus menghadapinya dengan tenang dan suka cita.  Hikmah lainnya, yaitu dihancurkannya kesombongan dan keangkuhan manusia yang sering kali melampaui batas, sehingga kita sebagai manusia sadar bahwa dirinya tidak serba mampu, pintar dan hebat, kita sangatlah kecil dihadapan Yang Maha Kuasa.

Sebuah musibah akan dapat membukakan hati dan menggugah empati sesama manusia, hikmahnya semakin merekatkan rasa cinta kasih dan silaturrahim, serta mampu pula mengeluarkan nilai-nilai ubudiyah doa yang selama ini terpendam, saling mendoakan kepada yang sedang tertimpa. Selayaknya dan manusiawi sekali bila orang-orang merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab dan mencintai orang yang sedang tertimpa musibah dan mendapatkan cobaan/ujian, masing-masing membantu semaksimal kemampuan kita. 

Kemudian diantara hikmah lain yang bisa dirasakan manusia ketika mendapat kan musibah yaitu dicabutnya sumbu perseteruan, maka tiba-tiba orang-orang yang saling bermusuhan diantara mereka lebur dengan sendirinya, kemudian mereka menjadi kawan yang sangat setia, saling membantu. Dan masih banyak hikmah-hikmah lainnya dibalik sebuah musibah. Sesungguhnya musibah musibah itu menampakkan keajaiban2 dan kesenangan2  yang benar-benar tidak disadari oleh kita sebagai hambaNya, kecuali setelah semua itu terkuak, ternyata sangat luar biasa.

Mari kita coba renungkan Nice Word karya WS Rendra (Alm) yang tercecer, yang saya sendiri ndak tahu judulnya :

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi,

Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdo’a,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah …. semua “derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika,

Aku rajin beribadah,
Maka selayaknyalah derita jauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku,
Kuperlukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai dengan keinginanku,

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah,
“Ketika bumi dan langit bersatu, maka bencana dan keberuntungan sama saja“

[karya: WS RENDRA].

 


Tag: hikmah, musibah, cobaan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    l. wiji widodo 0 0
    kekayaan dan kemiskinan sejatinya ujian....
    mohon ujilah kami dgn yg pertama..
    ndableg 0 0
    salam hormat buat alm. WS Rendra
    Harlan Eryandi 0 0
    l. wiji widodo: he he he .... kalo diuji yang pertama, banyak yg ndak kuat loh .... soale banyak yg masuk hotel prodeo.
    l. wiji widodo 0 0
    Harlan Eryandi: pasti mereka iklash, kholwat disana tp dianter SL 500
    boiga 0 0
    Harlan Eryandi: lha klo diuji yang kedua nantinya jadi hobi misoh2 juga.. : D
    Harlan Eryandi 0 0
    boiga: iyo e, tapi tergantung mas, kemiskinan kultural atau struktural .....
    cibro 0 0
    .....
    Musibah,
    apapun istilah lainnya, jelas tak mengasyikkan...


    ***gak afdol kalo da ngerating gak ikutan ngomen..
    conscientizacao 0 0
    cibro: Wah, jadi harus ngisi komen ya...? : D

    Musibah, ibarat komputer nge-hang. Pasti karena tidak dirawat, banyak debu, atau banyak virus masuk. kalau sudah nge-hang, di restart aja... : D
    Harlan Eryandi 0 0
    conscientizacao: Klo dah ga bisa di restart, install ulang ya ...
    conscientizacao 0 0
    Harlan Eryandi: : D FOrmat, install ulang. Kalau perlu ganti OS, yang lebih tahan "virus"... : D
    cibro 0 0
    kalau da gak bisa diinstol ulang? Ya buang dan beli baru... kalo ndak punya duit beli yang baru... curi punya tetangga.. kalo tetangga gak ngasih dicuri... paksa, jika perlu dibunuh... kalo dah dibunuh? ... larikan komputernya... kalo ketangkep polisi?... ya masuk penjara...

    kalo da masuk penjara???

    ""Masih Bermanfaatkah Komputer itu tadi???
    Ning 0 0
    cibro: tergantung kedekatan dengan sipirnya...
    kinanthi 0 0
    cibro: berarti namanya musibah : D
    umbaran 0 0
    dulu gempa bumi terjadi ...naga didalam tanah dibawa-bawa, kini gempa terjadi ...Tuhan di atas sana dibawa-bawa, kelak gempa terjadi lagi ... (isi sendiri).
    MFH 0 0
    Alhamdulillah masih juga berpikir positif dalam kondisi seperti ini...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat