Kisah Nyata Seorang Njoto 92
Selasa, 6 Okt '09 10:34
Siapa sebenarnya Njoto? Namanya tak seberpengaruh nama Aidit, tak sepopuler Letkol. Untung, juga tak semisterius Sjam Kamaruzaman. Padahal, tak lengkap membicarakan PKI tanpa menyebut namanya.
Dia dijuluki -- salah satunya -- "The Brother Number Two", yang dengan tepat memperlihatkan posisi Njoto dalam struktur kepengurusan PKI. Njoto memang orang kedua setelah Aidit dalam hierarki di tubuh PKI. Bersama dengan Aidit dan Lukman, dia menjadi aktor penting di balik melesatnya bendera PKI di langit-langit jagat politik Indonesia. Dalam waktu yang relatif singkat, triumvirat yang masih berusia muda kala itu mampu merestorasi kekuatan dan wibawa PKI usai dipermak habis-habisan pasca peristiwa Madiun 1948.
Tapi hubungan antara Njoto dan PKI juga dengan ideologi komunisme, terlebih juga dengan petinggi-petinggi PKI lainnya, jauh lebih kompleks. Pribadi Njoto juga lebih berwarna ketimbang Aidit, misalnya.
Dalam salah satu percakapan singkat dengan Martin Aleida, bekas anggota Lekra, beberapa tahun silam, saya mendapat keterangan menarik. Katanya, "Jika PKI menang, orang macam Pram atau Njoto itu bisa jadi malah akan dihabisi."
Hipotesis itu didukung beberapa kalangan. Ada yang menyebut, Njoto cenderung lebih Soekarnois ketimbang seorang komunis. Itu pula sebabnya sejarawan John Roosa berani menyebut Njoto pelan tapi pasti mulai disisihkan dalam sejumlah rapat-rapat penting para petinggi PKI.
Selain anggapan bahwa ia lebih Soekarnois ketimbang seorang komunis, Njoto juga dianggap terlalu borjuis gaya hidupnya untuk ukuran seorang petinggi PKI. Dia senang pelesir, memainkan alat musik, menyukai musik-musik klasik barat, dan sempat pula menaruh hati pada perempuan lain saat ia sudah beristri; sesuatu yang bisa fatal saat itu, mengingat pelukis Soedjojono pun dikecam keanggotaannya karena berpoligami. Ia bahkan disebut-sebut mencoret film The Old Man On The Sea --yang diadaptasi dari novel Hemingway-- dari daftar film Barat yang harus dilarang peredarannya.
Njoto juga dianggap sebagai sosok paling intelektual di tubuh PKI. Aidit, Lukman, Susidman atau Njono dianggap tak ada apa-apanya dengan kecerdasan Njoto. Ia dikenal serba bisa dan paling banyak tahu, dari soal politik, seni, olahraga sampai perkara kuliner. Goenawan Mohamad, dalam percakapan dengan saya beberapa waktu lalu, mengakui bahwa kadar pengetahuan Njoto saat itu lebih menonjol dibanding koleganya di PKI.
Wawasannya yang luas itu pula yang membuat Iwan Simatupang percaya Njoto lah yang membuat seniman-seniman macam Affandi mau merapat ke Lekra dan PKI. Novelis yang terkenal dengan prosa-prosa yang kuat dengan nafas eksistensialisme itu bahkan menyebut Njoto berbahaya karena keluasan pengetahuannya.
Tapi siapa Njoto yang sebenarnya masih banyak menyimpan misteri. Dia tak jelas di mana kuburannya, kapan kematiannya, dan di mana dieksekusinya. Teman baik saya, sedang menyiapkan biografi khusus tentang Njoto dengan mengandalkan kepustakaan primer, bahan-bahan dari koran sezaman, serta interview dengan puluhan orang yang mengenal Njoto.
Tapi buku itu masih akan sangat lama terbitnya. Sementara, Anda bisa menikmati lebih dulu suguhan laporan khusus majalah Tempo pekan ini tentang pria necis berkacamata kelahiran Jember ini.
Anda bisa membacanya DI SINI.
Mungkin, dari laporan khusus Tempo itu, Anda bisa sedikit mengenal sosok dan kisah nyata seorang Njoto. Mudah-mudahan saja demikian.
Tag: PKI, sejarah politik, Njoto
Terkait:
-
ternyata Indonesia belum merdeka dari penjajahan Belanda & antek anteknya
Kamis, 14 Jan '10 23:17 -
Pernyataan Sikap
Selasa, 12 Jan '10 23:57 -
255 tahun perjanjian giyanti,255 tahun pecahnya persaudaraan sejati
Jumat, 1 Jan '10 23:43
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
NOS: Menarik
-
yusro: Menarik
-
l. wiji widodo: Biasa
-
kinanthi: Menarik
-
Striding Cloud: Keren
-
Agus PW: Bagus
-
cumipeyang: Menarik
-
doeh: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
hamatamu: Penting
-
Aji Prast: Menarik
-
anti-fenomena: Menarik
-
syafatain:
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
boiga: Menarik
-
Knalpot Putih: Penting
-
mpokb: Menarik
-
LCFR: Menarik
-
umbaran: Bagus
-
ndableg: Bagus
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
iloenx: Inspiratif
-
cibro: Bagus
-
akusuka: Bagus
-
jamur: Menarik
-
fortaleza de la soledad: Menarik
-
hendijo: Penting
-
Logical Fallacy: Menarik
-
Manohira: Menarik
-
addiehf: Bagus
-
kurit: Bagus
-
dewa iblis awan api: Menarik
-
Mas Paman: Keren
-
Dodo: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
besoksaja: Keren
-
toa ngota: Menarik
-
samsara: Keren
-
Smart: Penting
-
Hugo Slavia: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
harusnya menarik maaf..
mungkin rating ga dipermasalahkan penulisnya...tp kl di rating biasa jelas membohongi ketertarikan sy
sejarah dijadikan tuhan
pemahaman akan sejarah (baik atau buruk) bisa sangat berharga untuk bekal kita berbuat lebih baik di masa depan.
artikel ini saya anggap berharga dan saya rating menarik karena faktor di atas.
gantian, coba anda jelaskan apa yang membuat artikel ini gak penting, atau apa alasan komentar anda di atas: "sejarah dijadikan tuhan" ?
oleh sebab itu sy ga pernah merating dgn warna hitam (kecuali postingan tertentu yg nyampah atau bikin hhhrrr...)
apa aja yg membuat keindahan bg sy sy tuhankan (sejarah,tehnologi,rawon,pertemana,soto,sate,. .banyak lg) unt saat ini sejarah jad "detasering" keindahan di hati saya
anda tanya adabnya? lha kita ini kan hidup di tengah peradaban kan?
kalo maksud anda adab = mulia; klo maksud anda bagusnya pki dimana, saya jawab; bagusnya pki adalah kekuatan persaudaraan yang mereka miliki, solidaritas sesama, kepedulian pada rakyat kecil, fighting spirit, dan kecerdikan memainkan peluang.
nilai-nilai di atas adalah nilai2 umum yang saat ini sudah tampak pudar walaupun kekuatan sekarang sudah dipegang oleh pihak yang menyatakan bertolak belakang dengan PKI ini.
dimana rupawannya? ah sepertinya biasa2 tp begitu anda cintai bhakn setia hingga berikrar untuk tdk ingkar....mana menariknya?
*selera
saya termasuk kaum pangan krupuk, soalnya kalo gak pake kerupuk gak afdol
[_ lah, pentingnya dulu dimana,utk apa? diangkat2 dipuji2. coba kalau njoto itu bukan PKI, apa kalian setertarik ini? _]
Saya tertarik, karena tulisan ini menguatkan pandangan saya, bahwa pada organisasi mana pun, masing-masing individu memiliki pandangan sendiri-sendiri dalam memandang dunia. Hence, pelabelan dan generalisasi adalah hal yang bodoh.
Saya malah tertarik dengan pernyataan Anda, tulisan ini yang memuji2 njoto dimananya?
Telor juga keluar dari pantat ayam kok... Nyatanya kita makan juga, ya nggak bung boiga
satu partai brarti ..Partai Krupuk Selalu..
dirumah ga pernah absen,makanya mottonya
'krupuk, harga mati!"
kebiasaan org indonesia,klw uda dicap baik buang anginpun masih ditertawakan.tp kalw dicap berseberangan minyak wangi diberi masih menutup hidung
*mumpung demokrasi belum berbayar, coba kalau kayak listrik atau pulsa HP, Anda harus bayar dulu baru bisa ngomong, kan repot...*
ada penggemar Miyabi nyebut-nyebut setan
mata kanan buka kitab
mata kiri ngelirik miyabi
Sity Mieaby
SMILE... And the world will smile for you.
A smile is something nice, which doesn't cost a cent.
A smile is welcome everywhere. It invites friends.
A smile is good for everyone.
so...
Do it while there is a chance!!
walah, premis saya selama ini salah. ngapunten buat umbaran dan conscientizacao
syafatain memang gebleg!
1. ia bisa menginspirasi siapapun utk bersikap adil terhadap sejarah. adik sejak dalam pikiran. Hidup di zaman orba sdh membuat kita tdk adil terhadap sejarah, dan tulisan-tulisan yangmengungkap sisi-sisi gelap sejarah (atau sejarah yg digelapkan) layak mendapat apresiasi secara proporsional. secara adil.
2. artikel ini jelas menambah pengetahuan saya tentang sosok njoto dan (sedikit) konstelasi pergaulan dia di jajaran elit PKI, juga elit bangsa, pada masanya. ia juga mmberi saya informasi ttg akan adanya buku biografi njoto untuk mengetahui lebih banyak ttg tokoh ini...
3. artikel ini, dan laporan TEMPO, dan buku biografi itu, hemat saya lahir dari semangat JASMERAH. Saya bukan pengagum BK, tetapi retorika dia ttg JASMERAH menurut saya susah dibantah. Karena sebagai bangsa, kita tdk tiba-tiba saja ada......
(maaf tiga alasan ding, dan mungkin masih banyak lagi)
konon, setiap masa ada toghutnya, dajjalnya, atau apalah namanya..
e, ternyata di P ini juga berlaku, datang silih berganti.... Pasti lepas ni ada lagi..
***kurang afdhol jika hanya merating tanpa disertakan komentar, walaupun tak penting...
itulah yang dilakukan A.. (siapa ya si A ini) dalam penyusupan G30S 1965 dan NII 1970-an, shg PKI dan NII dengan mudah dibubarkan.
Nah data ttg tokoh2 PKI (dan juga seluk beluk opsus untuk basmi PKI) kan terbatas karena media dikuasai Nasionalis.
Jadi tulisan ttg Nyoto, Nyomai atau Letkol Untung dan Dul Arif luar biasa berharganya.
* saya tida memihak manapun
nggak tau yah?, kalo AGAMA juga bisa sangat berbahaya ??? lebih bahaya dari PKI loh....
lihatlah bagaimana dampak pemahaman AGAMA ISLAM di tangan Noordin M Top dan kawan-kawannya ....duh duh duh ...
membahayakan sekali juragan-juragan.....
kalo faham PKI dilarang, mungkin agama yang di peluk Noordin M Top juga mesti dilarang tuh !!!
bahaya berat ...
giliran muslim (pemeluk agama islam) gak bener... bilang "itu sih orang nya aja yang salah" bukan islam nya ....
tar giliran fahamnya selain islam :
yang disalahkan semuanya, ya orangnya kena, ya fahamnya juga mesti di babat abiss !!!
