Gerakan Sosial Digital 17

Kamis, 5 Nov '09 04:00

Tulis ini dibuat untuk dan pertama kali dimuat di http://pemilu.liputan6.com/kolom/200911/249966/Gerakan.Sosial.Digital

Saya simpan disini untuk bahan diskusi warga politikana.

Gambar diambil dari: http://badruttamamgaffas.blogspot.com/2008/08/kaum-muda-yang-dituntut-bangkit.html

------------

Gerakan Sosial Digital

Sekali lagi kita menyaksikan kekuatan gerakan massa. Kali ini, gerakan massa mampu membongkar skandal hukum terbesar di Republik ini sejak reformasi dijalankan hampir 11 tahun lalu. Publik yang terus-menerus berteriak, yang lalu disalurkan dan diperkuat media massa, mampu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sebelumnya terlihat salah membaca situasi akhirnya mengambil tindakan. Rekaman yang membeberkan kebobrokan sistem peradilan kita diperdengarkan ke publik, dan polisi yang semula bersikeras ada alasan untuk menahan pimpinan KPK nonaktif akhirnya membebaskan mereka dengan alasan “demi kepentingan lebih besar.”

Satu hal yang unik dalam protes publik kali ini adalah untuk pertama kalinya di Indonesia terbentuk hubungan ketergantungan antara teknologi dalam bentuk new media, media massa, dan gerakan sosial. Grup di facebook yang menyuarakan dukungan untuk KPK, yang dibuat aktivis dan dosen asal Bengkulu, Usman Yasmin, masih terus membesar dengan anggota hampir 800 ribu hingga Rabu (4/11) malam. Aktivisme di Internet ini telah berhasil menyuarakan pesan rakyat secara gamblang.

Dalam tulisan ini saya ingin menguraikan beberapa hal tentang aktivisme di Internet, yang mungkin berguna untuk mengerti fenomena aktivisme di Internet dan bagaimana prospek ke depannya.


****


Pertama mari kita lihat asal-usulnya. Di satu sisi, kita tidak heran grup facebook yang mendukung KPK tersebut menjadi besar karena KPK sudah lama menjadi primadona publik dibanding lembaga hukum lain dan masalah korupsi juga sudah menjadi perhatian umum. Tetapi, melihat status update Pak Usman pada saat-saat awal, tampak ada perasaan terkejut ketika grup tumbuh sangat pesat dalam waktu singkat. Jadi, berbeda dengan aksi protes di dunia non-Internet yang perlu pengorganisasian intensif sebelumnya, aksi di Internet dapat terjadi secara organik.

Tentunya ini bukan berarti aksi terjadi secara spontan; banyak grup di facebook yang terbentuk spontan tapi tidak menjadi besar karena mungkin tidak cukup banyak orang yang merasa isu tersebut penting. Masalah korupsi memang populer. Selain itu, latar belakang Pak Usman yang aktivis dan dosen, memang tak dapat dikesampingkan begitu saja; mungkin ia sudah terbiasa mengungkapkan opini dan perasaan ke publik sehingga tidak merasa canggung untuk memulai sebuah aksi. Poin utamanya adalah mudah bagi banyak orang untuk memulai aktivisme di Internet, tetapi besar-tidaknya gerakan yang dihasilkan bergantung pada isu yang diusung dan dinamika proses penyebaran informasi selanjutnya.


****


Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana grup ini menjadi besar. Sepintas kita berpikir tak sulit membuat gerakan sosial di Internet karena orang dapat melakukannya hanya dengan mengklik sambil tiduran sekalipun. Ini memang benar, tapi justru karena begitu mudahnya memulai gerakan di Internet, orang akan dibombardir oleh ajakan untuk bergabung dengan aneka macam gerakan. Akibatnya orang akan memilah-milah grup mana yang paling cocok. Karena orang memilih secara sadar, kita bisa menganggap grup aktivisme yang besar menjadi besar bukan hanya karena mudah bagi orang untuk ikut serta, tapi juga karena memang isu yang diangkat mendapat dukungan luar biasa.

Selain itu, ada fitur facebook yang tepat untuk menjadi alat rekrutmen sebuah gerakan, yaitu wall , yang membuat kita bisa melihat saat teman kita menjadi anggota sebuah grup. Manusia adalah mahluk sosial yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Melihat banyak orang dalam jejaring kita sendiri bergabung dengan sebuah grup akan memberikan tekanan sosial untuk bergabung.

Mendapat invite dari teman untuk bergabung membuat kita pikir-pikir. Melihat sebuah grup beranggota besar (atau kerumunan massa besar) tidak otomatis membuat kita tertarik bergabung karena kita dapat menganggap kelompok itu berbeda. Tapi melihat teman kita sendiri berbondong-bondong bergabung, memberikan dorongan luar biasa untuk ikut. Wall di facebook memungkinkan kita melihat apa yang dilakukan teman-teman. Dan, jika banyak teman kita melakukan hal serupa, besar kemungkinan kita akan melakukan hal itu juga.

Dinamika ini konsisten dengan penelitian mengenai gerakan sosial yang menemukan bahwa, dalam banyak kasus, seseorang menjadi aktivis bukan karena kesamaan ideologi atau pandangan lalu bergabung dengan kelompok. Ia diajak temannya untuk bergabung ke kelompok dan baru menjadi aktivis ketika sudah menjadi bagian kelompok itu dan belajar mengenai isu yang diperjuangkan.


****


Jangan kita lupakan peran media massa. Dalam kasus ini, media massa terus-menerus melaporkan perkembangan gerakan di facebook. Bagi mereka yang tidak terkoneksi ke Internet, efeknya seperti mendengar ada demonstrasi besar di kota lain; mereka tidak melihat atau merasakan secara langsung tapi menjadi tahu akan keberadaan sebuah kelompok besar yang kesal akan suatu hal. Gerakan facebook adalah sinyal adanya sebuah masalah penting yang membuat banyak orang geram, yang selanjutnya diberitakan media massa.

Liputan media massa ini juga dapat menjadi umpan-balik positif untuk gerakan: orang yang sebelumnya menganggap remeh gerakan facebook berubah menjadi menganggapnya penting karena gerakan tersebut diliput oleh media massa. Reputasi gerakan menjadi naik karena mendapat liputan media massa yang tidak mudah diperoleh; reputasi naik karena ada sinyal bahwa gerakan telah berhasil melakukan sesuatu yang sulit, yaitu menarik perhatian media massa.

Khusus untuk gerakan mendukung KPK ini, sejak awal peran media di Internet relatif besar. Situs berita detik.com memberitakan grup facebook ini sejak anggotanya masih 164 orang. Jadi sangat mungkin grup tersebut menjadi besar dengan cepat karena orang membaca beritanya di detik.com dan lalu menyebar melalui jejaring pertemanan di facebook. Jadi, dalam hal ini, proses membesarnya terjadi akibat kombinasi dari pengaruh media Internet dan proses difusi di jejaring sosial.


****


Paparan di atas menggambarkan bagaimana aktivisme di Internet dapat menghasilkan sebuah kelompok pendukung dan penekan yang, dengan bantuan media massa, mampu menghasilkan perubahan nyata. Pertanyaan selanjutnya, apakah bisa lebih dari itu? Terutama bagaimana jika media massa tidak meneruskan sinyal protes dari Internet ke khalayak ramai? Jawabnya bisa.

Selain untuk membentuk kelompok penekan maya, kita juga dapat menggunakan Internet sebagai alat untuk mengorganisasi gerakan sosial nyata di lapangan. Inilah yang dilakukan Barack Obama, baik ketika kampanye maupun sekarang setelah menjadi presiden AS, saat ia melakukan mobilisasi massa untuk mendukung kebijakan-kebijakannya.

Grup di facebook, misalnya, dapat menarik orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Setelah grup menjadi besar dan anggotanya aktif berbagi pendapat, kita dapat mengkategorisasi anggota berdasarkan lokasi tempat tinggal. Selanjutnya kita membantu mereka membentuk kelompok-kelompok lokal sendiri yang bergerak dan membuat aksi di lokalitas masing-masing sehingga memobilisasi mereka yang tak terkoneksi ke Internet.

Aktivis yang melakukan aksi di berbagai tempat ini dapat menggunakan Internet untuk saling bertukar informasi sehingga mereka dapat belajar satu sama lain dan juga saling bertukar cerita melalui tulisan dan video yang membuat semangat tetap tinggi.

Tentunya menggunakan internet sebagai alat pengorganisasian perlu strategi dan tim yang lebih lengkap dibandingkan menggunakan internet sebagai ajang curah pendapat dan emosi kolektif.

Yang pasti Internet telah menjadi salah satu alat aktivisme; Internet dapat mempermudah seseorang menjadi aktivis; Internet dapat dipakai untuk mengelola dukungan untuk sebuah aktivisme. Ini semua dapat berujung pada partisipasi publik yang semakin besar dan memperkuat demokrasi di Indonesia dengan memberikan kekuatan tambahan bagi rakyat, terutama saat penguasa tidak mau mendengar rakyat. Power to the people!

 


Tag: internet, protes, gerakan sosial

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Leksa 1 suka | 0
    saya copas komentar saya dari post sebelah. Untuk menjawab teman2 yang agak pesimis dengan gerakan internet.

    "
    Dalam soal bentuk "gerakan" "demonstrasi", bahkan kampanye sekalipun, ada 2 alat disana ..
    1. penggedoran
    2. penyadaran ..

    Saya rasa ga masalah ada gerakan 1 juta facebooker itu, entah ada yang paham atau tidak.
    Tapi harus diakui gerakan itu memberi efek gedor terhadap yang berkepentingan/penguasa untuk mengambil tindakan yang penting.

    Soal penyadaran, kembali akhirnya itu peran media, bahkan peran kita perorangan saling memberi tahu. Saling mengingatkan kala lupa.

    Memang tidak mungkin 1 juta facebooker itu mengambil tindakan, ndak mungkin 1 Juta orang jadi Ketua MK,.. apalagi 1 juta orang jadi presiden.

    Jangan dikecilkan setiap bentuk upaya, hanya karena selalu melihat "tidak ada penyadaran" disana. Saya selalu percaya,
    penyadaran itu bagian dari pendidikan, dan pendidikan itu sebuah proses.. bukan sebuah "as it is"

    --
    Leksa 1 suka | 0

    Ada yang mengatakan gerakan ini latah saja. Ada yang menganggap ini tidak berguna. Sah sah saja, itu hak opini masing-masing.

    Saya melihat dari sisi mendidik masyarakatnya saja.

    Sepakat dengan Bung Roby. Dalam era yang digital sekarang, cara yang paling baik mengenalkan isu adalah dengan cara ini, mengenalkan lewat social media. Persoalan mereka tidak mengerti/latah di awal2, itu bukan kesalahan. Tapi itu proses awal dari sebuah pendidikan. Inisiasi.

    Justru bagi rekan-rekan yang merasa lebih jago idealisme nya, kokoh prinsip dan pengetahuannya, manfaatkan sebaik2nya "latah" ini untuk mulai meng-introduksi masyarakat "latah" ini soal apa yang mereka "latah-i"

    Jika anda guru yang baik, tidak akan anda mendiskreditkan murid anda yang baru saja memiliki ketertarikan terhadap sesuatu.
    Pelan2 anda akan membimbingnya.
    Ujug2 ceramah koar2, dengan penuh idealisme terhadap issue yang jauh dari pikiran awam? Ya siap-siap aja mendapat penolakan. Paling tidak, penolakan dengan "ujug-ujug" begitu akan lebih besar kemungkinan gagal nya

    Demikian juga cerita 1 Juta Facebooker ini, atau ramai2 tweeps yg berseliweran itu. Toh, saya merasa senang-senang saja. Ada manfaatnya dari semua ke"latah-an" itu. Diakui atau tidak, ada tekanan dari sana, dan menjadi pertimbangan bagi pengambil tindakan.

    Mau membantu saling mengingatkan?
    atau cuma bisa komentar di kursi anda akan "latah-an" tersebut?
    conscientizacao 1 suka | 0
    Web 2.0 for development? For Social change? http://www.web2fordev.net/

    Internet toh adalah channel, saluran komunikasi yang dapat menghubungkan banyak orang. Dan memanfaatkan saluran itu bukan hal yang haram. Semoga pemanfaatan internet tidak sekedar menjadi sumber pencari pornografi, atau alasan untuk menghindari interaksi lapangan yang jauh lebih penting.
    hamatamu 0 0
    wah komentarmu sudah seperti doa kang conscientizacao, nanti ditutup dengan amin yang panjang ; ))
    conscientizacao 0 0
    hamatamu: Amiiinnnn... : D
    Roby Muhamad 0 0
    Leksa: terima kasih komentarnya yang informatif.

    setuju 100%! : )
    Roby Muhamad 0 0
    conscientizacao: terima kasih untuk link nya : )
    kinanthi 0 0
    Roby Muhamad: ada kaitannya ama analisa kebakaran hutan seperti yg pernah sampeyan tulis?
    om teko 0 0
    mungkin di kemudian hari ada web site yang memberikan pilihan.
    apa yang anda inginkan pada negeri ini?
    a. status quo, b. reformasi, c. revolusi,
    silahkan lakukan dengan sekali klik saja...
    Subroto 0 0
    Ah..pantas China dan Iran anti kebebasan internet
    Roby Muhamad 0 0
    kinanthi: bisa diliat memang udah ada "hutan kering korupsi" dan grup facebook itu menyulut apinya. memang bukan pertama kali ini ada api muncul, tapi baru sekarang apinya menjadi besar. poinnya adalah pentingnya keberadaan hutan kering
    Edwin Dianto 0 0
    Hmmm.. online activism.
    Ahmad Dadan 0 0
    Gerakan Sosial Digital siapa takut... dalam advokasi selama ada saluran komunikasi kenapa tidak?!!
    rianto 0 0
    kira2 berapa persen ya dari total 'satu juta' facebookers yg apply group(yg populer) karena nama groupnya bakal muncul di wall sama di profilenya? : D
    *retoris*
    dht14 0 0
    digital networking = simulacra dalam pemahaman bauldirrad....meskipun perlu harus tetap didukung dengan gerak di kenyataan
    daus 0 0
    http://www.satupo…embangan-ict
    faisal2009 0 0
    Yang pasti berguna buat masyarakat yg males demo turun ke jalan tapi punya satu pikiran, tinggal klik di internet masukin user dan password apply group, upload gambar kerbau, jadi deh aktivis.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat