Musibah, Siapa Yang Patut Dipersalahkan? 13
Senin, 5 Okt '09 00:23
Begitu tadi subuh 'logout' dari P ini, azan di masjid terdengar, kebetulan tetanggaan dengan masjid. Meski ngantuk namun tidak parah, akhirnya mutusin jamaah di masjid aja. Rupanya ini hari minggu, seperti biasa, ada pengajian subuh di masjid komplek, tentu bila langsung pulang kagak enak. Jadilah pendengar setia di subuh itu.
"Kalau tak mau bersyukur terhadap empat nikmat, maka yang empat itu akan berubah jadi azab", begitu kata pak ustadz yang kebetulan juga sahabat. Beliau menyebutkan keempat nikmat itu: tanah, air, api, dan angin. Keempat nikmat ini adalah kebutuhan manusia yang harus disyukuri keberadaanya, sebab bila tidak, (katanya) akan berubah jadi azab. Air azab itu bernama banjir, tanah azab itu berupa gempa, api menjadi petaka bila memakan rumah, dan angin juga begitu, seperti kita kenal ada elnino, putingbeliung, termasuk angin duduk. "Semua itu adalah azab akibat ulah manusia yang tak mau bersyukur", paparnya lagi.
Ceramah subuh yang lebih satu jam tadi pagi memang membosankan saya, karena selain lantaran belon ada tidur malam, isi ceramahnya juga tak sepenuhnya saya setujui. Apalagi tema-nya tentang memaknai musibah persis sama seperti komentar ust Abdullah Syah (MUI Sumut) di surat kabar tempo hari yang juga dimuat di P ini. Namun sebagai pendengar budiman, saya tetap harus selesai mengikutinya.
Terlepas dari ceramah agama sang sahabat.... memang ada beberapa ayat Al Qur'an yang menyebutkan bahwa musibah dan bencana alam terjadi akibat ulah manusia (misalnya QS.4:62 - 28:47 - 30:36,41 - 42:48), tapi dalam menjabarkannya, acap kali menggunakan hujjah yang berbeda. Tapi intinya masih sama: Sama-sama menyalahkan ulah orang lain, bukan ulahku - bukan ulah kita!! Seakan-akan hanya orang lain saja manusia yang bersalah.
Lihat saja, ada yang berlagak seolah-olah mewakili Tuhan dengan "menyalahkan" pelaku durjana, "Ini lantaran kemaksiatan semakin merajalela di negeri ini. Pemerintah diam-diam saja, maka Tuhan jadi murka...". Padahal dia juga banyak melakukan kesalahan yang "parah-parah".
Ada pula yang "menyalahkan" manusia perusak alam, sehingga alam menjadi marah, jengkel, ngamuk, dan kecewa. Ada lagi yang bilang, "ah.. itu cuma karakter alam yang tetap dan bisa dipelajari, jadi seharusnya tugas ilmuwan dong yang ngabari lebih dini ke warga sebelum adanya bencana!", nyalahin orang lagi.
Memang sih, ada sebagian yang tak mau menyalahkan, mereka hanya bilang, "Musibah itu ujian dari Tuhan agar kita semakin kuat". Sayangnya, yang dengar komentar ini malah nyalahin yang komentar, "Masa' sih ujian harus dengan menelan korban jiwa yang diuji? Yang benar aja dong! Gak ada cara lain apa untuk nguji orang?".
Nah, ketika ada yang tak berkomentar apa-apa, cuman dengan tindakan aja; yakni mengumpulkan sumbangan di lampu-lampu merah, membawa kardus besar bertuliskan - bantulah korban bencana alam anu -, E... ternyata yang meliat aksi ini bilang: "Ini hasil sumbangan apa nyampe gak ya ke tangan korban... jangan2 akal-akalan lagi untuk meraup keuntungan pribadi", walah... nyalahin orang lagi!!
Ah, saya kok jadi yakin, bahwa tulisan ini pun dibuat justru untuk menyalahkan orang lain juga, apalagi kalau saya tambahi sebuah kalimat, "Jangan-jangan musibah yang sering menimpa negeri ini karena ulah rakyatnya yang pada saling menyalahkan!!".
------
Tapi santai bro.... Teruslah melakukan penilaian, termasuk jika harus dengan cara salah-menyalahkan tadi. Tapi tentunya harus dengan niat baik - cara baik - tujuan baik, dan bukan sekedar berlagak diri, atau merasa udah hebat sendiri, namun lebih kepada memberikan sebuah solusi untuk kebaikan bersama, bukan malah untuk menutup mata hati...
Insya Allah............
Tag: Bencana Alam, musibah
Terkait:
-
Renas-PB dalam 5 Tahun ke Depan Sebesar Rp 64,475 Trilyun
Jumat, 19 Feb '10 17:28 -
Menilik Kesiapan Pemda Dalam Antisipasi Bencana
Minggu, 18 Okt '09 11:14 -
1 Langkah Kecil untuk teman-teman di Sumatra Barat
Rabu, 14 Okt '09 19:57
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
losun: Biasa
-
Subroto: Bagus
-
Esemge: Menarik
-
boiga: Biasa
-
kalangwan: Bagus
-
ndableg: Biasa
-
Pelanglang: Bagus
-
doeh: Biasa
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
cynical:


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
http://politikana…-ebiet-g-ade
Musibah, sama seperti jodoh dan mati, adalah hak preogatif Tuhan, tanpa harus dipertanggungjawabkan kepada lembaga legislatif dewan syurganya
Mengapa musibah terjadi?
- Karna Tuhan menginginkannya
Lalu mengapa Tuhan menginginkan musibah tersebut terjadi?
- Karna ente manusia dengan kapasitas otak kecil, bagaimana pula bisa memahamiNya
Emangnya siapa yang manusia?
-Ente, eh ente bukan manusia? Atau IBLIS??
Emangnya siapa yang manusia?
-Ente, eh ente bukan manusia? Atau IBLIS??
-------
Emangnya siapa yang IBLIS?
-Ente, eh ente bukan IBLIS? Atau manusia?
Maaf..maaf.. saya tidak sedang menyinggung MUI atau DGI yah
ayo donk lebih rasional, pemimpin agama punya peran besar untuk mendukung CBDRR, mungkin ini lebih besar manfaatnya bagi masyarakat
Ketika kita minta kekuatan,maka Tuhan memberi kita masalah ,ketika kita minta kesabaran ,banyak orang nyleneh yang berkuasa.
Benarkah?
#bingung aku kalo misalnya minta supaya diberi kekuatan tidak nonton film porno,jangan jangan miyabi malah datang.#
kalo begitu mungkin bukan salah doa...
tapi pengabulan doanya diganti dengan sesuatu yang lain... sama spt orang berdoa minta rejeki banyak... e.. malah anak yang dikasih banyak..
*MUI mode
Silahkan login untuk memberikan pendapat