Logika Pembuktian Hendarman 39

Selasa, 10 Nov '09 14:44

Dalam dengar pendapat antara Komisi III dengan Kejaksaan Agung, Jaksa Agung Hendarman Supanji mengungkap teori pembuktian baru dengan analogi yang entah, masuk logika apa tidak.

Menurut Hendarman, pembuktian kasus Bibit dan Chandra bisa dianalogikan kasus perzinahan. Bisa dibuktikan melalui alat bukti yang kuat, tapi tidak harus dengan alat bukti yang mutlak. Alat bukti mutlak harus dilihat semuanya. Sementara alat bukti yang kuat tidak harus dilihat semua kejadiannya.

“Ada suatu perzinaan antara A dan B. Keduanya pacaran. Dua orang itu masuk ke hotel. Padahal A dan B yang bukan muhrimnya. Maka tidak usah saya membuktikan terjadinya persetubuhan, bisa dikatakan telah terjadi perzinaan. Ini alat bukti yang kuat, tapi bukan alat bukti yang mutlak," jelasnya.

Hubungannya dengan kasus Bibit dan Chandra? Hendarman melihat adanya penyerahan uang sebagai alat bukti yang kuat, dasarnya pengakuan Ari Muladi yang belum dicabut. Ada indikasi mobil KPK masuk ke Pasar Festival. Ada juga mobil Ari yang masuk Pasar Seni Festival. Dari data masuknya mobil tersebut, ditemukan indikasi ada penyerahan uang.

"Kalau ada 2 orang yang seolah-olah menerima, ada mobil, siapapun orangnya, dapat disimpulkan alat bukti kuat bukan mutlak. Maka dapat dikatakan telah terjadi transfer itu. Maka sekarang tinggal jaksa saya, yakin atau tidak?" kata Hendarman.

Baiklah, menggunakan analogi tersebut, coba kaitkan dengan penuturan Hendarman di bagian lain, tentang Edi Sumarsono –yang belakangan diketahui sebagai Markus (Makelar Kasus). Menurut Hendarman, Anggodo datang ke Kejagung, minta tolong jaksa di situ untuk mendapatkan kontak ke KPK. Sementara Edi Sumarsono di sini mengaku diperkenalkan dengan Anggodo oleh Jaksa Irwan Nasution di Kantor Kejaksaan Agung.

Dari Edi Sumarsono lah, Aggodo kemudian bersama Antasari menemui Anggoro di Singapura, juga Ari Muladi di Malang. Di situ juga ada aliran dana untuk menyelesaikan kasus Anggoro. Apakah dalam kasus ini Hendarman juga akan mengatakan “Tidak usah saya membuktikan terjadinya persekongkolan, penyuapan ataupun rencana menghentikan proses penyidikan kasus Anggoro, bisa dikatakan telah terjadi persekongkolan, penyuapan ataupun rencana menghentikan proses penyidikan kasus Anggoro. Ini alat bukti yang kuat, tapi bukan alat bukti yang mutlak.

Begitu pula dalam kasus SP3 obligor BLBI  Samsjul Nursalim, yang belakangan terbukti Artalyta Suryani menyuap jaksa Urip Tri Gunawan Rp 6,6 milyar. Artalyta, yang juga berperan sebagai Markus, bukan sosok yang asing di kantor Kejaksaan Agung. Dia biasa bertemu dengan para jaksa bahkan para Jaksa Agung Muda. Apakah untuk fakta yang ini Hendarman juga akan mengatakan “Tidak usah saya mebuktikan, kantor Kejaksaan Agung memang memelihara Markus?”

 

* Foto diambil di sini


Tag: Suap, analogi, Kejaksaan Agung, jaksa, Hendarman Supandji, Markus, pembuktia, komisi II DPR, aliran dana, bibit dan chandra

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Agus PW 0 0
    Miris ya perkataan "Kantor Kejagung memang memelihara Markus". Ah, memang lebih baik mundur saja jika udah gak pecus!
    Striding Cloud 0 0
    Kalau kedua logika itu benar,

    Bahwa dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada markus, dan penyuapan terjadi.

    Jangan lupa, edi soemarsono yang markus itu, adalah wartawan investigasi.

    Maka untuk membersihkan para markus itu, hendarman harus secara tegas menangkap semua wartawan yang berkeliaran di kejaksaan. : D
    mbeling 0 0
    bukan memelihara, tapi beternak.. ada upaya regeneratif...

    *) berarti klo kita, saya n mas Yusro, masuk kamar hotel berdua merupakan bukti kuat adanya per - gay-an...bukti kuatnya : uda Ibnu Muslim lagi ultah n tumpengan..ngundang warga politikana yg bejibun.. logika ( lo e gi la ka li )..ha..ha..ha
    yusro 0 0
    Striding Cloud: pemimpin redaksi tepatnya
    yusro 0 0
    mbeling: : )) : )) : ))
    Striding Cloud 0 0
    yusro: pemimpin nongkrongnya dengan pemimpin. Apa bisa masuk logikanya kalau wartawan biasa nongkrongnya sama anak buah ? : D
    yusro 0 0
    Striding Cloud: Pemimpin redaksi adalah wartawan juga, jadi bisa nongkrong sama juru parkir sampai pucuk pimpinannya : D
    Ning 0 0
    yusro: Pernyataan kan disesuaikan dengan suasana dan mana yang menguntungkan...
    Ibnu Muslim 0 0
    yusro
    [“Ada suatu perzinaan antara A dan B. Keduanya pacaran. Dua orang itu masuk ke hotel. Padahal A dan B yang bukan muhrimnya. Maka tidak usah saya membuktikan terjadinya persetubuhan, bisa dikatakan telah terjadi perzinaan. Ini alat bukti yang kuat, tapi bukan alat bukti yang mutlak," jelasnya.]

    Ternyata Pak Jagung kita terlalu simplisitik, mungkin pengalaman pribadi kali ; ))
    Ibnu Muslim 0 0
    mbeling: Siapa yang ulang tahun ; ))
    cynical 0 0
    hmmmmm.....

    jadi kalau hendarman nginep di hotel A, terus ada pelacur nginep juga di hotel A, boleh nggak kita katakan kalau hendarman ada transaksi dengan pelacur itu ??

    -------------
    hati-hati nih kalau pergi ke tempat umum, bisa di sangka transaksi narkoba karena pada jam yang sama ada BD yang masuk tempat itu juga

    ---------------
    kacrut
    conscientizacao 0 0
    cynical: Kesian dong dokter penyakit kelamin... : ))
    mbeling 0 0
    Ibnu Muslim: lupa ya da? hari ini kan ulang tahun kita semua....
    Ibnu Muslim 0 0
    mbeling: iya dah
    Harlan Eryandi 0 0
    yusro: kenapa hrs di analogikan dgn kasus perzinahan ya ? Jorok kali ! Apa ada broker-nya juga di Jagung ?
    ErwienSamantha 0 0
    Harusnya DPR tanya balik kiasan pak JAGUNG,

    "Kalau pacaran di telpon yang bukan muhrimnya termasuk perzinahan gak?"
    yusro 0 0
    Ibnu Muslim: Apa yang ada di pikirannya, biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan atau lingkungannya, begitu maksudnya : ))
    yusro 0 0
    Ning: Tapi kali ini pernyataannya tidak menguntungkan bagi dirinya, setidaknya saya melihat itu. Dengan logika berfikir seperti itu kan mudah sekali jadi bumerang : )
    Ibnu Muslim 0 0
    yusro: sepertinya bagi Jagung kita ini adalah "pengalaman yang masih berbekas" ; ))
    NOS 0 0
    Saya agak bingung antara bukti dengan petunjuk. Jika ada dua org A dan B ke kamar hotel, apakah itu BUKTI ataukah PETUNJUK adanya perzinahan?
    yusro 0 0
    Harlan Eryandi: He he he, bisnis perkara itu sebenarnya tak kalah jorok dari bisnis yang itu....tu...: )
    Ibnu Muslim 0 0
    yusro: iya mas, seandainya ada l. wiji widodo diskusinya akan lebih menarik ; ))
    yusro 0 0
    NOS: Setuju, sayangnya para anggota dewan yang kebanyakan berpendidikan hukum kok ya tidak mengejar dengan pertanyaan sampean itu.

