Miss 'Serambi Mekkah' sebagai Maskot perekat Kultur antar Peradaban Dunia 30
Senin, 12 Okt '09 06:01, dibaca 1149 kali
Samuel P. Huntington dalam “The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order“ mengatakan bahwa peradaban adalah entitas paling luas dari budaya. Bangunan dasar bagi peradaban adalah agama, dimana agama juga sekaligus merupakan karakteristik utama yang mencirikan peradaban itu sendiri.
Selanjutnya dikatakannya bahwa agama Kristen tersebar melalui konversi, sedangkan Islam disamping melalui konversi juga melalui reproduksi.
Dalam soal reproduksi, Hutington mengatakan secara khusus bahwasanya stabilitas dan balance of power dalam konteks keseimbangan antar peradaban dunia akan menjadi terganggu, salah satunya oleh dampak pertumbuhan penduduk Muslim.
Pertumbuhan penduduk di Amerika Serikat rata-rata rendah dan di Eropa sebesar 0 %. Sedangkan pertumbuhan penduduk yang spektakul er terjadi di belahan negeri Muslim dapat menggerakkan migrasi terbesar dalam sejarah ke pelbagai wilayah Muslim dan belahan dunia lainnya. Di sisi lainnya, pertumbuhan penduduk migran rata-rata tinggi, dan karenanya di masa yang akan datang dapat menjadi penduduk terbesar di negara-negara barat.
Sebagai hasilnya, menimbulkan phobia yang berakar dari pertumbuhan demografis yang relatif menurun.
Orang-orang barat merasa khawatir bahwa mereka kini sedang di invasi bukan oleh pasukan perang ataupun tank-tank, tapi oleh kaum imigran yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, memuja Tuhan-Tuhan yang berbeda, memiliki kebudayaan mereka sendiri. Dan, dikhawatirkan akan merebut pekerjaan mereka, mendiami tanah mereka, meninggalkan sistem kesejahteraan, dan menindas pandangan hidup mereka.
Berkait dengan pertumbuhan penduduk Muslim yang diresahkan oleh Huntington itu, bagaimanakah data terkini dari peta populasi penduduk dunia ?.
Baru-baru ini, ‘Pew Forum on Religion & Public Life’ merilis laporan studi demografi secara komprehensif yang berjudul “Mapping the Global Muslim Population”.
Laporan ini merupakan hasil sensus dan survey detail dengan cara mendatangi sekitar 232 negara yang tersebar diseluruh dunia. Proyek yang dikerjakan selama 3 (tiga) tahun ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran terkini akan populasi Muslim yang ada di seluruh dunia.
Berkait dengan hasil sensus itu, para peneliti senior di Pew Forum merasa surprise dengan hasilnya. Ternyata jumlah penduduk Muslim itu lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, 150% dari prediksi awalnya.
Jika berdasarkan perkiraan sebelumnya, jumlah Muslim di seluruh dunia diperkirakan hanya 1 miliar jiwa saja. Akan tetapi ternyata saat ini jumlah Muslim sebanyak 1.571.198.000 jiwa. Jumlah ini merepresentasikan sekitar 23 % dari keseluruhan populasi dunia yang mencapai 6,8 miliar jiwa.
|
Region |
Muslim Population (million) |
Percentage of (%) |
Percentage Of World Muslim Population (%) |
|
Asia-Pacific |
972.537.000 |
24,1 |
61.9 |
|
Middle East-North Africa |
315.322.000 |
91,2 |
20,1 |
|
Sub-Saharan Africa |
240.632.000 |
30,1 |
15,3 |
|
Europe |
38.112.000 |
5,2 |
2,4 |
|
Americas |
4.596.000 |
0,5 |
0,3 |
|
World Total |
1.571.198.000 |
22,9 |
100,0 |
Berdasarkan table diatas, diketemukan bahwa penyebaran kaum Muslimin telah merambah di keseluruhan lima benua berpenduduk yang ada di dunia ini. Dari keseluruhan populasi Muslim di seluruh dunia, pola penyebarannya terbesar ada di region Asia-Pacific (61,9%) dan terkecil ada di region America (0,3%).
Walau begitu, region dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim masih berada di Middle East-North Africa, dimana umat Muslim merupakan 91,2 % dari keseluruhan penduduknya. Sedangkan kaum Muslimin di Asia-Pacific yang berjumlah 972.537.000 jiwa bukan merupakan mayoritas di region tersebut, hanya 24,1 % dari keseluruhan penduduknya. Dalam arti kata, dari setiap 4 orang di Asia-Pacific maka 1 orang merupakan Muslim.
