Kebebasan yang (sering) menjemukan 15
Sabtu, 24 Okt '09 09:42
Akhir-akhir ini kebebasan yang sudah kebablasan sedang mendera seluruh negeri. Kebebasan berekspresi yang melahirkan kekerasan dan kebrutalan, kebebasan berbicara yang menjurus ke fitnah dan ketidakbenaran dan kebebasan pikiran yang menjurus kepada perbuatan memecah belah.
Saya saat ini hampir tidak pernah (lagi) menonton sinetron atau film di layar kaca atau dvd (bajakan!!!), menonton infontainment yang isinya lebih banyak mudharat dengan kamuflase "masyarakat perlu tahu" dan menonton berita yang menurut saya lebih sering menyimpang.
Mari kita bedah satu persatu mulai dari kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi kita seperti unjuk rasa sudah menjurus ke anarkis. Saya mantan anggota sebuah forum mahasiswa saat peristiwa 1998. Saya berdebat dengan seorang aktivis karena masalah tandatangan. Aktivis itu meminta saya untuk menandatangani petisi yang menyatakan mengutuk TNI karena telah membunuh mahasiswa dan masyarakat. Tetapi ketika saya melihat isi petisi itu, saya menolak karena penuh dengan caci maki dan sumpah serapah. Saya pun memilih keluar sebab hati nurani saya sangat menolak setiap kekerasan baik itu dalam kata-kata maupun perbuatan. Kebebasan berekspresi kita juga terhadap kemanusiaan sudah melampaui batas. Sebagai contoh, kita menghina Malaysia hanya karena mereka "menyontek" aspek budaya Bangsa Indonesia dengan kata-kata yang merendahkan martabat dan harga diri manusia. Kalau mau menghukum Malaysia, alangkah baiknya kita kuat dalam segala bidang dibanding mereka. Sebagai bukti, apakah Malaysia berani "menyontek" budaya Cina dan India secara terang-terangan? Tidak pernah, karena tahu kekuatan kedua bangsa itu bisa membuat Malaysia porak-poranda hanya dalam waktu satu malam! Begitu juga dengan pornografi yang diatas namakan"budaya". Pornografi bukan hanya dalam bentuk bahasa tubuh tapi bisa juga kata-kata serta visual. Lagu-lagu dangdut yang menampilkan penyanyi berpakaian dan bertingkah polah seronok, acara-acara yang juga sama serta lain sebagainya.
Kebebasan berbicara yang sudah menjurus fitnah dan ketidakbenaran. Media massa saat ini sudah sangat berani melanggar etika menyampaikan berita. Tanpa malu-malu mengeluarkan statement yang bisa membuat merah telinga atau bahkan marah. Saya sering melakukan cross check dengan media luar negeri lewat internet atau TV kabel mengenai pemberitaan. Banyak sekali ketimpangan dan ketidakseimbangan dalam memberikan informasi dan lucunya membuat saya bingung. Akhirnya satu-satunya yang bisa saya percaya dari media massa hanya segelintir salah satunya adalah waktu siaran itu diadakan atau berita itu dicetak :D.
Kebebasan berpikir yang cenderung memecahbelah. Ada segelintir kelompok (yang mengaku) umat beragama mulai memaksakan suatu ajaran agama tertentu atas nama seluruh umat. Adanya perda-perda berbau agama dan hukum agama yang menjadi hukum positif setara konstitusi di Tanah Air adalah hasil buah pemikiran itu sangat merongrong dan merusak keutuhan Bangsa Indonesia. Orang-orang ini juga mulai menantang dan berusaha menyabot Konstitusi dan dasar negara untuk kemudian (akhirnya) menggantikannya dengan paham yang tidak sesuai kultur bangsa. Lemahnya pengawasan dan tidak adanya kemauan pemerintahlah yang membuat hal ini semakin subur bak cendawan dimusim hujan. Bahkan sudah ada "kabar burung" bahwa "kaum" penyabot ini sedang dan sudah masuk dalam pemerintahan dari pusat hingga kades atau lurah di Indonesia. Tinggal menunggu waktunya negara ini pecah dalam perang saudara yang berdarah-darah.
Saya tidak mau munafik. Saya membenci adegan-adegan pembodohan dalam film maupun sinetron. Saya merindukan sinetron zaman dahulu seperti Jendela Rumah Kita, Aku Cinta Indonesia, Rumah Masa Depan dan lain-lain yang lebih mengedepankan pendidikan dan nuansa pedesaan. Sekarang? seperti opera sabun yang dipaksakan, merendahkan harkat dan martabat, mengajarkan kejahatan terselubung kepada pemirsa seperti irihati dan benci serta kemunafikan yang luarbiasa.
Saya juga tidak suka mebicarakan "isi perut" rumah tangga orang dalam infotainment. Saya suka bertanya (dalam hati) apakah para produser infotainment bila bertukar posisi dengan "pelaku" yang digosipkan mau "isi perut"nya dilihat orang atas nama "rakyat butuh untuk tahu"? saya rasa mereka tidak mau. Saya lebih suka bila si "pelaku" diceritakan yang baik-baik saja kalau toh ada keburukannya ungkapkan dengan bahasa yang halus dan bukan menjurus ke penistaan.
Ada 4 TV swasta yang saya sukai dan suka menonton acara pendidikan dan motivasi serta forum dialognya. Selebihnya? Jarang bahkan tidak pernah. Saya muak sekali dengan kebanyakan siaran televisi sekarang. Siarannya sangat mengejar rating dan cenderung mengabaikan normalitas dan moralitas. Sebagai contoh sebuah acara komedi yang mengajarkan kekerasan kepada orang lain dengan cara memukul walaupun alat yang dipakai untuk memukul itu adalah sterofoam. Bagaimana kalau acara tersebut ditonton anak-anak yang belum tahu apa-apa? Bukankah mereka nanti akan menirunya?
Sebegitu parahkah kebebasan kita? untung saja Miyabi tidak jadi datang. Bagaimana kalau dia datang? Mau ditaruh dimana muka bangsa ini? Ada seseorang dalam Forum Politikana yang menjuluki saya sok moralis. Tapi saya mau mengatakan kalau bukan kita yang menjaga moral bangsa ini lalu siapa lagi? Kasihan masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa kita "paksa" masukkan segala sesuatu kepada mereka tanpa disaring dulu bukankah akan lebih tambah "beringas" mereka?
Jangan salahkan orang barat atau pihak siapapun yang memasukkan pengaruh-pengaruh baik itu buruk maupun baik. Kita selaku Bangsa Indonesia memiliki moralitas dan etika yang sudah terkenal berabad-abad yang lalu bahkan sebelum masuknya agama-agama ke Indonesia. Kita bisa menyaringnya dan yang dibutuhkan hanya keberanian untuk menjadi penjaga moral dan etika itu.
Tag: media
Terkait:
-
Ahmadinejad Adalah Hitler Keturunan Yahudi!
9 jam yang lalu -
Apakah Penulis Politikana adalah Jurnalis?
Senin, 22 Feb '10 09:48 -
Gila Gara-gara FESBUK
Senin, 22 Feb '10 08:04


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Mengenai moral, setuju kita harus sama2 jaga, tapi jgn lupa jaga tabiat masing2
Moral di bokong itu namanya
Kalo masalah Miyabi sebenarnya tidak bermasalah dia mau datang tapi koq saya merasa ada yang aneh dengan kedatangan dia di Indonesia. Saya malah merasa dia ke Indonesia atas sponsor oknum-oknum yang ingin berbuat "gila" di Indonesia. Masak dia mau bermain film ecek-ecek di Indonesia? Kan aneh dengan bayaran mahal dia mau bermain film "murahan" dengan judul yang aneh. Coba anda pikir dalam-dalam.
Sante sajalah... pemain bokep jg banyak di Indo koq
Kembali ke TV, sy paling concern ke masalah tayangan2 yg berbahaya utk anak.
Kalau utk org2 dewasa, tidak perlu pusing, masih bisa ganti channel, trgantung kesadaran dan keperluan masing2.
Kalau anak2, gk bisa. Mereka akan terus melototin, mereka belum bisa memilah2 mana yang baik untuk diserap.
Acara-acara kekerasan ini yang sangat merusak mental anak-anak. Untung saya belum punya anak. Kalo sudah bisa setengah mati saya mengawasinya...
Sepupu saya nyeletuk, "Biarin..kafir sih!"
Anak2 umur segitu sudah tau ttg kafir
Pertama, secara bisnis tayangan2 ini murah ongkosnya, coba bayangin, berapa ongkos setiap episode Naked Science atau Natural Geographic mungkin setara dgn 50 episode infotanm. dan sejenis itu yg presenternya cukup cengar cengir doang.
Kedua, masalah selera. Memperhatikan rating sinetron2 tdk bermutu yg cukup tinggi (banyak iklan), artinya ya, sekelas itulah selera sebagian besar pemirsa Indonesia.
Ketiga, perilaku pebisnis yg tdk perduli dan tdk peka thd kemajuan berpikir dan moral masyarakat, yg penting untung, selesai.
Sepertinya ketiga komponen inilah (antara lain) yg memberi lahan subur bagi tayangan bermutu rendah di pertelevisian Indonesia.
Ada satu komponen lagi, yaitu pengawasan pemerintah, akan tetapi, hari gini..? lupakan saja...
==== Hiduplah sesukamu, lakukan sebebas-bebasnya, tapi ingatlah bahwa suatu saat engkau pasti berpisah dengannya. [ini bukan dalil loh].
Kenapa masyarakat selalu dianggap ANAK KECIL yang perlu dididik dengan cara-cara pedagogi?
@Neof Ana: Sebagian besar masyarakat kita tidak terdidik secara formil di lembaga pendidikan. Sebagian besar justru hidup dalam garis kemiskinan dan pengetahuan yang sedikit atau tidak mendapatkan pengetahuan sama sekali. Cara kita mendidik masyarakat yang justru gandrung dengan budaya "seketika" (instant) adalah dengan cara-cara yang tidak menggurui, masuk akal dan akan menambah wawasan serta pola pikir mereka.
Silahkan login untuk memberikan pendapat