Ketika Cinta Bertasbih [versi Kucing Betina] 20
Rabu, 14 Okt '09 10:03
Seekor kucing betina suatu pagi berjumpa dengan pangeran tampan nan bersahaja. Dengan kuda putih berpakaian lengkap ala kerajaan menambah kegagahan sang pangeran tadi. Kucing betina itu terkagum-kagum melihat raut wajah yang mempesona itu. Naluri betinanya muncul seketika. Ia benar2 jatuh cinta pada sosok manusia perkasa itu. Seekor kucing jatuh cinta terhadap manusia!!!
"Apakah ini sebuah kutukan? Atau anugerah terindah yang diberikan sang Dewa?" mulailah hati kucing betina itu menimbang rasa. "Ah... jatuh cinta tak mengenal batas usia, batas rupa, bahkan batas makhluk!!", begitu ia mulai bertasbih buat menghibur diri.
"Aku harus mendapatkan pangeran itu! Pangeran gagah itu mestilah jatuh ke dalam pelukanku!", katanya yakin.
Mulailah kucing itu berdoa kepada Dewi Bulan, Tuhan yang ia yakini. Siang malam berdoa memohon agar dirinya diubah saja menjadi perawan cantik yang mampu menaklukkan hati sang pangeran. Tiap hari dia berdoa, tanpa lelah, tanpa makan, tanpa minum, tanpa memikirkan apapun selain dua hal, "dirinya diperkanankan menjadi manusia", dan "pangeran itu tertarik padanya".
Tujuh hari berlalu, sang Dewi begitu iba melihat kesungguhan kucing itu. Dia pun mengabulkan permintaan sang kucing dengan satu syarat, "Tinggalkan perangai buruk yang pernah dilakoninya sebagai seekor kucing, bila ini dilanggar maka ia selamanya akan tetap menjadi kucing."
Sepakat!!
Pendek kisah, terjadilah pernikahan antara pangeran dengan wanita cantik eks kucing betina itu......
Pas di malam pertama, mulailah kucing diuji oleh sang Dewi Bulan. Seekor tikus segar dihadirkan di bilik pengantin. Tikus itu lalu-lalang di sekitar putri, disaat pasangan penganten itu bercumbu kasih. Mulailah sang putri (e..kucing) tergoda melihat kelezatan daging tikus. Bahkan ia melupakan bahwa dirinya sedang dalam kelezatan yang lain..... yang sebenarnya lebih nikmat dari sekedar daging tikus!!
"OUpsmahsh......" putri itu dengan sigap menerkam tikus dan memangsanya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, berubahlah wujudnya seperti sedia kala, seekor kucing betina yang malang.
"Ternyata watak dasarmu tak bisa kau hilangkan!! Seekor kucing, dipoles dengan bentuk apa pun tetaplah seekor kucing!!", maki sang Dewi.
-----
Watak, atau apapun istilah lainnya pada diri manusia memang ada. Apakah dia muncul dengan sendirinya, atau ada lantaran faktor pembiasaan. Yang banyak terjadi adalah karena kebiasaan. Maka tak heran ketika dulu orangtua kita sering memberi petuah, "Ala bisa karena biasa, maka biasakanlah melakukan kebaikan, niscaya kebaikan itu bisa terlakukan kapan saja..."
Negeri kita ini adalah negeri makmur. Para pengelolanya pun adalah orang-orang berbakat, pinter, dan berpotensi. Tapi sayang, watak tak baik sering kali yang lebih dominan dibandingkan watak baiknya. Seakan2 watak buruk itu telah pula menjadi darah daging dan sangat sulit terhilangkan... Apakah itu lantaran dibawa sejak lahir, atau karena ada yang membiasakannya???
entahlah.... entahlah.....
Tag: perawan, Pangeran, KUCING, Jatuh Cinta
Terkait:
-
Jatuh Cinta kepada Manohara
Selasa, 4 Agu '09 14:52 -
POLITIK KUCING
Kamis, 18 Jun '09 02:16 -
Mafiaceli (2)
Sabtu, 13 Jun '09 18:10
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ndableg: Biasa
-
botaksakti: Keren
-
Sri Kirana: Menarik
-
Agus PW: Bagus
-
cumipeyang: Keren
-
yusro: Menarik
-
Logical Fallacy: Menarik
-
Aji Prast: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
l. wiji widodo: Inspiratif
-
conscientizacao: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
Tai Chi Master: Menarik
-
dewa iblis awan api: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
boiga: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
googling aja om, lebih jelas
*ampun bang cibro becanda doang kok*
maksudnya, gua gak paham kok malah udah ketawa duluan,,, geto om... \\
5150: kamu terkutuk!!!
*semoga gak dikutuk jadi kucing*
Aji Prast: ?? dicolong?? siapa yang nyolong siapa om??
***bisa gawat kalo ia neh..
****habis, belon sempet nyinyipin sih.... kuahnya aja belon, apalagi dagingnya..
****surat wasiat sang duda
TINTA AMPAR2 AKIKA MATI MUDA
MASIH LENGKONG BO
Apa yang didengarkan, belum tentu dimengerti
Apa yang dimengerti, belum tentu juga disetujui
Apa yang disetujui, belum tentu dilakukan
Apa yang dilakukan, belum tentu jadi kebiasaan
apa yang jadi kebiasaan, belum tentu baik
apa yang baik, belum tentu disenangi
apa yang disenangi, belum tentu dinikmati
apa yang dinikmati, belum tentu bisa dikatakan
apa yang bisa dikatakan, belum tentu bisa didengar**)
**) kembali ke-reff [koment conscientizacao dengan sisipan kata "bisa"...
Silahkan login untuk memberikan pendapat