Wawancara Ecek-Ecek 9

Sabtu, 10 Okt '09 05:54

Dalam ranah jurnalistik televisi, wawancara reporter dan kamerawan terhadap narasumber di lapangan dilakukan untuk menggali fakta atau mengutip pernyataan suatu fakta. Saat menggali fakta, reporter mencatat atau merekam  seluruh keterangan di atas buku catatan atau tape-recorder. Artinya, kamerawan tidak disertakan. Sedangkan dalam mengutip pernyataan, rekaman fakta direkam oleh kamerawan.

Selain reporter dan kamerawan, anchor atau presenter di studio juga kerap melakukan wawancara dengan narasumber secara langsung. Baik dengan menempatkan narasumber di studio maupun di tempat lain secara tele-conference. Tujuannya, selain menggali fakta juga untuk mendapatkan analisis soal fakta.

Menarik juga menyaksikan wawancara presenter dengan seorang narasumber di sebuah stasiun televisi swasta usai penggerebekan tersangka teroris -- Syaifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir -- di kawasan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, 9 Oktober kemarin. Saat itu presenter bertanya tentang ciri-ciri tersangka.

Lantas sang narasumber yang tetangga kost para tersangka teroris itu menuturkanya secara rinci, "Tinggi, putih, rambutnya ikal, blablabla... Tapi, dia tidak memakai kapayeh atau sorban, tidak memelihara janggut, dan tidak memakai gamis, seperti biasanya para teroris!"

Ketika Densus 88 menggerebek rumah Susilo di kawasan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, pertengahan September lalu, presenter tersebut juga mewawancarai seorang tetangga tersangka teroris. Banyak pertanyaan yang diajukan sang presenter kepada narasumbernya. Intinya, ia ingin menggali fakta sedalam-dalamnya soal sosok Susilo, tersangka teroris dan juga warga kawasan itu.

Katanya, "Bagaimana kesehari-harian Susilo? Apakah dia selalu menggunakan gamis? Suka berceramah di masjid di kawasan Anda? Apa suka menjadi imam di masjid Anda? Apa dia juga suka mengajari mengaji? Dst...."

Dari dua kasus di atas, saya ingin memastikan bahwa bila pada kasus pertama narasumber sudah "memasang" proto-type tersangka teroris di benaknya -- saya tidak tahu kenapa dia memiliki pemahaman seperti itu. Sedangkan pada kasus kedua, presenter yang merancang pemahaman soal proto-type tersangka teroris untuk "diiyakan" oleh narasumber.

Saya yakin, wawasan sang presenter tentang tersangka teroris hanyalah pada simbol-simbil tersangka teroris yang selama ini muncul. Sehingga, dia tidak mempertimbangkan bahwa tersangka teroris bisa tampil dengan rupa atau simbol apa saja. Selain itu, saya juga yakin, sang presenter tidak mempertimbangkan ketersinggungan umat agama tertentu atas "design" pertanyaannya itu.  

Dan, bisa jadi, pendapat narasumber pada kasus pertama merupakan rekaman atas "rancangan" pertanyaan atau opini yang dijejalkan oleh presenter atau stasiun televisi tentang sosok tersangka teroris. So, haruskan wawancara ecek-ecek semacam itulah yang harus terus berhamburan dari layar kaca di dalam rumah kita? []


Tag: jurnalistik televisi, wawancara ecek-ecek, presenter, stasiun televisi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    ndableg 0 0
    [.. So, haruskah wawancara ecek-ecek semacam itulah yang harus terus berhamburan dari layar kaca di dalam rumah kita? ..]

    masalahnya itu pada siapa yg nggaji wartawan itu. prinsip 'maju tak gentar membela yang bayar' tetap berlaku pakdhe. lagian nggak bisa dipungkiri, banyak yg milih jadi wartawan ketimbang nganggur. yang karena alasan idealisme-pun akhirnya juga banyak yg KO sama pragmatisme hidup.

    mau gimana?
    Striding Cloud 0 0
    ndableg: : ))

    komentar yang keren!
    umbaran 0 0
    mau tanya sekalian ...

    wawancara yang tdk ecek2 kira2 gmn ya mas?
    bsa dipraktikan, boleh ajukan pertanyaan, biar mas ndableg: yang menjawab, anggap saja ia mahasiswa satu kost2an dengan tersangka

    *gmn mas ndableg: siap kan? siaran langsung lho ini*
    BMH 0 0
    Selain soal pemodal seperti dikatakan ndableg, terkadang wartawannya memang terlampau 'malas' untuk berpikir. Kalau pas ada press release atau press conference misalnya, isi berita semua media hampir sama. Ini bisa jadi efek dari 'kejar tayang' ala sinetron. Bahkan wartawan pun mudah lupa, akibatnya gampang memberi stigma. Teman2 yg bergiat di asosiasi wartawan, semestinya bisa berbuat sesuatu memperbaiki "wawancara ecek-ecek". Asal ujungnya jangan jadi "wawancara becyek, musti naik ojyek..." : D
    ndableg 0 0
    umbaran: yang nulis ini ternyata mantan pemain bola negara inggris. itu strategi 'hit and run' apa 'kick and rush' masih belom bisa ilang..

    *masih nunggu pertanyaan*
    boiga 0 0
    hit and run bukannya istilah tinju mas ndableg ?
    ndableg 0 0
    boiga: lho, baru tau tho kalo strategi itu juga dipake di sepak bola. sasarannya kebanyakan wasit sih, apalagi kalo ada indikasi berat sebelah..
    wartawan ecek-ecek 0 0
    ndableg: sebenarnya bukan yang menggaji, tapi yang lagi diutus jadi "nabi" di lembaga itu yang kuasa... Serius, aku memang asli pemain bola (tarkam). Setelah ini, aku langsung kabur...
    umbaran: untuk konteks ini, ya jadi berusaha mendiskrefitkan kelompok tertentu. Netral aja..
    All: salam kenal semua... senang bisa diskusi sambil kick and rush, hehehe...
    boiga 0 0
    ndableg: ; ))

    Silahkan login untuk memberikan pendapat