Jangan Ragukan Pesan al-Qur'an ttg Berbagai Kejadian Bencana di Tanah Air 87
Rabu, 7 Okt '09 07:21
Sehari setelah kejadian gempa di Sumatra Barat minggu lalu, beredar kabar -di antaranya lewat pesan singkat (SMS) dan situs jejaring sosial facebook- yang mengaitkan waktu terjadinya gempa dengan surat dan ayat yang ada di dalam al-Qur'an.
"KETAHUILAH…. Gempa di Padang terjadi pada pukul 17.16, coba lihat QS. 17.16.. Kemudian gempa susulan terjadi pada pukul 17.38, lihat QS. 17:58.. Gempa di Padang terjadi pada tanggal 30 bulan 9, lihat QS. 30:9.." demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa yang membuka ayat-ayat di atas akan menyadari bahwa musibah itu memang layak menimpa negeri ini.
Kalau dilihat isi ayat-ayat yang dikaitkan dengan peristiwa kejadian itu (bahkan ada pula yang menulis saat kejadian gempa di Tasikmalaya lalu dan gempa susulan di Bengkulu sehari sesudah gempa Padang itu dengan ayat-ayat pula), isi terjemahan ayat-ayat Qur'an itu seakan-akan memberikan penjelasan tentang pertanyaan mengapa peristiwa dahsyat itu bisa terjadi di wilayah itu.
Atas beredarnya pesan itu via SMS dan dunia maya (internet), berbagai tanggapan pro-kontra pun bermunculan. Kalangan akedemisi dan pakar gempa, jelas menolak pandangan itu oleh sebab penjelasan religius tidak bisa mereka terima secara rasional dan empiris. Mereka lebih percaya pada penjelasan yang dikemukakan oleh teori-teori terjadinya gempa, yang banyak di tulis di buku text atau jurnal ilmiah. Alasan mereka ini bisa saja dimaklumi, sebab memang buku text dan jurnal itulah yang menjadi 'kitab suci' dan 'suhuf-suhuf' kaum intelektual itu.
Kaum Spiritualist dan Kebathinan seperti Permadi SH, Ki Joko Bodo, atau Mama Lorenz, juga punya pandangannya sendiri pula tentang teori seputar kejadian berbagai bencana di negeri ini, tentu berdasarkan 'wangsit' yang mereka terima sebelumnya.
Lalu kelompok Religius, para Ulama dan Ustadz, juga mempunyai pandangannya sendiri atas peristiwa bencana gempa bersangkutan di Tanah Air. Misalnya MUI terang-terangan menyatakan hal itu sebagai akibat banyaknya perlakuan maksiat. Termasuk dalam kelompok ini, boleh jadi, mereka yang menyebarkan SMS seputar gempa Sumbar itu yang dikait-kaitkan dengan ayat-ayat dalam al-Qur'an.
Atas simpang siur berbagai pandangan itu, seyogyanya bangsa Indonesia yang merupakan kumpulan populasi muslim terbesar di dunia, negeri yang 85% penduduknya beragama Islam ini, lebih mempercayai keterangan kitab sucinya sendiri (al-Qur'an) di dalam mencari jawaban atas berbagai fenomena alam dan kehidupan dan permasalahan yang sedang menimpanya. Termasuk peristiwa bencana yang tak putus-putusnya di negara kita ini.
Jangan pernah ragukan al-Qur'an yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar kejadian atau peristiwa apa saja yang datang menimpa kita semua. Sebab, al-Qur'an sendiri ada menerangkan bahwa salah satu fungsinya diturunkan ke tengah ummat manusia ialah memberikan penjelasan yang seterang-terangnya tentang kejadian-kejadian atau peristiwa yang sedang dihadapi umat manusia hingga hari kiamat lagi. Silahkan simak QS.16:89 misalnya. Disitu dijelaskan bahwa diturunkannya al-Kitab (al-Qur'an) adalah untuk memberikan penjelasan atas segala sesuatu kejadian di atas Bumi ini.
Lebih lanjut tentang kejadian bencana yang setiap kali bisa menimpa ummat manusia di mana saja, al-Qur'an bertutur bahwa "Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri".(QS. 57:22-23).
Maka dengan penjelasan ini, sah-sah saja kalau ada pihak dari kalangan muslim yang berupaya mencari jawaban atas berbagai fenomena bencana yang terus berlanjut di negeri ini, dari kitab sucinya sendiri. Kisah gempa Sumbar itu misalnya, yang terjadi 30/9/2009M atau 11/10/1430H pukul 17:16 WIB dan susulannya 17:38 WIB atau 12:16 & 12:38 pm GMT. Kalau disimak ayat 30:9; 20:09; 11:10; 14:30; Serta kisah dibalik peristiwa ayat (simbol) itu pada al-qur'an pula: 16:17; 16:71; 38:17 dan kombinasi angka-angka itu ... maka akan ditemukan terjemahan ayat-ayat al-Qur'an yang secara 'kebetulan' konsisten dengan peristiwa gempa yang terjadi. Konsistennya penjelasan ayat-ayat itu, apa betul itu sebuah' kebetulan' namanya? Wallahu'alam.
Mudah-mudahan bangsa dan rakyat Indonesia yang mengaku bangsa religius itu, tidak serta merta menolak apa saja kalau al-Qur'an dijadikan acuan untuk menjelasakan segala sesuat kejadian di negeri kita ini. Wallahu'alam.
Terkait:
-
Renas-PB dalam 5 Tahun ke Depan Sebesar Rp 64,475 Trilyun
Jumat, 19 Feb '10 17:28 -
Pentingnya Rancangan Nasional Penanggulangan Bencana
Jumat, 19 Feb '10 14:16 -
Komunitas Peduli Bencana - Laporan (2)
Rabu, 14 Okt '09 20:02
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
conscientizacao: Biasa
-
Bocah nDeso: Inspiratif
-
Herman Saksono:
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
akusuka: Menarik
-
boiga: Biasa
-
yusro: Menarik
-
Ning: Biasa
-
Ridwan: Menarik
-
toa ngota: Menarik
-
budi:
-
cynical:
-
Subroto:
-
John WM:
-
ErwienSamantha: Bagus
-
Pharaoh378: Menarik
-
Harlan Eryandi: Biasa
-
Koboy Soleh: Bagus
-
syafatain:
-
ndableg: Bagus
-
pujangga: Penting
-
mustofaninoff: Bagus
-
Aji Prast: Biasa
-
kakilangit:
-
doeh: Biasa
-
Xaliber von Reginhild:
-
fortaleza de la soledad:
-
Thasman: Menarik
-
Forlorn Hermit:
-
Smart:



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Apakah yang mengaku religius 'tidak bisa membaca' besarnya angka yang mati itu? Lalu berbuat sesatu untuk mencegahnya? Adakah hasilnya kini? Tidak juga?
Hati yang peka kan paling tidak sudah bisa menangkap, ada yang tidak beres. Mari kita bereskan... Begitu kan pak?
"... Lalu berbuat sesatu untuk mencegahnya?..."
Maksutnya, mencegah jatuhnya banyak korban lagi ketika bencana serupa datang di lain waktu...
Tuhan juga menciptakan bumi ini dengan lempengan2 dibawahnya, dengan segala kemungkinan bencana yang akan terjadi pasti ada maksudnya. Saya sangat yakin Tuhan bukan "pembunuh" tapi Maha penyayang, dan saya juga juga sangat Yakin Tuhan menginginkan kita berpikir agar kita siap dalam menghadapi kemungkinan2 bencana tersebut.
yg sy ironiskan,bangsa ini tdk pernah belajar dr pengalaman,relawan2 qt hnya bermodal sukarela,nekad,,,,,teman2 bs lihat relawan2 asing yg dilengkapi peralatan canggih???knp bangsa ini tdk mau belajar dr bangsa2 lain??
pdhl msg2 bidang suda ada menteri2nya...???apa tugas mereka slama ini coba???
Kok jadi "mirip" final destination y?
http://hermansaks…-padang.html
Semoga bisa mencerahkan mata hati yang terbutakan.
Kalau gempa terjadi jam/pukul 01:01? atau 1 Januari?
Nanti malah "Alhamdulillahi robbil alamin" donk?
Masak ada gempa malah "Segala Puji Bagi Tuhan Semesta Alam"
Atau waktunya gotak gatuk dengan nomor/ayat lain yang berbunyi "itu adalah karunia dari tuhanmu" ... malah enggak nyambung ..
lagipula, setiap saat kita harus selalu introspeksi diri, setiap waktu selalu ada yang mengingatkan untuk itu, tidaklah perlu menunggu bencana.
yang lebih keren lagi kalau keempat surat itu digabungin secara berurutan jadi sebuah paragraf yang berkesinambungan
katanya orang2 sih tanda2 kiamat makin dekat. Tapi setau saya kiamat itu tidak mungkin makin jauh
Karna setelah dicerna kok pembahasannya persis amat seperti ahli nujum yang melihat bintang, atau melihat telapak tangan atau nenungin air di mangkok untuk menemukan suatu keberuntungan dan kecelakaan....
Ada lagi ahli takwil yang melihat nasib melalui hasil mimpi seseorang... Ahli ramal nentuin nasib dan masa depan seseorang dengan mbolak-balik dan muter-muter kartu joker....
Apa bedanya ama yang ini ya? Ya mungkin bedanya cuman nyocok-nyocokin angka dengan ayat Qur'an... itu saja... Metodenya sama; sama-sama ngeramal!!
A= Jadi menurut anda ini perbuatan syirik, begitu....?
B= Saya tidak bilang begitu... Ente bisa simpulkan sendiri kok... wong katanya ente ahli agama kan??
"Yang lebih keren lagi kalau keempat surat itu digabungin secara berurutan jadi sebuah paragraf yang berkesinambungan"
---------
Coba anda gabungkan... saya kok penasaran dimana letak kesinambungannya...
arigato..sukron
tentu kurang elok bila mengingat ayat2 didalamnya hanya saat2 duka....
cari ayat2 jg dung ketika indonesia dilimpahi keberkahan...
*yg ga percaya pesan dalam AlQuran..CUKARBELENG!!!!!
Mudah-mudahan bangsa dan rakyat Indonesia yang mengaku bangsa religius itu, tidak serta merta menolak apa saja kalau al-Qur'an dijadikan acuan untuk menjelasakan segala sesuat kejadian di negeri kita ini.
--------
TIDAK MENOLAK PESAN AL-QUR'AN... Tapi menolak pesan manusia yang keliru menafsirkan ayat-ayat Tuhan tersebut...
QS.17 adalah Surah Al Israa'... Ayat yg berjumlah 111 seluruhnya diturunkan di Makkah (Makkiyah) sebelum Rasulullah Hijrah...
Anda (penulis) pasti tahulah ciri-ciri ayat yg turun di Makkah, Asbabun-nuzul ayat tsb?, faktor2 munculnya ayat-ayat yg turun di makkah?, mengapa pesan ayat Makkiyah berbeda dengan pesan ayat Madaniyah?, dlsb.....?
Lagipun, Kalau anda hanya mengambil beberapa ayat saja (dan lompat-lompat pula) tentu maknanya akan jauh sekali larinya dari makna sebenarnya....
Bahkan disaat anda memaknai ayat "Ma-ashoba bin musibatin fil ardhi.....dst, juga kurang pada tempatnya .....
Jadi mari kita memahi berbagai ayat2 Al Qur'an dengan tepat sebelum kita memahamkannya untuk orang lain, agar di lain waktu semuanya menerima pesan Al Qur'an berikut pesan hikmahnya....
Semoga,.-
kl versi semarang ga th1
anda pasang no brpa? dapet?
skrg mau pasang brapa?
sst...cpt biar sy tulis!
sudikah jg dibagi disini?
*terlempar sejenak ke kota itu...ahh..
pernah di smg juga? jgn2 kita pernah ketemu di suatu warung di tembalang
ayat makiyah lebih ke perkara iman
ayat madaniyah lebih ke perkara civil society
kalo ga salah...
*menunggu penjelasan dari Ketua MUP*
5150: penjelasan dr kinanthi kabid MUP jg lumayan to..
meski tentu versi gamblangnya kita tunggu..
kinanthi: langganan sy di angkringan parkiran stasiun poncol
hahahahhahahhah,
"janganlah suatu kaum memberikan PR kepada kaum yang lain... boleh jadi kaum yang diberi PR itu sedang sibuk atau tak hendak memperpanjang masalah.... " (ini bukan firman atau sabda)
(bukankah Qur'an itu berlaku untuk sepanjang zaman? Tafsirkan, pahami, laksanakan, tidak perduli diturunkan dimana)
-----
betul... anda betul...
tapi udah dibaca belon ayat yang disebut penulis..?
kalau belum coba baca pelan2, pahami maknanya, maksudnya.... Apa sesuai ndak dengan apa yang diharapkan penulis..?
itu maksud saya...
janganlah kau tolak permintaan kaum mu yang meminta dengan tulus dan jujur, apalagi kaum mu meminta karena memang tidak mengerti
*ini juga bukan fatwa atau sabda MUP*
karna saya hanya memfokuskan pada 4 ayat dan 1 ayat musibah yang ia sebutkan....
bukan surah-surah lain...
Salvatore Guiliano: KALAU ANDA membaca artikel diatas pertanyaan ini pasti tak muncul, ...
ini saya nukil ulang:
.......
bangsa Indonesia yang merupakan kumpulan populasi muslim terbesar di dunia, negeri yang 85% penduduknya beragama Islam ini, lebih mempercayai keterangan kitab sucinya sendiri (al-Qur'an) di dalam mencari jawaban atas berbagai fenomena alam dan kehidupan dan permasalahan yang sedang menimpanya. Termasuk peristiwa bencana yang tak putus-putusnya di negara kita ini.
-------
Itu dia jawabannya (versi penulis, bukan versi saya lo,...)
seperti itu jika digabungkan
*jd inget cerita konon seorang peneliti antropology berhasil membawa seorang warga pedalaman hutam amazon,
setelah setahun dididik cr hidup masayarakat modern, seorang wartawan bertanya?
"bagaimana sekarang perasaan anda, dgn pendidikan dan pengetahuan modern"
"oo saya bahagia sekali, sekarang saya makan orang pakai sendok dan garpu"
Tapi coba tolong anda nukilkan (juga) terjemahan ayat sebelumnya, yaitu QS. Al Israa':15...
Kemudian pada ayat ke-16 nya anda pahami (secara lughawi) firman Allah:
"Wa-Idza-Ardhnaa..." yang arti indonesianya ("Dan Jika Kami Hendak...").
Nanti (Insya Allah) akan kita jumpai titik temu permasalahannya...
l. wiji widodo: Lah, wong Fir'aun diazab rakyatnya kena juga. nonton 10 commendements deh.
akalu g salah sebelumnya juga Fir'aun rakyatnya di kasih wabah
*lagi ada kelas nih, ketauan dosen digampar bisa :hammer:
turut berduka cita untuk korban gempa SUMBAR
tanggal & bulan:
[26.7] Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
tahun:
[19.75] Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya".
Artinya?
mhn menyerahkan hak ciptanya untuk MUI
*klo gak salah kemaren2 ada artikel yg 'memuat' kata ini.. lupa euy..
Penting juga :
mengajak masyarakat berpikir rasional terhadap bencana !!!
@ts
Kalo mau liat model yang beginian, nenek saya yang fasih primbon jawa juga bisa mas/mbak, hampir setiapp kejadian bisa beliah 'maping' kan dengan primbon, mulai dari sepeda ilang, pernikahan kandas sepupu, hanya dengan mencocok-cocokkan tanggal dan pasaran.
btw, ada artikel menarik tuh di sini, http://rovicky.wo…sa-perlukah/
Ketika ciptaan manusia yang serba relatif dibenturkan dengan ayat-ayat Allah yang suci dan absolut, maka jelas tidak akan pernah pas. Yang ada justru merendahkan kitab suci.
... dicopas dari blog nya Momon
http://hermansaks…-padang.html
Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya serta segala yang ada di dalamnya dan aku mohon perlindungan-Mu dari keburukan negeri ini dan keburukan penduduknya serta segala yang ada di dalamnya.
Untuk tante shitty mieaby, maksudnya komentarnya gmana, tolong diperjelas
Saya jadi kasihan pada Tuhan yang kalimat-kalimatNya terus dieksploitasi oleh manusia. Bahkan untuk hal seperti ini.
Analogi itu mau saya gunakan untuk terus mengembangkan cara-cara, pendekatan, dan teknologi untuk hidup ramah dengan bencana. APa yang dilakukan, mungkin akan jadi tertawaan, karena berbuat sesuatu untuk jangka panjang, di Indesonia ini kurang populer.
Pendidikan mitigasi bencana, bangunan-bangunan tahan gempa, jalur-jalur evakuasi di wilayah rawan bencana, system early warning tsunami...
Bagi saya semua itu bisa dianalogikan sebagai "Kapal"-nya Nuh. Tanda-tanda akan datangnya bencana itu sudah nampak jelas berdasarkan peta bencana Indesonia. Kalau kita tidak juga tanggap "membangun kapal" itu, maka kita adalah orang-orang yang tidak mampu menangkap tanda-tanda dari Tuhan.
Gimana tuh?
Kalau itu, saya lebih setuju. Dan lebih berguna. Daripada cuma berseru kembali menyembah padaNya tapi tak berbuat apa-apa. Barangkali Tuhan bosan disembah.
Silahkan login untuk memberikan pendapat