Cicak, Buaya dan Tikus di Taman Belajar 12
Minggu, 8 Nov '09 16:36
Kemarin sore, saya ke rumah sahabat saya. Sahabat saya memiliki taman belajar gratis di tiap sabtu sore bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Sekitar duapuluhan hingga tigapuluhan anak dengan semangat tinggi datang untuk belajar di sana.
Keluwesan sahabat saya dalam bertutur, semangatnya untuk berbagi ilmu, dan kecintaannya kepada anak-anak, telah berhasil menawan hati anak-anak yang berusia lima hingga tiga belas tahun itu. Inti pelajaran yang diberikan adalah bahasa inggris, namun kemasannya sangat beragam. Mulai dari tanya jawab, bertutur, bercakap, bercerita dongeng, bernyanyi, bermain, sampai dengan diskusi.
Nah, kemarin itu sahabat saya cukup mengagetkan saya dengan mengangkat topik diskusi Cicak-Buaya di kelasnya. Iya, sahabat saya itu mengajak anak-anak didiknya untuk berdiskusi mengenai topik hangat yang sedang terjadi di tanah air ini. Rupanya anak-anak itu cukup merasa dekat dengan isu tersebut, namun tidak mengetahui apa yang terjadi. Ya, tentu saja mereka mengetahui isu itu dari bombardir siaran televisi belakangan ini.
Alhasil, jadilah kemarin itu terjadi sebuah diskusi politik yang sederhana. Sahabat saya menjelaskan tentang apa itu lembaga KPK dan perannya, tugas polisi, pengertian korupsi dan koruptor, hingga korelasinya dengan cicak dan buaya (dan juga tikus). Untuk memudahkannya dalam menjelaskan, beberapa anak diminta ke depan untuk berpura-pura menjadi cicak, buaya, dan tikus. Tak lupa, sahabat saya juga menjelaskan tentang istilah-istilah wewenang, menyadap, dan menyogok, lengkap dengan kosa kata bahasa inggrisnya dan moral dari kejadian ini.
Hal yang menarik buat saya adalah ternyata sebagian besar anak-anak itu cukup antusias dalam berdiskusi tentang hal ini. Kedekatan mereka dengan media televisi rupanya membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Informasi yang sepotong-sepotong mereka terima bisa jadi akan menyesatkan cara berpikir mereka. Misalnya, ketika sahabat saya itu bertanya kepada mereka,
"Ayo, siapa yang tahu tugasnya polisi itu apa???"
dan mereka menjawab spontan,
"Menangkap KPK!!!"
(glek, saya tersedak dan tertawa-tawa pada saat ini terjadi)
Adalah kita, saya dan anda, yang dapat berbuat sesuatu kepada adik-adik dan anak-anak di sekitar kita. Bahwa bekal untuk menyongsong masa depan tidak cukup dengan matematika, ilmu alam, bahasa, agama. Bahwa pendidikan politik sejak dini juga akan membantu menciptakan generasi kritis dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
terima kasih buat sahabat saya, si senyumpagi, yang tak henti menginspirasi saya dengan taman belajarnya
Tag: tikus, Cicak, buaya, politik usia dini
Terkait:
-
Apa Kabar Cicak?
Selasa, 9 Mar '10 10:08 -
Setelah Bibit-Chandra Bebas Lalu Apa?
Selasa, 1 Des '09 00:17 -
Pak Boed, Apa Katamu?
Senin, 30 Nov '09 16:23
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
bejologi:
-
Frost: Menarik
-
Riyono: Menarik
-
daengrusle: Menarik
-
yusro: Menarik
-
boiga: Menarik
-
telo al-makjuj: Lucu
-
ndableg: Bagus
-
l. wiji widodo: Menarik
-
conscientizacao: Bagus
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
Ibnu Muslim: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
wis nduwe bojo, isih 'didi kempot' wae..
cuma teman kok
Telor ama Ayam... Pendidikan Politik dulu, baru ngurusin perut? Aau perut dulu, baru pendidikan politik? Atau sekaligus dua-duanya?
Yang pasti SBY Jilid I-II milih ngurus perut dulu tuh kayaknya...
bergaya dia...suaranya paling kenceng ya...
pandangan mata dong!
Silahkan login untuk memberikan pendapat