Alangkah Indahnya Seandainya Indonesia Dikelola dengan Baik 31
Sabtu, 10 Okt '09 16:23, dibaca 87 kali
Bismillah. Saya orang baru di politikana ini. Ini juga artikel saya yang pertama. Jadi tolong dikritisi dan diperbaiki kalau ternyata jauh dari kualitas yang diiginkan oleh pembaca semua. Tapi saya punya keberanian dan niat yang tulus. Kali ini saya ingin menulis "Seandainya Indonesia Dikelola dengan Baik"...
Kita sejak dulu sangat berbangga dengan kenyataan bahwa Koes Plus telah menyanyikan lagu-lagu tentang negara kita "Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada topan tiada badai, ikan dan udang menghampiri dirimu" dan seterusnya. Kala itu wah bangga sekali..
Dunia menjadi kagum dan bangga dengan Indonesia.. Entah kenapa hari demi hari "wajah" Indonesia semakin jadi suram. Yang tidak kalah serunya pemimpinnya kala itu tidak mau berhenti dari "kursi"-nya sehingga sampailah kepada saat di mana ia harus diberhentikan secara "paksa" oleh keadaan, jadi terjadi tidak normal.
Wajah negara kita terasa hambar dan tak punya identitas yang nyata itu manakala kita pergi sebentar saja ke negara tetangga atau kita ke negara-negara di luar sana seperti Eropa dan Timur Tengah. Teman-teman biasanya tanya "berapa" nilai uang kita di mata US dolar. Pada saat itu muka hampir tidak bisa ditempatkan pada tempatnya. US $ 1 sekitar Rp 10.000. Pada waktu itu juga pernah mencapai angka Rp 17.000 untuk US $ 1. Sekali lagi mungkin itu perasaan saya saja.
Itu belum seberapa ketika ditanya berapa gaji kita sebagai PNS kala itu wah "malu" sekali. Sejak itu saya bertanya-tanya tentang bagaimana dengan pengeloilaan negara ini. Bagaimana pengelolaan devisa? Pertanyaan lain adalah bagaimana pengelolaan moneter di negara tercinta?
Krisis multi-dimensi di nagara ini tentu merupakan "produk" dari krisis kepercayaan yang telah terjadi bertahun-tahun. Sewaktu negara ini dipimpin dengan sistem yang menipu bergelar "demokrasi Pancasila" kita memang "ketakutan" untuk menulis dan berbicara. Hasilnya memang suatu "hukuman" dari Tuhan untuk kita semua. Kata orang hukum alam. Jika bertahun-tahun bahkan mendekati setengah abad kita berada dibawah sistem "kebohongan" maka kita perlu lebih lama lagi untuk memperbaiki keadaan. itupun kalau semua pihak ikut serta dalam pengelolaan negara dengan baik.
Pasca Soeharto kita sibuk dengan pemekaran wilayah. Pasca Soeharto kita juga sibuk dengan "pemekaran" partai politik, sehingga semuanya tidak bisa berjalan secara efektif dan efisien. Semua "demam". Demam bicara, demam ingin berkuasa, dan demam-demam yang lain. Akibatnya tidak bisa dihindarkan kita memang harus menunggu lagi untuk kesembuhan negara bangsa ini.
Ketika demokrasi langsung mulai kita jalani, bumi pertiwi yang sudah lama "menunggu" dikelolanya negara ini dengan baik "mulai protes". Bencana alam datang silih berganti. Gempa bumi di sana dan di sini. Amuk masa di sana dan di sini, banjir, tanah runtuh, tsunami dan sebagainya.
Kenapa ya kita semakin lama semakin sulit jadi baik? Apa karena kebaikan itu sudah jauh dari hati kita? Kenapa ya kita semakin sukar untuk jadi ikhlas? Apa karena hati kita sudah "dijajah" oleh dunia yang menipu ini? Harapan, doa, keinginan dan cita-cita untuk menjadi baik diyakini masih dimiliki oleh kebanyakan anak-anak bangsa ini. Di sinilah kita sangat menyayangkan kenyataan masa lalu dengan kalimat "Alangkah indahnya seandainya Indonesia dikelola dengan baik" sejak awal! Nah itulah goresan tangan saya kali ini... salam kenal.
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ndableg: Bagus
-
boiga: Bagus
-
Huzein: Bagus
-
Veuillez entrer: Bagus

Komentar:
itu sebabnya sebagian orang mulai putus asa, dan mempercayai hal2 yg mistis sebagai solusinya..
http://politikana…n-maker.html
dan
http://politikana…-modern.html
[_US $ 1 sekitar Rp 10.000. Pada waktu itu juga pernah mencapai angka Rp 17.000 untuk US $ 1. _]
Bagi saya, itu malah keunggulan, bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai aib.
Contoh china, mereka selama 10 tahun terakhir ini malah berusaha menjaga mata uang mereka murah. Akibatnya sekarang cadangan devisa mereka besar, bahkan sanggup kasi utangan ke USSA.
..kita perlu lebih lama lagi untuk memperbaiki keadaan. itupun kalau semua pihak ikut serta dalam pengelolaan negara dengan baik.
salam kenal bung..
Ok, saya bisa setuju kalau...karakter anak bangsa ini semakin sadar..Hindarkan dari budaya yang tidak baik, supaya pelajayanan publik ok, kepercayaan publik ok dan semua jadi ok
hahahaha..., Striding Cloud ganti nama jadi 'barbinger'
om Supli Rahim, utk reply klik saja tanda 'melungker' di bagian bawah tiap komen, sebelahan dgn kata terakhir.. *moga2 mudheng karepku*
ya memang perlu dukungan kita semua... No kepada korupsi, no kepada keburukan..no kepada "bad public service"..no kepada rezeki haram dll
*keplok2*
Pemerintah qt tdk pernah belajar, dan sudah putus urat malunya, sehingga tdk merasa jika di luar sana negeri ini di caci dan diremehkan negara lain.
*pusing aing*
5-10 tahun lalu, hal ini tidak terbayangkan.
sy ada beberapa temen di luar sana, klo sudah bicara politik negeri ini, nilainya 5 hehe, mereka berpikir semua bisa dibeli dengan DO IT.
Review2 di luar itu, Indonesia dipuji2 sebagai vibrant democracy, sempat saya tonton beritanya di BBC (kalau ndak salah), waktu demonstrasi rasial terjadi di malaysia dan krisis konstitusi di thailand.
[_toh kenyataan hidup di dlm negeri sndiri, msh banyak masyarakat negeri ini yg kelaparan, tdk dpt sarana lampu, pendidikan layak, dan kemiskinan di mana-mana._]
Ada 2 lini ekonomi: Produksi kemakmuran, dan distribusi kemakmuran.
Produksi kemakmuran berbanding lurus dengan inflasi.
Inflasi, berbanding lurus dengan kemiskinan.
Distribusi kemakmuran, berbanding lurus dengan inflasi, berbanding terbalik dengan kemiskinan jika produksi kemakmuran ada.
Sekarang jika investasi asing ditolak, berarti produksi kemakmuran dicoret/diperlambat.
BLT ditolak, berarti distribusi kemakmuran versi pemerintah juga dicoret/diperlambat.
Maka satu2nya penyelesaian kemiskinan adalah, Anda dan saya harus menghasilkan produk dan bisa di devisakan.
Anda sudah bikin produk apa?
sebenarnya apa yg salah?, tdk bisa kah pembenahan dari hal terkecil dahulu?
BLT ini membuat rakyat makin menengadahkan tangannya, pdhl tdk seberapa nilai uangnya.
Ya ok, katakanlah Anda benar, BLT buruk, maka berdasar runutan pemikiran diatas, satu-satunya cara adalah Anda dan saya harus memiliki produk riil, bukan sekedar produk jasa yang didistribusikan didalam negeri.
[_sedang produksi dlm negeri yg bagus di export dg alasan masyarakat tdk mampu dg daya beli nya_]
Alternatif lainnya dari cerita Anda adalah sederhana, larang ekspor!
Maka dengan kata lain kita memaksa agar petani jadi miskin, demi nafsu golongan yang bukan petani. Borjuis sekali Anda!
Jadi kalimat seandainya itu adalah untuk mengingatkan kita semua bahwa kita tidak dalam kondisi begitu... terima kasih telah membangunkan saya..
Semua kita guna ATM = amati, tiru dan modifikasi bagaimana orang di luar sana mengelola - sistem bernegara, sistem di perusahaan, sistem pelayanan publik, dan sistem administrasi pada umumnya
..kesadaran itu harus datang dari semua,..kesadaran itu dibangun atas masing masing individu.Mulai sekarang!mulai dari sendiri!dan mulai dari hal sekecil apapun..kalau tidak bisa ya seperti kata anda...
selama ini kita menunggu dan terus menunggu.
Mungkin di surga kali ya?
Jadi baik ,buruk, siapa yang tahu?
insya allah tuhan tahu niat kita....
Silahkan login untuk memberikan pendapat