Kegelisahan Si Abang 8

Senin, 5 Okt '09 16:35

 

Ia dikenal sebagai pengacara paling senior di Indonesia. Kiprahnya tercatat dalam kekuasaan 6 presiden.Mau masuk kekuasaan karena tamsilnya tentang kapal yang sedang karam.

 

Langit cerah dan berwarna biru di atas Cirendeu. Angin pagi bertiup lembut bersanding dengan suara khas ayam pelung yang melenguh panjang. Tepat di bawah sebatang pohon kemboja, seorang lelaki berambut perak tengah duduk bersila. Kedua tangannya menangkup di atas dada.Beberapa detik kemudian, seiring ia melepaskan nafas panjang, tangannya melakukan gerakan mendorong ke arah depan.

”Sudah 34 tahun secara rutin Abang melakukan yoga. Ini sangat membantu vitalitas Abang dalam menjalankan kesibukan sehari-hari”katanya sambil menyapukan sebuah handuk kecil ke seluruh bagian wajahnya yang penuh butiran keringat.

Sejak 27 April 2007, Si Abang –panggilan akrab Adnan Buyung Nasution—resmi bekerja sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres). Adakah itu sebagai tanda ia mulai jinak terhadap kekuasaan? ”Ah enggak benar itu, dalam soal idealisme tak ada yang bisa merubah saya termasuk SBY,”ujar lelaki Mandailing kelahiran Jakarta,20 Juli 1934 itu.

Ada alasan sendiri Si Abang menerima tawaran Presiden Yudhoyono. Ia bertamsil jika dirinya adalah seorang yang sedang menyaksikan sebuah kapal besar yang akan karam. Para penumpang banyak yang panik dan berteriak minta tolong.”Masa Abang hanya menyaksikan saja dan tidak tergerak memberi pertolongan?”

Keputusannya untuk bergabung dengan lingkungan istana, juga didasarkan atas kegelisahannya menyaksikan  kekacauan dunia hukum kita dan kekurangtegasan pemerintah. Kendati dipilih secara demokratis, Si Abang mengatakan bahwa,”Pemerintah sekarang tidak memiliki keberanian moral untuk mengambil keputusan,”katanya. Dengan ada di Watimpres, ia berharap bisa mendorong munculnya keberanian tersebut.

Menurut Si Abang, carut marutnya dunia hukum kita, tidak terlepas dari kondisi idealisme para penegak hukum yang rata-rata sangat buruk. Kualitas polisi, jaksa, hakim dan pengacara yang jauh dari bermutu, juga menjadi penyebab terjadinya itu semua. Lantas apa yang harus dilakukan untuk keluar dari situasi tersebut?

”Kembalikan peran hukum sebagai panglima dan mulailah membuat teladan dari tingkat atas,”ujar pengacara paling senior di Indonesia itu.

Kendati demikian, Si Abang menghargai beberapa upaya hukum yang dilakukan pemerintah terhadap para koruptor.Setidaknya itu menjadi awal yang bagus untuk mencapai supremasi hukum.”Abang pikir kita juga harus adil, pemerintah itu kan tidak mutlak selamanya buruk, ada juga hal-hal yang berguna yang sudah mereka lakukan. Tapi ya kritik harus tetap terus,”katanya.

Soal sikap kritis ini, Si Abang sudah melakukannya sejak pemerintahan Presiden Soekarno hingga pemerintahan sekarang. Tanpa tedeng aling-aling, ia melancarkan kritik kepada sesuatu yang ia anggap merugikan rakyat. Wajar karena bersikap seperti itu, Si Abang kenyang ”dikerjain”. Diantaranya adalah ia pernah dirumahkan oleh Soekarno dan dipenjarakan oleh Soeharto selama 2 tahun.

Namun perlakuan nyinyir dan pemenjaraan, tidak lantas membuat Si Abang berubah dalam masalah prinsip. Alih-alih berubah, malah penjara semakin memperkuat prinsipnya untuk membela yang benar. Karena itu, saat dirinya dijadikan tokoh karikatur dengan embel-embel ”maju tak gentar, membela yang bayar”, saat membela Rudi Ramli (bekas pejabat Bank Bali), Si Abang marah besar.

”Kalau kita membela tersangka atau perampok, tidak berarti kita membela perbuatannya, tapi ikut dalam proses mengadili seseorang secara fair,”katanya dalam buku Semangat Si Jambul Putih karya Bunga Kejora.

Toh, menurut Si Abang, selama hidupnya ia tak jarang  membela banyak kasus secara pro-bono (bebas biaya).Sejak mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) pada 1970, puluhan bahkan mungkin ratusan rakyat kecil yang pernah dibelanya. Termasuk saat ia mengadvokasi masyarakat Simpruk melawan sebuah perusahaan besar dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Dalam kasus tersebut, Si Abang tidak hanya duduk di belakang meja. Bersama kawan-kawan lainnya di LBH, ia langsung terjun ke lokasi membela rakyat mati-matian. Saat secara sepihak buldozer  dengan dikawal prajurit AURI, menghancurkan rumah orang-orang Simpruk,Si Abang memimpin demontrasi untuk melawan kezaliman tersebut.

Akibat peristiwa itu, ia langsung dipanggil Ali Sadikin, yang merupakan salah satu pendukung keuangan LBH. Dan bukannya merasa segan, Si Abang malah mengambil insiatif memprotes duluan Bang Ali,seperti dilukiskan dalam biografinya,Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto.

 ” Bang Ali keterlaluan! Masa rakyat diusir kayak kambing oleh kekuasaan DKI?!”

 ”Kamu bilang saya ngusir rakyat kayak kambing?! Tidak pernah di kepala saya menganggap orang itu kambing!”balas Ali Sadikin sambil melotot dan memukul-mukul meja.

 ”Ya tapi kan kenyataannya begitu! Mereka tidak didengar dan tidak dilindungi.”

 ”Tapi kan DKI memberikan ganti rugi?!”

 ”Ganti rugi apanya?! DKI main tetapkan sepihak saja harga sekian, tidak ada pembicaraan, tidak ada dialog, tidak ada tawar menawar, tidak ada negoisasi.Itu kan menguntungkan si Pengusaha. Padahal itu kan milik rakyat, rakyat punya hak dong, didengar suaranya...”

Menurut Si Abang, perdebatan terus berlangsung keras dan alot.”Hingga pada suatu titik, Bang Ali akhirnya melunak dan mau memenuhi tuntutan kami,”kenang suami dari Sabariah Sabaroedin itu.

Langit masih cerah dan berwarna biru di atas Cirendeu. Angin pagi bertiup lembut bersanding dengan suara khas ayam pelung yang seolah tanpa henti terus melenguh panjang.Usai yoga, Si Abang melangkah ke arah meja makan, duduk dan langsung menyantap sarapan paginya: potongan kecil buah-buahan dicampur dengan susu coklat dan madu Arab.

 ”Ya, Abang berharap situasi carut marut ini cepat selesai.Dan Indonesia bisa melangkah dengan kepala tegak ke era supremasi hukum yang lebih maksimal,”ujarnya.Sepotong kecil apel terakhir lantas memasuki mulutnya.(hendijo).

 


Tag: wawancara

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    hendijo 0 0
    Kita nantikan,bisa ga dia...
    krisnov 0 0
    Kelak si abang akan menyesal karena menjadi pembela Ahmadiyah dan AKKBB.
    ki baraja 0 0
    krisnov: ??????????
    Subroto 0 0
    Pro-bono apaan?? Justru disitu dia mulai aksi permainan kasus

    Buat jeng krisnov: FPI mendukung anda
    boiga 0 0
    hendijo: kita doakan dan nantikan... semoga ia berhasil mendorong dari dalam lingkar kekuasaan..
    Striding Cloud 0 0
    Subroto: pro bono= bantuan gratis?
    Subroto 0 0
    Striding Cloud: Nyoa
    anti-fenomena 0 0
    pro bono = penggemar U2

    Silahkan login untuk memberikan pendapat