Utang lagi..Utang lagi..Cepek deh... 0

Selasa, 10 Nov '09 11:54

“Aku bingung neh mas, katanya orang-orang pinter itu, Indonesia mau mengincar utang baru terkait perubahan iklim, benar ya mas?” tanya Suroto, mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Surabaya kepadaku. “Oh, itu, mahasiswa kok ketinggalan berita ya,” jawabku sekenanya, “Soalnya sudah sejak tahun 2008 lalu pemerintah mengincar proyek utang yang bernama Climate Investment Fund (CIF),”

“Katanya proyek utang itu dalam rangka mengantisipasi krisis keuangan global dan mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” jawabku seraya mengutip website yang memuat berita itu dari laptopku, “Pemerintah sedang mengincar dana untuk CIF yang sudah dikumpulkan Bank Dunia sebesar US$ 6,1 miliar,”

“Dana tersebut nantinya akan dikucurkan melalui clean technology fund” Jelasku.

“Lho mas, aku baru saja baca berita di internet kalau konsultasi dari proyek utang clean technology fund itu baru akan dilakukan Bank Dunia pada rabu (11/11),” kata Suroto, “Tapi kok pemerintah sudah indent (sudah memesan) utang sejak tahun lalu, kok sepertinya pemerintah rakus banget dengan utang luar negeri, mas”

“Ha..ha..kalau soal itu aku ga mau komentar, nanti takut dikenai pasal pencemaran nama baik,” ujarku sambil ketawa. “Yang jelas katanya pemerintah ga punya dana cash untuk membiayai program perubahan iklim, APBN kita cekak, lagian tadi kan sudah dibilang bahwa utang baru itu untuk menyelamatkan APBN,”

“Sebentar mas, gimana ceritanya bikin utang baru kok katanya untuk menyelamatkan APBN?” tanyanya, “Bukannya cekaknya anggaran untuk program perubahan iklim di APBN disebabkan karena anggaran kita sudah diplot untuk bayar utang luar negeri, bahkan ada yang bilang bahwa 1/3 APBN kita untuk bayar utang,”

“Memang menurut buku ekonomi yang pernah aku baca bahwa pembayaran utang luar negeri itu telah membebani APBN, ” tegasku, “Akibatnya anggaran untuk program lingkungan hidup, termasuk program perubahan iklim menjadi cekak di APBN,”

“Dan, bukan hanya anggaran untuk program lingkungan hidup saja yang cekak, tapi juga anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan sektor-sektor publik lainnya, “jawabku, “Karena anggaran pendidikan cekak, maka jangan heran bila subsidi untuk perguruan tinggi dikurangi, dan biaya di perguruan tinggi di serahkan ke mekanisme pasar,”

“Lho mas, bukannya negara ini kaya sumberdaya alam, kok APBN kita sampai berdarah-darah gitu?” tanyanya lagi.

“Makanya kamu sering-sering baca koran. Sumberdaya alam kita itu sekarang bukan lagi 100% milik kita,” jawabku.

“Kembali ke isu perubahan iklim lagi mas,” katanya, “Jadi kalo kita ngambil utang baru yang mengatasnamakan perubahan iklim ini berarti akan semakin membebani APBN dalam jangka panjang dong, dan itu berarti anggaran untuk program lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan, sosial akan terus-terusan kecil alias tidak mencukupi dong,”

“Persis, dan kita akan terus membuat utang baru dengan mengatasnamakan mengamankan APBN,” jawabku sambil mengunyah ketela rebus yang sejak tadi menggoda cacing di perutku.

“Walah, percuma dong mas kita selamat dari perubahan iklim tapi kita ga bisa sekolah dan kalau sakit ga bisa berobat,” katanya lagi.

“Hus, jangan berkata begitu, sekolah itu penting, biaya rumah sakit juga penting, perubahan iklim juga penting,” ujarku, “Yang ga penting itu kita, rakyat kecil, yang akan menjadi korban pemerintah yang kecanduan utang dari lembaga-lembaga bisnis bantuan itu,”


Tag: proyek, Perubahan iklim, utang luar negeri

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Silahkan login untuk memberikan pendapat