*sambil guling-guling di meja
hadooh, ada2 aja emang idup nih
[...giliran muslim (pemeluk agama islam) gak bener... bilang "itu sih orang nya aja yang salah" bukan islam nya ....
tar giliran fahamnya selain islam :
yang disalahkan semuanya, ya orangnya kena, ya fahamnya juga mesti di babat abiss !!!...]
nendang abisssss tuh komennya, ki!
gak tau tuh keselip di lemari P sebelah mana.....
saya nunggu di belakang saja..
--
http://politikana…omment-84334
http://politikana…omment-84345
karnipora maksud nyah? (*pemakan daging)
iyah, pemakan segala manusia mah ... multipora !!
ampe spora juga diembat
wah sarap gw nih
gak ada icon tepuk tangan euy, plok, plok, plok...
*yang nemplok padahal tanah basah
nyeli euteung yeuh aki.....
ada rekor baru soto manggala maksar masuk rekor MURI lho.... ini dia beritanya :
http://matanews.c…rekor-dunia/
padahal paling ngeri urusan konsleting ini
baru-baru jakarta rame kebakaran gara-gara konsleting lho buw...
jangan2 gw kebakar neh ...
Saya bahkan tidak yakin, pernah ada istilah "Brother Number Two" dalam PKI .. kecuali bila org mengimpor istilah tsb dari Pol Potnya Kamboja, the Khmer Rouge. Jika ini yg terjadi maka ini rada memperkosa sejarah namanya. Sebab di dokumen kalangan PKI mereka saling menyebut dgn istilah "Kawan" yang artinya kamerad, bukan sekadar sahabat, melainkan saudara sepenanggunan dan seperjuangan.
Apakah isi dan prakteknya betul2 brotherhood, sepersaudaraan, ini tentu cerita lain; di Kamboja saling bunuh, di PKI saling sikut dan singkir. Tapi istilah "Brother Number One, Number Two itu bukan sekadar istilah melainkan konsepsi. PK Kamboja-nya Pol Pot morally sangat dekaden, dan menunjukkan institusi partai tsb sangat elitis, karena gelar brother nya hanya utk kader top pimpinan partai.
Martin Aleida, bekas anggota Lekra, dikutip sebagai mengatakan beberapa tahun silam: "Jika PKI menang, orang macam Pram atau Njoto itu bisa jadi malah akan dihabisi."
Soeryono, alias "Bung Soer" almarhum, mantan wartawan Harian Rakyat yg konon dekat dgn Nyoto, pernah menyimpulkan kalau PKI menang ya sama saja dgn Golkar menang. Maksudnya di situ watak kelas neo-priyayi terbawa terus. Bung Soer - mirip Nyoto di partai - juga menjadi kontroversi di kalangan eksil di Amsterdam. Bung Soer resminya wartawan rubrik olah raga di HR semasa HR dipimpin Nyoto; dia mengaku sering menulis untuk Nyoto.
Akhirnya harus dicatat Bung Soer menjadi (mungkin satu2nya) orang Indonesia, orang PKI, yang pernah dibuang oleh tiga partai komunis terbesar di dunia (PKI, PKC, dan PKUS). Terdampar di sebuah sanatorium atau rumah sakit terpencil di Uni Soviet, lalu thn 90an seorang wartwawan Belanda alm. Willem Oltmans, menolongnya dan membawanya ke Amsterdam dan Bung Soer sepi, terbuang, sengsara dan meninggal di Amsterdam. Kisah Bung Soer mungkin satu aspek tak langsung dari Nyoto, dua tokoh unik PKI.
Sekian, tabik.
Saya baca di salah satu memoar yang ditulis Sobron. Itu sebabnya, sebelum istilah The Brotther itu saya sebut, saya meletakkan frase "--salah satunya--". Tentu saja itu istilah informai yang tak ada dalam vocab resmi komunisme atau PKI.
Saya ndak tahu apa implementasi term "neo-priyayi" dalam pengandaiakan jika PKI menang. Tapi menilik apa yang terjadi pada Trotsky, tentu saja apa yang menimpa Njoto atau Soeryono seperti Anda contohkan, tidaklah terlampau mengejutkan.
Apakah Stalin telah membikin partai menjadi neo-priyayi? Saya kira kita bisa mencari istilah yang lebih mungkin bisa lebih tepat.
Saya kira Soedirman sangat layak diulas secara khusus, Ndor. Juga Nastution. Tempo belum melirik sama sekali edisi khusus dari kalangan militer. Dan kalau dicari siapa yg bisa diangkat, ya dua orang itu. Kartosoewirjo yo juga pantas untuk diulas.
gak tau, emang sedari dolo tempo dah nolis siapa aja? :d
Kalau edisi tokoh, tempo sudah menulis Karno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, DN Aidit, Sjam, Njoto [plus Untung utk Koran Tempo pada senin lalu].
coba cek side bar di blog ini:
http://lenteradia…logspot.com/
di situ ada tautan beberapa edisi khusus tempo. ada edisi aidit, sjahrir, hatta, natsir, edisi demokrasi liberal dan lain-lain.
Mengenai Njoto kalau saya lihat lebih ke sosok pemikir berbeda dengan Aidit yang lebih ke sosok organisatoris, kelas sosial Njoto juga berbeda dengan kebanyakan anggota PKI itu juga yang mungkin menyebabkan dia seperti dikucilkan.
Ah, itu pasti karena sampeyan juga borjuis toh, man paman? Etapi sampeyan borjuis yang mana ini? borjuis yang suka musik klasik? borjuis yang suka tepe2 sampai cewek bule dari rusia? atau yang suka nyecep champagne?
*siap-siap dibandem jenewer*
.. asal jangan aja alasan menarik itu karna penulisnya.
kebiasaan org indonesia,klw uda dicap baik buang anginpun masih ditertawakan.tp kalw dicap berseberangan minyak wangi diberi masih menutup hidung ...
----
Saya setuju dengan tante sity ini, beda halnya jika tulisan ini adalah tulisan dari seorang kyai/syekh
..ntah dikira naskah khotbah jumat dong?!?!??...
setelah dicermati, justru artikel ini tambah menarik dengan kehadiran anda...
***seharusnya mereka berterimakasih padamu ya syafatain...
wah jadi inget jaman disuruh-suruh nonton pilem G30S, kawan...
udah malam gini masih aja nyambung ya...
***salud deh...
Bagaimana dg Amir Syarifuddin? Juga M Yamin?
Keduanya memiliki kontroversi sendiri2, saya kira.
juga dalam skala yg beda, mungkin, otista. Utk tokoh2 militer, yach para jenderal yang menjadi korban g30s itu sendiri. TEMPO, kita percaya, pastilah akan menemukan banyak sisi yg tdk/belum terungkap di buku2 sejarah resmi di sekolah yg begitu garing....
Sepakt ama Zen, Pangsar Sudirman menarik untuk diulas.
Saya sempat berharap Tempo mengulas Pangsar Sudirman setelah disebut2kan dekatnya beliau dengan Tan Malaka dan juga ide Murba nya. Entah beliau juga seorang Murba atau bukan.
Dan lagi, Pangsar Sudirman ini misterius bagi saya.
--
Ide lain mungkin bisa masuk ke ulasan peristiwa sejarah yg dilakukan oleh Opsus. Saya tidak tahu pasti prosedurnya dan aturan mainnya. Tetapi bukankah ada rahasia negara yang bisa dibuka setelah kurun waktu tertentu?
Silahkan login untuk memberikan pendapat