SBY-Hendarso-Hendarman: Tersandera Anak Buah 4

Selasa, 10 Nov '09 08:14

Ada yang mengganjal ketika mengikuti arah bola menggelinding. Simpul soal ada pada SBY: terlalu berhati-hati, terkesan lamban, sehingga sebagian rakyat tak sabar. Lihat saja bagaimana dia gamang menggunakan wewenangnya untuk membereskan Kapolri Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Herndarman Supanji.

Hati-hati itu harus. Bijak itu wajib. Tapi lamban bukanlah jawaban. Ketangguhan pemimpin justru teruji pada pengambilan keputusan dan keberanian mempertanggungjawabkannya. Bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi hukum, itu pasti. Fungsi tim presiden, dalam soal hukum, ya mestinya itu. Memberi rambu yang aman dan bahaya.

Tapi selain soal hukum adalah soal keadilan dan opini rakyat. Orang bisa bilang opini rakyat tak beda dengan lolongan sekawanan serigala. Belum tentu sesuai akal sehat. Tapi untuk kasus ini, orang sebijak SBY tentunya bisa menimbang manakah yang lolongan serigala dan manakah yang sesuai akal sehat -- dan ini: manakah yang sesuai nurani.

Kegamangan SBY terlihat dari upaya dia menjadikan Tim Delapan sebagai bemper. Rekomendasi yang memaksa menjadi rujukan sehingga seolah ada pesan tersirat dari SBY, "Bukan (cuma) kemamuan pribadi saya lho."

SBY lemah, tapi harus menghadapi Kapolri dan Jaksa Agung juga lemah. Intervensi toh bisa saja dilakukan sejak awal. "Ketimbang sampeyan malu dan repot, bereskan saja anak buah yang cuma bikin masalah. Saya butuh laporan sampeyan berdua dalam dua belas jam," kira-kira begitulah yang mesti dilontarkan sejak awal.

Hendarso mungkin, dan semoga, polisi yang baik -- dan bernurani. Hendarman mungkin, dan semoga, jaksa (agung) yang baik -- dan bernurani. Kesan saya mereka kikuk karena disandera anak buah. Menyingkirkan satu-dua anak buah belum tentu menyelesaikan masalah, karena penggantinya boleh jadi lebih aneh -- maksud saya lebih merepotkan. Dalam sistem yang korup, arus internal memang cenderung kurang bersahabat, apalagi jika diracuni kepongahah l'esprit de corps. Di sinilah keberanian seorang SBY untuk mem-backup anak buah sungguh ditantang.

Untuk sementara ya hanya bisa mem-backup sambil minta mereka tahu diri. Take and give begitulah. Mengganti Kapolri dan Jagung sudah kadung menjadi urusan merepotkan atas nama checks and balances. Padahal DPR, kita sudah menyaksikan, ya begitulah. Dalam ujian awal kelas lima tahunan sudah terbaca arah dan kualitasnya. Penggemar Tukul Arawana merasa durasi hahahehe dan cengengesan yang ditontonnya masih sesuai daya tahan kewarasan -- padahal diselingi iklan.


Tag: Jaksa Agung, KPK, SBY, kapolri, Hendarman Supandji, Cicak, buaya, bambang hendarso danuri

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Red-White Eagle 0 0
    Let's just say BHD and Hendarman are honest, and they want to clean up their departments from corrupt officials. What would that leave them? They would only have very few staff members left, as the majority would have to go to jail.
    cynical 0 0
    Red-White Eagle: jadi inget omongan pak mahfud, kalau kapolri dan jagung di suruh mundur, saya gak setuju, karena yang di bawah mereka gak ada yang (se)baik(mereka).
    yusro 0 0
    Anak buah yang hebat, bisa menyandera bosnya : )
    conscientizacao 0 0
    Rikuh, bukan jawaban. Rikuh saja, melabrak esensi lain yang lebih tinggi. Kerikuhan para pemimpin pada "jasa" anak buahnya (dan sebaliknya), memang akan menyandera, dan cenderung menciptakan siklus tertutup sebuah system yang korup...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat