Sekilas info: Instansi Pendidikan yang Sibuk Membalsami Diri 1
Selasa, 3 Nov '09 10:49
Selain persoalan Cicak Buaya, akhir-akhir ini media massa kita juga cukup sering memberitakan sekilas info dari dunia pendidikan kita. Info ini bukanlah tentang siswa yang berprestasi, guru inspirasional, sekolah yang mengharumkan nama bangsa, dan sebagainya, melainkan tentang Ujian Tengah Semester Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar di Sidoarjo. Menilik informasi di atas, pembaca tentu akan bertanya-tanya, apa yang istimewa dari berita ini? Anak sekolah ujian Bahasa Indonesia tentu adalah sebuah hal yang 'lumrah'. Adalah suatu hal yang memprihatinkan apabila Bahasa Indonesia tidak diujikan apalagi kalau sampai keluar dari kurikulum pengajaran. Namun apa yang berbeda dari semua ini sampai menuai kontroversi dari berbagai pihak? Seperti biasa, ujian Bahasa Indonesia diawali dengan bacaan yang nantinya harus dibaca siswa agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Namun yang 'lucu' adalah judul dan isi bacaan komprehensi itu: "Pengusaha Bandel Dikerangkeng Mak Erot".
Berikut ini kutipan salah satu paragraf dalam bacaan penuh "cinta" itu,
"Dikatakan oleh Misan Kabid Pelayanan Kesehatan DKK, makanan dan minuman ringan yang tidak sesuai dengan UU Kesehatan No 23 Tahun 1992, disita untuk contoh. Kemudian dilaporkan ke Provinsi. Bagi pengelola swalayan, manakala tidak memperhatikan imbauan dari instansi terkait, akan dikenakan sanksi pidana kurungan paling lama 1 tahun denda Rp15 juta. Hukuman tambahan dikrangkeng dijadikan satu karo macan seminggu. Diucluk-ucluk dan terongnya dibalsem.... I love U full."
Source: Okezone.com
Tentu saja hal ini menuai keprihatinan dari banyak pihak, termasuk orangtua murid. Menanggapi protes mereka, Dinas Pendidikan Kabupaten (Dikab) Sidoarjo berdalih bahwa soal-soal ujian tersebut keburu dicetak pada saat mereka menyadari adanya kalimat ‘seronok aw aw' itu. Mereka juga seakan-akan meminta empati publik bahwa mereka sendiri telah berusaha untuk menghapus secara manual dengan stipo. Namun ternyata tidak semua naskah soal sempat untuk ‘ditangani' dan akhirnya kalimat balsam cap terong itu sampailah ke meja murid-murid yang tentunya niatnya ujian.
Membaca berita dan menonton tayangan sekilas info di televisi, reaksi pertama saya, "#$%^%^$^" (note: sengaja saya sensor supaya saya tidak menyamakan diri dengan si pembuat naskah soal itu). Namun saya akhirnya keasyikan membayangkan, mengimajinasikan, behind the scene pembuatan naskah soal itu.
Skenario pertama. Mungkin si pembuat soal belum dapat ‘jatah' padahal lagi ingin-inginnya. Kemudian ia minum apapun atau mengonsumsi apapun. Saya menduga alkohol, sebab alkohol itu zat yang ajaib, ia akan melepaskan dorongan apapun yang kita bentengi dengan pengendalian diri kita. Lalu dalam desperado lezatos, di ambang sadar, ia menulis kalimat itu. Dalam skenario ini, sedikit banyak saya bisa berempati dan saya sering mendengar betapa deprivasi pemenuhan kebutuhan di area itu mendorong banyak keseleo dalam hidup. Ditambah lagi, saya penganut Freud walaupun sedikit ada penolakan dalam diri saya untuk mempercayai bahwa kebutuhan seks secara tidak sadar melatarbelakangi perkembangan ataupun tema hidup manusia.
Skenario kedua. Saat membuat soal, godaan muncul, gayung bersambut. Dalam euforia itu, ia tiba-tiba teringat pada deadline penyerahan naskah ujian dan di tengah-tengah aktivitas nan sehat itu, ia menulis soal itu (note: saya jadi berpikir, entah si pembuat soal ini hebat sekali, atau aktivitas itu sungguh buruk dan membosankan sampai ia sempat untuk menyambi). Sambil mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hanya saja kali ini di pulau itu, ia membikin heboh penghuni pulau dan mengancam tatanan nilai generasi muda mereka dengan tentengan yang dibawa dari daerah asalnya.
Skenario ketiga. Mungkin pembuatan soal ujian ini disponsori oleh Mak Erot. Entah kompensasinya dengan uang atau dengan produk-produk tertentu. It's just publicity stunt! Eh jangan salah, di negara kita yang takut kekiri-kirian, kapitalis itu dipuja, diamini, digerakkan di setiap sudut hidup kita, dari mall sampai jajaran menteri di pemerintah kita.
Apapun itu, yang jelas soal itu tercetak dan dibaca oleh siswa yang niatnya, saat itu, mengikuti ujian (bukan untuk baca stensilan!). Selain pembuat soal yang keblinger, kinerja Dikab pun turut dipertanyakan. Bagaimana mungkin setiap naskah soal tidak diperiksa, tidak melalui proses kontrol? Toh itu tugas mereka, apalagi nama mereka tertera sebagai penerbit soal. Penyusun soal hanyalah tim yang ditunjuk oleh Dikab namun tanggung jawab tetap berada di Dinas Pendidikan karena merekalah yang amanah untuk tugas mulia itu. Kalau kerja mereka kedodoran sampai terjadi kasus semacam ini, bagaimana para orangtua bisa mempercayakan pendidikan anaknya? Bagaimana tanggung jawab negara untuk melaksanakan dasar tujuan negara "mencerdaskan kehidupan bangsa?
Yang terjadi memang sudah terjadi. Namun permintaan maaf dan janji untuk melakukan penyidikan serta menindak pelaku itu tidak akan berguna banyak, sebab yang jadi masalah di sini adalah siswa-siswa, calon korban dari pendidikan yang konslet. Memastikan bahwa hal ini tidak terulang lagi itulah yang harusnya menjadi PR utama instansi pendidikan kita yang kelamaan membalsami diri, agar dunia pendidikan kita tidak benar-benar berubah menjadi mumi.
Tag: pendidikan, sekolah, ujian, kontroversi, balsam
Terkait:
-
Buku Ajar "Jorok" : Siapa harus Digorok ?
Selasa, 15 Des '09 17:25 -
No Future, So What?
Minggu, 29 Nov '09 17:47 -
Sekolah Gratis ????
Kamis, 27 Agu '09 12:28
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat