Cicak, Pahlawan Yang Diimpikan 12

Selasa, 10 Nov '09 17:34

Beberapa saat belakangan ini banyak orang ribut tentang menghormati hari pahlawan, menghormati para pahlawan, bahkan mengaku-ngaku dan ingin dihargai sebagai pahlawan. Pahlawan yang mana ? Meneketehe ! Pernah nonton di salah satu siaran tv, kita bisa saksikan penghargaan macam apa yang sudah diberikan kepada para pejuang kemerdekaan yang usianya sudah uzur, yang kebetulan mereka dikaruniai umur panjang.

Seorang mantan ajudan Jendral Sudirman, di sisa hidupnya hanya jadi tukang sapu di sebuah pasar dengan gaji Rp.150.000,- per bulan., sungguh sangat memperihatinkan. Ketika diliput oleh salah satu stasiun tv, beliau mengutarakan tidak pernah menerima sepeserpun uang pensiun. Sementara dari pejabat pemerintah daerah setempat, beliau hanya dianugrahi selembar kertas sertifikat penghargaan, yang tidak ada manfaatnya sama sekali buat membantu perjuangan beliau untuk tetap bertahan hidup.

Beberapa orang mantan pejuang kemerdekaan menceritakan bagaimana dia harus mempertahankan hidup sebagai tol cepek, sebagai pendorong gerobak sampah, bahkan harus menjadi seorang pemulung. Beliau-beliau itu dulu angkat senjata untuk kemerdekaan negeri ini, sehingga kita bisa menghirup udara kebebasan seperti sekarang ini. Beliau lebih berharga dari pada para pejabat sekarang yang suka berjanji dan bersumpah omdo, gombal dan arogan, yang kalau lewat jalanan saja harus dikawal voreders karena tidak mau ikutan macet atau antri di lampu merah.

Kalau saja tidak ada para pejuang itu, kalian tidak mungkin bisa duduk di kursi jabatan atau kekuasaan saat ini. Dirgahayu Hari Pahlawan, 10 Nopember 2009.

 

dibawah ini : [asli copas dari ; http://www.wawasandigital.com]

Tuesday, 10 November 2009

Cicak, "pahlawan" yang diimpikan

HARI ini 10 November 2009, kita memperingati Hari Pahlawan. Momentum itu mengingatkan kita pada jasa dan semangat nasionalisme para pahlawan. Kita harus bisa merenungkan kembali secara kritisfilosofis terhadap perjuangan mereka yang telah bertaruh nyawa untuk mewujudkan kemerdekaan.

Hari Pahlawan merupakan salah satu dari hari bersejarah yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Lebih dari setengah abad sudah bangsa ini memperingatinya. Di zaman Sukarno-Hatta, hari itu diperingati secara nasional sebagai hari besar yang dirayakan secara khidmat, dengan rasa kebanggaan yang besar.

Peringatan Hari Pahlawan merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa, bukan saja untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya demi memperjuangkan tegaknya Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2009 ini juga telah merupakan kesempatan yang baik untuk selalu memupuk rasa kesadaran dan nasionalisme bangsa Indonesia.

Saat ini bangsa kita memasuki masa baru yang penuh dengan berbagai problem kebangsaan dan krisis mulitidimensi, mulai dari aspek sosial, politik, budaya, dan bahkan ekonomi termasuk krisis keuangan global, krisis moral, krisis etika, dan krisis keadilan hukum di Indonesia. Karena itu, ada baiknya kita mengenang dan merenungi kembali jasajasa pahlawan kita.

Dengan begitu, kita akan ingat kembali bahwa Republik Indonesia yang sekarang ini ada adalah hasil perjuangan keras dan berat yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Spirit pahlawan

Dalam konteks saat ini yang kita perlu tekankan adalah bagaimana sikap kita dalam memaknai perjuangan sang pahlawan. Kini kita perlu mengambil spirit jiwa dan keberanian mereka dalam memperjuangkan kebenaran hukum, keadilan hukum, kejujuran, kedisplinan dalam bekerja tanpa menggunakan senjata.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, termasuk dalam pemberantasan korupsi dan penegakan keadilan.

Maraknya praktik korupsi yang merambah di dalam sistem birokrasi dan di dalam peradilan hukum di Indonesia haruslah segara di tuntaskan. Dengan begitu, hari Pahlawan ini bisa dijadikan agenda utama oleh pemerintah dalam mencari sosok ’’pahlawan” yang bersih dari KKN untuk menjadi pahlawan yang mengabdi secara penuh kepada rakyat, tanpa pamrih. Misalnya kepada para anggota KPK yang memiliki integritas tinggi dalam melakukan pemberantasan korupsi di lembaga yudikatif, eksekutif, maupun legislatif.

