Sepakat Untuk Tidak Sepakat! 14

Jumat, 9 Okt '09 11:09

Dalam sebuah masalah, perdebatan sering tak terelakkan. Di satu pihak ada yang mempertahankan prinsipnya, di pihak lain ada yang memperjuangkan ego-nya. Jadilah sebuah masalah tak pernah berujung, bahkan tak jarang berakhir pada pertengkaran, per-misoh-an, bahkan bisa bunuh-bunuhan... huuh... sereeem...

Di kalangan (intelektual??) Politikana juga sering mengalaminya. Sangat jarang sekali sebuah permasalah disepakati oleh semua kalangan. Ada saja 'celah' pada kalimat yang dilontarkan seseorang untuk diperdebatkan. Walau tidak pada 'isi tulisan' ya pada kolom 'komentar' pun jadilah. Meski tak pernah diproklamirkan, namun seakan-akan warga sudah punya prinsip, "Kita bersepakat untuk tidak sepakat!"

Sepertinya, seorang kiyai yang akan saya ceritakan kali ini paham betul situasi seperti ini. Sehingga untuk menghindari pertentangan, beliau punya solusi sendiri dalam mengatasinya. Berikut ceritanya:

Di suatu desa ada seorang kiayi yang dikenal ahli agama. Hampir setiap hari penduduk datang silih berganti untuk meminta fatwa-fatwa seputar agama yang mereka jumpai dalam keseharian. Sepertinya hanya satu kiyai itulah yang dikenal dan diandalkan mampu menyelesaikan berbagai perkara umat, tanpa ada yang tersakiti, tanpa ada yang terdzolimi.

Suatu ketika sang kiyai hendak bepergian. Untuk itu ia meminta anaknya menggantikan tugasnya dalam beberapa waktu. Namun, sang kiayi sadar, bahwa anaknya itu tidaklah terlalu pandai dalam berfatwa. Anaknya sendiri menyadari bahwa dia tidak punya ilmu yang cukup untuk memberikan fatwa.

Sang ayah pun mencoba memberi solusi, "Saya akan beri satu petunjuk yang membuat engkau selamat sampai aku kembali:.

"Apa itu wahai ayah?", timpal si anak.

"Nanti, setiap ada orang yang bertanya padamu suatu masalah, kamu tinggal jawab saja "Fil mas'alah qoulani (Dalam masalah ini ada 2 pendapat)", tidak usah berpanjang lebar", kata si ayah.

Ayahnya melanjutkan nasehatnya, "Misalnya nanti ada orang datang bertanya: Wahai Tuan Syeikh! Seseorang sholat dzuhur kurang rakaatnya, apakah sholatnya batal atau tidak? Jawab saja: 'Ada dua pendapat dalam masalah ini!'. Beres!! {Maksudnya, ada 2 pendapat: satu yang bilang batal dan satu lagi bilang tak batal}.

Lalu sang ayah pun pergi. Maka dilaksanakanlah pesan ayahnya. Jika ia tidak tahu mengenai masalah yang ditanyakan, maka akan dijawab: "Dalam hal ini ada 2 pendapat, satu yang bilang boleh, satunya lagi bilang tak boleh".

Ternyata, hingga sang ayah kembali, ia selamat. Tak ada satupun warga yang misohin dia...;))

Untuk menghindari konflik, warga P juga layak menggunakan rumus ini. Ketika ada suatu masalah, maka katakanlah: "Sebenarnya masalah kita ini ada 2 pendapat, satu bilang boleh, yang satu lagi bilang tak boleh, kamu tinggal pilih yang mana enaknya saja.... Tapi kita harus membuat sebuah kesepakatan dulu: "Sepakat untuk tidak sepakat"...


Tag: cari masalah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    botaksakti 0 0
    sepakat "bagus" !!!
    cibro 0 0
    Selamat Menunaikan Shalat Jum'at...!

    1- Pilihlah Shaf paling depan, sehingga kalo khatibnya berhalangan, anda bisa naik mimbar menggantikannya...

    2- Jangan lupa isi kotak amal..

    3- Jangan ngomong ketika khatib naik mimbar

    4- Jangan pula ngantuk,,,

    5- Luruskan dan rapatkan shaf, semoga kalian di rahmati Allah...


    *** Amma Ba'du...
    botaksakti 0 0
    cibro: ada dua pendapat jugakah ???
    cumipeyang 0 0
    6- jangan lupa mematikan/ silent mode gadget/hp anda
    botaksakti 0 0
    7. jangan lupa bawa sandal sekadarnya saja.....
    Striding Cloud 1 suka | 0
    Hahahahhaha....

    Yang terpenting bukanlah apakah seseorang mendukung salah satu dari 2 pendapat tersebut, namun apakah masing-masing dari pendapat tersebut memiliki dasar argumen yang jelas.

    Debat politikana adalah jenis debat dimana masing-masing orang didorong untuk menjelaskan posisinya dengan "argumen" sekeras mungkin, bukan dengan "pokoknya" sengeyel mungkin, bukan pula untuk sekedar ikut-ikutan kesepakatan publik.
    botaksakti 0 0
    dan hebatnya...di politikana tak ada yang debat pakai ritual lempar-melempar kursi kayak di Pekanbaru itu...
    cumipeyang 0 0
    botaksakti: iya seh, namun kalau kopdar beneran ada yang ngajak "laskar" kali ; ))
    l. wiji widodo 0 0
    botaksakti: debat pakai lempar kursi jg baik..
    setidaknya importir asing bisa melihat qualitas mebeler made in indonesia...

    *kuat kokoh tahan banting
    conscientizacao 0 0
    Situasi deadlock selalu dimungkinkan terjadi. Selama debat tadi tetap pada koridor argumen, bukan menyerang personal alias ad hominem itu, saya kira ujung-ujungnya tinggal voting aja... : D

    Artinya, kedua atau lebih pendapat itu bisa saja sama baiknya, dan sama-sama punya kelemahan. Tinggal kesadaran kita saja mau mensepakati yang mana (jikapun harus diambil dalam bentuk voting)? Selama sepakat, artinya sama-sama siap dengan segala konsekuensi...
    ndableg 0 0
    pegadaian: menyelesaikan masalah tanpa masalah

    *sudah ada yg pernah nyoba?*
    Salvatore Guiliano 0 0
    tidak perlu deadlock, akan selesai dalam tempo sehari. Seiring munculnya tulisan-tulisan baru untuk diperdebatkan lagi..
    Esemge 0 0
    Apa enaknya sepakat di P? Kalau semua masalah di P ini dicari kata sepakatnya ya lama lama gak ada yg ngunjungin.. Jadi ya biarin aja beradu argumen.
    Pengulangan masalah dengan sudut pandang yg berbeda.itu saja yang terlihat di P
    ndoet 0 0
    ngeyel2an adu argumen enak2 aja dilihat (dan ditonton : p)

    tapi kalo udah mulai ada ad-hominem, ah malesin

    Silahkan login untuk memberikan pendapat