    Huh... balik lagi, jadi ngomongin kualitas anggota dewan : ))
    l. wiji widodo 0 0
    Ibnu Muslim: wah ini sdh 'jorokisasi character'...udah jorok harasment'...kok bisa telunjuk k saya ketika jorok di sebutkan...tak perlu menguntur...berbisikpun sy dengar..
    yusro 0 0
    l. wiji widodo: wah tambah istilah baru nih, setelah kriminalisasi, pembunuhan karakter, muncul jorokisasi karakter : ))
    Ibnu Muslim 0 0
    l. wiji widodo: padahal ikke cuma pengen bahas kalimat "bisnis" nya mas yusro ; ))

    *bisnis bisik2 ide bagus
    botaksakti 0 0
    Sumpah.....saya jadi susah mengajarkan "analogi" pada murid-murid saya gara-gara "analogi" ala jagung bakar itu......
    yusro 0 0
    botaksakti: Saya sangat tidak yakin kalau analogi Hendarman ini bisa meyakinkan hakim sebagai sebuah pertimbangan hukum, apalagai alat bukti yang kuat.
    botaksakti 0 0
    yusro: idem (meniru gaya ....)
    BMH 0 0
    yusro: Saya sependapat dengan panjenengan. Kemarin saya juga menulis keheranan serupa soal Pak Jagung ini. Monggo dibaca di blog saya http://lifeschool…sa-keadilan/

    Pareng....

    ### Sori, promosi diri lagi nih ; ))
    Jauhari 0 0
    sak enake udele dewe kwi si HS
    Veuillez entrer 0 0
    menurut kesimpulan saya masalah ini menjadi semakin benang kusut yg dicoba untuk merapikan kembali, sama2 tdk saling legowo mengakui kesalahannya krn mengatasnamakan nama baik dan harga diri, akhirnya saling menuding, lihat saja dalangnya mau membela yg mana?

    jika terbukti memang baik KPK atau polisi memang menerima suap, aku saja...jadi sang dalang tk usah buat cerita bersambung terus2an toh?,

    telusur lebih jauh kenapa ada istilah cicak vs buaya, ada sebab ada akibat.
    BD cafe 0 0
    Kepolisian dan Kejaksaan tidak ada itikad untuk membenahi semua permasalahan yg melilit mereka, dengan situasi yg semakin semrawut dan carut marut, maka disanalah tempat bersemai yg paling menjanjikan.
    Karena ketika keadaan telah berubah menjadi tertata baik dan benar karena perubahan yg terus bergulir, maka para bedebah inilah yg pertama menjadi korban dari perubahan itu.
    ndoet 0 0
    hahahha, keren juga jebakan logikanya
    akusuka 0 0
    yusro:

    “Ada suatu perzinaan antara A dan B. Keduanya pacaran. Dua orang itu masuk ke hotel. Padahal A dan B yang bukan muhrimnya. Maka tidak usah saya membuktikan terjadinya persetubuhan, bisa dikatakan telah terjadi perzinaan. Ini alat bukti yang kuat, tapi bukan alat bukti yang mutlak," jelasnya.

    Hubungannya dengan kasus Bibit dan Chandra? Hendarman melihat adanya penyerahan uang sebagai alat bukti yang kuat, dasarnya pengakuan Ari Muladi yang belum dicabut. Ada indikasi mobil KPK masuk ke Pasar Festival. Ada juga mobil Ari yang masuk Pasar Seni Festival. Dari data masuknya mobil tersebut, ditemukan indikasi ada penyerahan uang.

    @ Akusuka:

    Gw bingung nih Bos Kejaksaan berpendidikan Sarjana kan? Kok cara mikirnya aneh ...
    sawung 0 0
    kebanyakan ngurus R4HN1 jadi otaknya ngeres ini para jaksa. bikin dakwaan kasus antasari aja kayak stensilan anny arrow. Gw curiga ini para jaksa diem-diem salah satu yg rutin nyumbang cerita mesum ke bb17
    yusro 0 0
    akusuka: analogi yang unlogic : )
    MFH 0 0
    susah memang...soale sudah masuk ranah yang lain, jadi kalau bukti implinsit jelas sulit..

    saya pribadi juga tidak bisa menentukan mana yang saya anggap benar...yang jelas semua lembaga itu pasti ada yang ga benar dalam diri mereka dan itu harus dibenahi.

    Saya berharap segera ada penengah yang benar wise...sudah saatnya presiden tidak tinggal diam saja, mau orang ribut dengan apa keputusannya..SBY harus menentukan sikap segera, misalnya merombak habis 3 lembaga itu...dan lanjutkan proses hukum untuk semua pihak yang berseteru saat ini
    DAFIDUCK 0 0
    disini gunung disana gunung, ditengah-tengah ada pulau jawa..
    wayang nya bingung, dalang nya bingung, rakyat nya pada ketawa..

    Silahkan login untuk memberikan pendapat