Disadari atau tidak, korupsi di kalangan pejabat menengah dan bawahan dapat menyebabkan destrukivitas sendi-sendi peradaban umat manusia. Praktik itu dapat kita lihat misalnya dalam kasus Bank Century dan pengiriman surat pospaket macet, surat KTP, izin usaha macet, biaya pengiriman semakin mahal, transport, SIM yang sukar diperoleh, banyaknya pungutan liar dalam sistem birokrasi di Indonesia, baik itu di tingkat kecamatan, kelurahan, maupun di kabupaten dan bahkan di tingkat provinsi. Hal itulah yang menyebabkan rakyat sulit memperoleh pelayanan secara baik, sehingga realitas itu menimbulkan terjadinya sikap yang korup.

Karena itu, di tengah merebaknya pertikaiaan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), atau meminjam istilah yang sering digunakan oleh media cetak, antara cicak dan buaya. Karena itu perlu kita kritisi, bahwa untuk membangun pemerintahan yang bersih dari korupsi, sikap kejujuran dan keadilan hukum harus ditegakkan.

Kasus yang menimpa pimpinan KPK harus ditempatkan pada porsi yang tepat, benar, dan adil. Oleh karena itu, pengusutan problem itu harus dicari kebenarannya, dan siapa yang bersalah harus dihukum.

Karena itu, pemerintah, baik dari lembaga kepresidenan, DPR, MPR, DPD, DPRD, dan khususnya pada Polri, harus mendukung terhadap eksistensi lembaga KPK yang selama ini telah memberikan efek positif bagi upaya pemberantasan korupsi di di Indonesia.

Dengan begitu, pada momentum hari Pahlawan 10 November 2009 ini spirit untuk membangun dan menegakkan keadilan dan kebenaran hukum harus selalu diimplementasikan di dalam setiap aspek kehidupan umat manusia oleh KPK. Semoga apa yang selama ini dilakukan KPK untuk menjadi ’’pahlawan” pemberantasan korupsi tetap terwujud dan terlaksana secara komprehensif.

Biarlah KPK ditamsilkan sebagai cicak yang sedang melawan buaya, tapi ia adalah pahlawan yang diimpikan dan ditunggu hasilnya dalam mewujudkan negara yang bersih dari korupsi.

Syahrur Kirom

Dosen STIU Chozimatul Ulum

Blora


Tag: pahlawan, indonesia, bangsa, Cicak, impian, hari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    l. wiji widodo 0 0
    merdeka adalah balasan yg mereka impikan, ....prof,
    cukup itu...
    Harlan Eryandi 0 0
    l. wiji widodo: wah baru jedul sam, habis maem po ?

    [ ... betul2 ikhlas, redho berkorban utk kemerdekaan Indonesia, maju terus pantang mundur... ]
    l. wiji widodo 0 0
    Harlan Eryandi: food combine prof, jam enam keatas ga boleh makan nasi.....: D

    makanya taman makam pahlawan di konversi aja jd ruko...kr udah ga ada yg mau jd pahlawan
    Harlan Eryandi 0 0
    l. wiji widodo: kalau pahlawan sekarang sam, Maju Perut Pantat Mundur. : )
    l. wiji widodo 0 0
    Harlan Eryandi: kurang suka sit up, lbh suka short push up....
    Ibnu Muslim 0 0
    l. wiji widodo: sama kayang : ))
    l. wiji widodo 0 0
    Ibnu Muslim: : )) : D lho kok ga ada yg diversi india...: D...oaalah kutukan rupanya..
    Harlan Eryandi 0 0
    l. wiji widodo: short push up .... dimana tuh ? hobby .... mentang2 banyak fulus.
    Ibnu Muslim 0 0
    l. wiji widodo: belinya di simpang uki ya bro, kalau yang diglodok lengkap kok ; ))
    l. wiji widodo 0 0
    Ibnu Muslim: wakakaka oalah takdirkah ini...

    Harlan Eryandi: ga harus bung, penting speak2nya...ntar tak kenalin prof, melly, menado...: D : ))
    Olas 0 0
    Met kenal pak Harlan Eryandi....
    Harlan Eryandi 0 0
    l. wiji widodo: e dodo e, torang so mo cepat-cepat cari tau sam pe kawan tu. : )

    Olas: met kenal juga mas, follow me please, thx.

    [ ** udah ah, ayas ngantuk sam ...]

    Silahkan login untuk memberikan pendapat