Jujur Berarti Lapar?? 8
Selasa, 13 Okt '09 16:41
"Oh tuan, kasihanilah aku yang miskin dan lapar. Sudah 3 hari aku tak makan dan tak punya uang untuk ongkos penginapan. Aku guru sekolah desa, kemudian diberhentikan, karena difitnah. Telah setahun aku tidak bekerja."
Skowortsof, pengacara, mengamati orang yang berbaju compang-camping dan bermata muram menandakan dia pemabuk itu. Dia merasa pernah berjumpa dengannya.
"Aku ditawarkan kerja di provinsi Kaluga, tetapi aku tak punya uang untuk pergi ke sana. Tolonglah aku, sebenarnya aku malu meminta pertolongan, tetapi terpaksa."
Skwortsof mengamati sepatu orang itu, sebelah tinggi, sebelah rendah. Dia teringat akan sesuatu. "Aku pernah berjumpa denganmu di jalan Sadowaya," katanya, 'Waktu itu kamu pelajar yang diusir, bukan guru sekolah desa."
"Tak mungkin. Aku guru sekolah desa, akan ku perlihatkan surat-suratku."
"Jangan bohong. Kemaren kamu bilang mau belajar, bahkan menjelaskan sebab kamu diusir." Skwortsof marah dan menjauh dari pengemis itu. "Kamu bangsat!! Walau kamu miskin dan lapar, kamu tak boleh berdusta sesuka hatimu tanpa malu."
Pengemis itu seperti pencuri yang kepergok. "Aku tidak berdusta," dia bersungut-sungut. "Saat ini akan kuperlihatkan surat-suratku."
"Siapa yang akan percaya kepadamu?", kata Skwortsof kesal. "Menarik simpatik orang lain dengan menjual nama guru dan pelajar adalah akal busuk!!"
Tipu daya gembel itu telah merusak sesuatu yang bernilai tinggi dalam diri pengacara itu, yaitu "pengasih" dan "penghiba" kepada segala yang malang. Penipuan untuk memperoleh belas kasihan 'mangsanya' telah melenyapkan kemurahan hatinya terhadap orang malang itu.
Mulanya pengemis itu bertahan bahwa dia tak bersalah, tetapi akhirnya terdiam kebingungan. "Aku memang berdusta. Aku bukan pelajar atau guru sekolah desa. Aku adalah pemabuk yang tak punya kerjaan selain menipu. Itupun kulakukan demi menyambung hidupku. Jujur berarti lapar atau mati kedinginan".
-----------
Praktik ketidak-jujuran seperti yang dilakoni pengemis pada penggalan kisah karya Anton Chekov di atas sebenarnya tergolong biasa, lebih-lebih di negeri ini. Bukan saja oleh pengemis yang memang butuh sesuap nasi guna menyambung hidupnya, tapi juga dilakukan oleh mereka yang cukup berpengaruh dan berpendidikan.
Barangkali kita masih dapat maklum bila seorang pengemis memilih berlaku curang dan menipu dalam menjalani kehidupan mereka, karena moto hidup mereka cukup jelas, "Jujur Berarti Lapar!!". Cuman yang gak habis pikir, apa pula motivasi ketidakjujuran sebagian para pemegang kuasa negeri ini? Apakah mereka juga takut lapar bila berlaku jujur?
Entah... entahlah...
Tag: kejujuran di atas segalanya
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
5150: Bagus
-
ndableg: Bagus
-
cumipeyang: Bagus
-
yusro: Bagus
-
Logical Fallacy: Bagus
-
HTN: Menarik
-
Apprayo: Menarik
-
Esemge: Bagus
-
boiga: Bagus
-
amanda jhie: Inspiratif
-
YHE: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
Ning: Bagus
-
Aji Prast: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Menurut penerawangan saya yang tidak ilmiah ini... motivasinya adalah karena senang dipuja teman-temannya. Kalau jujur, pujaan itu hilang, hilang pula semangat hidupnya...
Sementara pujian hanya datang pada orang yang bisa bagi-bagi rejeki, bukan cuma bagi-bagi senyum "mrenges" thok...
"Don't thank me, Pay me!" bgitu kira-kira... TIdak ada kata terima kasih untuk prestasi kerja pejabat/penguasa. Ucapan terima kasih itu kini harus termanifestasi, bukan cuma di bibir saja...
*kayak syair lagu apaa ya...?*
versi pengemis
__
[...Oh pak hakim saya sebenarnya teraniaya oleh vonis ini, saya korban fitnah dan hanya diikut-ikutkan....]
versi pesakitan KPK
__
[...saya ndak bersalah, ini semua konspirasi Amrik dan Yahudi...]
just another mediocre
"saya sering didzolimi..."
[..Apakah mereka juga takut lapar bila berlaku jujur?..]
justru untu point ini mereka membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin...visinya jauh ke depan...gajinya sih untuk makan hari ini cukup, tetapi mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk 50 tahun ke depan bila perlu sampai 7 turunan.. karena mereka takut (anak cucunya) lapar...
Ah .,paling enak tetep jujur ....kacang ijo.
*koment ke 3000 masih jauh nih*
Silahkan login untuk memberikan pendapat