Selanjutnya, region Asia-Pacific dibagi dalam 4 sub-region, yaitu Pacific, South Asia, South-East Asia, Central-Western Asia.
Di region ini, South Asia merupakan sub-region dengan populasi umat Muslim terbanyak, yaitu sekitar 484 juta jiwa, atau sekitar 50% dari populasi keseluruhan umat Muslim di region Asia-Pacific.
Menyusul kemudian sub-region South-East Asia dengan 253 juta jiwa, lalu Central-Western dengan 235 juta jiwa, di paling buncit adalah sub-region Pacific dengan 0,5 juta jiwa.
Untuk region Asia-Pacific, Indonesia merupakan negara terbesar dalam 10 besar negara dengan popolusi Muslim terbesar. Selanjutnya ditempati oleh Pakistan, India, Bangladesh, Iran, Turki, Afghanistan, Uzbekistan, China, Malaysia.
Indonesia mempunyai populasi Muslim sebanyak 202.867.000 jiwa, yang juga berarti 20,9 % dari keseluruhan populasi umat Muslim di region ini. Lalu disusul Pakistan 17,9 %, India 16,5 %, Bangladesh 14,9 %, Iran 7,6 %, Turki 7,6 %, Afghanistan 2,9%, Uzbekistan 2,7 %, China 2,2 %, Malaysia 1,7 %.
Kesepuluh negara ini adalah inti dari negara berpenduduk muslim di region Asia-Pasific, karena di kesepuluh negara ini jumlah Muslimnya 94,9 % dari keseluruhan penduduk Muslim di region Asia-Pasific yang berjumlah 972.537.000 jiwa.
|
Countries |
Muslim Population (million) |
Percentage of (%) |
Percentage Of Region Muslim Population (%) |
Percentage Of World Muslim Population (%) |
|
Indonesia |
202.867.000 |
88,2 |
20,9 |
12,9 |
|
Pakistan |
174.082.000 |
96,3 |
17,9 |
11,1 |
|
India |
160.945.000 |
13,4 |
16,5 |
10,3 |
|
Bangladesh |
145.312.000 |
89,6 |
14,9 |
9,3 |
|
Iran |
73.777.000 |
99,4 |
7,6 |
4,7 |
|
Turkey |
73.619.000 |
98,0 |
7,6 |
4,7 |
|
Afghanistan |
28.072.000 |
99,7 |
2,9 |
1,8 |
|
Uzbekistan |
26.469.000 |
96,3 |
2,7 |
1,7 |
|
China |
21.667.000 |
1,6 |
2,2 |
1,4 |
|
Malaysia |
16.581.000 |
60,4 |
1,7 |
1,1 |
|
Rest of Region |
49.148.000 |
- |
5,1 |
3,1 |
|
Regional Total |
972.537.000 |
24,1 |
100,0 |
61,9 |
Jika berbicara dalam konteks kekuatan Muslim dunia, sesungguhnya Indonesia merupakan negara yang sangat penting.
Disamping merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim, juga merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di region Asia-Pacific, ditambah pula merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di seluruh dunia. Masih ditambah lagi bahwa populasi kaum Muslim di Indonesia juga merupakan penduduk mayoritas di negara yang bersangkutan, dimana umat Muslim 88,2% dari keseluruhan penduduk negara ini.
Indonesia menempati rangking satu dari 10 negara dengan populasi Muslim terbesar di seluruh dunia. Urutan selanjutnya adalah Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Iran, Turki, Algeria, Maroko.
Populasi umat Islam Indonesia yang sebanyak 202.867.000 jiwa itu merupakan 12,9% dari keseluruhan populasi Muslim seluruh dunia. Lalu Pakistan 11,1 %, India 10,3 %, Bangladesh 9,3 %, Mesir 5,0 %, Nigeria 5,0 %, Iran, 4,7 %, Turki 4,7 %, Algeria 2,2 %, Maroko 4,7 %.
Kesepuluh negara ini adalah inti dari negara berpenduduk muslim dunia, karena jumlah Muslimnya 1.053.363.000 jiwa, atau 67,2 % dari keseluruhan penduduk Muslim dunia yang berjumlah 1.571.198.000 jiwa.
|
Countries |
Muslim Population (million) |
Percentage of (%) |
Percentage Of World Muslim Population (%) |
|||
|
Indonesia |
202.867.000 |
88,2 |
12,9 |
|||
|
Pakistan |
174.082.000 |
96,3 |
11,1 |
|||
|
India |
160.945.000 |
13,4 |
10,3 |
|||
|
Bangladesh |
145.312.000 |
89,6 |
9,3 |
|||
|
Egypt |
78.513.000 |
94,6 |
5,0 |
|||
|
Nigeria |
78.056.000 |
50,4 |
5,0 |
|||
|
Iran |
73.777.000 |
99,4 |
4,7 |
|||
|
Turkey |
73.619.000 |
98,0 |
4,7 |
|||
|
Algeria |
34.199.000 |
98.0 |
2,2 |
|||
|
Morocco |
31.993.000 |
99,0 |
2,0 |
|||
|
Rest of World |
517.835.000 |
- |
32,8 |
|||
|
World Total |
1.571.198.000 |
22,9 |
100,0 |
|||
Dari data mapping dan jumlah populasi hasil survey diatas jika dikaitkan dengan keresahan Huntington terhadap kemungkinan benturan peradaban akibat terganggunya instabilitas dan balance of power antar peradaban dunia, maka semua pihak seharusnya menjadi mahfum apabila salah satu cara paling logis untuk menjaga stabilitas dan balance of power itu adalah dengan mengendalikan reproduksi di kalangan umat Islam.
Pengendalian reproduksi ini tentu dampak lanjutannya akan menurunkan lajunya tingkat pertumbuhan penduduk Muslim. Sayangnya cara tersebut telah terbukti relatif kurang efektif.
Program pengendalian laju pertumbuhan penduduk telah dimulai dari jauh-jauh hari sebelum hal itu diresahkan oleh Huntington. Akan tetapi hasilnya jumlah penduduk Muslim terus bertambah. Sampai saat ini, usaha untuk mengarahkan pertumbuhan penduduk ke zero growth, hasilnya kurang menggembirakan, masih jauh dari target tingkat pertumbuhan yang diinginkan.
Indonesia sebagai salah satu misalnya, laju pertambahan penduduknya masih jauh diatas target zero growth. Demikian pula dengan Pakistan, India, Bangladesh, yang bersama Indonesia, merupakan 4 besar di 10 negara berpenduduk Muslim terbesar di region Asia-Pacific, juga 4 besar di 10 negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.
Hal itu dikarenakan masih adanya hambatan dari sebagian kalangan ulama ortodoks di internal kaum Muslimin, berkait dengan cara pandang teologisnya. Penggunaan alat kontrasepsi untuk menjarangkan jarak antar kelahiran memang relatif sudah bisa diterima, dan dapat dicarikan dasar fiqih syari’ sebagai pendukung argumentasinya.
Namun pembatasan jumlah anak masih merupakan masalah. Hal ini, selain dikarenakan masih ada penentangan dari sebagian ulama untuk menerima dasar fiqih syari’ dari pembatasan jumlah anak, juga kemungkinan besar tak terlepas dengan masih belum dapat dipupusnya praktek poligami.
Pembatasan praktek poligami dengan barier regulasi, apalagi regulasi untuk penghapusan dan pelarangan, jelas masih merupakan masalah besar yang harus dicarikan jalan masuk yang paling tepat.
Ini pekerjaan rumah besar bagi para ulama moderat agar dapat dicarikan dasar fiqih syari’ sebagai sebagai pendukung argumentasi pelarangannya.
Mengingat soal pelarangan praktek poligami ini merupakan hal yang paling keras ditentang oleh kalangan ulama-ulama ortodoks.
Selain pengendalian laju pertumbuhan populasi, ada cara lain untuk meminimalisir potensi benturan peradaban.
Benturan peradaban selain bisa disebabkan oleh timbulnya gangguan terhadap stabilitas dan balance of power antar peradaban dunia yang dikarenakan dampak pertumbuhan penduduk Muslim, juga bisa disebabkan oleh jurang sosial dan jurang kultural di antara berbagai peradaban yang berbeda-beda di dunia ini.
Berkait dengan itu jurang social dan jurang cultural ini, ada penelitian yang hasilnya di rilis jurnal ilmiah Comparative Sociology dengan judul “Islamic Culture and Democracy : Testing the ‘Clash of Civilizations’ Thesis”.
Penelitian yang dilakukan selama 6 tahun dengan melibatkan ¼ juta responden di 75 negara yang tersebar di 5 benua, mendapatkan kesimpulan bahwa akar perbedaan kedua peradaban, antara peradaban Barat dengan peradaban Islam adalah disoal adanya perbedaan besar di ranah kultural.
Perbedaan besar di ranah kultural itu berkait erat dengan perbedaan budaya antara peradaban Barat dan peradaban Islam terutama di cara pandang dalam nilai persamaan gender dan kebebasan seks.
Apakah karena itu pula, karena Indonesia adalah negara paling penting dalam komunitas Muslim di dunia karena merupakan negara terbesar penduduk Muslimnya di region Asia-Pacific dan di seluruh dunia, maka tentu merupakan negara di rangking pertama di urutan prioritas utama yang harus dimasukkan ke dalam program untuk mendekatkan kultur antara dua peradaban tersebut ?.
Jika benar begitu, maka seharusnya kita tidak perlu heran apabila Miss Aceh sangat berpotensi dijadikan maskot dalam program pendekatan kultur budaya antara peradaban Barat dengan peradaban Islam.
Miss Aceh, sebagai representatifnya komunitas wanita Aceh yang wilayahnya terkenal dengan sebutan ‘Serambi Mekkah’, dimana saat ini lagi menanjak ghiroh dan semangat masyarakatnya dalam penerapan formalisasi nilai-nilai Islam, merupakan pilot project paling tepat untuk pendekatan kultur budaya dari jilbab ke bikini two piece.
Sungguh maskot yang nyaris sempurna, bagi sebuah upaya public relation yang nyaris sempurna, untuk mendukung usaha merekatkan celah perbedaan cultural antara peradaban Barat dengan peradaban Islam.
Betapa sempurnanya, maskot yang berasal dari Aceh, Serambi Mekkah, yang merupakan wilayah kantung Muslim nomer satu terbesar di Indonesia. Dimana Indonesia merupakan negara nomer satu terbesar populasi Muslimnya di region Asia-Pasific, dan sekaligus nomer satu terbesar dari keseluruhan populasi Muslim dunia.
Maskot yang akan sangat cepat menduplikasikan diri menjadi ikon bagi upaya harmonisasi antara jilbab dengan bikini two piece ini. Ikon yang sangat bisa jadi akan segera menjadi kiblat dan ilham serta inspirasi bagi wanita Muslim Indonesia, bahkan dunia. Bahwa sejatinya jilbab pun dapat berkompromi dengan bikini two piece, demi sebuah cita-cita mulia, mengharumkan nama bangsa dan Negara serta mengangkat harkat martabatnya wanita Muslim Indonesia.
Bahkan semangatnya akan menjiwai perubahan sebuah kultur budaya dan way of life para Muslimah yang tersebar di seluruh pelosok dunia. Sekaligus juga menjadi pertanda dikibarkannya bendera start, Muslimah telah tampil ke garda paling depan, siap menyambut kemajuan zaman beserta denga konsekuensi adanya harmonisasi kultur dan budaya antara peradaban Barat dengan peradaban Islam.
Akankah Miss Aceh yang telah menjadi Putri Indonesia 2009 selanjutnya akan menjadi pemenang Miss Universe 2010 ?.
Semoga saja Putri Indonesia 2009 menjadi pemenang Miss Universe 2010, melalui kompetisi dimana milyaran pemirsa di seluruh pelosok dunia akan menyaksikan Miss ‘Serambi Mekkah’ yang berjilbab itu tak sungkan melenggak-lenggok di catwalk memamerkan rambut indah sebagai mahkota wanita dan tubuh indah dalam balutan bikini two piece.
Tidakkah mustahil menyandingkan ikon busana jilbab dengan bikini two piece ?.
Tidak ada sesuatu hal yang mustahil jika dilandasi oleh nawaitu yang luhur dan dilaksanakan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga untuk menggapai cita-cita tujuan yang mulia.
Jika jilbab dapat dikompromikan untuk sebuah kepentingan nasional yang menyangkut kepentingan kesejahteraan peri kehidupannya ratusan juta jiwa, maka mengapa tidak mungkin dikompromikan untuk sebuah kepentingan internasional yang menyangkut sejumlah milyaran jiwa ?.
Semoga saja begitu. Betapa indahnya, jika itu bisa mewujud menjadi kenyataan, maka di soal jurang kultural yang merupakan salah satu titik api benturan peradaban antara peradaban Barat dengan peradaban Islam dapat diminimalisir secara efektif dan optimal.
Itu akan menjadi sebuah prestasi yang mendunia. Dimana hal ini bisa menjadi sebuah legenda yang legendaris, yang akan dikenang sepanjang zaman dan sepanjang masa sampai dunia ini tiada.
Prestasi legendaris yang bukan hanya majalah Time saja yang akan menobatkannya sebagai prestasi kelas dunia. Bahkan lembaran sejarah dunia pun tentu serta merta akan mencatatnya dengan tinta emas.
Bahwasanya pada kurun waktu sekarang ini, bangsa Indonesia, pemerintahnya beserta segenap komponen anak bangsa, telah mampu memberdayakan dan mengedepankan peranan kaum wanita sebagai perekat kultural antar peradaban dunia, wabil khususnya antara peradaban Barat dengan peradaban Islam.
Akhirulkalam, sebuah prestasi legendaris tentu akan menjadi kiblat dan ilham serta inspirasi untuk dilanjutkan secara estafet dari generasi ke generasi berikutnya oleh para penerusnya.
Wallahualambishshawab.
*
Referensi Sumber Bacaan :
- ‘Miss Aceh, Dari Jilbab ke Bikini’, klik disini
- ‘Kontroversi Qory Sandrioriva’ klik disini
- ‘Miss Universe Laksana Sapi Perah ?’ klik disini
- ‘Seperempat Penduduk Dunia Orang Muslim’, klik disini
- ‘Populasi Muslim Global sebanyak 1,57 Miliar Jiwa’, klik disini
- ‘Satu dari Empat Penduduk Dunia Muslim’, klik disini
- ‘10 Negara dengan Jumlah Muslim Terbanyak’, klik disini
- ‘Indonesia Negara Muslim Terbesar di Dunia’, klik disini
- ‘Mapping the Global Muslim Population’, klik disini
- ‘Ronald F. Inglehart’s Publications’, klik disini
- ‘Islamic Culture : Testing the Clash of Civilizations’, klik disini
- ‘Sex Objects : Pictures Shift Men’s View of Women’, klik disini
- ‘Woman as Sex Objects’, klik disini
- ‘Neoliberalisasi Jilbab’, klik disini
- ‘Population Control : a Weapon of The West’, klik disini
- ‘Politik Pertumbuhan Penduduk’, klik disini
- ‘Upaya Kontrol Populasi’, klik disini
*
Artikel ini juga dapat dibaca di Kompasiana dengan mengklik disini
*
Tag: bikini, jilbab, Miss Aceh, Putri Indonesia 2009, Miss Universe 2010, Qory Sandrioriva, Serambi Mekkah
Terkait:
-
Zikir pengiring acara kontes Bikini
Selasa, 13 Okt '09 08:40 -
Jawaban Reporter AntaraTV
Kamis, 6 Mei '10 22:27 -
Lepas Jilbab Sebelum Masuk Istana
Jumat, 30 Apr '10 11:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ridwan: Lucu
-
boiga:
-
Salvatore Guiliano:
-
rakadeva: Lucu
-
Harlan Eryandi: Biasa
-
ndableg: Biasa
Komentar:
please...jgn pake Wallahualambishshawab sebagai penutup artikel, seolah2 cah ndeso muslim beneran.
Thx atas tanggapan & komentarnya.
Tapi...Lho bener tho...prestasi yg mendunia
Kalau...prestasi yg mendunia & akherat...ya mesti tidak tho...
dimana salahnya ?.
Ttg Wallahualambishshawab, mhn maaf, saya hrs menuliskannya, krn menurut keyakinan agama yg -Alhamdulillah- saya imani sd hr ini, begitulah tuntunannya.
tapi ini:
"harmonisasi & kompromi jilbab dengan two pieces",
"harkat martabat wanita muslim dengan two pieces",
"kemajuan zaman dengan two pieces sebagai kompromi budaya",
"memberdayakan dan mengedepankan peran wanita",
"dikenang sepanjang zaman dan sepanjang masa"
dan lain-lainnya dalam artikel anda di atas..
saya merasa bukan muslim yang tergolong taat, biasa saja, tapi kok tetep, (maaf) mau muntah saya ini..
lebih baik saya ambilin minyak kayu putih buat bung boiga: saja..
saya tidak terlalu mikirin miss Indonesia bakal pake two pieces atau one piece di kontes miss world, apalagi meng-ungkit2 bahwa neng qory ini dulu berjilbab. Fine, berbusana adalah hak individu.
tapi, ide bahwa muslimah berjilbab akan berbikini dihadapan jutaan penonton adalah suatu kemajuan interaksi budaya dan dianggap prestasi bangsa Indonesia... sangat menggangu saya
ide yg sangat kontras dgn makna berhijab. bahkan bagi muslim moderat-setengah atheist sekalipun.berbikini bagi muslimah berjilbab adalah sebuah kompromi, bukan prestasi.
kalau iya, saya salah rating..
*bodohnya..*
Wah, saya jg baru berusaha untuk taat.
Mu muntah ?, sama. Khan saya tdk bilang setuju atau tdk setuju, cuma memaparkan fakta-fakta dari hasil akibatnya kehebatannnya dan jelinya sang Sutradara yg memilih Qory sbg Puteri Indonesia 2009.
Gitu lho...
lha klo yg kurang mikir baca beginian bisa berabe kan?
salah juga sih klo kurang mikir..
...ide bahwa muslimah berjilbab akan berbikini dihadapan jutaan penonton adalah suatu kemajuan interaksi budaya dan dianggap prestasi bangsa Indonesia... sangat menggangu saya...ide yg sangat kontras dgn makna berhijab. bahkan bagi muslim moderat-setengah atheist sekalipun.berbikini bagi muslimah berjilbab adalah sebuah kompromi, bukan prestasi...
lho, ya prestasi sang Sutaradaranya, itu tentu dong. Prestasi dlm mencapai tujuannya.
Tujuannya apa ?.
Tujuannya ya yg membuat bung Boiga muntah, dan rakadeva mau nadahin cup bra-nya neng qory.
Begitu lho...
Lho...jadi setuju dg tujuannya sang Sutradara ?...
Terimakasih kembali.......
"khan saya tdk bilang setuju atau tdk setuju, cuma memaparkan fakta-fakta dari hasil akibatnya kehebatannnya dan jelinya sang Sutradara yg memilih Qory sbg Puteri Indonesia 2009."
terpilihnya qory murni karena keputusan marketing...
gitu lho
wah kalau saya maih terpengaruh lho...apalagi dg isinya...
Marketing itu tentu punya Planning dan Goal Tujuannya khan ?..
maksudnya begitu kakanda BocahnDeso:
ah semoga ini dibaca oleh segmen yang tepat..
Adanya tulisan ini atau tdk ada (dlm kaitan dg dibaca oleh segmen yg tepat) tidak banyak pengaruhnya.
Karena...ya spt yg saya tuliskan itulah yg akan terjadi begitu Qory dinobatkan sbg Puteri Indonesia 2009.
Apalagi jika nanti mencapai 'prestasi dunia' yg lebih baik di Miss Universe 2010 nantinya. Dlm kaitan itu kok saya yakin ya nantinya rangking Qory di kontes Miss Universe 2010 akan mencetak sejarah yg belum pernah dicetak oleh para pendahulunya...
Salam
--
nah itu dia.. rakadeva kan gak bilang pake isi-isinya...
tambahan catatan saya adalah jangan khawatir dibaca segmen yg tdk tepat, krn kalau tdk tepat pasti sudah mengeluarkan bantahannya...ingat ini di komunitas politikana...tahu sendiri khan ?...
Lha saya tdk berdaya dg benak saya yg langsung mengasosiasikan dg isinya je...
keqnya ada yg konsisten dgn artikel di atas. last but not least, sopo sang Sutradara yg anda maksud?
ralat
keqnya ada yg ga konsisten dgn artikel di atas
"nah itu dia.. rakadeva kan gak bilang pake isi-isinya..."
ya ampyun, masak situ muntah disitunya neng qory... ihh, jadi malu sendiri ijke ngebayanginnya
*silakan dilanjut
iya nih pengen taw, siapa siy sutradaranya???
iya gw sepakat cara berbusana itu Hak nya seseorang, tapi ketika dia mengemukakan alasannya di depan umum, apalagi sekelas miss indo yang bakal ditonton mayoritas muslim negeri ini, rasanya koq bikin sakit jg yah. (gw ga denger langsung alesannya, hanya katanya ;p)
ahh sudah lah..itu kan Haknya dia. biar dia sendiri yang merasakan perhitungannya kelak....
diralat : yang bakal ditonton banyak orang, di negeri yang mayoitas penduduknya muslim....
Silahkan login untuk memberikan pendapat